NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006

Perpustakaan Universitas Prestasi memiliki aturan sunyi yang jarang benar-benar dipatuhi mahasiswa.

Ada yang membisikkan jawaban tugas, ada yang membuka bungkus permen pelan-pelan tetapi tetap berisik, ada pula yang hanya datang untuk tidur di balik tumpukan jurnal. Namun sore itu, meja panjang di lantai dua terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Karena Lo Hafeng duduk di sana.

Dan karena Soe Wanyu datang membawa dua gelas kopi serta setumpuk catatan yang diikat pita kecil.

Meiran melihatnya dari rak buku teori desain, dua baris di belakang mereka. Ia sedang mencari buku referensi tentang persepsi ruang ketika suara Wanyu yang lembut masuk ke telinganya.

"Ko Hafeng, aku dengar ujian tengah semester kali ini materinya digabung dengan proyek lintas studio." Wanyu meletakkan kopi di sisi kanan laptop Hafeng. "Aku punya beberapa catatan dari dosen seni. Mungkin bisa membantu."

Hafeng tidak langsung mengangkat kepala. Ia sedang menggambar detail struktur di tabletnya, garis-garis tipis yang rapi seperti urat pada daun logam.

"Tidak perlu."

Jawabannya pendek.

Wanyu tetap tersenyum. "Aku tahu kamu pintar. Tapi lawanmu kali ini Meiran. Dia kelihatannya benar-benar serius."

Pensil digital Hafeng berhenti.

Meiran mengambil satu buku dari rak tanpa suara.

Jadi Wanyu mulai takut.

Bagus.

"Itu bukan urusanmu," kata Hafeng.

Senyum Wanyu sedikit kaku. "Aku cuma khawatir. Setelah video kemarin, semua orang membicarakan kalian. Kalau kamu kalah, mereka akan makin meledekmu."

"Aku tidak akan kalah."

"Aku percaya." Wanyu mendorong catatan itu sedikit lebih dekat. "Makanya aku ingin membantu. Kita bisa belajar bersama seperti dulu. Ingat waktu SMA, kamu sering membantuku menggambar perspektif? Kali ini biar aku yang membantumu dengan materi seni."

Kata "seperti dulu" dijatuhkan dengan sangat hati-hati.

Meiran hampir bisa melihat benang yang dilempar Wanyu: masa lalu, kedekatan, kebiasaan lama, posisi yang tidak dimiliki Meiran.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran akan keluar dari balik rak saat itu juga. Ia akan bertanya dengan nada cemburu, membuat Wanyu terlihat sabar dan Hafeng semakin muak.

Hari ini ia hanya membuka buku dan membaca daftar isi.

Hafeng menutup tabletnya.

"Wanyu."

Nada suaranya membuat punggung Wanyu menegang.

"Aku menerima taruhan itu karena aku akan mengalahkan Lim Meiran dengan kemampuanku sendiri. Kalau aku memakai catatanmu, dia akan punya alasan untuk menyebutku tidak berani bertanding bersih."

Wanyu cepat menggeleng. "Dia tidak perlu tahu."

"Aku tahu."

Kalimat itu memotong udara.

Meiran berhenti membalik halaman.

Ada bagian dari Hafeng yang menyebalkan, dingin, dan penuh prasangka. Tetapi ia tidak curang. Bahkan kebenciannya punya tulang punggung. Itulah kenapa di kehidupan sebelumnya, saat ia hancur, ia tetap tidak bisa membencinya dengan mudah.

Sistem berkedip pelan.

**【Sistem Predator】Pengamatan baru terhadap target tersimpan. Integritas kompetitif: tinggi.**

Meiran menutup buku.

Wanyu menunduk sedikit. Dari samping, ia terlihat terluka. "Jadi kamu menolak bantuanku?"

"Aku menolak ikut campurmu."

Lebih tajam.

Beberapa mahasiswa di meja seberang melirik, lalu cepat kembali ke laptop masing-masing.

Wanyu menggenggam tali tasnya. "Aku tidak bermaksud ikut campur. Aku hanya tidak suka melihatmu dipermainkan."

"Kalau kamu tidak suka, jangan lihat."

Meiran hampir tersenyum.

Hafeng memang tidak lembut. Bahkan pada orang yang disebut semua orang sebagai teman masa kecilnya, ia tetap bisa terdengar seperti pintu ditutup.

Wanyu berdiri diam beberapa detik.

Lalu ia mengambil kembali catatan itu, tetapi meninggalkan kopi di meja.

"Kopinya sudah kubeli. Minum saja sebelum dingin," katanya pelan.

Hafeng tidak menyentuh gelas itu.

Wanyu berbalik.

