Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Pintu yang Tertutup
"Maaf, kami hanya menerima member."
Nita mengucapkan kalimat itu sambil tetap tersenyum. Senyumnya rapi, rambutnya rapi, seragam hitam La Maison juga rapi. Yang tidak rapi hanya cara matanya turun dari wajah Raka ke batik Bibi Lestari, lalu ke sepatu Bintang yang sudah disemir sebersih mungkin tetapi tetap terlihat murah.
Bintang yang tadi menggenggam tangan Bibi dengan semangat langsung mengecil. "Kak, jadi kita tidak bisa masuk?"
Bibi cepat menarik bahu anak itu. "Tidak apa-apa, Nak. Bibi makan di warung Pak Maman juga senang kok."
Kalimat itu membuat rahang Raka mengeras.
Pagi tadi Bibi bangun lebih awal untuk menyetrika batik terbaiknya. Bintang memilih kemeja sekolah putih yang kancingnya diganti agar terlihat seperti baju resmi. Mereka bukan datang untuk pamer. Mereka datang karena Raka ingin memberi satu makan siang yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari luar kaca.
Nita mengangkat dagu sedikit. "Selain member, kami juga punya dress code tertentu. Untuk kenyamanan tamu lain."
Fajar, yang berdiri di belakang Raka, langsung melangkah maju. "Maksud Mbak, batik Bibi kami mengganggu kenyamanan siapa?"
"Saya tidak bilang begitu, Pak."
"Tapi mata Mbak bilang begitu."
Raka mengangkat tangan, menghentikan Fajar. Ia menatap Nita tanpa menaikkan suara.
"Kami sudah reservasi. Atas nama Raka Surya Pratama."
Nita melihat tablet. Namanya ada. Tentu ada. Semalam Raka meminta Fajar memesan meja setelah panggilan penolakan pertama. Sistem restoran menerima, tetapi rupanya pintu manusia punya harga dirinya sendiri.
"Reservasi Bapak belum dikonfirmasi sebagai member. Jadi kami tidak bisa menerima."
"Siapa yang memutuskan?"
"Kebijakan restoran."
"Nama manajer?"
Nita ragu sepersekian detik. "Pak Suroso sedang sibuk."
Bibi menarik lengan Raka pelan. "Sudah, Nak. Jangan ribut. Kita pulang saja. Bibi benar-benar tidak apa-apa."
Justru kata tidak apa-apa itulah yang membuat Raka marah.
Orang yang terlalu sering mengalah biasanya tidak lagi sadar sedang dilukai. Bibi sudah begitu lama menambal hidup dengan senyum kecil sampai pintu tertutup pun ia anggap cuaca biasa.
Raka berjongkok di depan Bintang.
"Kamu mau makan di sini?"
Bintang menatap Nita, lalu menatap lantai. "Mau. Tapi kalau bikin Bibi sedih, tidak usah."
"Kita akan makan di sini," kata Raka. "Tunggu sebentar."
Ia berdiri dan berjalan ke samping pintu kaca. Fajar mengikuti cukup dekat untuk mendengar.
Raka menelepon Bayu.
"Cari struktur kepemilikan La Maison. Pemegang saham, utang, izin, valuasi, semua."
Bayu di seberang terdengar sedang mengunyah sesuatu. "Karena mereka menolak reservasi?"
"Karena mereka menolak Bibi saya."
Suara kunyahan berhenti.
"Beri saya dua jam, Boss. Kalau ada celah beli, saya buka. Kalau ada celah gugat, saya simpan sebagai bonus."
Telepon berikutnya untuk Hendra Salim.
Hendra tertawa setelah mendengar ringkasan. "Kamu mau beli restoran karena pintunya sok suci? Itu gaya yang mahal, Raka. Tapi kalau serius, cek utang supplier dan izin alkoholnya. Restoran Prancis sering punya struktur saham keluarga yang rapuh. Pemiliknya terlihat elegan, pembukuannya belum tentu."
"Saya serius."
"Kalau begitu, jangan beli karena emosi saja. Beli lalu jadikan aset yang bekerja."
"Itu rencananya."
Raka kembali ke depan pintu. Nita masih berdiri dengan sikap yang sama, tetapi mulai tidak nyaman karena Raka tidak pergi dengan kepala tertunduk seperti tamu yang ditolak biasanya.
