NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Maaf, aku Bia. Aku dapat nomor kamu dari Ibu Mas Yunus. Boleh kita ketemu nanti saat kamu senggang?"

Nah kan, inilah yang aku takutkan. Aku tidak mau ada kesalahan pahaman.p

"Bisa nanti jam istirahat ya, Mbak. Tapi aku nggak bisa lama. Terus bisanya juga cuma di sekitar kantor aja. Gimana?"

"Boleh, nanti kamu istirahat jam berapa?"

"Kira-kira jam satu aku baru keluar Mbak. Soalnya harus gantian sama temen-temen yang lain."

"Iya, oke. Nanti aku kabari aku nunggu dimana ya. Makasih ya Ran."

"Iya, Mbak. Sama-sama. Aku lanjut kerja lagi ya, Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam," jawab suara di seberang sana kemudian sambungan telepon pun terputus.

Ku pijat pelipis ku yang seketika berdenyut. "Hah, adaa aja... " gumamku lirih.

"Ada apa Mbak Bon, pagi-pagi kok kayaknya udah tegangan tinggi aja." tanya Nita yang baru datang.

"Gimana nggak tegangan tinggi Mbak Bon, pagi-pagi udah dipaksa sama Mas Yunus. Eh, barusan si Mbak Bia telepon  ngajak ketemuan nanti siang."

"Sumpah itu Mbak-mbak ngajak ketemuan?"

"Iya, speechless aku.... "

"Wah, bakalan seru niiih.... Kayak sinetron ikan terbang!"

"Hahahaha, berasa di labrak sama istri sah aku jadinya."

"Tapi hati aman kan?"

"Aman terkendali mbak Bon." jawabku.

"Ya udah, fokus ama kerjaan dulu aja, yang nanti ya opo jare nanti." ucap Nita mengingatkan.

"Ashiap bos!"

Hari ini sangat banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hingga tak terasa waktu makan siang. Aku baru sadar, saat ponsel ku yang ada di atas meja berdering, layarnya berkedip dan bisa kulihat ada panggilan masuk dari Mbak Bia. Aku hanya melirik sekilas, karena sedang melayani customer. Tidak lama, ada pesan masuk di ponselku.

setelah selesai melayani costumer, kuambil ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja. Kubuka pesan dari Mbak Bia.

[Ran, Mbak tunggu di masjid dekat kantor kamu ya. Sekalian mbak mau sholat dhuhur dulu.]

Segera ku balas pesan dari Mbak Bia.

[Iya, Mbak. Maaf tadi masih ngelayani customer. Jadi nggak bisa angkat telepon Mbak Bia tadi.]

[ Ini aku udah mau keluar kok, Mbak. Tunggu sebentar ya, maaf.]

Setelah mengirim pesan balasan untuk Mbak Bia, aku pamit pada Nita keluar istirahat makan sekalian menemui calon istri Mas Yunus itu. Sengaja aku lewat pintu depan, tidak dari samping seperti biasanya. Malas saja kalau nanti bertemu dengan Mas Yunus di gudang kiriman yang posisinya dekat dengan gerbang samping.

Tidak lama kemudian, dengan berjalan kaki akhirnya aku sampai di masjid dekat kantor. Kulihat, Mbak Bia sudah duduk di teras masjid sambil memegang benda pipih di tangan nya.

"Assalamu'alaikum, Mbak." sapaku lebih dulu.

"Wa'alaikumussalam, Ran."

"Mbak, aku sholat dulu sebentar nggak papa kan?" tanyaku tidak enak karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama.

"Iya, nggak papa. Silahkan, Ran."

Aku hanya mengangguk, lakukan berjalan menuju ke tempat wudhu khusus perempuan.

Tak lama, setelah selesai sholat aku kembali ke depan menghampiri Mbak Bia.

"Mbak... " panggilku. "Kita ngobrol di warung depan itu aja ya. Nyaman kok tempatnya."

"Iya." jawabnya singkat.

