NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 – Gelombang Pertama

Seluruh ruang kendali ESS Horizon dipenuhi suara alarm.

Lampu peringatan berkedip merah.

Niko terus mengawasi radar.

"Dua puluh tiga kapal masih mendekat."

"Kecepatan?"

"Konstan."

"Tidak ada perubahan."

Darius menyilangkan tangan.

"Mereka tidak mencoba menyerang."

Leo menambahkan,

"Dan mereka juga tidak menjawab panggilan komunikasi."

---

Di bawah Pos Observasi Tujuh, Kapten Idris masih berdiri di depan pilar kristal.

"Navigator."

Suara dari pilar kembali terdengar.

"Ya."

"Apa yang dimaksud dengan Gelombang Pertama?"

"Data memiliki tingkat keamanan Omega."

Idris menarik napas.

"Gunakan otorisasiku."

Beberapa detik berlalu.

"Permintaan diterima."

Ruangan menjadi sunyi.

---

Sebuah gambar tiga dimensi muncul di udara.

Bukan peta galaksi.

Melainkan Pos Observasi Tujuh.

Di sekelilingnya muncul dua puluh tiga titik cahaya.

"Itu armada yang datang," gumam Kael.

Pilar melanjutkan.

"Gelombang Pertama adalah fase pengumpulan."

"Pengumpulan apa?"

"Tidak tersedia."

Reza menggeleng kesal.

"Jawabannya selalu setengah."

---

Di Zona Inti, Adrian tiba-tiba menghubungi mereka.

"Kapten."

"Kalian harus kembali."

"Ada apa?"

"Armada sudah memasuki jangkauan visual."

---

ESS Horizon bergetar pelan.

Bukan karena diserang.

Melainkan karena gelombang gravitasi yang dihasilkan armada tersebut.

Owen memandang layar pemantau.

"Mereka mulai membentuk formasi."

"Bentuk apa?"

Owen memperbesar gambar.

Dua puluh tiga kapal perlahan menyebar.

Tidak menuju ESS Horizon.

Tidak juga mengelilingi Pos Observasi.

Mereka berhenti pada jarak yang sama.

Seolah membentuk lingkaran raksasa.

---

Hana mengamati pola itu.

"Tunggu."

"Ada yang aneh."

Ia menghubungkan posisi kapal-kapal itu dengan peta struktur Pos Observasi.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah serius.

"Ini bukan formasi tempur."

"Lalu?"

"Mereka sedang membentuk pola yang sama dengan simbol pada sinyal."

Ruangan langsung hening.

---

Kapten Idris dan tim segera meninggalkan kapal misterius.

Mereka menaiki tangga menuju Zona Inti secepat mungkin.

Saat tiba...

Adrian sudah berdiri di depan layar utama.

Sofia berada di sampingnya.

Wajah keduanya tampak tegang.

Adrian menunjuk layar.

"Lihat sendiri."

Melalui kamera luar Pos Observasi...

dua puluh tiga kapal tampak melayang diam.

Lingkaran yang mereka bentuk kini terlihat jelas.

Persis seperti simbol misterius yang selama ini muncul di setiap rekaman.

---

"Tidak ada senjata yang diarahkan ke kita," kata Reza.

"Benar," jawab Niko melalui komunikasi.

"Semua sistem persenjataan mereka tetap nonaktif."

Kael mengernyit.

"Kalau begitu mereka sedang menunggu apa?"

Belum ada yang sempat menjawab.

Salah satu kapal bergerak maju perlahan.

Nama identitasnya muncul di layar.

ESV Pioneer.

Pintu hanggar kapal itu mulai terbuka.

Semua kru menahan napas.

Seseorang berjalan keluar.

Bukan memakai pakaian antariksa.

Melainkan seragam ekspedisi PPM.

Ia melayang perlahan di ruang hampa menuju Pos Observasi.

---

Leo memperbesar gambar.

"Itu manusia."

Rina menambahkan,

"Tidak."

"Detak panas tubuhnya tidak terbaca."

Adrian memicingkan mata.

"Aku mengenalnya."

Sofia langsung menoleh.

"Siapa?"

"Kapten ekspedisi pertama."

Ruangan kembali sunyi.

"Itu tidak mungkin," bisik Kael.

Ekspedisi pertama telah hilang lebih dari satu abad yang lalu.

Namun sosok itu tampak sama seperti di foto arsip.

Tidak bertambah tua.

Tidak menunjukkan tanda-tanda terluka.

---

Sosok tersebut berhenti sekitar lima puluh meter dari Pos Observasi.

Ia tidak bergerak.

Hanya menatap ke arah struktur raksasa itu.

Beberapa detik kemudian...

ia mengangkat tangan kanannya.

Bukan untuk menyerang.

Melainkan memberi isyarat.

Seolah meminta seseorang membuka pintu.

Lalu...

seluruh sistem komunikasi ESS Horizon dan Pos Observasi Tujuh aktif secara bersamaan.

Suara seorang pria terdengar jernih di setiap ruangan.

"Pos Observasi Tujuh."

Ia berhenti sesaat.

"Kami datang untuk menjemput Sang Navigator."

Seluruh mata langsung tertuju kepada Kapten Idris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!