Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Memulai Perjalanan Takdir
Enam purnama telah lewat dalam suasana damai. Dewi Rimau Kumango tiba-tiba malowek beberapa kali. Bulir-bulir keringat dingin muncul di kening Dewi Rimau Kumango. Wajah cantik jelita itu sedikit pucat.
Bagaga segera mengusap punggung Nirmala dengan lembut dan penuh kasih. Hatinya terasa bimbang. Sebelumnya Bagaga dan Nirmala sudah sepakat untuk berangkat menuju tanah Jawa dalam beberapa hari kedepan.
Menyadari kehamilan istrinya, Pandeka Pedang Suling Kumala menjadi bimbang. Tidak mungkin membawa Dewi Rimau Kumango dan Tombak Maut serta Pendekar Bayangan ikut ke Jawa Dwipa. Tapi dia juga bimbang meninggalkan Dewi Rimau Kumango di rumah.
Kenangan akan kehilangan Bidadari Merah, ternyata masih ada dilipatan ingatan nya.
Bibi kimung yang merawat Dewi Rimau Kumango semenjak kecil muncul dengan segelas air hangat. Setelah meneguk air hangat. Dewi Rimau Kumango menjadi lebih tenang. Wanita super sakti yang cantik jelita itu berucap lirih kepada Pandeka Pedang Suling Kumala suaminya.
"Uda, Lala ingin minum teh herbal bikinan Uda." Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum lembut. Perlahan dia mencium lembut kening Dewi Rimau Kumango dan berucap.
"Baiklah, mana teh nya. Uda akan seduhkan untuk Lala."
Pandeka Pedang Suling Kumala pergi ke belakang untuk menyeduh teh herbal wangi. Bibi Kimung ganti menjaga Dewi Rimau Kumango yang rebahan di ranjang.
Pandeka Pedang Suling Kumala sedang menyeduh teh herbal wangi. Aroma khas yang menenangkan merebak sampai keluar. Tuangku Labai Barewah yang tengah berada di langkan rumah melihat kearah dapur. Dia melihat Pandeka Pedang Suling Kumala keluar dari dapur membawa teko porselen putih dan sebuah cangkir.
"Aromanya lembut wangi dan menenangkan. Apa yang kamu bawa itu Bagaga ?"
"Ini teh herbal wangi Ayah. Lala minta dibuatkan."
"Hee....?? Kenapa anak itu manja sekali ???"
"Sepertinya Lala hamil Ayah."
"Apa ??? Hamil...???? Ya Tuhan, aku akan segera punya cucu." Tuangku Labai Barewah alias Harimau Kumango terlonjak dan merasa sangat senang. Pria yang juga adalah guru besar padepokan silat Harimau Kumango segera berdiri dan mendekati Pandeka Pedang Suling Kumala.
"Ayo ayo Bagaga. Mari cepat kitaeng antar teh nya untuk Nirmala." Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum melihat sikap ayah mertuanya yang sangat antusias.
"Mari Ayah."
Pandeka Pedang Suling Kumala mengajak Tuangku Labai Barewah masuk ke kamar.
Dewi Rimau Kumangoa duduk diatas pembaringan. Tubuhnya bersandar di kepala ranjang. Wajah cantiknya terlihat sedikit pucat.
Pandeka Pedang Suling Kumala menaruh teko diatas meja kecil, tidak terlalu jauh dari ranjang. Dia kemudian menuang teh herbal wangi ke gelas yang dia bawa. Aroma wangi yang lembut memenuhi kamar. Orang yang menghirup aroma wangi teh merasakan tubuh mereka menjadi relaks.
"Minumlah Lala sayang. Hati hati..."
"Makasih Uda. Hmm... Teh bikinan uda Bagaga sangat enak." Ucap Dewi Rimau Kumango seperti orang bergumam. Dia langsung menyesap teh herbal wangi.
Rona merah perlahan muncul di pipi Dewi Rimau Kumango.
"Mari kita duduk di luar, di pendopo Uda, Ayah."