Lalu kamu berdua berjalan beriringan ke arah warung yang ada diseberang masjid.

"Mbak mau makan apa?" tanyaku saat kami sudah sampai di warung tersebut.

"Aku bakmi aja, Ran. Minumnya lemon tea hangat."

"Oke, mbak Bia langsung aja cari tempat duduknya ya. Biar aku pesan makan dulu."

Mbak Bia segera berjalan ke arah salah satu meja di pojokan yang terbilang cukup nyaman untuk ngobrol. Sedangkan aku, langsung ke kasir untuk memesan menu makan dan minuman sekaligus membayar pesanan kami.

Setelah semua selesai, aku berjalan menuju meja tempat Mbak Bia menunggu.

"Mbak, maaf. Ada perlu apa ya... Sampai Mbak ngajak ketemuan. Maaf, aku langsung to the point kayak gini. Soalnya jam istirahat aku nggak lama. Harus cepet balik lagi ke kantor."

Mbak Bia tersenyum. "Sebelum nya Mbak mau minta maaf, kalau Mbak.... "

"Permisi, ini pesanannya Mbak."

Ucapan Mbak Bia terjeda karena ada pelayanan yang datang mengantar pesanan  kami.

"Iya, Mas. Makasih." jawabku sambil tersenyum.

Setelah pelayanan itu pergi, Mbak Bia kembali melanjutkan obrolan.

"Makan dulu aja kali ya, Mbak. Biar enak nanti ngobrolnya."

Perempuan itu mengangguk setuju. Lalu kami mulai menikmati makanan yang ada di depan kami tanpa bersuara.

Beberapa menit kemudian, kami selesai makan. Dan kembali memulai obrolan yang tertunda tadi.

"Mbak lanjutkan ya, Ran." ucap Mbak Bia. "Maaf kalau Mbak ngeganggu kamu di jam kerja kamu Ran, Mbak cuma pengen tahu. Kamu, ada hubungan apa dengan Mas Yunus?" tanya Mbak Bia.

Aku sudah mengira, cepat atau lambat perempuan di hadapanku ini pasti akan menanyakan hal itu.

Aku tersenyum, ku tarik nafas sebelum menjawab pertanyaan perempuan cantik dengan rambut curly terurai sepunggung ini.

"Mbak, maaf sebelumnya. Tapi, aku dengan Mas Yunus tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman, Mbak. Aku sudah menganggap Mas Yunus seperti kakak sendiri. Nggak lebih."

Terlihat wanita itu menghela nafas panjang. "Tapi Mas Yunus sayang sama kamu, Ran. Dari tatapan matanya, aku tahu dia benar-benar sayang, bukan lagi sayang.... Bisa dikatakan dia cinta sama kamu. Satu hal yang tidak bisa aku dapatkan darinya sejak dulu."

Aku mengerutkan kening, aku kurang paham dengan maksud ucapannya.

"Maksud Mbak Bia gimana ya? Mbak kan calon istri nya Mas Yunus. So?"

"Kami dijodohkan, Ran. Mas Yunus menyetujui perjodohan kami saat Ayahnya sakit hingga akhirnya meninggal dirumah sakit beberapa tahun yang lalu. Ayah kami bersahabat dan sepakat menjodohkan kami."

"Tapi, sampai sekarang aku bisa merasakan kalau Mas Yunus belum bisa menerima aku. Apalagi sayang bahkan cinta. Selama ini, dia tidak pernah menghubungi aku lebih dulu. Selalu aku yang membangun komunikasi." ujarnya menceritakan apa yang dia alami selama ini.

"Tapi, saat kamu datang ke klinik kemarin tatapan Mas Yunus ke kamu sama ke aku itu sangat jauuuuh berbeda. Dia menatapmu penuh cinta, Ran."

Dari sini aku baru paham alur cerita kisah mereka. Tapi aku bisa apa, aku tidak ingin menjadi perusak kebahagian orang. Apapun alasannya. Karena aku pernah merasakan bagaimana sakitnya ketika sebuah mimpi yang kita rajut akhirnya porak poranda.

