NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Notifikasi yang bergetar tanpa henti di ponsel Bima sore itu menjadi tanda bahwa unggahan video ulasan kue mereka sukses besar. Namun, di sudut lain sekolah, tepatnya di area koridor dekat loker belakang kelas 11 IPS 3, suasana justru terasa mencekam. Clara berdiri mematung di depan lokernya dengan ponsel yang tergenggam erat di tangan kanannya. Layar gawai premiumnya itu tengah menampilkan cerita Instagram milik Bima yang baru saja diunggah beberapa menit yang lalu.

Di dalam video itu, Clara bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Devan—cowok yang selama ini selalu bersikap dingin dan tidak tersentuh oleh siapa pun—duduk bersandar santai sambil menikmati sepotong kue lumpur buatan Alya dengan senyuman tipis yang sangat hangat. Kalimat pujian dari Devan yang menyebut kue itu lebih enak daripada kue mal seolah menjadi tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Clara.

"Gila... bener-bener gak bisa dibiarin!" desis Clara rendah, suaranya sarat akan racun amarah yang mendidih.

Matanya menyipit tajam menatap username akun "Dapur Saras" yang tertulis di takarir video Bima. Hinaan Alya di kelas IPA 1 tadi pagi masih terngiang-ngiang di telinganya, mempermalukannya di depan banyak murid. Kini, melihat Devan secara terang-terangan mendukung usaha gadis miskin itu membuat ego Clara benar-benar hancur berantakan.

Sebuah ide busuk perlahan mulai merayap di dalam kepala Clara. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman licik yang penuh dengan niat jahat. "Lo pikir lo udah menang karena bisa bayar *study tour*, hah? Lo pikir lo bisa di atas angin karena didekati Devan? Gue bakal bikin usaha kecil lo ini hancur berantakan dalam semalam, Alya."

Tanpa membuang waktu, Clara langsung membuka menu pengaturan di aplikasi Instagram pribadinya. Dengan jemari yang lincah dan penuh kedengkian, ia membuat sebuah akun baru. Ia sengaja memilih nama pengguna yang terkesan sangat umum dan meyakinkan, @angeline.bakery_order, serta memasang foto profil sebuah logo toko kue yang ia unduh secara acak dari internet. Akun palsu itu ia buat sedemikian rupa agar terlihat seperti seorang pelanggan umum atau pihak katering yang sedang mencari pemasok camilan untuk acara besar.

Setelah akun baru itu siap, Clara langsung mencari profil "Dapur Saras" dan menekan tombol pesan langsung.

*@angeline.bakery_order: "Halo Dapur Saras, saya melihat postingan kue Anda yang sedang ramai di kalangan anak Nusa Bangsa. Kebetulan besok pagi jam 7, katering kami membutuhkan pesanan mendadak berupa 100 biji Brownies Kukus Cokelat Mini dan 100 biji Kue Lumpur Kentang untuk acara seminar. Apakah bisa disiapkan dan diantar ke area taman belakang sekolah besok pagi sebelum bel masuk? Uang pembayarannya akan saya bayar tunai penuh di tempat saat serah terima barang."*

Clara menekan tombol kirim dengan tawa kecil yang sinis. Rencana liciknya sudah tersusun rapi. Jumlah 200 biji kue bukanlah jumlah yang sedikit. Itu membutuhkan modal yang cukup besar dan tenaga yang luar biasa untuk menyelesaikannya dalam waktu semalam. Clara tahu persis kondisi keuangan Alya yang pas-pasan. Niat jahat Clara sangat sederhana namun mematikan: setelah Alya menghabiskan seluruh sisa uangnya untuk modal membeli bahan baku dan begadang semalaman suntuk membuat 200 kue tersebut, Clara dan akun palsunya sama sekali tidak akan muncul di titik pertemuan.

Ia akan membiarkan Alya berdiri sendirian di taman belakang sekolah yang sepi dengan ratusan kue yang tidak terjual, merugi secara finansial, dan mengalami kelelahan fisik yang teramat sangat tepat di hari terakhir pelunasan biaya *study tour*.

Sementara itu, di kelas 11 IPA 1, Alya baru saja selesai merapikan buku pelajaran sejarahnya ke dalam tas karena bel pulang sekolah telah berbunyi. Adel dan Jesica sudah berdiri di samping mejanya, bersiap untuk mengawal sahabat mereka pulang.

