Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Istri yang Kuakui
Foto Arkana di depan kontrakan Anindya muncul di layar ponsel Amara empat hari kemudian.
Amara menyimpannya sampai malam amal keluarga Adiwijaya di Menteng. Di hadapan tamu, foto itu tidak langsung ia tunjukkan. Ia memilih cara yang lebih halus: membiarkan bisikan berjalan lebih dulu.
“Katanya perempuan itu menerima proyek setelah sering bertemu Arka.”
“Mereka juga bermalam di hotel yang sama.”
“Sekarang Arka datang ke rumahnya membawa makanan.”
Kalimat-kalimat itu berpindah dari satu meja ke meja lain sebelum Anindya selesai menyapa panitia.
Ia datang sebagai wakil program Klub Enggar, mengenakan gaun hitam sederhana dengan anting Laras di telinga. Enggar tidak hadir di ruang utama, tetapi undangan institusionalnya sah dan seluruh dokumen proyek sudah melalui pemeriksaan.
Sisi mengirim pesan singkat dari posisi pemantauan media.
Foto Ciputat beredar di grup tamu. Metadata versi pertama sudah kami simpan. Sumber awal mengarah ke perantara Amara.
Anindya membaca, lalu mengunci layar. Ia memang membiarkan foto itu diambil. Kotak martabak terlihat jelas. Tidak ada pelukan, pintu tertutup, atau pertemuan rahasia. Kalau Amara ingin membangun skandal dari lima menit di halaman umum, ia harus menambahkan kebohongan sendiri.
Di panggung, Ratna Adiwijaya membuka acara.
Ia mengenakan kebaya biru tua dan kalung keluarga yang membuat banyak tamu otomatis merendahkan suara. Cara Ratna berdiri menjelaskan mengapa Arka bisa mengendalikan ruang tanpa berteriak. Malam itu, senyumnya tetap sempurna meski pernyataan putranya tentang batalnya pertunangan telah menjadi bahan pembicaraan selama sepekan.
“Keluarga tidak selalu sepakat dalam urusan pribadi,” katanya di akhir sambutan. “Namun tanggung jawab sosial tidak boleh berhenti karena perbedaan di dalam rumah.”
Tepuk tangan terdengar lega.
Arka berdiri di sisi panggung bersama beberapa pengurus yayasan keluarga. Pandangannya menemukan Anindya hampir seketika. Ia tidak mendekat, seolah mengingat perintah untuk meminta janji. Hanya satu anggukan singkat yang ia berikan.
Anindya membalas dengan gerakan yang sama.
Amara melihat pertukaran itu.
Ia maju ketika sesi bincang santai dimulai, berdiri cukup dekat dengan wartawan infotainment yang diizinkan meliput bagian publik acara.
“Saya setuju dengan Bu Ratna,” katanya. “Keluarga harus tetap menjaga martabat, terutama ketika ada orang luar yang mencoba memakai hubungan pribadi demi mendapat tempat.”
Beberapa kamera beralih kepadanya.
Tiara berdiri satu langkah di belakang. Wajahnya tenang, tetapi ia tidak ikut bicara.
Seorang tamu bertanya, “Maksud Anda isu proyek pendidikan itu?”
Amara tersenyum sedih. “Saya tidak ingin menyebut nama. Saya hanya prihatin melihat seorang perempuan datang entah dari lingkaran mana, mendekati pria yang sedang berada dalam tekanan keluarga, lalu memakai perhatian itu untuk masuk ke proyek besar.”
“Laporan kepatuhannya bersih,” kata seseorang.
“Laporan dibuat dari dokumen yang diberikan pihak terkait. Kita tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya.”
Amara mengangkat ponsel. Foto Arka menyerahkan kotak martabak kepada Anindya muncul di layar.
“Ini diambil setelah mereka menginap di hotel yang sama. Sekarang perempuan itu menerima kunjungan pribadi di rumah. Mungkin kebetulan. Tapi bukankah publik berhak bertanya?”
Ruangan berubah sunyi.
Anindya tetap berdiri di dekat meja sponsor. Beberapa orang memandangnya dengan ingin tahu, beberapa dengan penilaian yang sudah selesai sebelum fakta muncul.
Amara akhirnya menyebut namanya.