"Tapi aku hanya menganggap Mas Yunus kakak Mbak. Kami hanya berteman. Nggak lebih, Mbak Bia nggak usah takut. Kalaupun  Mas Yunus punya rasa yang lebih dari itu, itu di luar kendaliku Mbak. Itu hak dia, bukankah kita tidak bisa mengatur kemana hati akan berlabuh. Mbak terus saja berjuang, semoga suatu saat Mas Yunus bisa melihat perjuangan  dan juga cinta Mbak Bia yang begitu besar." jawabku mencoba memberikan ketenangan untuknya.

"Entahlah, Ran. Kadang aku merasa lelah dengan keadaan ini. Disini hanya aku yang berjuang. Hanya aku yang belajar menerima keadaan." ucap Mbak Bia.

Terlihat ada tetesan bening disudut matanya. Ku usap punggung tangannya sekedar memberi kekuatan dan menenangkan perempuan di depan ku ini. Memang susah jika sudah berurusan dengan yang namanya hati dan cinta. Apalagi, ada wasiat orang tua di dalamnya.

"Maaf ya, Ran. Di pertemuan pertama kita, aku sudah banyak bercerita sama kamu. Kamu mau kan jadi temanku?"

"Tentu saja Mbak. Nggak usah sungkan kalau mau cerita, siapa tahu dengan cerita pikiran dan hati Mbak Bia bisa tenang juga lega."

"Kamu baik Ran, nggak heran kalau Mas Yunus bisa jatuh hati sama kamu."

"Udahlah, Mbak Bia udah lega sekarang? Atau masih ada yang ngeganjel di pikiran Mbak Bia?" tanyaku

"Alhamdulillah, Ran. Makasih yah, sudah menyempatkan buat ketemu. Spill bill makanan nya Ran!"

"Iya Mbak, sama-sama. Udah, pakai duit aku aja, anggap aja Mbak ditraktir sama adek Mbak ya....Mbak, aku pamit balik kantor. Kasihan temenku udah nunggu buat gantian istirahat." ucapku sambil tersenyum.

"Iya, Hati-hati ya!"

"Iya, Mbak Bia juga. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Aku segera bangkit dari kursi yang kududuki dan melangkah keluar dari warung makan tersebut. Entah kebetulan, atau bagaimana aku juga tidak paham. Saat aku keluar, aku bertemu dengan Pak Rengga. Dia sedang mengeluarkan motornya dari parkiran. Rupanya supervisor PT Bintang ini juga habis makan di tempat ini.

"Ran,... " panggilnya sambil tersenyum.

"Pak Rengga, habis makan juga?" tanyaku basa basi.

"Iya, kamu sama siapa?"

"Habis makan sama kakak ku, Pak."

"Ooo... Pacar kali bukan kakak."

"Sembarangan, tuh... Bapak lihat cewek cantik di pojokan sana. Aku masih normal ya... Masih suka lihat cowok ganteng!"

"Hahahhah..... Kalau gitu, suka dong lihatin aku?" ucaknya bercanda sambil menaik turunkan alisnya.

Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Narsis juga nih cowok.

"Mau balik ke kantor kan? Bareng aja yuuuk, daripada jalan, ntar hitam lho kulitnya!"

"Emmm.... Gimana ya, Pak... "

"Kalau lagi berdua, terus di luar jangan panggil Pak dong, aku belum bapak-bapak kali. Masih single dan jomblo belum ada pasangan!"

"Siapa?" tanyaku.

"Akulah, cowok ganteng di depan kamu ini." ucapnya sambil tersenyum semanis mungkin.

"Siapa yang nanya,!"

"Anjir..... Jangan bikin gemes dong Ran, aku kalau gemes suka ngarungin anak orang! Yuk ah, barengan aja ke kantor. Aku juga mau ke tempatmu. Mau minta jatah!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!