Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Mobil yang dikendarai Rafael melaju membelah jalanan kota.
Di dalam kabin, suasana sempat hening.
Rafael beberapa kali melirik ke arah Zilia yang sibuk memandangi pemandangan di luar jendela.
Entah mengapa, bayangan saat Zilia tertawa bersama Revan terus terlintas di benaknya.
Akhirnya, Rafael membuka suara.
"Sepertinya kamu sangat menikmati obrolanmu bersama Kak Revan."
Zilia menoleh.
"Maksudnya?"
"Tidak ada maksud apa-apa."
"Hanya mengingatkan. Lain kali kalau bertemu laki-laki lain, jaga jarak."
Zilia mengernyit.
"Hindari?"
"Iya."
"Tapi dia kan kakak kamu. Bukankah nanti dia juga bakal jadi kakak iparku?"
Ciiit...
Rafael mendadak menginjak rem dan menepikan mobil di bahu jalan.
Zilia yang tidak siap hampir terdorong ke depan.
"Eh!"
"Kaget tahu!"
Rafael mematikan mesin mobil.
Ia lalu menoleh menatap Zilia dengan sorot mata serius.
"Kamu itu calon istriku. Kalau sampai muncul gosip yang tidak baik, nama keluarga kita ikut tercoreng. Kamu mau seperti itu?"
Zilia langsung menggeleng.
"Nggak."
"Nah. Makanya. Hindari terlalu akrab dengan laki-laki lain. Termasuk yang baru dikenal."
Zilia menghela napas panjang.
"Ribet amat kalau jadi istri kamu."
Rafael menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Itu baru permulaan. Kalau nanti sudah benar-benar jadi istriku... hidupmu bakal lebih rumit."
Zilia langsung bergidik.
"Ih... Seram amat."
Rafael tersenyum tipis.
"Biasakan. Pokoknya jangan mudah akrab dengan laki-laki. Siapa pun."
Zilia tiba-tiba memiringkan kepalanya.
"Termasuk kamu berarti."
Rafael mengernyit.
"Maksudnya?"
"Kita kan juga belum saling kenal dekat."
"Berarti aku juga harus hati-hati sama kamu."
Rafael terdiam beberapa detik.
"Zilia."
"Iya?"
"Kamu sedang membantah aku?"
"Bukan."
"Aku cuma pakai logika. Soalnya aku baru kenal kamu. Sama pacarku yang dulu aja aku dikhianati. Apalagi sama kamu yang jelas-jelas baru beberapa hari aku kenal."
Kalimat itu membuat Rafael menarik napas panjang.
Entah kenapa, setiap kali Vio disebut, ia selalu merasa kesal.
"Aku bukan dia."
"Hah?"
"Aku bilang... aku bukan Vio."
Zilia menatap Rafael beberapa saat.
"Laki-laki kalau belum dapat biasanya ngomongnya manis. Kalau sudah bosan... tinggal cari yang lain."
Rafael mengusap wajahnya pelan.
"Siapa yang ngajarin kamu berpikir begitu?"
"Hidup."
Jawaban singkat itu membuat Rafael kehilangan kata-kata.
Tatapan Zilia perlahan berubah sendu.
"Aku pernah percaya sepenuhnya. Aku pernah yakin kalau seseorang akan menepati janjinya. Tapi akhirnya... aku cuma jadi orang yang ditinggalkan. Itu sebabnya aku nggak gampang percaya lagi."
Untuk sesaat, Rafael hanya diam.
Ia baru menyadari bahwa luka yang ditinggalkan Vio ternyata jauh lebih dalam daripada yang ia kira.
Beberapa detik kemudian, Rafael menyalakan kembali mesin mobil.
"Tidak apa-apa."
Zilia menoleh.
"Apa?"
"Kamu tidak perlu percaya sekarang. Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi suatu hari nanti... aku akan membuatmu percaya dengan perbuatanku. Bukan dengan kata-kata."
Zilia mendengus pelan.
"Kita lihat saja. Semoga kamu tidak seperti Vio."
Rafael tersenyum tipis sambil kembali menginjak pedal gas.
"Kalau aku sama seperti dia... Papa kamu tidak mungkin memilihku menjadi calon suamimu."
Mobil kembali melaju.
Meski keduanya masih sering berdebat, tanpa mereka sadari, percakapan itu perlahan mengikis jarak di antara mereka.
Di balik semua pertengkaran kecil itu...
Mulai tumbuh rasa penasaran yang tidak pernah mereka akui satu sama lain.
Mobil kembali melaju meninggalkan pusat kota.
Di sepanjang perjalanan, tak ada lagi perdebatan. Rafael fokus mengemudi, sementara Zilia kembali memandangi jalanan dari balik jendela.
Entah sudah berapa menit mereka sama-sama diam.
Tiba-tiba...
"Perutmu lapar?"
Suara Rafael memecah keheningan.
Zilia menoleh.
"Sedikit."
"Kenapa?"
Rafael membelokkan mobilnya ke sebuah kawasan yang dipenuhi restoran.
"Karena orang yang sedang patah hati biasanya makannya berantakan."
