NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Mimpi yang Bikin Bingung Bangun

Dunia rasanya berhenti sebentar. Gue berdiri kaku di tempat, HP di tangan masih menampilkan pesan itu.

"Lo serius, Sar?"

"Sumpah gue gak bercanda!" Sari nyamperin, napasnya masih berat. "Mereka masuk lewat gerbang utama bareng mobil hitam. Muka mereka kaku banget. Bilang mau ketemu Kepala Sekolah sekarang juga."

Jantung gue berdebar kencang, sampe gak kedengaran suara lain selain itu. Gue langsung masukin buku ke tas, gak rapi asal masuk. "Farhan tau?"

"Belum. Gue langsung ke sini nyari lo duluan. Tapi anak-anak udah mulai rame di koridor."

Kita jalan cepat keluar perpustakaan. Pas sampe di lorong depan ruang Kepala Sekolah, udah banyak anak ngintip sambil bisik-bisik.

"Itu orang tuanya Dimas..."

"Katanya mau laporin ke polisi..."

"Siapa yang sebenarnya salah sih?"

Gue dorong pelan orang di depan, masuk sampe ke barisan paling depan.

Di sana, di depan pintu, berdiri sepasang Bapak Ibu berpakaian rapi, mukanya tegas banget. Di sebelah mereka — Dimas, kepalanya nunduk, gak berani natap siapa-siapa.

Dan di hadapan mereka... Farhan.

Berdiri tegak, tas di pundak, mukanya pucat tapi matanya tenang.

"Kami minta nama yang tertulis segera diperbaiki," kata Bapaknya Dimas, suaranya tegas dan berwibawa. "Anak kami bersih. Semua bukti sudah kami pegang. Kalau tidak, kami akan laporkan secara resmi ke kepolisian hari ini juga."

"Pak..." suara Dimas pelan. "Saya yang mau jujur. Bukan mereka."

"Jangan ikut campur!" potong Ibunya lembut tapi tegas. "Kami sudah memutuskan. Cukup kamu diam dulu."

Gue maju selangkah, napas dalam-dalam. "Mohon izin, Pak, Bu. Boleh saya ikut bicara sebentar?"

Semua orang nengok. Farhan langsung natap gue, matanya bilang jangan, Mir, jangan masuk ke sini.

"Anak siapa kamu?" tanya Bapaknya. "Ini bukan urusanmu."

"Mohon maaf, Pak. Saya tahu semua kejadiannya." Gue bicara tenang tapi mantap. "Dimas yang mengemudikan waktu itu. Farhan menanggung semuanya karena takut masa depan Dimas hancur. Sudah lebih dari setahun ia diam, tidak menceritakan ke siapa pun, tidak minta apa-apa. Namanya jadi jelek, orang bilang dia pengecut — ia terima semuanya. Demi melindungi anak Bapak dan Ibu."

Bapaknya diam sebentar, sedikit terkejut. "Kau tahu apa yang kau katakan?"

"Saya tahu, Pak. Tapi yang saya lihat — Farhan tidak pernah membela diri. Bukan karena dia salah, tapi karena dia menghargai persahabatan. Dan sekarang... kenapa justru Bapak dan Ibu yang mau menyakiti orang yang sudah berbuat baik untuk anak Bapak?"

Farhan tarik pelan lengan gue ke belakang. "Cukup ya, Mir. Gue yang hadapi. Gue sudah janji sama diri sendiri dari awal."

"Gak cukup!" Gue balik natap dia, mata panas. "Sudah terlalu lama lo berdiri sendiri. Sekarang saatnya kebenaran dengar juga."

Dimas maju ke arah orang tuanya. "Ayah, Ibu... saya yang harus jujur. Saya yang salah. Farhan tidak ada hubungannya. Kalau harus ada yang dihukum... saya yang harus hadapi."

"Kau tahu akibatnya, Dimas?" tanya Ayahnya, suaranya lebih pelan sekarang. "Bisa merubah seluruh rencana masa depanmu."

"Saya tahu, Ayah." Dimas natap lurus, gak mundur. "Tapi berdiri di sini bersih sementara orang lain menanggung kesalahan saya... itu rasanya jauh lebih berat dari apa pun hukuman buat saya."

Ibunya menunduk, matanya berkaca-kaca. "Kami cuma ingin yang terbaik untukmu..."

"Saya tahu Ibu sayang sama saya. Tapi kasih sayang tidak boleh menutupi kebenaran, Bu." Dimas berhenti sebentar, lalu natap Farhan. "Maaf, Han. Terima kasih sudah gue. Sekarang giliran gue."

