"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perasaan aneh bagian 2
Elio masih terpaku di posisi yang sama, menatap tangga yang baru saja Aratala lewati. Tangannya perlahan meraba tengkuknya sendiri, tempat di mana jemari gadis itu baru saja bertengger dengan begitu berani.
Satu helaan napas berat lolos dari bibirnya. Ia memutar tubuh, kembali ke ruang tamu, dan menjatuhkan diri ke sofa. Keheningan rumah yang megah ini mendadak terasa menyesakkan, tidak seperti biasanya.
Apa yang salah denganku?
Pikirannya melayang pada kejadian pagi tadi. Hanya dua belas jam yang lalu, ia masih bisa menatap Aratala dengan dingin, menganggapnya hanya sebagai pion dalam kontrak pernikahan yang ia buat sendiri. Ia masih bisa bersikap acuh tak acuh, menikmati peran sebagai "atasan" yang otoriter. Lalu, kenapa sekarang ia merasa seolah kehilangan kendali atas saraf-saraf di otaknya sendiri?
Ia memejamkan mata, memutar memori saat melihat Aratala dengan pria itu—Bastian.
Bastian.
Satu nama itu saja sudah cukup membuat rahangnya kembali mengeras. Elio tertawa sinis, sebuah tawa yang merendahkan dirinya sendiri. Jika dibandingkan secara objektif, Bastian tidak ada apa-apanya. Pria itu hanyalah seorang mahasiswa biasa, mungkin dengan masa depan yang cerah, tapi dibandingkan dengan reputasi, kekuasaan, dan kekayaan yang Elio miliki? Itu seperti membandingkan kerikil dengan gunung.
Dia bahkan tidak sebanding, pikir Elio.
Secara logika, tidak ada alasan bagi Elio untuk merasa terancam oleh seseorang seperti Bastian. Namun, logika itulah yang justru membuatnya frustrasi. Jika Bastian bukan ancaman, kenapa keberadaannya membuat Elio merasa ingin membakar seluruh kampus itu hingga rata dengan tanah?
"Dia bukan ancaman," bisik Elio pada udara kosong. "Tapi dia menyentuh apa yang menjadi milikku."
Elio kembali menyadari sesuatu yang lebih menakutkan: ia tidak sedang marah karena Bastian "mengambil" Aratala. Ia marah karena Aratala memilih untuk menghabiskan waktu bersama pria itu, bukan dengannya.
Aratala tidak takut padanya. Aratala tidak segan-segan mengabaikan perintahnya. Dan yang paling gila, Aratala memperlakukan semua pengakuan jujur Elio sebagai lelucon.
"Kamu pikir ini semua permainan, Aratala?" gumam Elio dengan tatapan tajam yang menembus kegelapan ruangan.
Ia menyadari bahwa sikap "aneh"-nya ini bukanlah karena ia sedang stres atau kurang tidur. Ini adalah efek samping dari kehadiran gadis itu. Aratala masuk ke dunianya yang teratur, kaku, dan membosankan, lalu mengacak-acak segalanya dengan pita pink dan sikap bodo amat-nya.
Elio berdiri, mengambil segelas whiskey di meja bar dan menyesapnya dalam sekali teguk. Matanya kini tidak lagi tampak lelah. Sebaliknya, ada sorot tekad yang baru. Jika Aratala ingin memperlakukannya seperti bos yang sedang bercanda, maka Elio akan memastikan Aratala mengerti bahwa di dalam permainan ini, tidak ada kata "bercanda" dalam kamus seorang Elio Raymond.
Elio meneguk sisa whiskey-nya hingga tandas, sensasi hangat yang membakar tenggorokannya membantu otaknya yang tadi kacau untuk kembali dingin. Dia meletakkan gelas kristal itu ke atas meja dengan denting pelan yang tegas.
Bodoh, umpatnya dalam hati.
Dia menarik napas panjang, membiarkan logika dingin yang selama ini membangun kerajaannya mengambil alih kembali. Matanya yang tadi berkilat emosional kini kembali ke tatapan datar seorang pebisnis yang tak tersentuh.
Pernikahan kontrak.
Itu kata kuncinya. Aratala hanyalah seorang gadis yang butuh dana untuk panti asuhannya, dan dia adalah seorang CEO yang butuh pendamping sempurna untuk memuluskan langkah besarnya. Hanya itu. Titik.
"Aratala sedang memerankan perannya," ucap Elio lirih pada bayangannya sendiri di dinding kaca.
Gadis itu sangat pintar—sangat ahli dalam memainkan peran sebagai istri yang menggemaskan, istri yang membangkang, bahkan istri yang "cegil". Semua itu pasti bagian dari 'tuntutan' kontrak yang mereka buat. Aratala ingin Elio merasa memiliki, merasa cemburu, dan merasa terikat, agar Elio tidak bisa begitu saja melepaskannya sebelum kontrak itu berakhir. Atau mungkin, itu adalah cara Aratala menjaga agar harga dirinya tidak terluka dalam hubungan transaksional ini.