Zilia langsung mendengus.
"Kamu nyindir, ya?"
"Bukan. Aku cuma mengamati."
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran bernuansa taman.
Rafael turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Zilia.
"Kita makan sebentar."
"Aku sebenarnya nggak lapar."
"Kalau bohong, wajahmu kelihatan."
Zilia langsung menutup pipinya.
"Memangnya kelihatan?"
"Banget."
"Ih."
Mereka pun masuk ke dalam restoran.
Seorang pelayan segera menghampiri dan mengantar mereka ke meja yang berada di sudut ruangan.
Tempatnya cukup tenang.
Tidak terlalu ramai.
Rafael menyerahkan buku menu kepada Zilia.
"Pesan apa saja."
"Yang penting kamu suka."
Zilia membuka menu itu cukup lama.
"Ini mahal semua."
"Kamu lihat harga dulu atau makanannya?"
"Harganya."
Rafael terkekeh pelan.
"Kamu ini lucu."
"Aku serius."
"Kalau kemahalan, nanti aku nggak enak."
Rafael menutup buku menu di tangan Zilia.
"Kamu lupa satu hal."
"Apa?"
"Hari ini yang bayar aku."
"Jadi berhenti lihat harganya."
"Pesan saja sesukamu."
Zilia mengembuskan napas pelan.
"Aku jadi nggak enak."
Rafael mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau nanti sudah jadi istriku... semua yang aku punya juga milikmu."
Seketika Zilia tersedak air putih yang baru saja diminumnya.
"Buk... buk..."
Rafael spontan mengambil tisu.
"Pelan-pelan."
"Kamu ini."
"Aku cuma ngomong."
Zilia menerima tisu itu sambil memukul pelan lengan Rafael.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh."
Rafael tersenyum kecil.
"Memangnya salah? Kan memang begitu nantinya."
Zilia langsung memalingkan wajah.
Pipinya mulai memerah.
"Belum tentu aku mau."
"Oh? Masih bisa berubah."
"Kalau kamu nyebelin terus."
Rafael menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Berarti aku harus berusaha supaya kamu berubah pikiran."
"Percuma. Aku orangnya keras kepala."
"Aku juga."
Mereka saling menatap beberapa detik.
Lalu...
Entah siapa yang lebih dulu. Keduanya sama-sama tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu, percakapan mereka terasa jauh lebih ringan.
Tak ada lagi ketegangan seperti sebelumnya.
Di balik senyuman itu, Rafael diam-diam merasa lega.
Setidaknya, hari ini Zilia sudah bisa tertawa tanpa mengingat Vio setiap saat.
Sedangkan Zilia sendiri mulai menyadari satu hal.
Rafael memang sering membuatnya kesal.
Namun anehnya...
Laki-laki itu juga perlahan mampu mengalihkan pikirannya dari luka yang selama ini terus menghantuinya.
Di sudut restoran...
Rafael dan Zilia menikmati hidangan mereka sambil sesekali saling melempar candaan.
Meski masih sering berdebat, suasana di antara keduanya jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya.
Di saat yang bersamaan... Pintu restoran kembali terbuka. Sepasang pria dan wanita melangkah masuk.
"Kiita duduk di sana saja, ya."
Vio mengangguk pelan.
"Iya."
Tanpa banyak memperhatikan sekitar, keduanya mengikuti pelayan menuju meja yang ternyata hanya berjarak beberapa meter dari tempat Rafael dan Zilia duduk.
Baru saja Vio menarik kursinya...
Tatapannya membeku.
Tangannya yang hendak mengambil gelas berhenti di udara.
"Itu..."
Matanya tak berkedip menatap ke arah Zilia.
Di hadapannya, Zilia tampak sedang berbicara dengan Rafael.
Sesekali senyum tipis menghiasi wajah gadis itu.
Senyum yang sudah lama tidak pernah ia lihat sejak hubungan mereka memburuk.
Rahang Vio mengeras.
Tangannya perlahan mengepal di bawah meja.
Aleena mengikuti arah pandang suaminya.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Ternyata dia."
Vio tidak menjawab.
Tatapannya masih terpaku pada Zilia.
Di sisi lain, Rafael sedang mengambilkan segelas air putih untuk Zilia.
"Minum dulu."
"Kamu tadi sempat tersedak."
Zilia menerima gelas itu.
"Makasih. Jangan cuma bilang makasih."
"Lalu?"
"Habiskan makannya. Kamu terlalu kurus."
Zilia mendelik.
"Kamu baru kenal aku beberapa hari. Sok tahu."
Rafael terkekeh kecil.
"Aku sedang berusaha mengenal calon istriku."
Ucapan itu membuat Zilia mendecakkan lidah.
"Dasar pede."
Percakapan sederhana itu justru membuat dada Vio semakin sesak.
Ia belum pernah melihat Zilia setenang itu bersama laki-laki lain.
Aleena yang duduk di hadapannya hanya memperhatikan perubahan ekspresi suaminya.
"Cemburu?"
Vio tetap diam.
"Aku tanya. Kamu cemburu?"
Vio akhirnya mengalihkan pandangan.
