NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Juara Lahir

Final mempertemukan Garuda Cendekia dan SMA Negeri Satu Buana, persis seperti yang diinginkan panitia.

Satu sekolah datang sebagai kuda hitam yang baru saja menyelamatkan reputasi lewat anak jenius. Satu sekolah datang sebagai juara bertahan yang tidak mau mahkotanya direbut di siaran langsung. Presenter Rendy hampir tidak perlu memanaskan suasana. Penonton sudah cukup panas hanya dengan melihat kedua tim duduk berhadapan.

Fadlan tidak lagi mengejek. Itu membuatnya lebih berbahaya daripada sebelumnya. Ia memusatkan perhatian pada tombol dan menghindari tatapan Arya. Pelatih Buana jelas sudah memberi instruksi: jangan melawan di semua bidang, curi poin yang pasti, biarkan Garuda mengambil risiko.

Putri menyadari strategi itu. "Mereka akan bermain aman."

Arya menjawab, "Aman membuat kekalahan terlihat rapi. Tidak membuatnya hilang."

Babak pertama final dimulai dengan soal rebutan cepat. Buana mengambil dua soal hafalan. Garuda mengambil tiga soal lintas bidang. Skor naik lebih seimbang daripada penyisihan. Penonton mulai bersorak lagi karena drama kembali terlihat. Rendy menyebut pertandingan ketat dengan suara lega.

Pak Surya tidak ikut lega. Ia tahu Arya belum menekan penuh.

Soal ketujuh tentang fisika gelombang muncul. Fadlan menekan lebih dulu, menjawab benar. Soal kedelapan tentang sejarah ekonomi, Dimas mengambil dengan penjelasan matang. Soal kesembilan tentang bahasa Inggris, Putri menekan dan menjawab idiom dengan presisi. Untuk pertama kalinya, kamera tidak hanya mengejar Arya. Garuda terlihat seperti tim lengkap.

Lalu babak alasan dimulai.

Di sinilah Buana runtuh.

Pertanyaan pertama meminta solusi banjir kota dengan batas anggaran rendah. Fadlan memberi jawaban buku teks: normalisasi sungai, edukasi warga, dan penguatan drainase. Jawaban itu tidak salah. Hanya biasa. Arya menambahkan tiga variabel yang tidak disebut tim lawan: pola curah hujan, perilaku pasar tanah, dan efek pemindahan banjir ke wilayah hilir. Ia memberi solusi bertahap yang membuat salah satu juri teknik sipil mengangguk tanpa sadar.

Pertanyaan kedua tentang kebijakan pendidikan. Buana menjawab pentingnya disiplin. Arya menjawab bahwa disiplin tanpa sistem umpan balik hanya membuat guru buruk tampak tegas. Di ruang nonton SMA Garuda, beberapa guru merasa kalimat itu menghantam langsung ke dada mereka.

Pertanyaan ketiga adalah soal matematika terbuka. Buana menghitung tujuh langkah. Arya menyelesaikan dalam dua langkah, lalu menjelaskan kenapa tujuh langkah itu rawan salah jika angka diperbesar.

Skor melebar lagi.

Fadlan mulai berkeringat. Namun ia mendapat kesempatan terakhir di tantangan khusus. Bu Mariska membacakan soal rahasia: sebuah teka-teki logika multi-bidang yang menggabungkan probabilitas, pengambilan keputusan, dan etika publik. Setiap tim diberi tiga menit.

Buana berdiskusi cepat. Garuda diam.

Rizky di cadangan panik melihat timnya diam. "Kenapa mereka tidak menulis? Kenapa diam? Diam macam apa ini?"

Pak Surya menjawab tanpa sadar, "Diam Arya."

"Itu jenis diam yang diakui kurikulum?"

Tiga menit selesai. Buana menjawab lebih dulu. Jawaban mereka lengkap, rapi, dan mendapat tepuk tangan. Rendy tersenyum. "Garuda Cendekia?"

Arya berdiri. "Jawaban Buana benar jika tujuan soal adalah meminimalkan kerugian jangka pendek. Tapi pertanyaan memakai kata keputusan publik. Keputusan pribadi tidak cukup untuk menjawabnya. Maka fungsi tujuannya harus memasukkan kepercayaan masyarakat. Jika kepercayaan runtuh, solusi jangka pendek menghasilkan biaya jangka panjang yang lebih besar."

