NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu yang terburu-buru mengalihkan perhatian Bima dari layar komputernya.

"Masuk saja, pintu tidak dikunci," ucap Bima dengan santai.

Cklek.

Pintu ruang periksa terbuka dan Direktur Wira melangkah masuk dengan wajah tegang.

Keringat sebesar biji jagung terlihat mengucur di dahi pria paruh baya tersebut.

"Ada apa, Direktur Wira?" tanya Bima.

"Anda terlihat seperti baru saja dikejar hantu di siang bolong."

Direktur Wira mengusap wajahnya dengan saputangan dan menarik kursi di depan meja Bima.

"Ini lebih buruk dari hantu, Bima."

"Konsil Kedokteran Kota baru saja mengirimkan surat panggilan resmi untukmu pagi ini."

Bima mengangkat sebelah alisnya mendengar kabar tersebut.

"Panggilan resmi?"

"Untuk urusan apa mereka memanggil saya?" tanya Bima tanpa rasa panik sedikit pun.

Direktur Wira meletakkan sebuah map cokelat berlambang instansi kesehatan di atas meja Bima.

Brak.

"Mereka mencurigai rekam jejak penyembuhanmu selama dua puluh empat jam terakhir, Bima."

"Kamu mengambil dua belas pasien kritis yang sudah divonis mati oleh dokter senior."

Bima melipat tangannya di dada dan menatap Direktur Wira dengan tenang.

"Lalu apa masalahnya?"

"Mereka semua sekarang hidup dan stabil di ruang pemulihan."

Direktur Wira menghela napas panjang dan menunjuk map cokelat itu.

"Justru itu masalahnya, Bima."

"Kamu menyembuhkan mereka semua tanpa ada satu pun yang gagal."

"Penyembuhan seratus persen pada kasus terminal itu dianggap mustahil secara statistik medis."

Bima mendengus pelan dan tersenyum meremehkan.

"Jadi menyembuhkan pasien sekarang dianggap sebagai sebuah kejahatan medis?"

"Bukan begitu maksudku, Bima."

"Dunia medis punya standar operasional yang kaku dan birokrasi yang sangat rumit."

"Mereka menuduhmu memanipulasi rekam medis atau menggunakan obat terlarang yang belum diuji coba."

"Mereka ingin mengaudit semua tindakanmu siang ini juga."

Bima menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan ekspresi bosan.

"Biarkan saja mereka datang dan memeriksa semuanya."

"Jika mereka masih tidak percaya, mereka bisa menanyai para pasien itu sendiri secara langsung."

"Saya tidak punya waktu meladeni birokrat yang lebih peduli pada kertas daripada nyawa manusia."

Direktur Wira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keras kepalanya Bima.

"Baiklah, aku yang akan menghadapi mereka di ruang rapat nanti siang."

"Kamu fokus saja pada tugasmu."

"Aku akan pasang badan untuk melindungi aset paling berharga di rumah sakit ini."

Direktur Wira lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dengan bahu merosot.

Begitu pintu tertutup, Bima kembali memfokuskan pikirannya pada masalah yang jauh lebih penting.

"Sistem, buka Perpustakaan Medis dan cari penawar sementara untuk Kardiomiopati Hipertrofik Kiara," batin Bima.

[Akses Perpustakaan Medis diterima.]

[Mencari formula penstabil otot jantung bawaan tanpa tindakan bedah.]

[Ditemukan satu resep penekan mutasi genetik sementara.]

[Bahan utama yang dibutuhkan: Ekstrak Akar Teratai Darah.]

Bima mengerutkan dahinya membaca nama bahan tersebut di layar sistem.

"Akar Teratai Darah?"

"Itu bukan tanaman herbal biasa yang bisa dibeli di apotek atau pasar tradisional," batin Bima.

Bima ingat pernah membaca soal tanaman itu di buku medis lama.

Itu adalah tanaman endemik beracun yang peredarannya dilarang keras oleh pemerintah.

Tanaman itu sering dijadikan bahan baku narkotika golongan satu karena efek halusinogennya yang kuat.

"Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan barang ilegal seperti itu dalam waktu kurang dari sebulan?" gumam Bima frustrasi.

Cklek.

Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka lagi tanpa ketukan sama sekali.

Bima langsung mendongak dengan tatapan waspada siap menyerang.

Seorang pria tinggi besar mengenakan setelan jas hitam rapi melangkah masuk ke dalam ruangan.

Di telinga kanannya terpasang sebuah alat komunikasi kecil yang berkedip biru.

Pria itu langsung membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat di hadapan Bima.

"Selamat pagi, Dokter Bima."

"Nama saya Leo, kepala pasukan pengawal pribadi dari kediaman keluarga Pratama."

Bima menyipitkan matanya menatap pria bertubuh kekar tersebut.

"Ada urusan apa kamu kemari, Leo?"

