"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Investasi 500 Miliar
Ratna Kusumawardhani tidak langsung menjawab.
Siapa pun yang waras tidak akan langsung menerima tawaran orang asing yang baru saja memenangkan zamrud bernilai lima ratus miliar rupiah. Apalagi tawaran itu datang seolah Arya hanya sedang menawarkan teh hangat, bukan mengubah nasib sebuah perusahaan kecil.
Mereka pindah ke kantor Ratna Permata Jewelry sore itu.
Kantornya berada di ruko tiga lantai yang bersih tetapi sederhana. Lantai pertama showroom kecil, lantai kedua ruang desain dan administrasi, lantai ketiga gudang serta tempat Bunga biasa tidur siang jika Ratna bekerja sampai malam. Tidak ada kemewahan kosong. Setiap etalase diberi label rapi. Setiap karyawan menyapa Ratna dengan hormat yang hangat, bukan takut.
Arya memperhatikan itu.
Perusahaan kecil yang sehat lebih berharga daripada gedung besar yang busuk.
Di ruang rapat kecil, zamrud besar itu diletakkan di atas kain hitam. Pak Darmawan ikut hadir, matanya masih bersinar seperti anak muda yang menemukan mainan baru.
Pak Satria membuka dokumen. "Skema yang ditawarkan sederhana. Zamrud ini dinilai konservatif Rp 500 miliar setelah appraisal independen. Pak Arya memasukkannya sebagai penyertaan modal non-tunai. Sebagai imbalan, beliau memegang 35% saham Ratna Permata Jewelry. Kontrol operasional tetap di tangan Ibu Ratna."
Ratna menatap dokumen, lalu Arya. "Kenapa perusahaan saya?"
"Karena reputasi Anda bersih."
"Itu saja?"
"Dan karena Anda tidak meninggalkan anak Anda hanya untuk terlihat seperti pengusaha besar."
Ratna terdiam.
Bunga yang duduk di sofa kecil menggambar di buku, sesekali melirik Arya. "Om Arya suka gambar?"
"Tidak terlalu pandai."
"Aku bisa ajari."
Untuk pertama kalinya sore itu, Ratna tersenyum malu. "Bunga, Om Arya sedang rapat."
"Rapat boleh sambil gambar sedikit."
Pak Darmawan tertawa. "Anak ini benar. Rapat bisnis terlalu serius membuat orang cepat tua."
Ketegangan di ruangan mencair.
Ratna kembali membaca dokumen. Ia bukan perempuan naif. Setelah bercerai dari Yanto, ia belajar bahwa tanda tangan bisa menjadi jerat. Ia membaca klausul kepemilikan, hak suara, opsi keluar, perlindungan karyawan, dan larangan intervensi operasional.
"Anda tidak meminta kursi direktur?"
"Tidak."
"Tidak meminta hak mengambil keputusan desain?"
"Saya tidak tahu desain perhiasan."
"Tidak meminta nama perusahaan diganti?"
"Nama Anda sudah bagus."
Ratna menatapnya lama. "Terlalu adil untuk orang yang membawa batu lima ratus miliar."
Arya menjawab tenang, "Saya tidak membeli Anda, Mbak Ratna. Saya berinvestasi."
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Ratna pernah mendengar banyak pria kaya memakai kata investasi untuk maksud yang lebih kotor. Mereka menawarkan modal, lalu meminta akses ke tubuh, waktu, atau hidupnya. Arya justru menaruh batas di atas meja sebelum ia sempat bertanya.
Pak Darmawan mengetuk dokumen dengan jari. "Secara bisnis, ini kesempatan yang tidak datang dua kali. Dengan zamrud ini, Ratna Permata Jewelry bisa masuk media nasional. Saya bersedia menjadi penasihat teknis kalau kerja sama ini jadi."
Ratna menatapnya. "Pak Darmawan serius?"
"Saya sudah terlalu tua untuk mengejar batu palsu. Batu seperti ini membuat saya ingin bekerja lagi."
Bunga turun dari sofa dan berjalan ke samping Arya. Ia memperhatikan wajah Arya dengan rasa ingin tahu polos.
"Om Arya, kalau Mama kerja sama Om, Mama nanti sering senyum?"
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada angka di dokumen.
Ratna menutup mata sebentar.
Arya menjawab anak itu dengan serius. "Aku tidak bisa janji mamamu selalu senyum. Tapi aku bisa janji tidak membuat mamamu menangis karena bisnis."
