Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Beberapa hari setelah acara amal berakhir, sekolah menerima kunjungan balasan dari panti asuhan yang menjadi penerima donasi tahun ini. Beberapa anak panti asuhan, didampingi pengurusnya, datang ke Starline High School untuk menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung sekaligus melihat-lihat lingkungan sekolah.
Sebagai salah satu penggagas ide donasi buku, Rean diminta ikut menyambut rombongan kecil itu bersama beberapa anggota OSIS lainnya di aula sekolah.
"Terima kasih banyak buat buku-bukunya," kata salah satu anak panti, seorang bocah laki-laki berusia sekitar delapan tahun, matanya berbinar memegang salah satu novel yang ia terima. "Aku suka banget baca, tapi di panti buku-bukunya udah lama, jadi seneng banget dapat yang baru."
Rean berjongkok sejenak, menyamai tinggi badan anak itu, tersenyum hangat. "Aku juga suka baca banget waktu kecil. Buku itu bisa jadi teman paling setia, lho, kalau lagi sendirian."
"Kakak juga suka baca?" tanya anak itu antusias.
"Sangat suka," jawab Rean tulus. "Buku-buku itu yang bikin aku ngerti banyak hal tentang dunia, bahkan sebelum aku benar-benar bisa keluar rumah."
Percakapan sederhana itu, tanpa disadari Rean, terdengar oleh beberapa orang di sekitarnya — termasuk Elora yang berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan interaksi itu dengan senyum lembut yang sulit disembunyikan.
"Dia benar-benar tulus, ya," gumam Lily pelan pada Elora, ikut memperhatikan.
"Iya," jawab Elora, suaranya lirih namun penuh kekaguman. "Itu salah satu hal yang paling aku suka darinya."
Kunjungan itu berlangsung hingga siang, diisi berbagai kegiatan kecil seperti tur singkat sekolah, sesi foto bersama, dan pembagian suvenir sederhana dari pihak sekolah untuk anak-anak panti asuhan. Kieran, sebagai ketua OSIS, turut mendampingi rombongan sepanjang acara, sesekali berhenti mengobrol dengan anak-anak yang penasaran terhadap seragam dan lingkungan sekolah elite yang jarang mereka lihat.
"Kak Kieran keren banget," celetuk salah satu anak, mengagumi cara Kieran menjelaskan berbagai fasilitas sekolah dengan percaya diri.
"Makasih," Kieran tersenyum tipis, meski matanya sesekali melirik ke arah Rean yang masih dikerumuni beberapa anak lain, semuanya tampak nyaman dan akrab dengannya hanya dalam hitungan menit.
Ada perasaan campur aduk yang muncul dalam dirinya melihat pemandangan itu — bukan lagi kecemburuan murni seperti sebelumnya, melainkan kekaguman yang enggan ia akui secara terbuka terhadap kemampuan alami Rean dalam membuat siapa pun merasa nyaman di sekitarnya.
---
Menjelang rombongan pamit pulang, salah satu pengurus panti asuhan menghampiri kepala sekolah, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas donasi yang diberikan.
"Ide donasi bukunya benar-benar membantu banyak," katanya. "Anak-anak jadi punya lebih banyak pilihan bacaan, terutama yang masih di usia sekolah dasar."
Kepala sekolah tersenyum, melirik ke arah Rean yang berdiri di dekat pintu aula. "Itu semua berkat inisiatif salah satu murid kami."
Rean, yang mendengar pujian itu secara tidak sengaja, hanya bisa tersenyum canggung, tidak terbiasa menerima pengakuan sebesar itu di depan banyak orang.
Ketika rombongan akhirnya berpamitan, bocah laki-laki yang sempat mengobrol dengannya tadi berlari kecil menghampiri, memeluk kakinya sebentar sebelum naik ke bus jemputan.
"Makasih, Kak Rean! Aku bakal baca semua bukunya!" serunya riang sebelum berlari mengejar teman-temannya.
Rean melambaikan tangan, tersenyum lebar menyaksikan bus itu perlahan meninggalkan halaman sekolah. Ada kebahagiaan sederhana yang sulit ia jelaskan — kebahagiaan karena bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain, sesuatu yang dulu, di kehidupan sebelumnya, hampir mustahil ia lakukan karena keterbatasan fisiknya sendiri.
Di sampingnya, Elora ikut melambaikan tangan, memperhatikan wajah bahagia Rean dengan tatapan yang dipenuhi kekaguman dan kehangatan yang semakin sulit ia sembunyikan setiap harinya.