Ia menggambar matriks kecil di papan, lalu menandai pilihan yang tampak tidak efisien tetapi menjaga kepercayaan. Dimas menambahkan penjelasan dengan suara stabil. Putri memberi contoh komunikasi publik. Raka dan Melati melengkapi data. Dalam dua menit, jawaban Garuda berubah dari analisis menjadi presentasi utuh.

Bu Mariska tidak langsung memberi nilai. Ia melihat dua juri lain. Mereka mengangguk.

"Poin penuh untuk Garuda Cendekia."

Studio meledak.

Papan skor akhir muncul: Garuda Cendekia juara provinsi dengan selisih besar. Rendy meneriakkan nama sekolah mereka. Pak Surya berdiri, tangan gemetar. Dimas memeluk Raka. Melati menangis. Rizky melompat seperti cadangan yang mencetak gol meski tidak menyentuh bola.

Fadlan berjalan ke meja Garuda. Semua orang menahan napas. Ia berhenti di depan Arya, lalu mengulurkan tangan. "Aku kalah. Tombol dan panitia tidak bisa dijadikan alasan. Kamu lebih baik."

Arya menjabat tangannya. "Kamu lebih baik daripada saat penyisihan. Itu tidak kecil."

Fadlan tertawa pahit. "Pujianmu tetap terasa seperti nilai remedial."

"Remedial berarti masih ada kesempatan."

Kalimat itu membuat Fadlan terdiam, lalu mengangguk.

Saat piala diserahkan, kamera menyorot Arya di tengah tim. Rendy bertanya apa target berikutnya. Pak Surya berharap Arya menjawab normal. Arya melihat piala, lalu melihat kamera.

"Target berikutnya adalah menemukan soal yang benar-benar sulit."

Penonton tertawa, sebagian karena mengira itu gaya percaya diri. Di belakang studio, pria berjaket abu-abu tidak tertawa. Ia menerima pesan baru dari UNG: puncak publik tercapai, siapkan kontak awal.

Malamnya, ketika Arya pulang, ponselnya menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

Setelah penyerahan piala, belakang panggung lebih ribut daripada panggung. Bu Mariska datang bersama dua juri untuk memastikan semua poin sengketa Garuda Cendekia sah. Pelatih Fadlan berdiri di sisi lorong dengan wajah buruk, tetapi tidak lagi mengajukan protes. Kamera masih merekam, dan semua orang tahu satu kalimat salah bisa berubah menjadi potongan viral.

Pak Surya menggenggam piala dan untuk pertama kalinya merasa logam itu terlalu berat. "Arya, kamu sadar apa yang baru kamu lakukan?"

"Memenangkan lomba."

"Kamu membuat satu provinsi mempertanyakan standar soal mereka."

"Kalau standar itu bisa retak oleh satu peserta, retaknya sudah ada sebelum saya datang."

Bu Mariska mendengar kalimat itu dan tidak marah. Ia justru mengangguk. "Pak Surya, jaga anak ini. Dari musuh, juga dari orang yang ingin memakainya terlalu cepat."

Kalimat itu membuat Pak Surya melihat piala di tangannya dengan cara berbeda. Kemenangan hari itu bukan akhir. Itu pengumuman.

Di luar studio, siswa Garuda yang menonton dari sekolah meneriakkan nama mereka sampai suara penjaga perpustakaan tenggelam. Bu Ratih berdiri di belakang ruangan, melihat anak yang pernah ia anggap beban kelas kini membawa piala provinsi. Ia tidak menangis. Ia membuka buku nilai lama Arya dan untuk pertama kalinya merasa buku itu mungkin mencatat kegagalan orang dewasa dalam membaca kemampuan anak.

Pak Damar menutup laptopnya. "Mulai besok, soal latihan kita harus berubah."

Tidak ada guru yang membantah.

Rizky kemudian bersikeras berfoto dengan piala dan memberi nama file sebelum negara sadar kami keren. Putri menyebut nama itu kekanak-kanakan, tetapi tidak menghapusnya. Arya melihat mereka berdebat dan untuk pertama kalinya merasa suara kemenangan mungkin tidak seluruhnya merepotkan.

Bagi Garuda Cendekia, hari itu menjadi bukti tertulis bahwa reputasi lama bisa dikalahkan oleh satu hasil yang terlalu jelas untuk diperdebatkan.

Selamat atas kemenanganmu. Kita perlu bicara tentang dunia yang belum kamu lihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!