“Kak Anindya, kalau memang tidak ada yang disembunyikan, jelaskan saja hubunganmu dengan Arka di depan semua orang.”
Itulah jebakannya. Kalau Anindya diam, bisikan akan dianggap benar. Kalau ia menjelaskan nikah siri, ia membuka luka yang tidak pernah ia setujui untuk dijadikan tontonan.
Anindya mengangkat dagu. “Pertanyaan tentang proyek sudah dijawab oleh laporan audit. Kehidupan pribadi saya bukan dokumen publik.”
“Jadi kamu mengakui ada hubungan pribadi?”
“Saya mengakui Anda tidak berhak menginterogasi saya.”
Beberapa tamu menarik napas. Amara mendekat satu langkah.
“Perempuan baik tidak perlu takut menjelaskan kenapa mantan calon suami orang datang ke rumahnya.”
“Cukup.”
Suara Arka tidak keras, tetapi seluruh ruangan langsung diam.
Ia turun dari panggung. Fajar yang berdiri dekat pengurus yayasan tidak mencoba menahannya. Ratna menoleh dengan wajah yang mulai tegang.
Arka berhenti di antara Amara dan Anindya, tetapi tidak berdiri seolah memiliki Anindya. Ia menghadap kamera.
“Foto itu diambil di halaman umum setelah saya meminta izin untuk bertemu lima menit. Saya tidak masuk ke gedung. Saya pergi saat waktunya habis.”
Amara membuka mulut. Arka tidak memberinya kesempatan memotong.
“Hotel itu digunakan seluruh tim proyek karena banjir menutup jalan. Kami memesan kamar terpisah di lantai berbeda. Pagi hari kami memakai kendaraan hotel dengan dua pengemudi karena pengemudi tim belum cukup istirahat. Semua pengeluaran dan daftar kamar tercatat.”
Bisikan berubah arah.
“Arka,” kata Ratna dari panggung, peringatan terasa jelas dalam satu nama.
Ia menatap ibunya sebentar. “Maaf, Ibu. Tapi diam saya sudah terlalu sering membuat orang lain menanggung kesalahan saya.”
Kemudian ia kembali menghadap para tamu.
“Anindya bukan perempuan yang datang entah dari mana. Tiga tahun lalu, ia adalah istri saya melalui nikah siri.”
Suara kamera meledak hampir bersamaan.
Ratna kehilangan senyum. Amara mundur setengah langkah. Bahkan Tiara akhirnya menunjukkan keterkejutan.
Anindya merasa lantai di bawahnya berubah tipis. Ia pernah membayangkan pengakuan itu selama tahun pertama pernikahan, lalu berhenti berharap. Mendengarnya sekarang tidak terasa seperti kemenangan. Rasanya seperti pintu lama dibuka setelah rumah di belakangnya terbakar.
Arka melanjutkan sebelum siapa pun sempat membentuk cerita lain.
“Hubungan itu telah berakhir melalui talak. Saya tidak sedang menyatakan kami masih menikah, dan saya tidak berbicara atas nama Anindya tentang hubungan kami sekarang.”
Ia memberi batas itu dengan jelas. Bukan merebutnya kembali. Bukan mengumumkan hak.
“Yang saya akui adalah kesalahan saya. Saya menyembunyikan pernikahan tersebut karena pengecut menghadapi keluarga. Saya mengambil cincin Anindya, mengirim pengacara untuk menjatuhkan talak, dan membiarkan apartemen yang kami tinggali disiapkan bagi perempuan lain.”
Wajah Ratna memucat karena marah. Arka tetap berbicara.
“Saya juga pernah mengulang tuduhan bahwa Anindya adalah anak dari keluarga pembunuh, padahal saya tidak pernah memeriksa kebenarannya sendiri. Saya membiarkannya dihina. Di Merapi, dia terluka saat menyelamatkan korban dan mendorong saya dari jalur runtuhan. Saya tidak menyebabkan bencana itu, tetapi saya melihat akibatnya dan baru setelah itu berani menghadapi apa yang saya lakukan.”
Ia menatap lurus ke salah satu kamera.