"Ayolah, Uda lihat kamu sudah membaik. Mestinya duduk di pendapa depan lebih baik.
Bibi, tolong bawakan teh itu ke depan ya." Ucap Pandeka Pedang Suling Kumala sambil membantu Dewi Rimau Kumango bangkit.
Sesampainya di pendapa depan. Tuangku Labai Barewah berucap kepada Tek Bidah yang biasa menjaga Dewi Rimau Kumango.
"Tek Bidah, tolong minta andung Linang kemari. Minta Bardi untuk mengantar mu."
Tek Bidah, bibi pengasuh Dewi Rimau Kumango mengangguk. "Baik Tuangku." Ucap wanita itu sambil turun ke halaman.
"Bagaimana sekarang rasanya tubuh mu Nirmala ?"
"Rasanya kurang nyaman Ayah."
"Itu mestinya karena kamu hamil sayaang." Ucap Pandeka Pedang Suling Kumala.
"Ayah pikir juga begitu. Kita tunggu kehadiran andung Linang. Dia akan memastikan kondisi mu nak."
Pandeka Pedang Suling Kumala mengeluarkan dua cangkir porselen lain dari cincin semesta. Dia menuangkan teh herbal wangi. Pandeka Pedang Suling Kumala juga mengisi kembali cangkir teh Dewi Rimau Kumango.
"Ayah, silahkan cobain teh herbal ini. Ini adalah teh yang diberikan oleh istri gubernur Nguyen Bhoonk, Nien Lie."
"Heh... Teh ini luar biasa. Ada aroma lembut dan wangi dimulut. Setelah masuk ke perut, tubuh kita terasa lebih segar dan nyaman."
"Emang begitu Ayah. Nah ini untuk ayah saja. Aku masih punya beberapa kotak lagi." Dewi Rimau Kumango mengambil sebuah kotak kayu yang berukir indah dari ruang hampa.
"Eh... Bagaimana kamu bisa mengambil begitu saja dari ruang hampa begitu Nirmala ?" Tuangku Labai Barewah kaget dan bertanya dengan nada heran bin penasaran.
"Ohh, teh ini ada dalam gelang samudera ini. Gelang ini hadiah pernikahan dari Uda Bagaga. Ada ruang penyimpanan seluas seratus meter didalamnya.
Gelang suasa ini sangaaaat mahal." Dewi Rimau Kumango menjelaskan sambil tersenyum lucu.
"Ya ya Ayah pernah mendengar tentang gelang dan cincin ruang. Benar harganya amat sangat mahal sekali. Ayah dengar hanya Yang Mulia Dapunta Hyang dan Yuvaraja yang punya di Dharmasraya ini. Ayah tidak mengira kamu juga punya." Tuangku Labai Barewah memandang Dewi Rimau Kumango dan Pandeka Pedang Suling Kumala dengan sorot mata kagum.
Tuangku Labai Barewah kaget ketika Pandeka Pedang Suling Kumala menyerahkan sebuah cincin bewarna hitam namun berkilau.
"Cincin apa itu Bagaga."
"Ini cincin ruang batu Kemala. Cincin untuk Ayah, tapi ruang yang ada didalam cincin ini hanya dua puluh lima meter."
"Haa...! Ini beneran untuk Ayah ? Terus kamu bagaimana ??"
Palimo Alam tersenyum, dia memperlihatkan jari tangannya. Ada gambar cincin di jari manisnya.
Tuangku Labai Barewah kasihan melihat gambar cincin di jari manis Pandeka Pedang Suling Kumala. Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum melihat reaksi Tuangku Labai Barewah. Dia mengerti apa yang ada didalam fikiran Tuangku Labai Barewah. Palimo Alam tersenyum dan menjelaskan.
"Ayah cincin milik ku memang beda. Ini namanya cincin semesta. Ruang penyimpanan didalam cincin ini sangat luas. Lebih luas dari pada nagari Tangah Sawah ini."
"Apa....? Sebegitu luas ??"
Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango menjelaskan fungsi cincin dan gelang ruang, perbedaannya dengan cincin, gelang dan kalung samudera serta semesta.
Tuangku Labai Barewah mendengar dengan mata membulat dan mulut setengah terbuka.
"Coba Ayah lihat dengan mata bathin ruang yang ada di cincin milik Ayah." Dewi Rimau Kumango berucap kepada Tuangku Labai Barewah sambil tersenyum.
Tuangku Labai Barewah mencoba melihat kedalam cincin penyimpanan yang telah dipasang di jari tengahnya.
"Ahhh... Ini..., ini..." Mata Tuangku Labai Barewah terbelalak. Dia tidak mampu berkata. Dia melihat dalam cincin penyimpanan ada gundukan keping kepeng emas yang menggunung. Juga ada gundukan keping kepeng perak. Ada beberapa botol obat herbal.
"Bagaga ini...?!"
Pandeka Pedang Suling Kumala mengangguk dan tersenyum. "Iya itu semua untuk Ayah. Beberapa jenis obat untuk meningkatkan energi mendalam, obat luka dan anti racun ada di dalam cincin itu bisa Ayah gunakan."
"Tapi gundukan keping kepeng emas dan perak itu...?"
"Oh itu bisa Ayah gunakan untuk mengembangkan padepokan silat Harimau ini."
Suasa hati Tuangku Labai Barewah terlalu senang. Saat itu Tek Bidah datang bersama andung Linang.
"Permisi Tuangku. Ada apakah Tuangku memanggil ?"
"Andung Linang terimakasih sudah mau datang. Maaf aku memanggil mendadak begini."
"Tidak masalah Tuangku."
"Andung Linang tolong periksa kondisi Nirmala."
Andung Linang mengangguk dan duduk di sebelah Dewi Rimau Kumango. Wanita yang sudah umur meraih tangan Dewi Rimau Kumango. Sesat kemudian ada seulas senyuman dibibir andung Linang.
"Selamat Tuangku. Anda akan segera mendapatkan seorang cucu." Ucap Andung Linang dan melihat kearah Pandeka Pedang Suling Kumala.
"Selamat Pandeka Pedang Suling Kumala. Anda akan menjadi seorang ayah."
"Terimakasih andung Linang." Ucap Pandeka Pedang Suling Kumala hampir bersamaan dengan Dewi Rimau Kumango.
"Ini seduh sampai mendidih. Minumlah air rebusan obat ini tiap pagi dan malam sebelum tidur."
Sore harinya, Pandeka Pedang Suling Kumala menemani Dewi Rimau Kumango berjalan jalan di halaman samping yang banyak ditanami aneka bunga yang sedang mekar.
"Uda... Sepertinya sementara aku tidak bisa menemani Uda ke Jawat bea Dwipa. Uda bisa pergi bertiga dengan Tombak Maut dan Pendekar Bayangan."
Pandeka Pedang Suling Kumala tidak langsung menjawab. Perlahan dia menghela nafas dalam. Bagaimana mungkin untuk meninggalkan belahan jiwanya yang baru saja hamil ? Pandeka Pedang Suling Kumala meraih tangan Dewi Rimau Kumango. Meremas tangan itu dengan lembut.
"Sangat berat rasanya pergi dan meninggalkan mu disini. Uda akan tunda kepergian sampai dua pekan kedepan."
Dewi Rimau Kumango tersenyum lembut. Hatinya terasa hangat dan kebahagiaan memenuhi jiwanya. Ucapan Pandeka Pedang Suling Kumala membuatnya berasa amat sangat berharga dan disayang.
"Kenapa begitu ?"
"Uda akan menemani Lala dulu. Dua pekan lagi Uda akan pergi dengan menggunakan ilmu menembus ruang dan waktu , tidak jadi naik kapal."
Pasangan suami istri muda itu terus mengobrol santai sambil melangkah menyusuri taman samping itu.
\=\=\=\=\=***\=©