Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
Tiga bulan berlalu sejak pertempuran dahsyat di Gerbang Lembah Barat mengakhiri riwayat Pasukan Tengkorak Hitam dan ajian racun Mbah Jiwo Suro. Kehidupan di Desa Karang Tumpuk telah sepenuhnya kembali pulih, bahkan terasa jauh lebih makmur dibanding sebelumnya. Tanah-tanah perbukitan yang dulunya gersang akibat hawa belerang kini menghijau ditanami sayur-mayur dan tanaman obat.
Setiap pagi, asap dapur warga mengepul membawa aroma sedap, dan suara dentang besi dari bengkel kerja Marno di hilir desa bergaung teratur—sebuah nada kedamaian yang menandakan geliat kehidupan baru. Marno tak lagi menempa mata parang beracun atau tombak perang, melainkan cangkul, pisau dapur, dan bajak sawah yang sangat dibutuhkan oleh para petani.
Sari pun sibuk menjalankan amanah barunya. Menggunakan pengetahuan luas dari Kitab Usada Tengger, ia membuka balai pengobatan kecil di teras rumah panggungnya. Bersama Mbok Sumi, Sari meracik ramuan herbal penawar penyakit, mengobati warga desa yang demam, hingga mengajari para ibu muda mengenali tanaman obat yang tumbuh di sekitar hutan. Si Mbah selalu setia berada di sampingnya, bertindak sebagai asisten cilik yang lincah memetik daun-daun katuk terbaik dari dahan pohon tinggi.
Namun, kedamaian yang tampak sempurna di Karang Tumpuk perlahan-lahan mulai terusik oleh sebuah rumor aneh yang bertiup dari Pasar Kidul—pasar mingguan terbesar yang terletak di persimpangan tiga wilayah di kaki Gunung Tengger.
Pagi itu, Pak Karto RT datang bergegas ke rumah Sari dengan wajah penuh keraguan. Di tangannya, ia membawa sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna ungu pekat yang berbau manis menyengat.
"Sari, coba kau lihat cairan ini," kata Pak Karto seraya meletakkan botol kaca itu di atas meja herbal Sari.
Sari mengambil botol tersebut, membuka penyumbat kayunya, lalu mengendus aromanya dari jarak aman. Keningnya seketika berkerut tajam. Aroma manis itu bukan berasal dari sari buah atau bunga biasa, melainkan membawa cecapan bau minyak tanah tua yang teramat tipis.
"Ini bukan ramuan biasa, Pak RT," tegas Sari, matanya menyipit. "Dari mana Pak RT mendapatkan cairan ini?"
Pak Karto mendesah berat. "Dua hari lalu, pedagang-pedagang dari desa tetangga di Pasar Kidul mulai memborong jamu cair ini. Penjualnya seorang perempuan paruh baya misterius yang mengenakan kain penutup wajah berwarna hijau pupus. Dia mengaku membawa obat ajaib bernama Air Jiwa Bening yang bisa menyembuhkan segala penyakit dalam hitungan jam."
"Lalu apa masalahnya, Pak RT?" tanya Marno yang baru saja datang dari bengkelnya, menyapu keringat di lehernya dengan kain sarung.
Pak Karto menatap Marno dengan prihatin. "Masalahnya, Marno... orang-orang yang meminum jamu itu memang sembuh dari sakit fisiknya dalam sehari. Tapi setelah tiga hari, mereka menjadi linglung! Mereka seperti kehilangan ingatan dan penurut total kepada siapa pun yang memberi mereka perintah. Pagi tadi, tiga petani dari Desa Wringin berjalan seperti mayat hidup menuju hutan timur tanpa membawa perbekalan apa pun!"
Uuk! Uuk! Si Mbah melompat ke atas meja, mencium botol kaca itu lalu bersin keras-keras seolah-olah aroma cairan ungu itu sangat mengganggu hidungnya.