Dan matanya langsung bertemu mata Meiran di sela rak.

Keheningan di antara mereka lebih tajam daripada percakapan Wanyu dengan Hafeng tadi.

Meiran keluar dari balik rak sambil membawa dua buku. Ia tidak pura-pura baru datang. Percuma. Wanyu sudah melihatnya, Hafeng juga pasti sadar dari perubahan udara.

"Kamu mendengar semuanya?" tanya Wanyu.

"Cukup."

"Kamu puas?"

Meiran menatap catatan berpita di tangan Wanyu. "Dengan apa?"

"Membuat Ko Hafeng menolak orang yang peduli padanya."

Ah.

Masih pola lama.

Jika Wanyu gagal, kesalahan harus dipindahkan ke Meiran.

Meiran mendekat ke meja, tetapi tidak menyentuh barang Hafeng. Batas itu penting. Setelah ciuman dan tamparan kemarin, ia harus memilih medan dengan lebih rapi.

"Wanyu," ucap Meiran pelan, "kalau kepedulianmu tulus, penolakan Hafeng tidak perlu membuatmu menyalahkanku."

Wajah Wanyu berubah samar.

"Aku tidak menyalahkanmu."

"Tentu."

Hafeng berdiri. Kursinya bergeser sedikit, cukup membuat dua mahasiswa menoleh lagi.

"Kalian mau bertengkar, lakukan di luar."

Meiran mengangkat alis. "Kenapa? Takut nilai perpustakaanmu turun?"

Hafeng menatapnya datar. "Takut kebisinganmu mengganggu orang normal."

"Tenang. Aku cuma mengambil buku."

Meiran mengangkat dua buku di tangannya. Salah satunya persis buku yang tadi Hafeng cari di katalog perpustakaan, terlihat dari daftar pencarian yang masih terbuka di layar laptopnya.

Mata Hafeng turun ke sampul buku itu.

Meiran melihatnya.

"Oh," katanya ringan. "Kamu butuh ini?"

"Tidak."

"Bagus."

Meiran memeluk buku itu ke dada dan berjalan melewati mejanya.

Chiko yang baru datang dari tangga hampir menabraknya. Ia melihat Meiran, lalu Hafeng, lalu Wanyu. Matanya langsung hidup seperti menemukan drama gratis.

"Aku datang di waktu yang salah atau pas banget?"

"Salah," jawab Hafeng.

"Pas," jawab Meiran di saat bersamaan.

Chiko tertawa tertahan.

Wanyu tidak tertawa. Ia menatap buku di tangan Meiran, lalu kopi yang tetap tidak disentuh Hafeng. Sesuatu yang gelap bergerak cepat di matanya, begitu cepat sampai orang lain mungkin melewatkannya.

Meiran tidak.

Wanyu menunduk, merapikan pita catatannya, lalu berkata dengan suara yang kembali lembut, "Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga kalian belajar dengan baik."

Ia berjalan pergi.

Chiko menunggu sampai langkah Wanyu menjauh, lalu mencondongkan tubuh ke meja Hafeng.

"Feng, bukankah buku yang dibawa Lim Meiran itu buku yang kamu cari dari tadi?"

Hafeng membuka tabletnya kembali. "Ada salinan lain."

Chiko melirik layar katalog yang menunjukkan status semua salinan sedang dipinjam. Ia menahan senyum sampai bahunya bergetar.

"Salinan lain di alam mimpi?"

"Chiko."

"Oke, oke." Chiko mengangkat dua tangan. "Aku cuma heran. Dulu dia mengejarmu, sekarang dia mengambil buku yang kamu butuhkan. Perkembangannya cepat."

Hafeng menatap halaman kosong di tabletnya. Garis desain yang tadi rapi tiba-tiba terasa kurang pas. Di kepalanya, analisis Meiran di papan tulis muncul lagi tanpa diminta.

"Dia hanya beruntung," gumamnya.

Tapi untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar tidak cukup kuat bahkan di telinganya sendiri.

Namun sebelum turun tangga, Wanyu berhenti di papan pengumuman digital dekat lift. Layar itu baru berganti menampilkan agenda kampus minggu depan.

`Open Studio Review: Desain Publik dan Visual Naratif`

`Reviewer tamu: Kho Yanting, Direktur Muda Kho Group`

Meiran membaca nama itu dari kejauhan.

Kho Yanting.

Nama yang di kehidupan sebelumnya datang jauh lebih lambat, sebagai pria sabar yang menawarkan bantuan saat hidupnya sudah berantakan.

Kali ini, ia muncul lebih awal.

Di dekat lift, Wanyu menatap pengumuman itu terlalu lama.

Lalu ia tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!