*Denting.*

Ponsel di dalam saku rok Alya bergetar. Ia merogohnya dan membuka aplikasi Instagram. Begitu membaca pesan masuk dari akun bernama @angeline.bakery_order, mata Alya sempat terbelalak sejenak karena terkejut. Pesanan sebanyak 200 biji kue dalam waktu semalam adalah rekor terbesar yang pernah ia terima sejak membuka usaha Dapur Saras.

"Ada apa, Al? Kok muka lo tegang gitu liat hp?" tanya Jesica menyadari perubahan ekspresi Alya.

Alya menunjukkan layar ponselnya kepada kedua sahabatnya. "Ini... ada akun katering yang mau pesan seratus brownies mini sama seratus kue lumpur buat acara seminar besok pagi. Minta diantar ke taman belakang sekolah sebelum bel masuk."

"HAH?! Dua ratus kue?!" Adel langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar heboh. "Wah, Al! Ini sih namanya Dapur Saras langsung naik kasta jadi vendor katering! Gila, berkah dari postingan Bima sama kita tadi pagi bener-bener dahsyat banget!"

Jesica ikut membaca detail pesan tersebut dengan saksama. "Tapi, Al... dua ratus kue dalam waktu semalam itu banyak banget lho. Apa bahan-bahan di rumah lo cukup? Terus tenaga lo sama Ibu gimana? Waktunya mepet banget, besok pagi jam tujuh sudah harus siap."

Alya terdiam sejenak, otaknya langsung bekerja cepat melakukan kalkulasi. Di satu sisi, ia merasa ini adalah tantangan yang sangat berat karena fisiknya masih menyisakan rasa lelah dari subuh tadi. Namun di sisi lain, Alya yang sama sekali tidak menaruh rasa curiga sedikit pun pada akun baru tersebut, melihat ini sebagai peluang emas yang tidak boleh dilewatkan. Keuntungan dari penjualan 200 kue ini bisa ia gunakan untuk menutupi seluruh modal awal yang kemarin ia pinjam dari tabungan ibunya, bahkan bisa menjadi tabungan yang sangat aman untuk keperluan sekolahnya di masa depan.

Prinsip kerja keras dan pantang menyerah yang tertanam di dalam dirinya kembali bergejolak. Selagi ada jalan yang halal untuk berkembang, Alya tidak akan pernah mundur hanya karena rasa lelah.

"Bahan-bahannya sebagian besar masih ada sisa dari belanjaan kita sore kemarin, Jes," jawab Alya dengan nada suara yang mantap dan tatapan mata yang dipenuhi tekad yang kuat. "Paling aku cuma perlu beli tambahan telur, kentang, sama mika pembungkus ekstra di pasar dekat rumah nanti. Soal tenaga, insya Allah aku dan Ibu bisa bagi tugas seperti semalam. Aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan besar ini."

Adel menepuk bahu Alya dengan bangga. "Oke! Kalau lo udah yakin, kita berdua bakal selalu dukung lo, Al! Besok pagi kalau lo butuh bantuan buat bawa kotak-kotak kuenya dari gerbang ke taman belakang, langsung kabari kita ya!"

Alya mengangguk tulus, lalu jemarinya dengan cepat mengetikkan balasan ke akun palsu milik Clara tersebut.

*"Baik, pesanan seratus Brownies Kukus Cokelat Mini dan seratus Kue Lumpur Kentang untuk besok pagi jam 07.00 WIB dicatat. Pesanan akan siap tepat waktu dan akan saya antar ke taman belakang sekolah sesuai permintaan. Terima kasih atas kepercayaannya pada Dapur Saras."*

Di tempat lain, Clara yang menerima balasan pesan tersebut langsung tertawa puas di dalam kamarnya. Senyum kemenangan yang sarat akan kelicikan terukir jelas di wajahnya. "Selamat begadang dan menghabiskan uang lo ya, Alya. Kita liat besok pagi, apa lo masih bisa masang muka sok tegar lo itu di depan gue."

Alya yang sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya sedang masuk ke dalam perangkap licik yang dirancang oleh Clara, segera bergegas pulang bersama kedua sahabatnya. Pikirannya malam ini sepenuhnya terfokus pada persiapan dapur dan resep, siap menyambut malam terpanjang dalam perjuangannya, tanpa menyadari bahwa esok pagi akan ada badai baru yang siap menguji keteguhan hatinya di sekolah.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!