NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Kecurigaan Nadira

"Kita harus lebih cepat."

Kiara tidak langsung bertanya.

Ia hanya menatap wajah Arga yang masih pucat, lalu mengambil botol air otomatis dan menekannya ke tangan Arga.

"Minum dulu."

Arga menerima.

Tangannya masih sedikit gemetar.

Itu cukup membuat Kiara makin marah.

Marah yang tenang.

Jenis marah yang lebih berbahaya daripada teriakan.

"Setelah itu," katanya, "kamu tidur lagi."

"Tidak ada waktu."

"Ada."

"Kiara."

"Aku tidak sedang minta izin."

Arga menatapnya.

Gadis yang dulu gemetar di jendela gimnasium sudah tidak ada.

Di hadapannya sekarang berdiri Kiara yang bisa menahan panik, membaca napas, dan memerintahnya minum setelah ia membawa pulang lima ribu kilogram barang.

Bagus.

Terlalu bagus untuk dibiarkan tetap Tingkat 1.

Arga meletakkan botol.

"Kalau begitu, naik dulu."

Kiara mengerutkan dahi.

"Apa?"

"Kamu naik Tingkat 2 hari ini."

Ruangan mendadak sunyi.

Dara yang baru masuk dengan membawa ember berhenti di pintu.

"Serius?"

Nadira muncul di belakangnya dengan papan catatan.

Matanya langsung jatuh pada kantong Kristal di samping ranjang.

"Anda baru bangun."

"Aku bisa duduk."

"Itu standar medis yang buruk."

"Cukup untuk memberi instruksi."

Nadira menarik napas pelan, lalu tidak membantah. Ia sudah belajar bahwa Arga bisa dicegah dari bergerak, tetapi sulit dicegah dari mengambil keputusan.

Kiara duduk di tepi ranjang.

"Apa yang harus kulakukan?"

Arga mengeluarkan dua Kristal Tingkat 2 dan dua puluh Kristal Tingkat 1.

Cahaya biru tua dan bening pucat bercampur di atas seprai putih.

"Kamu sudah Tingkat 1. Tubuhmu juga punya dasar dua kali manusia biasa dari Serum Evolusi Biasa. Untuk Tingkat 2, inti energinya memakai dua Kristal Tingkat 2. Kristal Tingkat 1 menjaga aliran agar tidak pecah."

Dara menelan ludah.

"Kalau alirannya pecah?"

"Organ dalam bisa rusak."

"Kamu selalu bisa membuat sesuatu terdengar menyenangkan."

Kiara tidak tertawa.

Ia mengambil satu Kristal Tingkat 2.

"Berapa sakit?"

"Lebih dari kemarin."

"Aku bisa tahan."

"Aku tahu."

Dua kata itu membuat tangan Kiara berhenti sekejap.

Lalu ia menelan Kristal pertama.

Kedua.

Kristal Tingkat 1 menyusul satu demi satu.

Rasa sakit datang seperti api hitam.

Punggung Kiara melengkung.

Jari-jarinya mencengkeram seprai sampai kainnya robek.

Dara bergerak maju refleks.

Arga mengangkat tangan.

"Jangan sentuh."

Kiara menggigit bibirnya sendiri.

Darah keluar.

Bayangan di bawah ranjang bergerak.

Bukan karena lampu.

Bayangan itu seperti cairan hitam tipis yang merespons denyut tubuhnya.

Nadira melihatnya.

Ia mencatat tanpa suara.

Arga melihat lebih dalam.

Benih Bayangan semakin jelas.

Belum menjadi kemampuan penuh. Belum cukup kuat untuk menghilangkan tubuh. Tetapi responsnya lebih cepat dari kehidupan sebelumnya.

Efek Kupu-Kupu juga mempercepat orang-orang di sisi Arga.

Ia juga mempercepat orang-orang di sisinya.

Kiara menahan sakit selama dua belas menit.

Pada menit ketiga belas, napasnya berubah.