Sari meneteskan sedikit cairan ungu tersebut ke atas lembar daun sirih segar. Dalam hitungan detik, serat-serat daun sirih itu berubah warna menjadi kehitaman dan mengkerut layaknya terbakar hawa panas!
"Ini ajian Penjerat Jiwa," desis Sari dengan suara bergetar pelan. Ia teringat akan sebuah bab rahasia dalam Kitab Usada Tengger yang pernah diperingatkan oleh bibinya. "Ramuan ini tidak membunuh tubuh, tapi melumpuhkan kesadaran pikiran secara perlahan. Seseorang sedang mengumpulkan manusia-manusia linglung untuk dijadikan pekerja paksa atau tumbal ghaib!"
Marno mengepalkan tangannya yang kekar, membuat buku-buku jarinya berderak. "Apakah ada sisa-sisa murid Tengger yang mencoba bangkit kembali di Pasar Kidul?"
Sari menggeleng pelan. "Mbah Jiwo Suro dan sekte Tengger menggunakan racun darah yang berbau amis. Tapi racun penjerat jiwa ini jauh lebih halus dan rumit. Ini adalah ciri khas ilmu racun dari wilayah Kediri Timur!"
Suasana di teras rumah panggung seketika menjadi tegang kembali. Bayang-bayang ancaman baru ternyata tidak benar-benar musnah dari tanah Pegunungan Tengger. Ketika satu sekte kegelapan tumbang, sekte lain yang lebih lihai dan senyap mulai merayap masuk memanfaatkan celah kekosongan kekuasaan.
"Kita tidak boleh membiarkan warga dari desa-desa sekitar menjadi korban," kata Sari mantap sambil berdiri tegak. "Sari dan Kang Marno harus pergi ke Pasar Kidul hari ini juga untuk menyelidiki pedagang jamu misterius itu!"
Marno mengangguk setuju. Ia mengambil martil besinya yang kini terikat rapat dalam kain pembungkus kecokelatan, lalu mengaitkan belati panjang di pinggangnya. "Aku ikut, Sari. Jika ada orang yang mencoba merusak kedamaian yang baru kita perjuangkan, martilku siap bertindak!"
Si Mbah melompat lincah ke atas bahu Sari, mengikat kain merah di kepalanya lebih kencang seolah menandakan ia pun siap untuk bertualang kembali.
Pasar Kidul riuh oleh suara tawar-menawar pedagang dan langkah kaki ratusan pembeli dari berbagai penjuru lorong perbukitan. Bau rempah-rempah, ikan asin, dan aroma tembakau membumbung hangat di bawah naungan tenda-tenda bambu melingkar.
Sari, Marno, dan Si Mbah menyusuri keramaian pasar dengan menyamar sebagai pembeli biasa. Sari mengenakan caping bambu lebar untuk menyembunyikan wajahnya, sementara Marno memikul dua keranjang bambu berisi alat-alat tani buatan bengkelnya sebagai penyamaran.
Di sudut paling timur Pasar Kidul—di bawah naungan pohon beringin tua yang rindang dan agak lembap—berkumpul kerumunan warga yang sangat padat. Mereka saling berdesakan, mengacungkan uang logam untuk membeli botol-botol kaca berisi cairan ungu dari sebuah lapak sederhana.
Di balik meja kayu lapak tersebut, duduk seorang perempuan paruh baya yang mengenakan selendang dan kain penutup wajah berwarna hijau pupus. Matanya yang hitam pekat berkilat tajam, dan jemarinya yang lentik dipenuhi cincin-cincin perak berukir gambar Bunga Kecubung Hitam.
"Satu botol Air Jiwa Bening bisa menghilangkan rasa lelah dan menyembuhkan nyeri tulang kalian selamanya..." suara perempuan itu terdengar amat merdu, bernada halus dan menghipnotis siapa pun yang mendengarkannya.