----
Sementara adiknya sibuk dengan berbagai kegiatan di gedung kelas 10, kehidupan Aria di kelas 11 berjalan dengan dinamikanya sendiri. Sebagai salah satu siswi berprestasi sekaligus anggota tim debat sekolah, ia tengah menghadapi tantangan besar — kompetisi debat regional antar sekolah elite yang akan digelar dua minggu lagi.
"Timmu udah siap buat kompetisi minggu depan?" tanya Sophia, yang meski berbeda kelas namun cukup akrab dengan Aria karena sering terlibat dalam kegiatan sekolah yang sama.
"Masih banyak yang perlu dipoles," jawab Aria, merapikan tumpukan kertas argumen di mejanya. "Mosi tahun ini lebih rumit dari biasanya."
Sebagai kapten tim debat, tanggung jawab besar ada di pundaknya. Ia harus memastikan seluruh anggota timnya siap menghadapi berbagai kemungkinan argumen lawan, sekaligus menjaga performa akademiknya sendiri tetap stabil di tengah jadwal latihan yang semakin padat.
"Aria, bagian argumen kontra masih belum solid," keluh salah satu anggota timnya saat latihan sore itu di ruang debat. "Kita kesulitan nemuin celah argumen lawan."
Aria menghela napas, mencoba tetap tenang meski tekanan mulai terasa. "Coba kita pecah masalahnya jadi tiga sudut pandang berbeda. Ekonomi, sosial, sama etika. Biar lebih terstruktur."
Ia memimpin diskusi dengan percaya diri, sisi lain dari dirinya yang jarang terlihat oleh Rean di rumah — bukan lagi kakak jahil yang suka menggoda, melainkan sosok pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab penuh atas timnya.
Latihan berlangsung hingga larut, menguras tenaga dan pikiran seluruh anggota tim. Ketika akhirnya bubar menjelang malam, Aria masih tertinggal sendirian di ruang debat, merapikan berkas-berkas argumen yang berserakan di meja.
"Kamu selalu yang terakhir pulang," sebuah suara menyapa dari pintu.
Aria menoleh. Seorang pemuda dari kelas 11 lain, Marcus, ketua tim debat sekolah rival yang kebetulan juga sering berlatih di ruangan yang sama pada jam berbeda, berdiri di ambang pintu.
"Kompetisi tinggal dua minggu lagi, harus maksimal," jawab Aria singkat, meski nada suaranya tidak sedingin biasanya ketika berhadapan dengan Marcus.
"Timku juga lagi ketat persiapannya," Marcus melangkah masuk, duduk di kursi seberang tanpa diminta. "Kudengar sekolah kita bakal ketemu di semifinal."
"Kalau begitu, siap-siap kalah," Aria menyeringai kecil, nada kompetitifnya kembali muncul.
Marcus tertawa pelan, tidak terpancing provokasi ringan itu. "Kita lihat saja nanti."
Mereka berbincang sejenak, membahas gambaran umum kompetisi tanpa membocorkan strategi masing-masing, sebuah persaingan sehat yang sudah terjalin sejak lama di antara kedua tim debat terbaik di angkatan mereka.
---
Larut malam, ketika Aria akhirnya pulang ke rumah, ia mendapati Rean masih terjaga di ruang keluarga, mengerjakan tugas sekolahnya sendiri.
"Kok belum tidur?" tanya Aria, menjatuhkan diri di sofa sebelahnya, terlihat lelah namun tetap bersemangat.
"Nunggu Kakak pulang," jawab Rean jujur, menutup buku catatannya. "Latihan debatnya gimana?"
"Berat, tapi seru," Aria tersenyum lebar, menceritakan sedikit tentang persiapan kompetisinya dengan antusias yang tulus.
Rean mendengarkan dengan seksama, kagum mendengar sisi lain dari kakaknya yang jarang ia lihat langsung — dedikasi dan kerja keras di balik kepribadian jahil yang biasa ditunjukkan Aria di rumah.
"Kakak pasti bisa menang," katanya yakin, tersenyum tulus.
"Doain aja, ya," Aria mengacak rambut Rean pelan, kali ini lebih lembut dari biasanya. "Kalau menang, Kakak traktir apa pun yang kamu mau."
Mereka duduk berdua sejenak dalam keheningan nyaman, dua saudara yang masing-masing menjalani dunia berbeda di sekolah yang sama, namun tetap saling mendukung satu sama lain di setiap langkah perjalanan mereka — sebuah ikatan yang tidak pernah goyah, terlepas dari betapa sibuknya kehidupan masing-masing berjalan.