Lebih ringan.

Lebih tajam.

Ia membuka mata.

Untuk satu detik, seluruh ruangan seperti kehilangan suaranya.

Kiara menoleh ke pintu.

"Ada tiga orang di koridor. Satu berdiri di kiri, dua duduk di lantai."

Dara menengok.

Benar.

"Gila."

Kiara berdiri.

Terlalu cepat.

Tubuhnya hampir menabrak meja, tetapi ia menghilang setengah langkah dari posisi awal dan muncul di samping jendela.

Bukan Teleportasi.

Hanya kecepatan.

Kecepatan yang bagi mata biasa tampak seperti bayangan tersentak.

Dara menunjuk.

"Aku tidak suka ini. Aku baru saja Tingkat 1 dan kamu langsung membuatku terlihat lambat."

Kiara menatap tangannya sendiri.

Senyumnya muncul.

Kecil.

Tajam.

"Aku juga tidak suka. Rasanya masih kurang."

Arga duduk lebih tegak.

"Tingkat 2 Evolver. Dengan dasar Serum Evolusi Biasa, tubuhmu sekarang sekitar delapan kali manusia biasa."

Nadira mengangkat kepala.

"Delapan?"

"Dua kali dasar. Dua kali saat Tingkat 1. Dua kali lagi saat Tingkat 2."

Nadira menulis.

"Perkalian bertingkat. Bukan tambahan."

"Benar."

Matanya bergerak cepat.

Kalau Arga tiga kali dasar, Tingkat 2 berarti dua belas kali.

Itu menjelaskan kemarin.

Itu juga menjelaskan kenapa lima puluh pria mundur tanpa perlu bertarung.

Kiara mengambil belati Hi-Tech.

"Aku perlu tes."

"Atap," kata Arga. "Dara ikut. Jangan pakai kekuatan penuh di koridor."

Dara langsung cerah.

"Akhirnya."

Kiara menatap Arga.

"Kamu?"

"Aku istirahat."

Kiara jelas tidak percaya.

Arga menambahkan, "Di bawah pengawasan Nadira."

Nadira mengangkat alis.

"Saya jadi penjaga pasien?"

"Manajer."

"Itu bukan tugas yang saya maksud."

"Hari ini iya."

Kiara baru puas setelah mendengar itu.

Ia dan Dara naik ke atap.

Tidak lama kemudian, suara pukulan tertahan dan seruan Dara terdengar dari atas.

"Pelan! Aku bilang pelan!"

Kiara menjawab dari jauh, "Itu sudah pelan."

Arga menutup mata sebentar.

Nadira duduk di kursi seberang ranjang.

"Saya punya laporan."

"Bicara."

"Selama Anda tidak bisa beroperasi penuh, saya menjalankan enam regu kecil secara bergiliran. Tidak jauh. Radius maksimal dua ratus meter dari hotel. Dara memimpin dua kali. Kiara sebelum naik Tingkat 2 memimpin satu kali. Sisanya hanya pengambilan barang dan pembersihan titik rendah."

Arga membuka mata.

"Hasil."

"Enam Airdrop Box. Semuanya Biasa, satu sedikit lebih baik. Tujuh puluh empat Kristal Tingkat 1. Nol korban. Dua luka ringan karena salah kontrol kekuatan, bukan serangan Zombie."

Nadira meletakkan kertas di atas meja.

Rapi.

Ada peta hotel.

Ada panah rute.

Ada daftar siapa keluar, siapa membawa apa, siapa panik, siapa berguna.

"Stok masuk sudah saya pisahkan. Tujuh puluh persen pusat, tiga puluh persen hak regu. Tetapi untuk Kristal, semua anggota setuju menunda hak pribadi sampai aturan prioritas peningkatan tahap dua selesai."

"Mereka setuju?"

"Setelah saya jelaskan bahwa orang yang menyimpan Kristal untuk pamer akan tetap mati kalau tim pecah."