🌴🌴🌴
Elio merasa geli sendiri. Dia hampir saja tertipu oleh permainannya sendiri. Dia hampir saja menganggap tatapan itu nyata, menganggap helaan napas di tengkuknya itu tulus, dan menganggap ketidaktakutan gadis itu adalah keberanian yang lahir dari hati.
"Hebat," gumam Elio dengan senyum dingin yang kembali menghiasi wajahnya. "Dia benar-benar aktris yang luar biasa."
Dia berdiri, menyambar jas yang tadi sempat dia lempar, lalu merapikannya dengan tenang. Kehangatan yang sempat menjalar di dadanya saat Aratala memegangnya ia kunci rapat-rapat. Itu hanyalah bagian dari skenario. Tidak lebih.
Elio berjalan menuju tangga dengan langkah yang kembali mantap dan elegan. Dia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam emosi rendahan seperti cemburu pada seorang mahasiswa atau perasaan terikat pada seseorang yang bahkan tidak menganggapnya nyata.
"Besok pagi," bisiknya pelan, "aku akan kembali menjadi orang yang profesional. Aku akan menjadi Nyonya Raymond."
Jika Aratala ingin bermain peran, maka Elio akan menjadi lawan main yang jauh lebih dingin dan tak terduga. Dia tidak akan lagi terpengaruh oleh pita pink, oleh tingkah laku kekanak-kanakan, ataupun oleh tatapan provokatif itu.
Dia akan menyelesaikan kontrak ini sesuai dengan aturan main yang sejak awal mereka tetapkan: tanpa perasaan, tanpa keterlibatan, dan tanpa drama murahan.
🌴🌴🌴
Elio berdiri mematung di ambang pintu kamar, napasnya tertahan.
Di atas ranjang, pemandangan itu sangat kontras dengan gambaran "istri ideal" yang selama ini ada di kepalanya. Aratala tidur dengan posisi yang jauh dari anggun; satu kakinya terangkat, selimut hanya menutupi setengah tubuhnya, dan rambut panjangnya yang biasanya rapi kini berantakan menutupi bantal seperti sarang burung. Benar-benar berantakan. Jauh dari sosok wanita elegan yang pantas berdiri di samping seorang CEO seperti dirinya.
Namun, saat mata Elio menyapu pemandangan itu, pikirannya yang tadi sudah ia "dinginkan" dengan logika bisnis mendadak goyah.
Pandangannya terpaku pada kancing baju atas Aratala yang terbuka satu. Leher jenjangnya yang putih bersih terpapar jelas di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Dan saat mata Elio turun sedikit lagi, dunianya yang baru saja ia tata kembali menjadi "profesional", mendadak retak. Sedikit belahan dada yang tersingkap oleh posisi tidur Aratala yang asal-asalan itu tampak sangat kontras dengan kulitnya yang mulus.
Elio mengerang pelan, menutup matanya rapat-rapat. Dia merasa seperti orang bodoh.
"Ini hanya kontrak," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau dan penuh penekanan. "Dia hanya partner bisnis yang sedang tidur."
Tapi kakinya justru bergerak sendiri, membawanya mendekati sisi tempat tidur. Elio berdiri di sana, menatap lekat-lekat sosok yang tampak begitu polos sekaligus provokatif di saat bersamaan. Tanpa sadar, tangannya terangkat ke udara, ragu-ragu di atas kancing baju Aratala yang terbuka itu.
Ada pergolakan batin yang hebat di dalam dadanya. Logikanya berteriak untuk segera pergi ke ruang kerja dan membiarkan wanita itu tidur sendiri agar tidak terjadi "kerusakan" pada rencana besarnya. Tapi, egonya sebagai pria—dan sedikit rasa posesif yang tidak bisa ia padamkan sepenuhnya—membuatnya tetap berdiri di sana.
Elio menghembuskan napas panjang, lalu perlahan menurunkan tangannya. Dia tidak mengancingkan baju itu, tapi dia menarik selimut hingga menutupi bahu Aratala, menyembunyikan pemandangan yang hampir saja menghancurkan pertahanannya.
"Berhenti melakukan ini padaku," desis Elio dengan nada yang sangat pelan, hampir seperti sebuah permohonan. "Berhenti membuatku merasa seolah-olah aku menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak ini."
Elio membalikkan badan, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tergesa-gesa. Dia perlu membasuh wajahnya dengan air dingin—atau mungkin air es—untuk mematikan sensasi panas yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya hanya karena melihat Aratala yang berantakan.
🌴🌴🌴
Malam itu, di dalam kamar, Elio sadar bahwa meskipun dia bisa berpura-pura menjadi patung es di depan orang lain, dia tidak akan pernah bisa berbohong pada dirinya sendiri saat berhadapan dengan gadis ini.
