Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
API - Part 2
Malam harinya, Jay merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya yang temaram. Setelah membiarkan tubuhnya didera lelah sejak sore, ia akhirnya meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Benar saja, ada rentetan pesan masuk dari sang kekasih yang belum sempat ia
buka.
Yaya ♡ :
kamu dimana, Ay?
aku pulang duluan ya, ini aku di jemput
Ay, kamu belum sampe rumah?
Udah mam belum?
(mengirim foto makanan)
Jay menghela napas berat. Dengan gerakan jempol yang lambat, ia mengetik balasan
singkat tanpa emblem panggilan sayang seperti biasanya.
“aku udah sampe rumah.”
Setelah pesan itu terkirim, tangannya langsung bergerak membuka aplikasi Instagram. Ia menggulir IGS tanpa minat, melewati beberapa *story* milik teman-temannya, hingga gerakannya
jempolnya terhenti pada akun bernama ‘@geaasters’.
Ada beberapa story yang diunggah Gea sejak sore tadi. Dari foto pertama dia bersama tim
estafet Arsitektur, selfie ceria bersama ketiga sahabatnya. Di unggahan selanjutnya, dada Jay
kembali berdenyut nyeri.
Foto itu menampilkan siluet seorang pria dari samping yang sedang fokus menyetir mobil. Pria kacamata yang sama dengan yang ia lihat di lapangan sore tadi. Di unggahan selanjutnya, ada
foto makan malam mereka bersama, disusul foto selfie mereka berdua dengan Gea yang tersenyum sangat lepas. Pada lembaran terakhir, Gea mengunggah sebuah foto tas ransel baru dengan caption: ‘thank you hadiahnya ♥’.
Hati Jay mencelos. Ada rasa panas yang merambat cepat ke ubun-ubunnya, berbaur dengan rasa sesak yang menghimpit dada. Tanpa pikir panjang, Jay langsung membalas *story* foto tas tersebut.
“have fun”
Dua kata yang terkesan singkat, namun ditulis dengan jemari yang bergetar menahan emosi. Setelah membalasnya, Jay langsung melemparkan ponselnya ke sembarang arah di atas kasur. Ia menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya, membiarkan keheningan kamar yang kelam menelan dirinya bulat-bulat. Pikirannya semakin berkecamuk parah. Logikanya berteriak ingin meminta penjelasan, namun ego dan ketakutannya menahan semua itu. Hubungan mereka baru seumur jagung, dan Jay takut jika kecemburuannya ini justru akan membuat Gea merasa dikekang lalu memilih pergi meninggalkannya.
...****************...
Keesokan paginya, Jay sudah duduk di atas sepeda motornya yang terparkir di depan pagar
rumah Gea, siap menjemput sang kekasih untuk berangkat kuliah bareng. Begitu mendengar suara mesin motor, Gea langsung keluar dari rumah dan bergegas naik ke motor Jay.
Sebenarnya, sepanjang malam tadi Jamal terus saja membahas ingin dikenalkan juga
dengan pacar adiknya itu. Namun sayang, pagi ini Jamal hrus mengalah karena mendadak
diperintah Ibun untuk mengantar ke pasar. Sambil merapikan helmnya, Gea membatin bahwa pertemuan Jay dan abangnya terpaksa harus tertunda lagi.
Selama di perjalanan, atmosfer di antara mereka terasa ganjil. Jay hanya diam membisu,
fokus menyetir motornya. Benaknya berkecamuk hebat, berdebat antara ingin menanyakan siapa
pria kacamata yang merangkul Gea kemarin atau tetap diam. Di satu sisi, ego Jay menuntut
penjelasan, namun di sisi lain dia tidak mau hal itu malah akan menjadi pertengkaran. Apalgi hari masih terlalu pagi untuk merusak suasana hati.
“Kok kamu diem aja, Ay?” tanya Gea memecah keheningan begitu motor Jay terparkir di
area kampus.
“Ha? Gak apa-apa, kok.”
“Udah sarapan tadi?” Gea mencoba mencairkan suasana yang terasa sedingin es. Perempuan itu
sebenarnya sudah menyadari perbedaan raut wajah sang kekasih sejak sebelum mereka berangkat tadi.