Arga menatapnya.

Nadira tampak lelah.

Tetapi bukan lelah yang kosong.

Lelah yang menghasilkan angka.

"Bagus."

"Hanya bagus?"

"Sangat bagus."

Nadira menerima itu seperti tanda tangan kontrak.

Ia membalik halaman.

"Ada masalah lain."

"Apa?"

"Beberapa kelompok manusia di sekitar hotel mulai memperhatikan kita. Mereka belum berani mendekat karena reputasi Anda, tetapi setelah melihat regu kami keluar masuk, mereka tahu kita punya makanan dan Evolver."

"Catat posisi."

"Sudah."

"Jangan serang dulu."

"Saya juga berpikir begitu. Membunuh manusia terlalu cepat akan menciptakan koalisi karena takut. Lebih baik mereka saling curiga lebih dulu."

Arga menatap Nadira lebih lama.

Di kehidupan sebelumnya, butuh waktu bagi Nadira sampai setenang ini.

Sekarang ia mengejar terlalu cepat.

Seperti dunia.

"Ada lagi?"

Nadira menutup laporan.

"Ada pertanyaan."

Nada suaranya berubah.

Masih formal.

Tetapi lebih tipis.

Lebih tajam.

"Tanya."

"Menurut Anda, bencana berikutnya kapan datang?"

Ruangan menjadi sunyi.

Di atas, suara Dara masih terdengar, tetapi jauh.

Arga hampir menjawab.

Kebiasaan enam tahun mengambil alih sepersekian detik.

"Sekitar hari ketiga puluh akan ada gelombang kedua..."

Ia berhenti.

Mata Nadira tidak berkedip.

Telepati menyentuh pikirannya.

Kena.

Dia tidak bilang "mungkin".

Dia bilang "akan".

Hari ketiga puluh.

Angka spesifik.

Prediksi bukan seperti itu.

Ini memori.

Jantung Nadira berdetak lebih cepat, tetapi wajahnya tenang.

Luar biasa.

Dia benar-benar tahu masa depan.

Kalau ini webnovel, jawabannya sudah jelas.

Terlahir kembali.

Dan kalau dia protagonis...

Aku tidak boleh berdiri di depannya.

Aku harus berdiri di sampingnya.

Bukan sebagai penonton.

Sebagai orang yang tidak bisa dia gantikan.

Arga diam.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu Nadira di kehidupan ini, ia merasa sedikit terkejut.

Bukan karena Nadira menebak.

Ia memang akan menebak.

Tetapi karena arah pikirannya.

Nadira tidak takut.

Tidak ingin melarikan diri.

Tidak ingin membongkar rahasianya di depan orang lain.

Ia sedang menghitung posisi terbaik di sisi Arga.

Dengan logika yang nyaris konyol.

Logika pembaca webnovel yang dilempar ke kiamat sungguhan.

Nadira mengambil spidol dan menulis di laporan.

"Gelombang kedua sekitar hari ketiga puluh. Saya akan menandainya sebagai kemungkinan tinggi."

Arga menatapnya.

"Aku belum selesai bicara."

"Anda berhenti karena saya sudah mendapat cukup."

"Kamu sengaja memancing."

"Ya."

Jawaban itu terlalu jujur.

Arga hampir tertawa.

"Kamu tidak takut dengan jawabannya?"

Nadira menutup spidol.

"Saya takut pada Zombie, kelaparan, penyakit, dan manusia bodoh yang memegang senjata. Saya tidak takut pada informasi."

"Informasi bisa membunuh."

"Hanya kalau dipakai buruk."

"Atau diketahui orang yang salah."

Nadira menatapnya langsung.

"Maka jangan biarkan saya menjadi orang yang salah."

Kalimat itu masuk dengan tenang.

Tidak seperti sumpah.

Lebih seperti proposal.

Arga menggunakan Telepati lebih dalam.

Yang ia temukan bukan pengkhianatan.

