Arin adalah gadis tomboi yang suka bercanda, sebagai anak SMA yang merayakan kelulusan. Arin atau Rin Rin bertamasya bersama rombongan sekolah nya, tanpa sengaja Arin menginjak kucing berbulu putih yang begitu cerah, setelah itu sebuah kejadian membuat Rin Rin terjatuh di sebuah lubang yang membawanya kesebuah dimensi lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan salahkan aku.
Bug..
Bug..
dengan semangat yang begitu menggebu Arin terus memberi perlawanan kepada si pria yang menjual istrinya.
"Aku tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi di depanku, kamu ini suami tidak berguna! lebih baik kamu itu mati saja!" ujar Arin yang kemudian terus menghajar si pria.
"Jangan lakukan itu nona, jangan lakukan. Suamiku bisa mati..," rengek pilu si wanita yang terus meminta Arin untuk menghentikan pukulannya.
Arin berhenti sejenak, dia kemudian menatap si wanita yang wajahnya sedikit bapak belur. "Aku heran banget ya, kamu itu sudah diperlakukan seperti ini tapi masih merengek meminta untuk memaafkan suamimu. Kamu ini wanita benar-benar tidak berguna ya, daripada kamu meminta aku untuk tidak menghajar suamimu. Kenapa kamu tidak memukulnya saja, lampiaskan seluruh kemarahan mu, buat suamimu tahu kalau kamu itu bukan wanita lemah!" bentak Arin dengan suara yang begitu keras.
Si wanita nampak terdiam, dia yang bertubuh lemah itu tentu saja tidak akan berani melawan suaminya.
"Berani sekali kamu membuat onar di depan rumah senja!" seru seorang wanita yang keluar bersama beberapa anak buahnya.
Si wanita pemilik rumah bordir menatap Arin dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tolong aku nyonya, tolong aku.. aku melakukan apa yang aku katakan, aku sudah membawa istriku kemari." kata suami si wanita yang sudah dihajar.
"Ck.. dasar nenek-nenek jelek, lah tampangmu seperti ini menjadi mucikari, apa pantas kamu itu disebut madam?" ejek Arin ketika melihat wajah si pemilik rumah bordir.
"Beraninya kamu ya!" teriak si wanita.
Arin kemudian menutup telinganya dengan kedua tangannya. "Udah jelek, nenek-nenek peot lagi.. lihat aja kulitnya udah kendor semuanya." Arin terus mengejek si pemilik rumah bordir.
"Hajar saja nyonya, Hajar saja wanita itu, setelah nyonya menghajarnya bahwa dia ke tempatmu jual dia!" seru si pria.
Arin menatap suami si wanita, kedua matanya melotot dengan mulut mengucap sesuatu namun tidak ada yang tahu.
Di tempat lain seorang pria nampak menatap apa yang dilakukan oleh Arin, dia menatap seorang gadis muda yang begitu menawan namun dia mampu menghajar seorang pria. "Menarik, ini benar-benar menarik." ucap si pria. salah satu tangannya mengambil secangkir arak, arak yang ada di tangannya, dia putar-putar sembari terus memperhatikan apa yang dilakukan Arin.
"Apa kita akan menolong gadis itu, yang mulia?" tanya si pengawal.
Si pria mengangkat tangannya. "Jangan, kita lihat apa yang akan dilakukan oleh gadis itu." jawab si pria.
"Seret gadis itu masuk ke dalam rumah bordir ini!" teriak si pemilik rumah bordir.
Tiga pengawal pemilik rumah bordir kemudian maju bersamaan hendak menangkap Arin, namun sayangnya sebelum mereka mendekatinya Arin bergegas melempar beberapa barang yang ada di tempat itu.
"Kalian kira kalian bisa menangkap ku?!" ujar Arin yang kemudian mulai menunjukkan kehebatannya.
Satu pria yang mendekatinya hendak menyerangnya langsung dia tendang, kedua tangannya ditarik kemudian Arin memutar tubuh itu ke udara. "Wah... ternyata tenagaku hebat juga." gumam Arin dalam hati yang benar-benar takjub pada dirinya sendiri.
"Wow.. gadis itu hebat banget, Dia melempar pria bertubuh gemuk itu." kata beberapa orang yang berdiri di depan rumah bordir.
"Wajahnya cantik tapi kekuatannya sungguh hebat." puji orang-orang yang ada di depan rumah bordir.