“Belum laper,” jawab Jay singkat.
Gea yang sama sekali tidak tahu letak kesalahannya akhirnya memilih diam. Nada bicara Jay terdengar ketus, seperti orang yang tidak ingin diajak bicara. Sama sekali tidak sehangat biasanya.
Mereka berjalan beriringan menuju kelas dengan jarak yang canggung. Di dalam kelas, Jay duduk di samping Gea, namun tak ada senyum sama sekali dari di wajah pria itu.
Risa yang duduk di sebelah Gea langsung menyenggol lengan sahabatnya dengan siku, berbisik tanpa suara, “berantem?”
Gea menggelengkan kepala pelan sambil mengangkat kedua bahunya. Dia sendiri juga gak tau ada apa dengan kekasihnya pagi itu.
Siang harinya, setelah Jay selesai menunaikan salat Jumat, mereka memutuskan untuk makan bersama di salah satu *café* dekat kampus. Merasa tidak betah dengan ketegangan yang terus menggantung di antara mereka sejak pagi, Gea akhirnya memberanikan diri untuk bertanya langsung.
“Kamu kenapa, Ay? Lagi gak enak badan?”
Jay mengangkat kepalanya. Tatapannya lurus mengunci Gea, namun sorot matanya tak sehangat biasa.
“Gak apa-apa. Aku biasa aja perasaan,” kilah Jay, mencoba menekan emosi yang sedari tadi
bergemuruh di dalam dada.
“Aku ada salah, ya?” tanya Gea lagi. “Kalo emang aku ada salah, tolong kasih tau aku, Ay. Kalo
kamu cuma diem gini, aku juga gak bakal tau, Ay,” lanjut Gea dengan nada suara lembut dan
tenang.
Gerakan tangan Jay yang hendak menyuap makanan seketika terhenti. Dia meletakkan kembali sendoknya di atas piring, meraih gelas es kopinya, lalu menyesapnya perlahan sebelum
menghembuskan napas yang terasa begitu berat.
“Kenapa ya kamu banyak banget punya temen cowok?” celetuk Jay, diakhiri tawa kecil
yang terdengar sangat kecut.
Wajah Gea berkerut bingung. Baru dia ingin membuka mulut untuk menjelaskan, Jay sudah
memotong terlebih dulu.
“Aku… cuma gak bisa liat kamu deket sama cowok lain, Ya.”
Mendengar kejujuran yang keluar dari bibir Jay, seulas tersenyum lembut muncul di wajah Gea.
Perempuan itu meraih jemari Jay di atas meja, menatap lurus ke dalam manik mata kekasihnya
untuk menyalurkan rasa aman.
“Mereka cuma temen aku, Ay. Orang yang aku sayang cuma satu, yaitu kamu,” ucapnya tulus,
berusaha meyakinkan Jay bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan soal lingkungan
pertemanannya.
“Kamu bisa nganggep mereka temen, tapi aku gak tau isi kepala mereka gimana, Ya. Kamu gak
tau kalau banyak cowok yang naksir kamu, Ya.”
“Ay, dengerin aku,” potong Gea lembut namun tegas, “gimana pun perasaan orang lain ke aku,
yang penting perasaan aku ke kamu, ya kan? Aku ini sayangnya cuma sama kamu. Yang aku mau
itu kamu, bukan mereka.”
Mendengar penuturan Gea yang begitu telanjang dan penuh keyakinan, perlahan
pertahanan dingin Jay runtuh. Senyumnya yang sempat hilang kini berangsur hangat kembali.
Jantungnya berdesir lega. Jay membalas genggaman jemari Gea, mengecupnya perlahan dengan penuh rasa bersalah.
“Maaf ya.”
Siang itu, Gea kembali melihat tatapan hangat dari Jay lagi. Ketegangan yang mengudara sejak
pagi menguap begitu saja, digantikan dengan obrolan santai dan saling bertukar candaan.
Sebelum mereka beranjak dari café, Jay menyempatkan diri mengambil foto Gea diam-diam dari sebrang meja lalu mengunggahnya ke IGS miliknya. Sebuah cara sederhana, namun penuh penegasan, bahwa ia ingin mengingatkan pria-pria di luar sana kalau perempuan manis di foto itu adalah miliknya.
