Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: RAPAT PERTAMA YANG KACAU
Devan berdiri kembali, memutar badan, dan mendadak salah tingkah saat menyadari Raina berdiri mematung sambil menatapnya tanpa kedip dari balik kacamata tebalnya.
"S-sorry ya, Na. Itu Ara, adik gua," Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pipinya sedikit merona karena canggung. "Gua harus jaga dia sore ini soalnya Nyokap lagi ada urusan di luar."
Raina menarik napas pelan. Sosok Devan yang ada di depannya saat ini terasa begitu asing—bukan Devan si pengacau sekolah, bukan Devan si raja prank, melainkan Devan seorang kakak yang penyayang, sabar, dan penuh rasa tanggung jawab.
"Adik kamu... manis banget," bisik Raina tulus, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang hangat.
Devan tertegun menatap senyuman Raina—senyum tulus pertama yang pernah diberikan gadis itu padanya sejak awal mereka bertemu. "Gua pikir kamu bakal risih," gumam Devan pelan.
"Kenapa harus risih?" sahut Raina sambil meletakkan tasnya di atas meja belajar. "Justru aku baru tahu... ternyata Devan Adhitama punya sisi manusiawi juga."
Devan terkekeh pelan, rasa canggung di antaranya perlahan menguap. Untuk pertama kalinya, tembok pembatas yang dibangun Raina di antara mereka terasa sedikit runtuh.
BAB 16: TUTOR VS PELATIH
Matahari sore menyengat lapangan basket outdoor SMA Garuda. Jadwal hari ini berputar seratus delapan puluh derajat: giliran Devan yang memegang kendali atas Raina. Kuis praktik olahraga babak tembakan bebas (free throw) tinggal dua hari lagi, dan nilai praktik Raina terancam jeblok karena lemparannya selalu meleset jauh dari ring.
"Raina, bola basket itu dipegang pakai bantalan jari, bukan ditampar pakai telapak tangan," seru Devan sambil memutar bola di jarinya dengan santai.
Raina yang sudah berkeringat mengusap dahi, napasnya memburu. Kacamata tebalnya terus meluncur turun di pangkal hidungnya. "Aku udah lempar pakai dorongan tangan, Devan! Tapi bolanya tetap memantul ke samping!"
"Sini," Devan melangkah mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Raina, memangkas jarak di antara mereka hingga Raina bisa merasakan embusan napas Devan di sekitar pelipisnya.
Tubuh Raina membeku seketika.
Tekuk lutut sedikit, posisi badan agak condong ke depan," bisik Devan pelan, suaranya tepat di samping telinga Raina.
Tanpa ragu, Devan meraih kedua tangan Raina dari belakang, menuntun jemari gadis itu untuk menempatkan posisi telapak tangan dengan benar di atas permukaan kulit bola yang kasar. Kedua lengan Devan mengapit bahu Raina, menciptakan keheningan mendadak di tengah terik lapangan.
"Fokus matanya ke bagian belakang ring, bukan ke bolanya. Dorong pakai siku, lalu lepas pelan di ujung jari... kayak gini," Devan mengarahkan gerakan tangan Raina secara perlahan.
Raina tidak fokus pada ring. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Devan bisa mendengarnya. Bau kesegaran sabun bercampur keringat khas Devan tercium begitu dekat. Kedekatan fisik yang tidak pernah ia duga ini membuat seluruh syaraf di tubuhnya tegang luar biasa.
"Raina? Dengar gak?" tegur Devan pelan, menunduk sedikit untuk menatap wajah Raina.
"I-iya! Aku denger!" seru Raina panik, refleks mendorong bola dari tangannya tanpa arah.
Swish!
Bola basket itu meluncur membentuk kurva mulus di udara dan masuk tepat ke tengah jaring tanpa menyentuh besi ring sedikit pun.
Devan terbelalak gembira. "Tuh, kan! Masuk! Beneran masuk, Na!"
Devan yang reflek kegirangan langsung merangkul pundak Raina rapat-rapat sambil menepuk punggungnya. Namun, begitu menyadari wajah Raina melotot kaget dengan pipi bersemu merah padam, Devan buru-buru melepaskan rangkulannya dan mundur satu langkah sambil terbatuk canggung.
"Ehem... nah, gitu caranya. Latihan sendiri lagi lima kali," ujar Devan sok tegas, berpaling sambil menggaruk lehernya yang mendadak terasa panas.
Raina memegang dadanya yang masih berdetak tak karuan, menatap punggung Devan yang berjalan menjauh. Sesi olahraga sore itu resmi menjadi sesi tersulit dalam hidup Raina.