NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 42: Curhat Feby dan Winda

Winda menjatuhkan sendok ketika Kirana menyebut jabatan Arya.

“Direktur apa?”

“Direktur Utama Danuwangsa Group.”

Sendok itu memantul di lantai kafe. Feby, yang baru pulang ke Indonesia untuk jeda proyek, menurunkan kacamata hitamnya.

“DG yang gedungnya separuh SCBD?”

Kirana mengangguk.

“Pacarmu yang mengajar valuasi, tinggal di sebelah, pakai sandal rumah, dan menunggu kamu muntah itu Direktur Utama DG?” tanya Winda.

“Iya.”

“Aku perlu minum.”

“Kamu sedang minum es kopi.”

“Perlu yang lebih kuat.”

Mereka bertiga bertemu di kafe dekat kos Winda agar tidak menarik perhatian kampus. Kirana sudah berjanji menceritakan semuanya setelah identitas Arya terbuka pada orang tuanya.

Feby menyilangkan tangan. “Mulai dari awal. Jangan hilangkan bagian yang membuat dia tampak buruk.”

Kirana menarik napas dan menceritakan Singapura: tabrakan di lobi, minum bersama, malam yang mereka pilih saat sama-sama dewasa dan sadar, lalu catatan uang yang ia tinggalkan sebelum kabur.

Winda menutup mulut. “Jadi kalian pernah tidur bersama sebelum dia masuk kelas?”

“Pelan!”

“Aku tinggal satu rumah denganmu dan baru tahu sekarang.”

“Aku takut kamu menghakimi.”

“Aku menghakimi karena kamu menyimpan cerita sebesar itu sendirian.”

Feby mengangkat tangan. “Aku tahu soal malamnya sejak Bab hidup Kirana yang penuh kekacauan itu. Aku tidak tahu laki-lakinya dosen dan konglomerat.”

“Kamu tahu?” Winda memekik.

“Dia curhat duluan kepadaku.”

Winda memegang dada. “Persahabatan kita palsu.”

Kirana memeluk lengannya. “Maaf.”

Setelah drama kecil mereda, Kirana menjelaskan bagaimana Arya meminta slot mengajar, membuat penilaian ganda, membeli 805, lalu mengaku sebagai Direktur Utama setelah tertangkap orang tua membawa pembalut.

Winda kembali terdiam. “Tunggu. Identitas sebesar itu terbuka karena pembalut?”

“Jangan tertawa.”

Mereka berdua tertawa sampai meja sebelah menoleh.

Feby akhirnya serius. “Dia menyembunyikan jabatan darimu. Itu bukan hal kecil.”

“Aku marah. Kami sudah bicara. Dia mengaku salah dan janji tidak lagi menentukan kapan aku boleh tahu.”

“Kamu percaya?”

“Aku percaya tindakannya sejauh ini. Tapi aku tetap akan memeriksa kalau ada hal yang janggal.”

Feby mengangguk puas. “Bagus. Cinta tidak berarti mematikan alarm.”

Winda menatap foto Arya dari berita bisnis, lalu foto pria yang memakai celemek saat memasak di 805. “Aku tidak bisa menyatukan dua gambar ini.”

“Aku juga sedang belajar.”

Feby mengambil ponsel Kirana dan membuka profil berita Arya. “Dia masuk daftar pebisnis muda paling berpengaruh, pernah bicara di forum Asia, dan menolak tiga wawancara pribadi. Bagaimana orang seperti ini punya waktu mengawasi kamu makan?”

“Dia membuat waktu.”

“Itu jawaban perempuan jatuh cinta.”

“Memang.”

Pengakuan tanpa menyangkal membuat kedua sahabatnya terdiam, lalu bersorak begitu keras hingga pelayan datang memastikan semuanya baik-baik saja.

Kirana juga menunjukkan dokumen pemisahan nilai, aturan privasi apartemen, dan pesan Arya yang meminta izin sebelum mengumumkan hubungan. Feby membacanya satu per satu.

“Setidaknya dia sadar kuasa mereka tidak seimbang,” katanya. “Kamu tetap harus punya uang, pekerjaan, dan keputusan sendiri.”

“Aku mau lanjut studi dan bekerja.”

“Dia setuju?”

“Dia bilang akan berjalan di samping, bukan memotong mimpiku.”

Winda memegang dada. “Kenapa laki-laki seperti itu tidak punya saudara kembar?”

“Ada Bima,” kata Kirana.

“Itu sepupu, bukan kembar.”

Nada Winda terlalu cepat. Feby dan Kirana bertukar tatapan.

“Bima tahu?”

“Dia sepupunya. Tentu tahu.”

Winda tersedak kopi. “Berarti waktu dia masuk latihan dan memanggil Mas Arya, bukan cuma karena sepupu biasa?”

“Iya.”

Pipi Winda memerah ketika nama Bima disebut. Feby segera menangkap perubahan itu.

“Ada cerita lain?”

“Tidak ada.”

“Bagus,” kata Kirana. “Nanti giliranmu diinterogasi.”

Mereka menghabiskan sore membongkar seluruh rahasia. Feby tetap menyebut Arya berpotensi brengsek karena terlalu tampan dan berkuasa, tetapi kali ini nadanya tidak keras.

“Kalau dia macam-macam, gue yang urus,” katanya.

“Dengan apa?” tanya Winda. “Dia punya satu konglomerasi.”

“Aku punya internet dan waktu.”

Mereka kemudian menyusun perjanjian persahabatan baru. Jika Kirana menghilang dari grup lebih dari dua hari, Winda akan mengetuk 805. Jika ada keputusan besar tentang kuliah atau keluarga, Kirana harus memiliki waktu bicara tanpa Arya. Feby mendapat hak mengajukan pertanyaan sulit melalui panggilan video.

“Ini berlebihan,” protes Kirana.

“Kamu pacaran dengan orang yang bisa membeli gedung,” kata Feby. “Kami perlu protokol.”

“Mas Arya tidak membeli orang.”

“Bagus. Berarti dia tidak keberatan kamu punya sistem dukungan.”

Kirana mengakui logika itu benar. Ia mengirim foto tiga gelas kopi kepada Arya dengan keterangan: Sidang sahabat selesai. Untuk sementara kamu lolos.

Balasan datang satu menit kemudian.

Kapan saya boleh diperiksa langsung?

Feby membaca dan mengetik sendiri: Setelah saya siapkan seratus pertanyaan.

Arya menjawab: Saya sediakan waktu.

Feby mengembalikan ponsel dengan ekspresi sedikit lebih lunak. “Baik. Mungkin dia cuma setengah brengsek.”

Kirana tertawa, lalu menggenggam tangan kedua sahabatnya. Menyampaikan kebenaran membuat beban di dadanya lebih ringan. Ia tidak perlu menghadapi dunia Arya sendirian.

Winda membuka akun forum kampus. Foto misterius masih diperdebatkan, sementara tidak seorang pun menghubungkan laki-laki dalam bayangan dengan nama besar yang baru mereka bahas.

“Bayangkan kalau anak kampus tahu,” katanya. “Bukan cuma Prof Arya pacarmu. Direktur Utama DG menyamar jadi dosen dan jatuh cinta sama mahasiswinya. Bisa heboh se-UN.”

Ketiganya menatap layar. Di luar kafe, lalu lintas berjalan biasa. Namun Kirana tahu ketenangan itu tidak akan bertahan lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!