...****************...
Jay tidak menyangka bahwa unggahan sederhana di story Instagram-nya kemarin akan
berbuntut panjang. Malam harinya, ponsel Jay mendadak dibanjiri oleh notifikasi yang seolah tidak habis.
Awalnya, beberapa teman memberikan ucapan selamat karena baru mengetahu mereka
resmi berpacaran. Namun, semakin malam, isi kolom komentar dan DM yang masuk mulai
bergeser ke arah yang tidak menyenangkan. Banyak akun yang seolah tidak percaya bahwa
perempuan secantik dan semanis Gea bisa menjadi kekasihnya.
Beberapa orang bahkan dengan terang-terangan menggoda Gea di kolom komentar Jay, bahkan sengaja menandai akun Instagram Gea. Kalimat-kalimat seperti, ‘ditunggu putusnya’, ‘kalo udah sadar, gua siap nih jadi cowok lo’, ‘cantik, kamu kena pelet kah?’ hingga ‘selama belom ada janur kuning mah trabas aja,” mulai bermunculan.
Rentetan pesan itu sukses membuat hati dan pikiran Jay mendidih. Belum sempat dia
menenangkan diri, ponselnya kembali berdering. Kali ini sebuah pesan dari Dion, mengirimkan
sebuah tautan dengan pesan, “Jay, lo mending jangan buka X malem ini. Akun base kampus lagi rame.”
Perkataan Dion justru membuat rasa penasaran Jay memuncak. Dia menekan tautan yang di kirimkan Dion, aplikasi X-nya terbuka, dan menampilkan menfess terpanjang. Foto dirinya dan Gea yang dia ambil diam-diam oleh seseorang saat mereka berada di *café* tadi siang. Isi kolom komentar tidak banyak berbeda dengan isi kolom komentar instagramnya, bahkan lebih liar. Diskusi di sana lebih panas, bahkan sampai membawa-bawa nama Lyon untuk membandingkan fisik dan visual mereka berdua. Entah siapa yang mengirimkan foto mereka ke akun base dan entah apa alasan admin *base* kampus yang meloloskannnya unggahan tersebut.
@unitohobase : [image : foto Jay dan Gea di café]
Akhirnya go public juga nih cewe Arsi yang kemaren rame sama anak HI. Gimana menurut kalian?
Cocok gak?
@xiela : gila ya si Gea, ada yang lebih cakep kayak Lyon malah milih cowok yg B aja gini, wkwkwk
@nadia.r : iya, gua sih kalo jadi Gea, udah langsung sama Lyon lah, gak pake mikir.
@coffeelatte : real, gue sekelas sama Lyon. Dia gak cuma ganteng, tapi pinter juga, laid-back dan seru banget anaknya. Gea nih ngeliat apanya sih dari pacarnya ini? Gak masuk akal.
@yourman : Gue tunggu putusnya ya, Gea. Sabi lah gue mah bersaing sama cowok lo, hahaha
@hh-warga : Keren juga Gea cari cowok, berarti dia emang tipe cewek yang gak mandang tampang. Salut.
@ggg12 : Gue lebih keren loh daripada pacarnya Gea
(tampilkan 145 komentar lainnya…)
Jay menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Kalimat-kalimat dari orang asing yang bahkan tidak mengenalnya itu mendadak menjelma menjadi ribuan jarum tak kasat mara
yang menghujam telak harga dirinya. Kata-kata itu terus bergaung di dalam kepalanya, menguliti
paksa sisa-sisa rasa percaya diri yang ia miliki.
Malam itu, sebuah benih rasa insecure yang teramat besar resmi tertanam di dalam dada
Jay. Luka mental malam itu begitu membekas, hingga dia bersumpah di dalam hati, bahwa ia tidak akan pernah lagi membagikan wajah Gea di media sosialnya. Bukan karena dia malu dan merasa kecil memiliki Gea, melainkan untuk melindungi dirinya sendiri dari penghakiman dunia.
Jay mematikan layar ponselnya kasar, melemparkan beda pipih itu ke ujung kasur, lalu kembali meringkuk di dalam kegelapan kamarnya yang sunyi dengan dada yang terasa luar biasa sesak.
...****************...