"Kami pergi makan siang dulu," kata Raka. "Besok kami kembali."
Nita menjawab otomatis, "Tentu, Pak. Kalau sudah menjadi member, kami akan senang melayani."
Fajar hampir tertawa.
Raka tidak membalas.
Mereka pergi ke warung Pak Maman. Begitu melihat Bibi dan Bintang, Pak Maman langsung membersihkan meja terbaik di bawah kipas angin.
"Wah, keluarga besar datang! Mau nasi goreng spesial?"
Bintang duduk, masih murung. Pak Maman cepat menambahkan telur mata sapi dua, kerupuk banyak, dan es teh manis tanpa diminta.
"Kalau makan di tempat saya, dress code-nya cuma satu," kata Pak Maman sambil mengaduk nasi. "Perut lapar."
Bintang akhirnya tertawa.
Bibi menatap Raka dengan mata khawatir. "Nak, jangan beli sesuatu hanya karena Bibi ditolak."
"Bibi bukan sesuatu yang boleh ditolak dengan cara begitu."
"Bibi sudah biasa."
"Mulai sekarang jangan biasa."
Kalimat itu membuat Bibi diam. Tangannya yang kasar karena pekerjaan rumah menggenggam gelas teh, dan Raka tiba-tiba merasa semua vila, gedung, dan mobil yang sudah ia beli belum cukup kalau perempuan ini masih merasa harus meminta maaf karena ingin makan di restoran bagus.
Fajar menerima pesan dari Bayu menjelang sore.
"Boss, Bayu dapat sesuatu. Pemegang saham utama La Maison gagal investasi hotel di Bali. Butuh likuiditas cepat. Valuasi restoran lima miliar dunia luar. Sistem bilang harga kita?"
[Mimpi: estimasi harga akuisisi penuh Rp5.000. Proses dapat selesai besok pagi melalui PT Langit Sembilan jika Bayu menyiapkan dokumen malam ini.]
Raka mengirim satu kata kepada Bayu.
Lakukan.
Malam itu, dari kantor Menara Langit, ia melihat pantulan kota di kaca. Di bawah sana ada ribuan pintu. Dulu ia hanya berharap satu pintu tidak dibanting di wajahnya.
Sekarang ia memilih mana yang harus dibeli.
Raka teringat punggung Bibi yang sedikit membungkuk saat berkata tidak apa-apa.
Sebelum meninggalkan La Maison, Raka sengaja meminta Nita mencetak bukti penolakan reservasi. Nita menolak dengan alasan prosedur, tetapi Fajar sudah menyalakan kamera ponsel. Raka tidak mengancam. Ia hanya berkata bahwa setiap pintu yang tertutup harus punya alasan tertulis. Kalimat itu membuat dua tamu di belakang antrean ikut memperhatikan.
Nita akhirnya memberi catatan singkat di kertas restoran: reservasi tidak dapat diterima karena status member belum aktif dan penyesuaian dress code. Ia merasa kertas itu kemenangan kecil, padahal bagi Raka itu adalah batu pertama untuk membangun tangga balik. Bayu akan menyukainya.
Di warung Pak Maman, Raka tidak langsung bicara soal membeli restoran. Ia membiarkan Bibi makan sampai habis, membiarkan Bintang tertawa karena Pak Maman membuat telur berbentuk hati yang miring. Baru setelah piring kosong ia berkata pelan bahwa harga sebuah restoran tidak selalu semahal martabat keluarga. Bibi memarahinya dengan mata basah, tetapi kali ini ia tidak berkata tidak apa-apa lagi.
Malamnya, Bayu mengirim ringkasan: saham La Maison terpecah di tiga nama, dua di antaranya ingin keluar, satu pemegang minoritas punya utang pajak kecil yang bisa diselesaikan dalam akuisisi. Bayu juga menemukan keluhan pelanggan lama tentang Nita dan budaya pintu depan restoran itu. Jadi ini bukan kesalahan sehari. Ini kebiasaan yang sudah merasa dirinya kelas.
Raka juga meminta Fajar menyimpan foto batik Bibi hari itu. Foto itu menjadi pengingat alasan ia marah.
"Bibi sudah terlalu lama mengalah," katanya pelan. "Mulai sekarang, tidak ada pintu yang tertutup untuk keluarga kita."