"Apa yang kalian lakukan, cepat serat gadis itu!" teriak si pemilik rumah bordir.
"Dengar ya, wajahmu yang jelek, peot dan keriputan itu akan ku buat bertambah jelek!" ujar Arin yang kemudian mulai menyerang dua pengawal wanita pemilik rumah bordir.
Arin memberikan tinju bahkan pukulan yang dia kira lemah namun nyatanya pukulan itu mampu membuat dua pengawal rumah bordir terluka parah. "Ya Tuhan.. ternyata aku benar-benar hebat. Baru tahu aku..," ucap Arin pelan sembari menatap kedua tangannya. dua tangan yang mengepal itu ternyata memiliki kekuatan yang begitu luar biasa. "Dunia ini benar-benar sungguh ajaib, aku yang tukang rusuh sekarang menjadi pembela kebenaran." gumamnya dalam hati sembari tersenyum.
Tiba-tiba dari belakang tubuh Arin suami si wanita menangkapnya, dia memiting tubuh Arin kemudian berteriak. "Nyonya, aku sudah menangkap wanita ini, dia juga akan ku jual ke tempatmu!" teriak sih pria. Arin tidak akan tinggal diam saja, Dia kemudian menggerakkan kepalanya kemudian memukul wajah pria itu dengan kepalanya. Alhasil hidung pria itu berbunyi dengan suara yang sangat keras.
"Dasar brengsek! berani banget kamu menyentuhku! akan ku potong-potong tubuhmu setelah itu akan kuberikan pada harimau yang ada di hutan!" teriak Arin dengan suara yang begitu keras. Dia kemudian menendang tubuh si pria kemudian menginjaknya berulang kali.
Si pria meronta memohon ampun. "Ampun.. ampun.. ampuni aku nona..," rintih kesakitan si pria.
"Enak banget minta ampun, kamu meminta ampun begitu saja? jangan harap ya!" bentak Arin yang kemudian menarik tubuh si pria, kemudian melemparnya hingga membentur tiang rumah bordir. "Mati saja, pergi ke neraka! dasar jelek, udah matanya sipit mulutnya lancip lagi..," Arin menggerutu panjang lebar.
Si pria dengan pengawalnya itu melihat sembari tersenyum, dia memutar cangkir yang ada di tangannya dengan wajah yang benar-benar terpesona.
"Hebat, gadis ini benar-benar hebat." ucap si pria.
"Benar sekali yang mulia, ternyata gadis ini benar-benar sangat hebat, dia sangat luar biasa." puji si pengawal.
"Lihat aja, aku akan mencabik-cabik wajahmu, wanita tua!" ujar Arin yang kemudian mengejar si mucikari ke dalam rumah bordir. Arin sangat geram, di dunianya dulu begitu banyak penjualan wanita dan wanita selalu dijadikan budak nafsu saja.
"Pergi kamu! pergi!" teriak si mucikari. dia berusaha untuk berlari sekencang mungkin, namun sayangnya tubuh tuanya itu tidak mampu melawan Arin. salah satu tangan Arin menarik rambut si mucikari kemudian memberikan tamparan berulang kali.
"Dasar wanita murahan, sesama wanita tidak mau menolong wanita malah menjualnya. kamu ini benar-benar nenek sihir!" teriak Arin tepat di muka si mucikari.
"Lepaskan aku, dasar wanita brengsek!" teriak si mucikari. mendengar itu tangan Arin kembali dilayangkan, beberapa tamparan keras itu membuat wajah si muka mucikari lebam luar biasa, mulutnya membengkak, kedua matanya juga membengkak setelah Arin memberikan tamparan juga tinju di wajahnya.
"Hos.. Hos.. Hos..," Arin menata nafasnya. "Capek juga berkelahi seperti ini." ucapnya. setelah itu Arin menarik si mucikari keluar dari rumah bordir. "Dengar ya, jika sampai aku melihatmu lagi aku pasti akan meletakkan mu di atap rumahmu itu. rumah bordir ini akan ku hancurkan! dasar nenek sihir." ucap Arin yang kemudian melempar tubuh si mucikari yang sudah tidak berdaya.
"Prokk.. Prokk..," para wanita yang melihat itu mereka langsung bertepuk tangan, sedangkan si wanita yang ditolong Arin dia benar-benar tidak akan menyangka kalau kali ini hidupnya diselamatkan.
"Terima kasih nona, terima kasih..," ucap si wanita yang bersujud di depan Arin.
*bersambung*