Farhan senyum tipis. "Gue lakuin itu karena gue mau, Dim. Bukan karena terpaksa."

Pintu ruang Kepala Sekolah terbuka dari dalam. Beliau mempersilakan masuk satu per satu. Dimas berjalan paling belakang. Sebelum pintu tertutup, dia natap gue sekilas — seakan bilang terima kasih, minta maaf, dan pamit sekaligus.

Gue berdiri sendirian di koridor. Anak-anak mulai bubar, tapi gue tetap di situ.

Sore itu gue pulang sendiri. Langit kelabu lagi, tapi rasanya beda — sekarang gak ada yang nunggu di gerbang, gak ada yang nawarin tumpangan. Cuma langkah kaki gue sendiri.

Malam itu gue tidur cepat, capek banget. Tapi gue mimpi.

Di mimpi, gue berdiri di persimpangan jalan. Di kanan — Farhan di bawah lampu jalan, bawa jaket cadangan, senyum kayak biasa. Di kiri — Dimas di tempat terang, bilang gue bisa ke mana aja. Tiba-tiba mereka berdua hilang. Tinggal gue sendiri, dan suara bilang pelan: "Pilih bukan demi mereka. Pilih karena lo mau ke mana."

Gue bangun napas ngos-ngosan, jam nunjuk tiga pagi. Duduk di tepi ranjang, baru sadar: selama ini gue sibuk mikir siapa yang pantas dapet gue. Padahal gue belum pernah mikir — siapa yang bikin gue jadi diri sendiri.

Besok paginya, gue jalan ke sekolah dengan perasaan baru.

Di gerbang, Farhan berdiri di bawah pohon. Gak langsung nyamperin kayak biasanya. Cuma melambai pelan, ragu.

Gue senyum tulus ke arahnya. Dia senyum balik, tapi tetap di tempat — kasih gue ruang buat mendekat sendiri.

Belum sempat gue melangkah, HP di saku berdering. Nama di layar: Dimas.

"Haloh?"

"Mir..." suaranya berat tapi tenang. "Gue udah di kantor polisi. Gue datang sendiri. Gue mau jujur semuanya."

"Dim..."

"Denger dulu. Gue gak tau hasilnya gimana, gue gak tau berapa lama. Tapi sebelum masuk... gue harus bilang satu hal. Langsung." Dia tarik napas. "Gue sayang lo, Mir. Bukan karena mau menang. Bukan karena mau dipilih. Dan kalau gue harus milih sekarang... gue harap lo pilih dia. Karena dia lebih dulu ada, dan dia sayang lo tanpa pernah nuntut apa-apa."

"Dim, lo gak perlu..."

"Biarin gue selesai. Kalau gue keluar nanti... kalau masih ada kesempatan... gue mau lo pilih gue karena lo mau, bukan karena kasihan. Tapi kalau hati lo di sana... gue terima. Sungguh."

"Gue harus masuk sekarang. Jaga diri ya. Dan... jangan lupa — lo berhak bahagia tanpa harus bingung terus."

Panggilan terputus.

Gue berdiri diam di tengah gerbang. Di satu sisi Dimas berjuang jujur, di sisi lain Farhan menunggu dengan segala ketulusan yang baru gue pahami.

Dan di saat itu...

Seseorang berlari mendekat, napasnya ngos-ngosan. Bukan Dimas, bukan Farhan.

Rina. Matanya merah basah, tangan gemetar pegang lengan gue.

"Mir! Gue harus bilang sesuatu! Sesuatu yang bahkan Dimas sendiri gak tau!"

Gue mundur selangkah, kaget banget. "Apa maksud lo? Dimas gak tau apa?"

Rina napasnya masih berat, matanya liar ke kiri dan kanan, takut ada yang denger. "Gue... gue sempat baca surat dari ibunya Dimas ke Farhan, sebelum Dimas ambil itu kembali. Di sana tertulis..." Dia berhenti, telan ludah susah. "Kecelakaan itu bukan cuma soal nabrak pembatas. Ada orang lain yang lewat di jalan waktu itu. Dan Dimas hampir menabraknya."

Darah di kepala gue rasanya dingin. "Terus... orang itu siapa?"

Rina gemetar, suaranya nyaris gak kedengaran.

"Orang itu... kerabat dekat keluarga Dimas. Dan Farhan yang menarik setir ke arah lain supaya Dimas gak menabraknya. Makanya mobil berbelok dan nabrak pembatas. Dimas gak pernah tau itu. Farhan gak pernah bilang ke siapa pun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!