Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##06
Kertas berisi catatan transaksi gelap itu terasa begitu berat dalam genggaman Baxeena.
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor Markas Bersenjata Kerajaan—bangunan benteng beton dan kaca tahan peluru yang berdiri megah di kawasan Whitehall—Baxeena tidak dapat menahan desakan di dadanya.
Pikirannya dipenuhi oleh kemarahan yang dingin. Sebagai wanita karier asal Los Angeles yang terbiasa mengendalikan bisnis miliaran dolar, ia tidak suka dibodohi, apalagi melihat seorang anak remaja dimanfaatkan oleh ibu kandungnya sendiri untuk memeras kas kerajaan.
Izin masuk khusus yang disematkan Ratu Lizzeebeeth di gaunnya membuat para prajurit berseragam lengkap memberi hormat kaku saat Baxeena melintas. Namun, di balik langkah anggunnya yang tenang, Baxeena sejujurnya sedang memendam rasa tidak sabar. Ia ingin melempar kertas ini tepat di depan wajah perkasa suaminya.
Langkah kaki Baxeena terhenti di depan pintu ganda berbahan baja tebal dengan lambang divisi komando tertinggi. Dua orang perwira berseragam ketat menjaga pintu tersebut.
"Selamat siang, Your Grace," panggil salah satu perwira sembari membungkuk hormat. "Duke of Edmund sedang berada di dalam bersama jajaran dewan perwira tinggi. Apakah Anda ingin kami memberitahukan kehadiran Anda?"
Baxeena merapikan blazer kasmirnya yang berpotongan elegan. Ia menegakkan punggungnya, memasang kembali ekspresi formal dan dingin yang biasa ia gunakan di ruang rapat.
"Tidak perlu mengganggu rapat resmi," sahut Baxeena dengan tata bahasa kaku dan terstruktur—gaya bicara resmi kerajaan yang secara tidak sadar ikut ia serap karena suaminya selalu berbicara seperti buku sejarah hidup. "Saya akan menunggu di ruang kerja pribadinya hingga kewajiban militer Beliau selesai. Mohon tunjukkan jalannya."
"Tentu, Your Grace. Mari lewat sini."
Perwira itu membimbing Baxeena melewati lorong samping menuju ruang kerja khusus Sang Duke. Namun, tepat saat Baxeena melintasi pintu penghubung berdinding kaca tebal yang sedikit terbuka, suara percakapan dari dalam ruang komando terdengar memantul jelas di koridor yang sunyi.
Baxeena menghentikan langkahnya secara refleks.
Di dalam ruangan berpanel layar navigasi taktis itu, Alistair berdiri tegap di ujung meja.
Di sekelilingnya, berdiri tiga orang perwira senior bertanda pangkat bintang di pundak mereka. Dua di antaranya adalah sahabat karib Alistair sejak Masa High school– sama-sama bertugas di Sejak akademi militer Sandhurst—pria-pria yang juga menjadi saksi sejarah masa-masa muda Alistair.
"Pernyataan aliansi dengan keluarga Desmon sudah ditandatangani publik," ujar salah satu perwira bermata biru, Jenderal Arthur, sembari menyesap kopinya dengan santai. "Tapi jujur saja, Alistair, aku masih tidak percaya kau berhasil menikahi wanita dari Los Angeles itu lagi. Dulu, saat kalian masih berseragam High School, kau seperti pria kesetanan yang mengejarnya ke mana-mana."
Alistair yang sedang memeriksa berkas peta kekuatan militer di meja hologram tidak merubah posisi tubuhnya. Garis rahangnya tetap mengeras, kaku, dan formal seperti biasa. "Jenderal Arthur, kita sedang membahas logistik pertahanan sayap utara, bukan membedah riwayat pribadi saya."
Jenderal Arthur tertawa terkekeh, tidak terintimidasi oleh pangkat pangeran maupun jabatan sang Duke. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, ayolah, Alistair. Kita ini kawan lama. Aku mengingat jelas betapa kau dulu selalu banyak bicara dan terus mengeluh jika sehari saja tidak bertemu dengannya. Bahkan... apa kau sudah lupa bagaimana Baxeena susah berjalan gara-gara dirimu dulu setelah pesta dansa akhir semester itu?"
Deg.
Baxeena yang mendengarkan dari balik dinding kaca seketika membeku. Darah mendidih naik membasahi seluruh paras cantiknya. Pipinya yang mulus terbakar merah padam dalam sekejap mata.
Tangan Baxeena yang memegang berkas bergetar tipis, bukan karena marah, melainkan karena rasa malu setengah mati yang menghantam jiwanya tanpa ampun. Ia ingat betul pesta dansa konyol belasan tahun lalu itu—malam di mana Alistair mengajaknya berdansa tanpa henti selama Satu jam nonstop dengan sepatu hak tinggi, membuat kakinya terkilir dan tidak bisa berjalan selama tiga hari!
