NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 TAKDIR

Dua minggu berlalu di dasar Lembah Taring Merah, namun bagi Mu Jin, waktu telah kehilangan bentuknya. Yang ada hanyalah siklus antara rasa dingin yang membekukan darah dan rasa sakit yang menggerogoti kesadarannya.

Kegelapan lembah itu pekat, hampir tak tersentuh cahaya matahari. Di antara tumpukan tulang belulang binatang dan bangkai serigala es yang perlahan membusuk, Mu Jin merayap. Lengan kirinya yang patah tergantung lemas dan membengkak kebiruan, terikat seadanya menggunakan sobekan kain kusam yang kini telah mengeras oleh darah kering dan lumpur beku.

Dia tidak lagi menyerupai manusia. Baju kusamnya telah robek mencabik, memperlihatkan kulit penuh garis luka bakar es dan cakaran. Rambutnya yang panjang dan kotor menggumpal oleh tanah. Namun, di dalam rongga matanya yang cekung, ada pendar merah yang tidak pernah padam. Api dendam yang makin liar justru saat tubuhnya makin mendekati kebinasaan.

Setiap hari adalah pertarungan mentah melawan ajal. Tanpa pedang besi hitamnya, Mu Jin belajar bertahan hidup seperti binatang melata. Dia mengunyah akar-akar tanaman liar beracun yang tumbuh di celah batu basah, menahan muntah saat rasa pahit dan membakar menjalar ke perutnya. Ketika dahaga mencekik, dia menjilat es yang menempel pada dinding tebing atau meminum air tanah yang berbau belerang.

“Lu... Chen...”

Suara itu keluar dari tenggorokannya berupa desisan serak yang pecah. Setiap kali rasa putus asa mencoba mematikan sarafnya, nama itu terucap bagai mantra pemicu jantungnya untuk terus berdenyut.

Mu Jin terseret sampai ke ujung celah lembah, tempat sebuah sungai bawah tanah mengalir deras menembus dinding tebing cadas. Di sana, di antara gulungan kabut air yang membeku, berdiri reruntuhan tugu batu tua yang tertutup lumut hitam. Tugu itu adalah sisa-sisa peninggalan klan Kuno Utara yang telah punah ratusan tahun lalu, sebuah tempat yang bahkan dipatuhi oleh binatang-binatang buas lembah untuk tidak didekati.

Di bawah tugu batu itu, Mu Jin menyandarkan tubuhnya yang menggigil hebat. Napasnya pendek-pendek, mengembun di udara dingin. Demam tinggi akibat infeksi luka di lengan kirinya mulai menyerang. Pandangannya berbayang, bergetar antara realitas dan bayangan masa lalu.

Dia melihat desanya yang terbakar. Dia melihat wajah-wajah tetangganya yang menjerit saat diseret oleh pasukan bertopeng tembaga. Dia melihat senyum tenang Lu Chen yang mengusap noda darah dengan kain putih bersih. Dan dia melihat dirinya sendiri, seorang tukang kayu bodoh yang hanya bisa menangis di atas abu.

“Kenapa...” gumam Mu Jin pada kegelapan. “Kenapa kau biarkan aku selamat hari itu?”

Tidak ada jawaban dari dinding batu. Hanya deru air sungai yang menghantam cadas.

Mu Jin meraba dinding tugu batu di belakang kepalanya. Jari-jarinya yang pecah-pecah mencengkeram ukiran kasar di permukaan batu tersebut. Ukiran itu bukan tulisan indah ilmu beladiri sekte besar, melainkan torehan-torehan dalam yang dibuat dengan keputusasaan. Garis-garis lurus, tegas, dan kaku, menyerupai pola tebasan tanpa irama.

Pola itu dibuat oleh seseorang yang pernah terjebak di dasar lembah ini ratusan tahun lalu. Seorang pencipta yang tidak memiliki qi, seorang pembantai yang diasingkan oleh Murim karena gaya bertarungnya yang terlampau liar dan tak berperasaan.

Niat membunuh tanpa tenaga dalam.

Mu Jin menempelkan telapak tangannya pada ukiran batu tersebut. Rasa dingin dari batu itu seolah menyerap panas demam di tubuhnya, mengalirkan sebuah kesadaran baru yang sangat sederhana: untuk membunuh seorang ahli qi, seseorang tidak butuh menjadi pendekar yang indah. Seseorang hanya perlu menjadi besi yang lebih keras daripada pelindung musuh.

Niat untuk membalas dendam bukan lagi sekadar rasa amarah yang membakar, melainkan energi dingin yang memusatkan seluruh daya tahan tubuhnya ke satu titik.

Dengan menggeram pelan, Mu Jin memaksa lengan kirinya yang patah untuk menempel pada tonjolan batu tebing.

CRACK!

Mu Jin menyengajakan tubuhnya menghantam batu, meluruskan kembali tulang lengan kirinya yang menyambung secara salah secara paksa. Rasa sakit yang luar biasa hebat membuat pandangannya mendadak gelap seketika. Darah segar menyembur dari mulutnya saat dia menggigit lidahnya sendiri agar tidak menjerit.

Air mata darah menetes di atas salju. Namun, saat rasa sakit masif itu perlahan mereda, lengan kirinya yang kini tergantung lurus kembali bisa digerakkan sedikit demi sedikit.

Mu Jin bertumpu pada kedua kakinya. Dia berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi dia tidak jatuh.

Dia tidak punya pedang, tapi di dasar lembah ini, dia menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sebilah besi: ketidaktakutan total akan kematian dirinya sendiri. Dia telah mati di Lembah Nian tiga tahun lalu, dan dia telah mati sekali lagi saat dilemparkan oleh Feng Xiao ke dasar jurang ini. Apa yang berdiri sekarang hanyalah cangkang kosong yang digerakkan oleh dendam yang tak terpadamkan.

Mu Jin berjalan mendekati alur sungai bawah tanah yang menembus celah tebing. Jalur air itu mengalir deras menuju ke luar, merayap di balik dinding gua yang mengarah langsung ke dataran tinggi utara tempat kekuasaan Lin Yu berada.

Dia menyeburkan dirinya ke dalam air sungai yang dingin bagai es beku.

Arus air yang deras merenggut tubuhnya, membawanya hanyut menembus kegelapan lorong batu bawah tanah. Mu Jin membiarkan dirinya ditelan oleh kegelapan air, menahan napasnya dalam hening, menyatu dengan dingin yang akan membawanya kembali ke permukaan dunia atas.

Di atas sana, di Puncak Awan Putih dan dataran utara, Murim masih sibuk dengan perang kekuasaan mereka. Lu Chen masih merencanakan konspirasinya, dan Feng Xiao masih merasa menang. Mereka tidak pernah tahu bahwa di dalam kegelapan sungai bawah tanah, cacing tanah yang mereka buang sedang merayap naik. Bukan lagi sebagai manusia, melainkan sebagai bencana dingin yang siap merobek keangkuhan mereka.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!