"Tuan Besar Darma mengutus saya dan lima belas anggota elit lainnya untuk menjaga Anda."

"Kami ditugaskan untuk memastikan keselamatan Anda dari ancaman Sindikat Ular Hitam selama dua puluh empat jam penuh."

Bima tersenyum tipis dan menyilangkan tangan di dadanya.

"Kakek Darma berlebihan sekali."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, lagipula rumah sakit ini punya pihak keamanan."

Leo menatap Bima dengan ekspresi datar yang sangat profesional.

"Pihak keamanan rumah sakit Anda tidak akan bisa menahan agen pembunuh profesional, Dokter."

"Kejadian kemarin dengan agen bernama Cobra adalah bukti bahwa mereka sudah mulai bergerak di tempat terang."

"Tuan Besar tidak ingin mengambil risiko kehilangan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Nona Kiara."

Bima terdiam sejenak mendengar nama Kiara disebut.

Dia menatap Leo dengan pandangan menilai dari atas ke bawah.

"Leo, sebagai kepala pengawal keluarga konglomerat, kamu pasti tahu banyak soal dunia bawah tanah kan?"

Leo mengangguk tanpa ragu sedikit pun.

"Tentu saja, Dokter."

"Tugas saya mengharuskan saya memiliki intelijen penuh tentang semua aktivitas ilegal di wilayah kota ini."

"Kalau begitu, apakah kamu tahu di mana aku bisa membeli Akar Teratai Darah malam ini juga?"

Mendengar nama tanaman itu, ekspresi tenang Leo langsung berubah menjadi sedikit terkejut.

"Akar Teratai Darah?"

"Itu barang selundupan tingkat tinggi, Dokter Bima."

"Tanaman itu biasanya hanya beredar di kalangan elit sindikat mafia untuk diracik menjadi obat stimulan."

Bima mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Leo tajam.

"Aku tidak peduli obat itu dipakai untuk apa oleh mereka."

"Aku sangat membutuhkannya untuk menstabilkan jantung Kiara sebelum waktunya habis."

Leo terdiam dan tampak berpikir keras selama beberapa detik.

"Jika Anda benar-benar membutuhkannya malam ini juga, kebetulan ada sebuah acara yang bisa kita datangi."

"Acara apa itu?" tanya Bima antusias.

"Lelang Bayangan yang diadakan sebulan sekali di pelabuhan utara."

"Itu adalah pasar gelap terbesar yang dikelola langsung oleh perantara dari Sindikat Ular Hitam."

Bima sedikit terkejut mendengar nama sindikat itu lagi.

"Sindikat Ular Hitam yang mengelolanya?"

"Iya, Dokter."

"Intel saya melaporkan bahwa ada beberapa bahan farmasi langka yang akan dilelang malam ini."

"Kemungkinan besar Akar Teratai Darah ada di dalam daftar barang dagangan mereka."

Mata Bima langsung berbinar mendengar informasi penting itu.

"Bagus."

"Kita akan pergi ke sana malam ini juga."

Leo maju selangkah dengan wajah terlihat cemas.

"Tapi Dokter, tempat itu sangat berbahaya."

"Mereka menyita semua senjata api di pintu masuk dan penjagaannya sangat ketat."

"Jika mereka tahu Anda adalah dokter yang menentang mereka, Anda tidak akan bisa keluar dari sana hidup-hidup."

Bima berdiri dari kursinya dan mengambil jas dokternya dari gantungan.

"Siapa bilang aku akan datang ke sana sebagai Dokter Bima?"

"Kita akan menyamar sebagai pembeli obat ilegal."

"Dan kamu yang akan berpura-pura menjadi bosku di sana."

Leo terlihat sangat panik mendengar rencana gila itu.

"Saya tidak berani bertindak tidak sopan dengan menyamar menjadi atasan Anda, Dokter."

"Jangan kaku begitu, Leo."

"Ini demi nyawa nonamu sendiri."

Leo masih terlihat ragu-ragu.

"Tapi Tuan Besar Darma pasti akan marah besar jika tahu saya membahayakan Anda."

"Aku yang akan menanggung semua kemarahan Kakek Darma nanti," tegas Bima.

"Siapkan penyamarannya dan jemput aku di pintu belakang rumah sakit jam delapan malam ini."

Leo akhirnya menyerah dan membungkuk hormat sekali lagi.

"Baik, Dokter Bima."

"Saya akan menyiapkan identitas palsu dan dana tunai yang tidak bisa dilacak untuk lelang nanti."

Leo berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan Bima.

Bima menatap keluar jendela ruangannya, melihat langit kota yang perlahan mulai mendung.

"Aku harus mendapatkan akar beracun itu apa pun yang terjadi malam ini," batin Bima.

1
Dhewa Shaied
wahhh ayo cepet bim..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!