"Tapi..." suara Jenderal Arthur mendadak merendah, kehilangan nada bercandanya. Pandangannya menatap Alistair dengan raut heran yang emosional. "Kenapa tadi di katedral... aku tidak lagi bisa melihat binar cinta di matanya, Alistair? Tatapannya padamu begitu dingin. Berbeda sekali dengan gadis yang dulu selalu menatapmu seolah kau adalah poros dunianya."
Ruangan komando itu mendadak hening.
Alistair memegang tepi meja hologram. Bahunya yang tegap meluruh beberapa milimeter. Di balik seragam militernya yang gagah dan ekspresi wajahnya yang selalu kaku bak patung batu, ada duka yang sangat dalam yang menguar dari helaan napasnya.
Alistair berdehem pelan untuk menguasai suaranya yang mendadak serak.
"Dia telah kecewa padaku," bisik Alistair amat pelan. Suaranya datar, namun mengandung kepedihan yang teramat jujur. "Dan kekecewaan itu adalah mahakarya atas kebodohanku sendiri di masa lalu."
Di luar ruangan, Baxeena menggigit bibirnya rapat-rapat. Rasa malu yang baru saja meliputinya perlahan bersimpangan dengan rasa sesak yang meremas dadanya. Kalimat jujur dari Alistair menusuk benteng pertahanannya.
Tanpa membuang waktu lagi dan tidak ingin tertangkap basah sedang menguntit, Baxeena berbalik cepat dan berjalan tergesa-gesa memasuki ruang kerja pribadi Alistair yang berada beberapa meter di ujung koridor.
Baxeena menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kulit di balik meja kerja Alistair. Ia mengipasi wajahnya yang masih terasa panas dengan lembaran kertas bukti transfer.
"Pria bodoh," gumam Baxeena pada ruangan hampa, mencoba mengalihkan rasa canggung yang membakar dadanya. "Bahasa resminya yang kaku itu ternyata menular padaku. Kenapa aku harus ikut-ikutan bicara kaku seperti bangsawan abad pertengahan di depannya tadi pagi?"
Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu ruang kerja berderit terbuka.
Alistair melangkah masuk, memegang beberapa map berkas militer. Langkah kakinya yang mantap terhenti sejenak ketika mendapati Baxeena duduk anggun di kursi kerjanya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara kejengkelan, rasa malu yang tersisa, dan kebencian yang dipaksakan.
Alistair menutup pintu rapat-rapat. Wajahnya kembali terpasang kaku dan formal, namun matanya memancarkan rasa terkejut yang halus.
"Kehadiranmu di markas militer ini sungguh di luar dugaan, Your Grace," kata Alistair, melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang amat teratur. "Apakah ada hal mendesak dari istana yang memerlukan intervensi langsung dari saya?"
Baxeena memutar bola matanya, mendengus pelan mendengar gaya bahasa Alistair yang terlampau formal. "Bisakah kau berhenti berbicara seolah-olah kita sedang berada di dalam sidang parlemen abad ke-18, Pangeran Alistair? Tata bahasa kakumu membuatku kelelahan setengah mati."
Di balik raut wajah Alistair yang datar bak batu pualam, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah kedutan halus yang sengaja ia tahan mati-matian agar tidak berkembang menjadi senyuman utuh.
Dulu, Baxeena memang selalu memprotes gaya bicaranya yang terlalu formal saat mereka masih berpacaran.
Alistair berdehem pelan untuk menetralkan ekspresinya. "Maafkan aku. Jadi, apa yang membawa langkah kakimu ke tempat ini?"
"Ini," Baxeena melempar kertas salinan bukti transfer itu ke atas meja mahoni. Kertas itu meluncur dan berhenti tepat di depan dada Alistair.
Alistair menunduk, meraih kertas tersebut, lalu membacanya dengan saksama. Seiring matanya menyapu barisan angka dan stempel rahasia di kertas itu, garis rahang Sang Duke perlahan mengeras. Aura dingin seorang komandan perang seketika memancar dari tubuhnya.
"Dari mana kau mendapatkan dokumen ini, Xeena?" tanya Alistair, suaranya kini merendah, sarat akan bahaya.
"Putrimu yang menyerahkannya—secara tidak sengaja, tentu saja," sahut Baxeena dengan nada sarkastik. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, melipat tangannya di dada. "Kertas itu jatuh dari amplop rahasianya saat ia bersembunyi di balik pilar istana tadi siang. Sepertinya, mantan istrimu yang amat dicintainya itu sedang menggunakan gadis kecil yang malang sebagai perantara untuk menguras anggaran rahasia istana."
Alistair memejamkan matanya sejenak. Pengkhianatan finansial ini bukanlah hal baru baginya, namun fakta bahwa Katherine melibatkan Violet—anak yang masih polos—adalah garis batas yang telah dilanggar.
Ketika Alistair membuka matanya kembali, pandangannya jatuh pada Baxeena. Pria itu menyadari betapa tajamnya insting Baxeena. Wanita ini tidak datang untuk mengadu sambil menangis; ia datang bagai seorang ksatria yang membawa bukti kejahatan di meja perundingan.