Elio keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih agak lembap. Aroma sabun maskulin yang tajam menyeruak, bercampur dengan udara dingin di dalam kamar yang sudah diatur suhunya oleh sistem rumah pintar.
Ia melirik sekilas ke arah kasur di seberang ruangan. Aratala masih di sana, posisinya bahkan tidak berubah sedikit pun. Tetap berantakan, tetap tidak anggun, namun entah kenapa, atmosfer di ruangan itu terasa jauh lebih berat bagi Elio.
Elio berjalan menuju kasurnya sendiri yang terletak tepat di sisi seberang. Tanpa suara, ia merebahkan diri. Kasur king-size yang biasanya terasa sangat nyaman ini mendadak terasa hampa dan terlalu luas. Ia menatap langit-langit kamar dengan tangan terlipat di belakang kepala, mencoba memfokuskan pikirannya pada jadwal rapat besok pagi dan laporan kuartal perusahaan yang harus ia periksa.
Fokus, Elio. Dia hanyalah partner dalam kontrak.
keheningan malam justru membuat indranya menjadi jauh lebih tajam. Ia bisa mendengar suara napas Aratala yang teratur—napas yang tenang, tidak terbebani oleh apa pun, seolah-olah drama di kampus tadi sore hanyalah angin lalu baginya. Sementara itu, jantung Elio sendiri masih berdetak dengan ritme yang tidak nyaman, seolah menolak untuk tenang.
Ia memiringkan tubuhnya, membelakangi Aratala. berusaha terpejam. Di balik punggungnya, ia bisa merasakan kehadiran gadis itu dengan begitu kuat. Seolah-olah ada magnet yang menarik perhatiannya untuk terus melirik ke sana.
Elio mengepalkan tangannya di balik selimut. Ia merutuki betapa "lemahnya" dirinya malam ini. Pria yang biasanya mampu mengambil keputusan bernilai miliaran rupiah dalam hitungan detik, kini merasa tidak berdaya hanya karena keberadaan seorang gadis yang tidur dengan posisi seperti kepiting di seberang ruangan.
"Sial," umpatnya lirih, nyaris tanpa suara.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memaksakan tidur. Ia harus kembali menjadi Elio yang dingin besok pagi. Ia harus menjadi bos yang tak tersentuh. Kalau ia terus begini—terus terganggu oleh hal-hal kecil seperti kancing baju atau posisi tidur Aratala—maka kontrak ini akan berubah menjadi bencana baginya, bukan menjadi alat untuk mencapai tujuannya.
Di ruangan yang sunyi itu, Elio mencoba mematikan semua emosinya, membiarkan dinginnya AC kamar meresap ke tulang, berharap itu bisa membekukan semua perasaan tidak logis yang mulai tumbuh subur di dadanya.
Suasana kamar yang tadinya hening, dingin, dan kaku, mendadak berubah saat sebuah suara kecil yang tidak seharusnya ada di sana memecah kesunyian.
Hik... hiks...
Elio yang tadinya sedang berjuang keras memejamkan mata, langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia terdiam, awalnya mengira itu hanya suara AC atau mungkin halusinasi karena terlalu lelah. Namun, suara isakan itu datang lagi, kali ini sedikit lebih jelas dan terdengar getir.
Hiks... hik...
Elio tidak bergerak. Dia menatap dinding di depannya dengan tatapan kosong. Logikanya berteriak, "Jangan pedulikan. Itu mungkin bagian dari aktingnya. Dia sedang mencoba menarik perhatianmu."
Tapi instingnya—insting yang selama ini dia lawan dengan keras—justru merespons berbeda. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya saat mendengar suara gadis yang biasanya begitu berisik, provokatif, dan ceria itu, kini terdengar begitu hancur di dalam kegelapan.
Elio membalikkan tubuhnya perlahan, menatap siluet Aratala di kasur seberang. Gadis itu masih dalam posisi tidur yang sama, namun bahunya bergetar pelan.
"Aratala?" panggil Elio. Suaranya terdengar datar, berusaha menutupi kepedulian yang mendadak muncul.
Tidak ada jawaban. Hanya isakan yang tertahan, seolah gadis itu sedang berusaha keras agar suaranya tidak terdengar.
Sial.
Elio mendesah panjang, sebuah desahan frustrasi yang terdengar kasar. Dia benci mengakui ini, tapi dia tidak bisa membiarkan suara itu terus berlanjut. Dengan gerakan yang kaku dan enggan, Elio bangkit dari kasurnya. Dia berjalan mendekati kasur Aratala, berdiri tepat di sampingnya dalam kegelapan.
"Aratala," panggilnya lagi, kali ini suaranya jauh lebih dalam dan menenangkan.
🌴🌴🌴
Perhatian kan pa elio.
jangan lupa like 😚
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu