NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 Hadiah dari Kakak yang Belum Pernah Kutemui

Hari-hariku di rumah itu semakin terasa hangat. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan yang baru, mengenal setiap anggota keluarga, dan perlahan merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari orang-orang yang menerimaku tanpa memandang siapa diriku. Meski demikian, ada satu anggota keluarga yang belum pernah kulihat secara langsung.

Suatu hari, ketika kami sedang berkumpul di ruang tengah, Mama bercerita bahwa anak sulungnya yang tinggal di kota sudah mengetahui keberadaanku dan Ucaluna di rumah itu. Rupanya, beberapa hari sebelumnya Mama telah meneleponnya dan menceritakan bahwa kini ada dua anak perempuan yang tinggal bersama mereka.

"Namanya Kak Rivan," kata Mama sambil tersenyum. "Sekarang dia bekerja di kota dan berjualan pakaian."

Aku hanya mengangguk pelan. Saat itu aku belum bisa membayangkan seperti apa wajah Kak Rivan. Yang kutahu hanyalah beliau adalah anak sulung Mama yang tinggal jauh dari rumah. Anehnya, meskipun belum pernah bertemu, aku merasa penasaran dengan sosok yang sering diceritakan Mama dengan penuh kebanggaan.

Beberapa hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Sopirnya menurunkan sebuah kardus besar yang dililit beberapa lapis lakban, lalu menyerahkannya kepada Mama. Aku dan Ucaluna yang sedang bermain di teras segera menghampiri karena penasaran dengan isi kardus tersebut.

Mama meletakkan kardus itu di ruang tengah, lalu memandang kami sambil tersenyum.

"Hitas, Ucaluna... kemarilah. Mama ingin menunjukkan sesuatu untuk kalian."

Kami segera duduk di hadapan Mama. Pandangan kami tidak lepas dari kardus yang masih tertutup rapat. Dengan hati-hati Mama mengambil gunting kecil, kemudian mulai memotong lakban satu per satu. Semakin lama kardus itu dibuka, rasa penasaranku semakin besar.

Begitu tutup kardus terangkat, mataku langsung berbinar.

Di dalamnya tersusun begitu banyak pakaian anak perempuan yang sangat indah. Ada baju untuk dipakai sehari-hari, ada gaun dengan warna-warna cerah, rok, celana, kaus, hingga pakaian yang terlihat sangat cantik untuk dikenakan saat bepergian. Selama hidupku, aku belum pernah melihat pakaian sebagus itu menjadi milikku.

Mama mengambil beberapa potong pakaian, lalu menyerahkannya kepada kami.

"Mulai sekarang, kalian pakai baju-baju ini saja, ya. Pakaian lama kalian boleh disimpan."

Aku menerima pakaian itu dengan kedua tangan sambil mengusap kainnya perlahan. Bahannya terasa lembut dan warnanya begitu indah. Aku menoleh kepada Ucaluna yang wajahnya sama bahagianya denganku.

"Ma... ini semua untuk kami?" tanyaku dengan suara pelan.

Mama mengangguk sambil tersenyum.

"Iya. Semua ini dikirim oleh Kak Rivan. Setelah Mama bercerita tentang kalian, dia langsung memilihkan pakaian-pakaian ini untuk kalian."

Aku terdiam beberapa saat. Hatiku dipenuhi rasa haru. Seseorang yang belum pernah melihat wajahku ternyata sudah memikirkan kami dan mengirimkan begitu banyak pakaian agar kami merasa nyaman tinggal di rumah itu.

Dengan penuh semangat, aku dan Ucaluna membawa semua pakaian itu ke kamar. Kami membuka lemari, melipat pakaian-pakaian lama dengan rapi, lalu menggantinya dengan pakaian baru kiriman Kak Rivan.

Sesekali kami mencoba satu per satu baju di depan cermin sambil saling tersenyum dan tertawa.

"Bagus tidak?" tanya Ucaluna sambil memutar badannya.

"Bagus sekali," jawabku tanpa ragu.

Hari itu kamar kami dipenuhi tawa yang begitu lepas. Kebahagiaan itu bukan semata-mata karena memiliki pakaian baru, melainkan karena untuk pertama kalinya aku merasakan perhatian dari seseorang yang bahkan belum pernah kutemui. Saat itu aku mulai memahami bahwa keluarga tidak selalu lahir dari ikatan darah.

Terkadang, keluarga adalah mereka yang memilih menerima, menyayangi, dan memperlakukan kita seperti bagian dari hidup mereka.

Sejak hari itu, nama Kak Rivan tidak lagi terdengar asing di telingaku. Meski belum pernah melihat wajahnya, aku mulai mengenalnya melalui cerita-cerita Mama dan perhatian yang ia tunjukkan kepada kami. Dalam hati, aku hanya memiliki satu harapan sederhana: semoga ketika hari itu tiba dan kami benar-benar bertemu, ia bisa menerima kami sebagai adik-adiknya. Dengan rasa penasaran itu, aku terus menunggu, tanpa pernah tahu bahwa pertemuan kami masih menyimpan kisah yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!