Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Bubuk Cabai untuk Bobby
Botol kecil berisi bubuk cabai menekan telapak Lia dari dalam saku.
Ia membawanya sejak pertemuan pertama dengan Bobby. Bukan untuk mencari masalah, tetapi agar ia tidak kembali berdiri tanpa pertahanan bila pria itu muncul.
Hari itu Cornelia meminta Lia membeli susu, popok, dan beberapa bahan masakan. Bryan ditinggal di rumah bersama Popo dan Cornelia. Karena Pak Kelik sedang menjemput Sebastian dari rapat, Lia pergi dengan ojol ke supermarket yang sama.
Semua berjalan biasa sampai ia keluar membawa dua kantong belanja.
“Akhirnya ketemu lagi, adik manis.”
Bobby berdiri di dekat deretan motor bersama dua temannya. Kacamata hitam tersangkut di kerah kaos, senyumnya lebih lebar daripada terakhir kali.
Lia mengubah arah menuju pintu utama.
Salah satu teman Bobby menutup jalan. Bobby sendiri mendekat dari samping.
“Jangan takut. Gue cuma mau ngobrol.”
“Minggir.”
“Galak sekali.” Bobby melirik kantong popok. “Jadi benar lo kerja di rumah Wijaya?”
Lia tidak menjawab. Ia melihat sekeliling. Ada penjual minuman, dua pengemudi ojol, petugas parkir, dan kamera di atas pintu supermarket. Cukup banyak saksi bila ia membuat suara.
“Tolong beri jalan,” katanya lebih keras.
Beberapa kepala menoleh.
Senyum Bobby turun. “Jangan bikin malu. Ikut gue minum sebentar.”
Tangannya mencengkeram pergelangan Lia.
Satu kantong belanja jatuh. Kaleng susu menggelinding di aspal.
“Lepaskan!”
Bobby justru menarik. Temannya membuka pintu sebuah mobil yang parkir beberapa meter dari sana.
Rasa takut naik sampai dada Lia, tetapi tubuhnya bergerak sebelum ketakutan mengambil alih. Ia membiarkan satu langkah terseret, membuat Bobby mengira ia melemah. Tangan bebasnya masuk ke saku, membuka tutup botol kecil dengan ibu jari.
Kemudian Lia menghentakkan kaki ke punggung sepatu Bobby dan mengibaskan bubuk cabai tepat ke wajahnya.
Bobby menjerit.
Tangannya terlepas. Bubuk merah beterbangan, membuat dua temannya ikut batuk dan mundur. Lia berlari ke arah kerumunan sambil berteriak.
“Tolong! Mereka mau membawa saya paksa!”
Seorang pengemudi ojol berdiri di depannya sebagai pelindung. Petugas parkir meniup peluit. Beberapa orang mengangkat ponsel untuk merekam.
Bobby mengusap mata yang memerah. “Tangkap dia!”
Ia menerjang membabi buta dan berhasil meraih ujung lengan Lia.
Sebelum sempat menarik, sebuah tangan mencengkeram pergelangannya dari belakang.
“Lepaskan dia.”
Suara Sebastian rendah dan mematikan.
Bobby berbalik sambil mengumpat. Sebastian memutar lengannya ke belakang dengan gerakan singkat, menjauhkan tubuh pria itu dari Lia, lalu menekannya ke kap mobil tanpa memukul.
Pak Kelik segera memungut kantong Lia dan berdiri di sampingnya. “Mbak Lia, terluka?”
Lia menggeleng, meski napasnya tersengal. “Pergelangan tangan saya sakit sedikit.”
Sebastian mendengar. Tekanan tangannya pada Bobby bertambah satu derajat.
“Pak Sebastian,” panggil Pak Kelik, mengingatkannya bahwa semua orang sedang merekam.
Sebastian mengendalikan napas. Ia tidak membutuhkan amarah sesaat yang bisa diputarbalikkan Bobby. Ia membutuhkan bukti dan laporan resmi.
“Pak Kelik, telepon polisi.”
“Sudah, Pak.”
Sebastian menatap petugas parkir. “Tolong amankan rekaman CCTV dari pintu dan area motor. Jangan dihapus.”
Lalu ia melihat orang-orang yang merekam. “Siapa yang melihat sejak awal, mohon tetap di sini untuk jadi saksi. Videonya jangan diedit.”
Pengemudi ojol yang tadi melindungi Lia mengangguk. “Saya lihat pria itu menarik Mbak ini ke arah mobil.”
“Saya juga lihat,” sahut penjual minuman.
Bobby masih berusaha meronta. “Lo tahu keluarga gue siapa? Lepasin gue!”
“Keluargamu tidak menghapus apa yang baru kamu lakukan,” jawab Sebastian.
“Dia yang menyerang gue pakai cabai!”
Lia berdiri lebih tegak. “Saya membela diri setelah kamu menarik saya ke mobil.”
“Bohong!”
“CCTV dan saksi yang akan bicara,” kata Sebastian.
Sirene pendek terdengar dari ujung jalan. Dua petugas polisi datang bersama petugas keamanan supermarket. Sebastian baru melepaskan Bobby setelah salah satu polisi mengambil alih dan memastikan kedua temannya tidak pergi.
Lia menjelaskan urutan kejadian dengan suara yang masih gemetar. Ia menunjukkan bekas merah di pergelangan, botol bubuk cabai, kantong belanja yang jatuh, dan mobil yang pintunya sempat dibuka. Para saksi memberikan nama serta nomor kontak. Petugas keamanan menyerahkan informasi kamera yang merekam area itu.
Salah satu petugas memotret bekas cengkeraman di tangan Lia dan memasukkan botol cabai ke kantong bukti setelah mencatat bahwa benda itu dipakai untuk membela diri. Kesaksian Lia dan Bobby diambil terpisah agar tak saling memengaruhi.
“Kami akan catat dugaan pelecehan dan upaya membawa paksa,” kata petugas. “Mbak boleh memeriksakan tangan dulu. Setelah itu datang hari ini untuk membuat laporan dan BAP.”
Lia mengangguk. “Saya ikut.”
Suaranya masih tipis, tetapi kini tidak goyah.
Sebastian menatapnya. Ada bangga singkat di balik amarahnya. Lia tidak meminta masalah diselesaikan diam-diam. Ia memilih berdiri sebagai pelapor.
“Saya dampingi. Semua rekaman akan kami serahkan tanpa dipotong,” katanya.
Bobby digiring menuju kendaraan polisi. Matanya masih merah dan berair, tetapi kebencian di dalamnya jelas ketika menatap Lia dan Sebastian.
Kerumunan mulai berbisik. Nama keluarga Wijaya terdengar di antara omongan, namun tak ada yang berani mendekat saat melihat wajah Sebastian.
Ia menunggu sampai pintu kendaraan polisi tertutup. Tatapannya masih dingin ketika beralih kepada dua teman Bobby yang ikut diamankan.
Kemudian ia menoleh kepada Lia.
Kekerasan di wajahnya lenyap seketika.
“Naik mobil,” ucapnya lembut. “Kita pulang.”