"Aku hanya tidak suka melihatnya bersama laki-laki lain."
Aleena tersenyum sinis.
"Lucu."
"Waktu dia bersamamu, kamu masih menjadi suamiku."
"Sekarang ketika dia mulai mencoba melupakanmu... kamu baru gelisah."
Tatapan Vio berubah tajam.
"Aku sudah bilang. Pernikahan ini bukan keinginanku."
"Tapi tetap saja."
Aleena menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Statusmu tetap suamiku. Dan statusku tetap istrimu. Kenyataan itu tidak akan berubah hanya karena kamu mencintai perempuan lain."
Vio mengepalkan kedua tangannya.
Di kejauhan, Rafael tanpa sengaja menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Tatapan Rafael langsung berubah dingin saat menyadari Vio berada di restoran yang sama.
Ia kemudian melirik Aleena yang duduk di samping Vio. Tanpa berkata apa-apa, Rafael kembali menoleh kepada Zilia.
"Sudah selesai makannya?"
Zilia mengangguk.
"Sudah."
"Ayo. Kita pulang."
Zilia bangkit dari duduknya tanpa menyadari keberadaan Vio. Namun ketika ia berbalik...
Langkahnya mendadak terhenti.
Tatapannya bertemu dengan mata Vio.
Wajah Zilia perlahan berubah datar. Tak ada lagi senyum. Tak ada lagi harapan.
Yang tersisa hanyalah luka yang belum sepenuhnya sembuh. Rafael menyadari perubahan ekspresi Zilia.
Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan berdiri di sisi gadis itu. Bukan untuk memancing keributan.
Melainkan menunjukkan bahwa Zilia tidak sendirian.
Sementara Vio hanya mampu menatap mereka berdua. Pemandangan itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris harga dirinya.
Perempuan yang dulu berjanji akan menunggunya. Kini berdiri di samping laki-laki lain, yang terang-terangan melindunginya di depan semua orang.
Suasana restoran seakan membeku.
Tatapan Vio dan Zilia kembali bertemu.
Namun kali ini, tidak ada lagi kehangatan yang dulu pernah ada. Yang tersisa hanyalah jarak dan luka. Rafael yang berdiri di samping Zilia menangkap perubahan raut wajah gadis itu.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengulurkan tangannya. Perlahan, jemarinya menggenggam tangan Zilia.
"Yuk."
Zilia sempat menoleh.
Tatapannya beralih pada tangan Rafael yang menggenggam tangannya.
Entah karena masih terluka... Atau karena ingin mengakhiri semua harapan Vio...
Zilia tidak melepaskan genggaman itu.
Ia justru membiarkannya.
"Kita pulang," ucap Rafael pelan.
"Iya."
Jawaban singkat Zilia membuat dada Vio seakan diremas.
Tangannya mengepal di bawah meja. Matanya tak lepas mengikuti langkah mereka. Setiap langkah yang diambil Zilia bersama Rafael terasa seperti menghancurkan harapan yang selama ini masih ia pertahankan. Aleena yang duduk di hadapannya menyunggingkan senyum tipis.
"Kelihatannya...dia sudah mulai menerima tunangannya."
"Diam."
Suara Vio terdengar berat.
Aleena justru terkekeh pelan.
"Sakit, ya? Melihat perempuan yang kamu cintai digandeng laki-laki lain. Padahal dulu dia selalu menggandeng tanganmu."
Vio mengatupkan rahangnya.
"Cukup."
"Tidak. Aku justru ingin kamu melihatnya sampai puas. Supaya kamu sadar. Perempuan itu perlahan sedang melepaskanmu."
Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hati Vio.
Di sisi lain...
Rafael sengaja memperlambat langkahnya agar Zilia bisa berjalan dengan nyaman.
"Kamu tidak apa-apa?"
Zilia menarik napas panjang.
"Aku baik-baik saja."
"Yakin?"
"Kalau aku bilang tidak, memangnya luka ini bisa langsung hilang?"
Rafael terdiam.
Ia tahu, luka akibat pengkhianatan tidak bisa sembuh hanya dengan kata-kata.
Sesaat kemudian, Rafael mengusap pelan punggung tangan Zilia dengan ibu jarinya.
"Kalau belum bisa melupakan... setidaknya jangan menyiksa dirimu sendiri."
Zilia menundukkan kepala.
"Aku tidak sedang menyiksa diri. Aku hanya sedang belajar menerima kenyataan."
Rafael mengangguk pelan.
"Bagus. Karena mulai hari ini...tidak ada lagi alasan bagimu untuk menoleh ke belakang."
Mereka terus berjalan menuju pintu keluar restoran.
Sebelum benar-benar keluar, Zilia berhenti sejenak.
Tanpa menoleh ke arah Vio, ia berkata lirih,
"Ada orang yang pernah bilang akan kembali menjemputku. Ternyata... yang datang lebih dulu justru kenyataan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Zilia melangkah keluar bersama Rafael.
Sedangkan Vio masih terduduk mematung.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dulu selalu menunggunya.
Dan kini...
Perlahan, Zilia mulai berjalan meninggalkan masa lalunya.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