Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Pagi hari perlahan menyapa ruang perawatan dengan cahaya matahari yang lembut menyusup melalui celah gorden. Keysa membuka matanya lebih dulu. Ia mengucek mata kecilnya, masih sedikit sayu, lalu tersenyum lebar saat melihat pemandangan di sudut ruangannya. Tepatnya di atas sofa.
Papa dan Aunty Alya sedang terlelap. Arya bersandar di kursi dengan posisi yang agak kurang nyaman, sementara Alya bersandar di bahu bidang pria itu, kepala sedikit miring, napasnya teratur. Mereka berdua terlihat begitu damai, seolah sudah terbiasa berada dekat seperti sepasang suami istri.
Keysa menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa kecil yang nyaris keluar. Matanya berbinar penuh kebahagiaan.
Ceklek……
Pintu ruangan terbuka pelan. Oma Margareth masuk dengan langkah hati-hati, dengan mengenakan cardigan tipis dan membawa makanan.
Keysa langsung memberikan isyarat dengan jari di depan bibir, matanya membelalak meminta Oma untuk tidak berisik.
“Jangan belicik, Oma. Nanti meleka bangun,” lirih Keysa pelan sekali, suaranya hampir tak terdengar.
Oma Margareth mengangguk mengerti, lalu menoleh ke arah putranya yang tertidur dengan Alya di bahunya. Senyum lembut muncul di wajahnya. Ia berjalan mendekati ranjang dengan langkah pelan, lalu duduk di kursi kosong di sisi lain.
“Jadi, dia yang sering kamu ceritakan ke Oma?” tanya Oma Margareth pelan, matanya penuh arti sambil melirik Alya yang masih tertidur.
Keysa mengangguk semangat, senyumnya semakin lebar. “Iya, Oma. Cantik kan calon mama balunya Key?” ucapnya bangga, dadanya sedikit dipajang seolah sedang memamerkan sesuatu yang berharga.
Oma Margareth mengangguk-angguk setuju, lalu tersenyum iseng. “Tapi masih cantikan Oma,” ucapnya bercanda pelan.
Keysa langsung mengerutkan kening, tidak terima. “Nda ya! Wajah Oma cudah keliput,” serunya dengan suara yang agak keras, tidak sadar volume suaranya naik.
Ucapan itu langsung membuat Arya dan Alya terusik. Arya mengerang pelan, menggerakkan bahunya, sementara Alya mengangkat kepala dari sandaran, masih setengah sadar. Keduanya membuka mata hampir bersamaan, sedikit bingung dengan posisi mereka yang terlalu dekat.
Keysa langsung cekikikan, sementara Oma Margareth hanya tertawa kecil, pura-pura tidak tahu sudah membangunkan keduanya.
“Sudah bangun?” sindir Oma Margareth dengan senyum iseng, matanya berbinar melihat kedua orang dewasa yang baru saja terbuka matanya.
Alya langsung merasa malu luar biasa. Pipinya memanas hingga ke telinga. Ia merasa seperti baru terciduk Satpol PP sedang melakukan pelanggaran.
Dengan cepat ia menegakkan tubuhnya dari sandaran bahu Arya, menjauhkan diri sedikit, lalu buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan dan menarik turun blazer yang sedikit naik. Jari-jarinya gemetar kecil karena rasa malu yang tidak tertahankan.
“Maaf, Nyonya…” ucap Alya dengan suara pelan, tidak enak hati. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Oma Margareth terlalu lama.
Oma Margareth tertawa kecil, suaranya hangat dan penuh pengertian. “Panggil Tante saja, jangan panggil Nyonya. Terlalu kaku. Kamu sudah sering diceritakan Keysa, jadi anggap saja saya orang tua kamu juga,” ucapnya lembut sambil mengusap kepala cucunya yang sedang tersenyum puas melihat kek lucuan orang dewasa.
Alya mengangguk malu, masih menunduk. “Baik… Tante.”
Sementara itu Arya bangkit berdiri dari kursi yang ia duduki semalaman. Tubuhnya sedikit kaku karena posisi tidur yang kurang nyaman. Ia merapikan kemeja yang kusut, mengusap wajahnya kasar, lalu melangkah masuk ke kamar mandi kecil yang berada di dalam ruang perawatan tanpa banyak bicara.
Pintu kamar mandi tertutup pelan di belakangnya.
Oma Margareth mengalihkan perhatian ke Keysa yang masih tersenyum lebar di ranjang. “Cuci muka dulu, sayang. Setelah itu kita sarapan bersama. Oma sudah bawa roti dan susu kesukaan kamu,” ucapnya sambil menunjukkan kantong yang dibawanya.
Keysa mengangguk semangat. “Iya, Oma! Nanti Aunty Alya ikut calapan juga ya. Bial kita catu kelualga.”
Alya yang mendengar itu semakin tersipu. Ia hanya bisa tersenyum kaku, masih mencoba menenangkan degup jantungnya yang berdetak kencang.
Pagi ini terasa sangat canggung sekaligus hangat, seolah mereka sudah menjadi satu keluarga kecil yang baru saja terbangun bersama.
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara air mengalir. Arya sedang mencoba menyegarkan wajahnya, sekaligus menenangkan diri setelah tertidur dalam posisi yang terlalu dekat dengan Alya semalaman.
*
*
Mereka berempat duduk sarapan bersama di ruang rawat Keysa. Meja kecil di samping ranjang dipenuhi roti, susu, buah-buahan, dan beberapa lauk sederhana yang dibawa Oma Margareth. Suasana pagi itu terasa hangat dan ramai, jauh berbeda dari kesunyian malam sebelumnya.
Keysa duduk bersandar di bantal dengan semangat, sesekali menyuapkan roti ke mulutnya sendiri sambil bercerita tentang mimpinya tadi malam.
Alya duduk di sisi ranjang, tersenyum lembut mendengar celotehan gadis kecil itu. Arya duduk di kursi seberang, sesekali menyeka remah roti di sudut mulut putrinya, sementara Oma Margareth mengamati semuanya dengan senyum puas.
Di sela-sela makan, mereka mengobrol ringan. Tertawa kecil meledak setiap kali Keysa mengucapkan sesuatu yang konyol dengan logat khasnya. Alya bahkan sampai menutup mulut karena terlalu gemas, sementara Arya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya.
Tiba-tiba, di tengah suasana yang sedang cair, Oma Margareth meletakkan cangkir susunya dan menatap putranya dengan santai.
“Kapan kamu mau melamar Alya, Ar?” tanya Oma Margareth tiba-tiba, seolah menanyakan cuaca hari ini.
Uhukkk……!
Alya dan Arya tersedak secara bersamaan. Alya langsung menutup mulut, matanya membelalak, sementara Arya batuk-batuk hebat hingga harus menepuk dadanya sendiri.
Keysa yang masih mengunyah roti hanya memiringkan kepala, bingung kenapa Papa dan Aunty tiba-tiba batuk.
Arya buru-buru mengambil gelas air putih dan menyodorkannya ke Alya lebih dulu. “Minum dulu,” ucapnya serak. Setelah Alya meneguk air dengan wajah memerah, baru ia sendiri yang minum sampai habis.
“Apa sih, Ma?!” kesal Arya setelah selesai minum, wajahnya masih agak merah. Ia melirik ke Alya yang menunduk dalam-dalam, pipinya sudah semerah tomat.
“Jangan bilang sembarangan di depan anak kecil.”
Oma Margareth hanya tersenyum iseng, pura-pura tidak tahu sudah membuat kekacauan. “Mama kan cuma tanya. Lagian Keysa juga sudah bilang mau Aunty Alya jadi mama-nya. Kan, Key?”
Keysa mengangguk semangat, mulutnya masih penuh roti. “Iya! Papa cepat lamal Aunty, bial Key punya mama cantik!”
Alya semakin tidak tahu harus meletakkan muka di mana. Ia hanya bisa tersenyum kaku sambil terus menunduk, sementara Arya menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Pagi yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat canggung berkat satu pertanyaan Oma Margareth.