Bunga berpikir sebentar, lalu mengangguk puas. "Kalau begitu boleh."
Ratna tertawa kecil, tetapi matanya basah.
Ia mengambil pena.
"Baik. Saya setuju. Tapi satu hal, Pak Arya. Perusahaan ini kecil, tapi orang-orang di dalamnya bergantung pada saya. Jangan jadikan mereka korban perang keluarga Anda."
Arya menatapnya. "Justru karena itu saya memilih Anda."
Tanda tangan dilakukan menjelang malam.
Pak Satria memotret dokumen, mengirim salinan ke notaris, dan menjadwalkan appraisal resmi. Pak Darmawan langsung menyusun rencana peluncuran koleksi terbatas berbasis zamrud itu. Karyawan Ratna yang mendengar kabar berbisik dengan mata berbinar. Perusahaan kecil mereka mendadak memiliki batu yang dibicarakan seluruh Kota Awan.
Arya menambahkan satu klausul sebelum dokumen final dikunci: lima persen dari laba koleksi pertama harus masuk dana pendidikan anak karyawan Ratna Permata Jewelry.
Beberapa staf yang berdiri di luar ruang rapat saling pandang. Mereka tidak ikut menandatangani apa pun, tetapi masa depan mereka tiba-tiba terasa ikut dihitung.
Ratna membaca klausul itu dua kali. "Ini tidak perlu."
"Justru perlu. Kalau perusahaan tiba-tiba besar, orang pertama yang harus merasa aman adalah orang yang ikut membesarkannya."
Pak Darmawan mengangguk pelan. "Jarang investor berpikir sampai sana."
"Investor yang hanya melihat batu biasanya kehilangan manusia di belakangnya."
Di restoran sederhana sebelah kantor, mereka makan malam kecil. Tidak ada pesta mewah. Hanya nasi, ikan bakar, sayur, teh hangat, dan Bunga yang sibuk menceritakan gambar barunya.
Ratna duduk di seberang Arya. Wajahnya lelah, tetapi hangat.
"Saya tidak tahu bagaimana membalas kepercayaan sebesar ini."
"Bangun perusahaanmu."
"Itu saja?"
"Itu saja."
Ratna menatap teh di tangannya. Uapnya naik pelan, membuat udara di antara mereka terasa tenang.
"Dulu mantan suami saya bilang saya tidak akan bisa bertahan tanpa dia," katanya lirih. "Hari ini, untuk pertama kalinya, saya merasa mungkin saya benar-benar bisa."
Arya tidak memberi nasihat panjang. Ia hanya berkata, "Kamu sudah bertahan sebelum aku datang."
Ratna menunduk. Senyumnya kecil, tetapi tulus.
Sebelum mereka pulang, Pak Darmawan sudah menyusun daftar kerja di kertas menu bekas: sertifikasi laboratorium ulang, asuransi penyimpanan, pengamanan etalase, dan jadwal pemotongan pertama yang tidak boleh disentuh tukang amatir. Arya menambahkan satu baris: pelatihan staf penjualan agar mereka memahami batu, bukan hanya menghafal harga.
Malam itu, berita tentang investasi lima ratus miliar menyebar cepat.
Arya Suryanegara masuk ke bisnis perhiasan.
Ratna Permata Jewelry mendapat zamrud raksasa.
Pak Gadungan membayar taruhan dan kehilangan hampir semua undangan acara.
Di villa, Arya baru saja membaca laporan media ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Andini.
Arya, aku sudah kembali ke Kota Awan. Selamat atas investasi barumu. Aku dengar zamrudnya luar biasa. Kalau ada waktu, aku ingin minta pendapatmu soal satu proyek interior.
Arya belum sempat membalas ketika notifikasi berita lain muncul.
Di sebuah apartemen sederhana, Sinta Permata membaca berita yang sama dari layar ponselnya. Foto Arya berdiri di samping Ratna dan zamrud hijau besar memenuhi halaman utama media bisnis.
Investasi Rp 500 miliar.
Sinta menggenggam ponsel sampai jarinya memutih.
Air matanya jatuh tanpa suara.
"Kenapa," bisiknya, "aku dulu tidak pernah melihatmu?"
Di villa, Arya menatap pesan Andini, lalu laporan Ratna, lalu folder hard disk yang masih terbuka di layar meja.
Satu medan perang selesai.
Dua pintu baru terbuka.