“Jadi kalau ada yang ingin mempertanyakan martabat, pertanyakan martabat saya. Jangan gunakan kesalahan saya untuk menyebut Anindya perempuan murahan, perebut pasangan, atau penerima proyek karena hubungan pribadi. Audit proyeknya bersih. Pernikahan rahasia itu keputusan saya. Talak itu keputusan saya. Kebohongan kepada publik juga tanggung jawab saya.”
Tak ada musik. Tak ada suara gelas. Hanya rana kamera dan napas orang-orang yang menahan komentar.
Seorang wartawan mengangkat tangan. “Pak Arkana, apakah ini berarti Anda dan Bu Anindya kembali bersama?”
Arka tidak mencari wajah Anindya sebelum menjawab. “Tidak ada pernyataan seperti itu. Hubungan kami setelah talak hanya bisa ditentukan oleh dua orang, dan saya tidak mendapat izin untuk berbicara atas namanya.”
“Apakah Grup Adiwijaya memberi Bu Anindya posisi di proyek sebagai bentuk kompensasi?”
“Tidak. Mandatnya berasal dari pihak Klub Enggar. Tim kepatuhan independen memeriksa konflik kepentingan dan menyatakan tidak ada pelanggaran. Dokumen yang bisa dibuka kepada publik sudah diterbitkan.”
Wartawan lain menoleh kepada Anindya. “Bu Anindya, apakah Anda menerima permintaan maaf Pak Arkana?”
Sorot kamera beralih kepadanya.
Anindya memegang tas di depan tubuh, bukan untuk bersembunyi, melainkan agar tangannya tetap diam. “Saya hadir untuk program amal. Pernyataan Pak Arkana adalah tanggung jawab beliau. Saya tidak akan membahas kehidupan pribadi saya malam ini.”
“Apakah Anda membantah pernah menjadi istri beliau?”
“Saya tidak membantah fakta masa lalu. Saya menolak menjadikan proses pribadi setelah talak sebagai hiburan.”
Jawabannya mengakhiri ruang bagi judul murahan tanpa menyangkal kebenaran. Salah satu wartawan menurunkan kamera. Beberapa tamu yang tadi ikut berbisik kini menghindari tatapannya.
Amara menggenggam ponsel begitu keras hingga jemarinya memutih.
“Saya tidak pernah tahu kalian menikah,” katanya. “Arka, keluarga kita sudah merencanakan...”
“Tidak ada pertunangan resmi,” potong Arka. “Saya sudah menyatakannya. Kamu tetap memakai sebutan calon istri setelah diminta berhenti.”
“Karena Ibu Ratna...”
“Jangan gunakan Ibu untuk menghapus pilihanmu sendiri.”
Amara menoleh kepada Anindya. “Dia juga menyembunyikan banyak hal. Kenapa hanya saya yang ditanya?”
Arka menjawab, “Hal yang perlu kamu jelaskan lebih banyak daripada miliknya. Mulai dari sumber foto dan akses informasi internal yang kamu gunakan.”
Tiara menyentuh siku Amara, memberi isyarat agar berhenti sebelum mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik.
Anindya menatap Arka. Matanya panas, tetapi ia menolak menangis di depan kamera. Pengakuan itu datang terlambat. Sangat terlambat. Namun untuk pertama kalinya, Arka tidak memakai penyesalan sebagai percakapan pribadi yang aman. Ia meletakkan namanya sendiri di bawah semua kesalahan.
Tetap saja, ia tidak meminta Anindya berdiri di sana sebagai hadiah atas keberaniannya.
Anindya berjalan menuju pintu keluar.
Arka tidak mengejar. Ia hanya menatapnya pergi, menghormati keputusan yang bahkan tidak sempat diucapkan.
Saat Anindya melewati Ratna, perempuan itu berkata dingin, “Kita belum selesai.”
Anindya berhenti satu detik. “Saya tidak pernah memulai urusan ini dengan Anda, Bu Ratna.”
Ia lalu meninggalkan ruangan.
Ratna memandang putranya dari atas panggung. Di hadapan keluarga, tamu, dan kamera, kemarahannya tidak lagi bisa dibungkus keramahan.
“Arkana,” katanya, “masalah ini belum selesai.”
Ia turun dari panggung dan pergi, meninggalkan seluruh ruangan dalam gemuruh bisik-bisik yang tak mungkin lagi dihentikan.