Bukan rencana menjual rahasia.

Ada ambisi.

Besar.

Tajam.

Tetapi ambisi itu sedang mengikat dirinya pada satu kesimpulan.

Arga adalah pilihan terbaik untuk hidup.

Maka ia akan membuat dirinya menjadi pilihan terbaik untuk Arga.

Praktis.

Egois.

Setia karena logis.

Arga menyukai bentuk kesetiaan seperti itu.

Lebih tahan lama daripada air mata.

"Nadira."

"Ya."

"Selama kamu tidak bertanya di depan orang lain, kamu boleh menebak."

Mata Nadira bergerak sedikit.

"Itu izin?"

"Itu batas."

"Saya mengerti."

"Kalau kamu melewati batas..."

"Anda akan membunuh saya?"

"Tidak."

Nadira terdiam.

Arga berkata datar, "Aku akan mengambil semua wewenangmu. Bagimu, itu lebih buruk."

Untuk pertama kalinya hari itu, Nadira tersenyum kecil.

"Benar."

Pintu terbuka.

Dara masuk dengan rambut berantakan dan wajah kesal.

"Kiara curang."

Kiara muncul di belakangnya tanpa suara.

"Aku lebih cepat. Itu bukan curang."

"Kamu bergerak seperti asap."

"Itu pujian?"

"Itu keluhan."

Kiara melihat Arga.

"Kamu belum tidur lagi."

Arga menunjuk Nadira.

"Dia memberi laporan."

Kiara menatap Nadira.

Nadira mengangkat laporan.

"Laporan selesai. Pasien bisa tidur."

"Bagus."

Arga merasa dua pasang mata perempuan itu sekarang berada di pihak yang sama.

Tidak sepenuhnya nyaman.

Tetapi efektif.

Ia berbaring lagi.

Dara mengambil kursi dan duduk.

"Jadi, Kiara sudah Tingkat 2. Kapan aku?"

Nadira menjawab sebelum Arga.

"Saat kontribusi dan kontrol tubuhmu memenuhi syarat."

"Aku berkontribusi."

"Kamu juga hampir menendang toren air dari atap."

"Itu latihan."

"Itu kerusakan properti."

Kiara duduk di sisi ranjang.

Arga memejamkan mata, tetapi tidak tidur.

Pikirannya masih pada Sang Tetua.

Hari ketiga puluh.

Gelombang kedua.

Tingkat 2 yang muncul lebih awal.

Nadira yang menebak lebih cepat.

Kiara yang mencapai Tingkat 2 lebih cepat.

Semua bergerak lebih cepat.

Pertanyaannya sudah berubah: seberapa jauh ia bisa memaksa kemenangan lama tumbuh lebih cepat.

Pertanyaannya adalah apakah kemenangan lama masih cukup.

Malam itu, setelah semua orang tidur, Nadira duduk di sudut Tenda Hi-Tech.

Ia membuka ponsel.

Catatan lama masih ada.

Ia menambahkan dua baris baru.

Konfirmasi: dia tahu masa depan.

Strategi: menjadi orang yang paling tidak bisa dia gantikan.

Ia berhenti sebentar.

Lalu menulis lagi.

Jika ini benar-benar sebuah webnovel, aku tidak harus menjadi penonton.

Minimal, aku akan menjadi pemeran perempuan kedua.

Nadira menutup ponsel.

Ia keluar dari Tenda Hi-Tech dan menatap langit.

Setelah listrik kota mati, bintang-bintang terlihat lebih tajam.

Indah.

Keji.

Seperti dunia yang baru.

Di bawah sana, Zombie masih berkeliaran.

Di dalam tenda, seorang pria yang mungkin pernah hidup melewati masa depan sedang tidur dengan rahasia yang terlalu besar.

Nadira merapatkan jaket.

"Baik, protagonis," bisiknya.

"Mari lihat seberapa jauh cerita ini bisa saya susun ulang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!