Sari berdiri di barisan belakang kerumunan, mengamati gerak-gerik perempuan itu dengan cermat. Matanya yang tajam menangkap serbuk halus berwarna ungu yang sesekali ditiupkan secara tak terlihat oleh sang wanita ke arah wajah para pembelinya saat melakukan transaksi.
"Dia menggunakan racun ditiup untuk mempercepat pengaruh ramuannya," bisik Sari kepada Marno.
Tiba-tiba, seorang pemuda tani yang baru saja meminum cairan itu di tempat mendadak menjatuhkan cangkirnya. Matanya mendadak berubah menjadi putih kosong, badannya kaku, dan ia melangkah tunduk di belakang meja wanita hijau tersebut— bergabung dengan empat warga lain yang sudah berdiri berjejer seperti patung bernapas.
"Lihat! Dia langsung mengendalikan pemuda itu!" kata Marno dengan geram, siap melangkah maju membongkar meja penipuan tersebut.
Namun sebelum Marno sempat bertindak, Si Mbah yang sangat peka terhadap bau racun mendadak melompat dari bahu Sari! Kera hitam itu meluncur cepat di atas atap-atap tenda bambu, lalu menusuk botol kaca raksasa tempat penyimpanan ramuan utama wanita itu menggunakan ujung pisau kecil!
PRANGGG!
Botol kaca raksasa itu pecah berantakan! Cairan ungu pekat membanjiri lantai tanah pasar, memercikkan aroma minyak tanah yang amat menyengat ke udara!
Kerumunan warga seketika terperanjat kaget, terbatuk-batuk saat membaui aroma asli ramuan tersebut yang kini tak lagi harum manis.
"Kurang ajar! Kera sialan!" jerit perempuan berselendang hijau itu, suaranya yang tadinya merdu mendadak berubah menjadi melengking tajam dan kasar!
Perempuan itu melompat berdiri di atas meja, mengibaskan selendang hijaunya yang langsung menyemburkan gulungan asap racun pekat ke arah kerumunan warga!
"Marno! Selamatkan warga!" teriak Sari seraya melompat ke depan, mencabut Bumbung Penawar Kemuning dari tasnya dan menyiramkannya ke udara untuk menetralkan asap racun tersebut.
Marno mengibaskan sarungnya untuk memecah kepulan asap, lalu mengayunkan pembungkus martilnya hingga menghantam meja kayu lapak hingga hancur berkeping-keping!
BAM!
Perempuan berselendang hijau itu melayang mundur dengan lincah, mendarat anggun di atas dahan pohon beringin tua. Penutup wajahnya terlepas, memperlihatkan paras cantiknya yang pucat dengan tato berbentuk bunga kecubung di pipi kirinya.
"Kalian... orang-orang Karang Tumpuk yang telah memusnahkan Mbah Jiwo Suro!" desis wanita itu dengan senyuman penuh kejahatan. "Namaku Nyai Ratih, utusan dari Sekte Kecubung Hitam Kediri! Kalian pikir dengan matinya pimpinan Tengger, tanah gunung ini akan aman?"
Nyai Ratih menancapkan sepasang jarum perak beracun di antara jemarinya. "Kunci Pusaka Ranubaya mungkin telah dibawa ke laut, tapi manusia-manusia di tanah ini akan menjadi penderitaan baru bagi sekte kami!"
Sari berdiri tegap menatap Nyai Ratih di atas dahan pohon, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Selama masih ada orang-orang yang peduli pada kehidupan di Karang Tumpuk, ilmu racunmu tidak akan pernah bisa menguasai tanah ini!"
Pertemuan tak terduga di Pasar Kidul itu resmi membuka tabir kejahatan baru yang menjalar dari timur—menyeret Sari, Marno, dan Si Mbah ke dalam jaringan konspirasi yang jauh lebih luas dan berbahaya demi menjaga keselamatan rakyat perbukitan Tengger.