Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sinar matahari pagi menembus celah-celah pepohonan Desa Sukamaju. Adit berdiri di tengah area lahan perluasan seluas dua hektar yang baru saja dibersihkan oleh Bang Jarwo dan Bang Sopo.
Adit membuka antarmuka [Sistem Perkebunan dan Peternakan Level 3] yang melayang transparan di depan matanya.
[Menu Konstruksi: Gunakan Cetak Biru "Rumah Kaca Energi Murni"?]
[Persyaratan Lahan: 500 Meter Persegi.]
[Waktu Pembangunan: Instan Menggunakan Energi Sistem.]
"Gunakan cetak biru sekarang," perintah Adit dalam hati.
Dua detik kemudian, tanah di hadapan Adit bergetar halus. Cahaya keemasan berhembus keluar dari dalam tanah, membentuk fondasi batu obsidian yang kokoh. Dari fondasi tersebut, kerangka baja khusus dan dinding kaca kristal berkilauan tumbuh secara perlahan, menyelimuti area seluas setengah hektar.
Bang Jarwo dan Bang Sopo yang baru tiba membawa peralatan kebun sampai menjatuhkan cangkul mereka. Mata mereka melotot lebar.
"B-Bos... Ini sihir apa lagi?!" pekik Bang Sopo sambil mengucek matanya berulang kali.
"Ajaib... Struktur kacanya menyerap sinar matahari tapi memancarkan aura sejuk," gumam Bang Jarwo takjub.
[Pembangunan Selesai!]
[Rumah Kaca Energi Murni Level 1 Berhasil Dibuat.]
Efek 1: Mempercepat laju pertumbuhan tanaman spiritual sebesar 50%.
Efek 2: Perlindungan isolasi total dari hama, penyakit, dan efek cuaca ekstrem.
Efek 3: Mengondensensasi [Embun Energi Murni] setiap subuh untuk meningkatkan kualitas nutrisi tanah secara otomatis.
Adit tersenyum puas. Dengan bangunan ini, ia bisa membudidayakan varietas tanaman elit yang membutuhkan kondisi khusus tanpa takut terpengaruh cuaca luar.
Sekitar pukul 10.00 Pagi.
Dua buah mobil mewah memasuki area perkebunan Adit. Mobil pertama adalah SUV hitam milik Maya Saphira, sedangkan mobil kedua adalah sedan Alphard hitam berplat nomor khusus ibukota.
Riana turun dari SUV Maya dengan membawa rantang berisi makanan hangat. Wajah cantiknya berseri-seri saat berjalan mendekati Adit.
"Adit! Selamat atas kemenanganmu! Berita penangkapan Anton jadi topik nomor satu di seluruh TV nasional hari ini!" ujar Riana antusias sambil memeluk lengan Adit tanpa ragu.
Maya Saphira melangkah mendekat dengan gaya elegan khas jurnalis papan atas. Namun, raut wajahnya tidak sepenuhnya santai.
"Kabar buruknya, reputasi produkmu yang luar biasa itu kini memancing perhatian 'hiu-hiu besar' dari Jakarta," bisik Maya pelan.
Pintu sedan Alphard terbuka. Seorang pria paruh baya berjas abu-abu mahal keluar didampingi dua orang pengawal berbadan tegap. Pria itu menyunggingkan senyum formal yang dingin.
"Salam kenal, Saudara Aditya Pratama. Saya Hendra Wijaya, Direktur Eksekutif Nusantara Food Group," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan.
Nusantara Food Group adalah salah satu konglomerasi bisnis kuliner dan agrobisnis terbesar di Indonesia yang menguasai ratusan rantai restoran dan supermarket modern.
"Ada keperluan apa petinggi Nusantara Group datang ke perkebunan kecil saya?" tanya Adit tenang tanpa terintimidasi oleh wibawa Hendra.
Hendra tertawa kecil, melirik ke arah Rumah Kaca Energi Murni dengan binar ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan.
"Langsung pada intinya, saya suka anak muda yang efisien," kata Hendra.
"Kami telah menguji sampel sayuran dan daging dari kebunmu. Nutrisi dan rasanya berada di tingkat yang mustahil dicapai dengan teknologi pertanian biasa."
Hendra memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk menyerahkan sebundel dokumen tebal bernuansa emas.
"Nusantara Group ingin membeli 51% saham usaha milikmu serta hak eksklusif atas paten teknologi pembudidayaanmu.
Sebagai gantinya..." Hendra jeda sejenak, "Kami menawarkan dana segar sebesar 20 Miliar Rupiah secara tunai, plus posisi Direktur Operasional dengan gaji satu miliar per bulan."
Bang Jarwo yang mendengarkan dari kejauhan hampir tersedak ludahnya sendiri. "D-dua puluh miliar?!"
Namun, Adit bahkan tidak melirik dokumen tebal tersebut. Wajahnya tetap datar.
"Maaf, Pak Hendra. Usaha ini tidak dijual, dan saya tidak berniat membagikan kendali atas teknologi maupun lisensi produk saya kepada pihak mana pun," jawab Adit tegas dan lugas.
Senyum di wajah Hendra perlahan memudar, digantikan oleh tatapan tajam beraroma ancaman.
"Anak muda, jangan terlalu sombong hanya karena baru saja menumbangkan kelas teri seperti Anton Wijaya," ujar Hendra dengan suara berat. "Dunia bisnis nasional itu seperti lautan ganas. Tanpa naungan kapal besar seperti Nusantara Group, bisnis kecilmu akan dengan mudah dihancurkan oleh regulasi, boikot distribusi, atau akuisisi paksa."
Adit melangkah satu tingkat lebih dekat ke arah Hendra.
Aura [Fisik Manusia Super Level 2] dan tekanan dari gelar [Penguasa Wilayah Regional] mendadak terpancar kuat dari tubuh Adit, membuat dua pengawal tegap di belakang Hendra refleks mengambil posisi siaga karena merasa terancam.
"Akan saya pastikan siapa pun hiu yang mencoba menelan usaha saya di tanah ini... gigi mereka akan patah semuanya," balas Adit dengan nada dingin yang menusuk.
Hendra menatap Adit selama beberapa detik sebelum akhirnya terkehak dingin. "Menarik. Kita lihat seberapa lama idealismemu bisa bertahan di pasar nasional, Aditya Pratama."
Hendra berbalik arah dan masuk kembali ke dalam mobil Alphard-nya, lalu pergi meninggalkan debu yang membubung di jalanan desa.
"Dia bukan orang sembarangan, Dit," ujar Maya Saphira khawatir setelah mobil itu menghilang.
"Nusantara Group punya koneksi kuat ke kementerian dan jalur distribusi utama di pulau Jawa.
Mereka biasa menggunakan cara kotor jika penawaran damai ditolak."
"Biarkan saja," jawab Adit santai. "Dengan bantuan kalian dan sistem perkebunanku, kita akan membangun jalur distribusi independen kita sendiri."
Riana menggenggam erat tangan Adit. "Aku dan rantai restoran milik keluargaku akan selalu mendukungmu sepenuhnya, Dit."
Adit menatap layar sistemnya yang baru saja memunculkan notifikasi misi baru.
[Ting!]
[Misi Utama Aktif: Ekspansi Pasar Nasional!]
Target 1: Bangun Jalur Distribusi Mandiri di Ibukota.
Target 2: Capai Omset Bulanan Rp 10 Miliar.
Batas Waktu: 60 Hari.
Hadiah: [Modul Sistem Peternakan Murni Level 4] & [Sertifikasi Agrobisnis Global].
Pertempuran bisnis yang sesungguhnya baru saja dimulai.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.