"Terima kasih telah membawakan ini padaku, Xeena," ujar Alistair. Suaranya kini melunak. "Aku akan meminta tim audit internal untuk membekukan rekening tersebut sore ini juga."
Baxeena menegakkan duduknya, menatap Alistair dengan pandangan menantang. "Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih, Alistair. Aku hanya tidak ingin nama baik atau keberadaan ku di istana dijadikan kambing hitam atas kebangkrutan yang diciptakan oleh wanita dari masa lalu mu sendiri."
Alistair menatap Baxeena dalam-dalam. Di balik kata-kata pedas dan tatapan benci istrinya, Alistair dapat melihat betapa wanita ini masih memiliki integritas yang luar biasa. Ia adalah wanita yang sama yang dulu selalu membela kebenaran dengan kepala tegak.
Alistair melangkah melintasi meja, mendekati kursi tempat Baxeena duduk. Langkahnya yang tenang membuat Baxeena refleks menegang, memperketat pertahanannya.
Pangeran tinggi besar itu membungkukkan tubuhnya sedikit, menaruh kedua tangannya di sandaran kursi Baxeena—mengurung wanita itu dalam jarak yang teramat dekat. Aroma parfum kayu cendana dan leather milik Alistair seketika menyerbu indra penciuman Baxeena, memicu memori-memori lama yang sangat berbahaya bagi pertahanan hatinya.
"Pangeran Alistair..." bisik Baxeena, suaranya sedikit bergetar karena terkejut. "Jaga jarak. Kita sedang berada di markas militer."
Alistair tidak mundur. Pria itu justru menatap mata Baxeena dengan binar hangat yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng esnya. Wajahnya yang kaku dan selalu serius itu tiba-tiba dihiasi oleh senyuman tipis yang teramat tampan—senyuman tulus yang dulu selalu membuat jantung Baxeena berdegup kencang saat masa-masa Berpacaran.
"Dulu kau selalu protes jika aku terlalu banyak berbicara," bisik Alistair lembut, suaranya bagai gesekan sutra yang hangat. "Sekarang kau protes karena aku terlalu kaku. Katakan padaku, Xeena... bagaimana caranya agar aku bisa menyenangkan hatimu lagi?"
Pipil Baxeena kembali memerah padam. Godaan halus dari suaminya yang biasanya kaku itu menghantamnya tepat di ulu hati. Baxeena mengepalkan tangannya di pangkuan, mencoba mempertahankan tatapan bencilah yang menjadi perisainya.
"Kau tidak akan pernah bisa menyenangkan hatiku lagi, Alistair," sahut Baxeena dingin, menancapkan pandangannya tepat ke dalam manik mata Alistair. "Luka yang kau torehkan belasan tahun lalu tidak bisa dihapus hanya dengan senyuman konyol atau godaan murah di ruang kerja ini."
Senyuman di bibir Alistair perlahan meluruh, berganti dengan tatapan penuh rasa bersalah yang amat dalam. Namun, bukannya marah atau membela diri, Alistair justru mengangguk pelan dalam kepasrahan yang jujur.
"Aku tahu," bisik Alistair, suaranya sarat akan duka yang terpendam. "Aku tahu dosa-dosaku padamu tak terampuni, Amore. Tapi aku punya seumur hidupku untuk menerima kebencianmu... asalkan kau tetap berada di sisiku."
Baxeena mendorong dada tegap Alistair secara halus namun tegas, memaksa pria itu mengambil satu langkah mundur untuk memberinya ruang bernapas. Baxeena berdiri dari kursinya, merapikan blazernya dengan gerakan canggung yang berusaha ditutupi oleh keanggungan formalnya.
"Urus dokumen pemerasan itu," kata Baxeena kaku, mengalihkan pembicaraan sebelum dadanya meledak oleh sensasi asing yang mulai merayap di hatinya. "Dan pastikan putrimu tidak membenciku lebih dari yang seharusnya. Aku akan kembali ke istana."
Baxeena membalikkan badan dan melangkah cepat menuju pintu. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh gagang pintu, suara Alistair kembali menghentikannya.
"Baxeena."
Baxeena tidak memutar badan, hanya menghentikan langkahnya.
"Soal kata-kata Jenderal Arthur di koridor tadi..." ujar Alistair, ada nada geli sekaligus canggung dalam suaranya yang langka. "...sepatu hak tinggi untuk acara makan malam kita besok sudah kuminta untuk diganti dengan alas kaki yang lebih nyaman. Aku tidak ingin membuatmu susah berjalan untuk kedua kalinya."
Deg.
Baxeena mengepalkan tangannya rapat-rapat. Pria ini tahu! Pria ini tahu bahwa Baxeena mendengarkan percakapan konyol mereka di luar tadi!
Tanpa menjawab sepatah kata pun dan dengan wajah yang terbakar merah hingga ke ujung telinga, Baxeena menarik pintu hingga terbuka lebar dan melangkah keluar dari ruang kerja itu dengan cepat, meninggalkan Alistair yang berdiri di dalam ruangan dengan senyuman manis yang tertahan di balik wajah kaku seorang Pangeran Kerajaan.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