NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Keinginan yang Disembunyikan

Sebelum barisan faksi putri sepenuhnya keluar dari aula transisi menuju area tahap ketiga, gawai khusus peserta di saku Keisya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Mengabaikan instruksi pengawas yang menyuruh semua peserta segera berbaris, Keisya melipir ke balik pilar beton dekat pintu keluar dan menggeser layar.

"Kei, berhenti sekarang juga. Pulang."

Suara di seberang telepon terdengar berat dan penuh tekanan. Itu Kevin, kakaknya.

Keisya menahan napas, matanya waspada memantau pergerakan pengawas di koridor. "Kak Kevin? Bagaimana bisa menelepon ke jalur steril ini?"

"Itu tidak penting. Yang penting kamu keluar dari kompleks Nexus sebelum tahap ketiga dimulai," potong Kevin cepat. Suaranya berbisik, seperti sedang menghindari seseorang. "Papa meninggal bukan karena kecelakaan kerja atau serangan jantung biasa, Kei. Tapi kalau kamu terus menggali, kamu hanya akan berakhir sama seperti Papa. Yayasan itu... mereka bisa menghapus nama seseorang dari sistem sipil dalam semalam. Jangan bodoh, Kei. Ibu tidak sanggup kehilangan satu orang lagi."

"Justru karena itu aku di sini, Kak!" balas Keisya, suaranya tertahan di tenggorokan namun sarat penekanan. "Papa menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di laboratorium sekolah ini, mengunci diri dengan dokumen. Kakak tahu sesuatu tapi memilih lari ke luar kota dan membiarkan Ibu ketakutan setiap hari. Aku tidak akan pulang sebelum tahu siapa yang membunuh Papa."

"Kamu tidak mengerti apa yang kamu hadapi, Keisya! Nexus bukan sekadar sekolah elite—"

PIP.

Sambungan diputus sepihak dari luar. Layar gawai Keisya mendadak terkunci otomatis dengan logo Nexus berkedip merah, menandakan interseptor siber sekolah telah mendeteksi dan memblokir panggilan ilegal tersebut.

Keisya mengepalkan tangan, menyimpan kembali gawainya dengan rahang mengeras. Peringatan Kevin justru menjadi konfirmasi mutlak bagi dirinya: Nexus Academy menyembunyikan konspirasi besar yang melibatkan nyawa ayahnya, dan yayasan sekolah adalah dalang utamanya.

Saat Keisya kembali ke barisan, ia tidak sengaja berpapasan dengan Atharva yang baru keluar dari koridor putra. Pemuda itu sempat melirik gawai di tangan Keisya yang baru saja dimasukkan ke saku, lalu beralih menatap mata Keisya yang masih memancarkan sisa kemarahan dari telepon tadi.

Atharva tidak mengatakan apa-apa, namun langkah kakinya melambat, membiarkan Keisya berjalan dua langkah di depannya. Sebagai sesama orang yang mencari jawaban atas hilangnya anggota keluarga, Atharva mengenali raut wajah itu yang baru saja diperingatkan untuk mundur, namun memilih untuk melangkah lebih dalam ke sarang musuh.

"Semua peserta tahap ketiga, masuk ke Menara Akademik Lantai 4 sekarang!" teriakan pengawas memecah keheningan koridor.

Tiga ratus dua puluh peserta melangkah maju di bawah sorotan lampu koridor yang dingin. Keisya meluruskan pandangannya ke depan, mengunci tujuannya. Peringatan kakaknya tidak akan mengubah apa pun. Pintu gerbang rahasia Nexus sudah di depan mata, dan ia tidak akan mundur satu inci pun.

...****************...

Koridor Lantai 4 Menara Akademik dilapisi dinding logam abu-abu tanpa jendela. Di ujung ruangan, Profesor Adrian sudah menunggu bersama sepuluh pengawas senior. Di belakang mereka, sebuah pintu baja besar terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan masif yang diisi oleh ratusan pod siber berbentuk kapsul vertikal.

"Tahap ketiga: Ujian Ketahanan Mental Dua Puluh Empat Jam," Profesor Adrian membuka suara begitu seluruh peserta berbaris rapi. "Di dalam pod ini, kalian akan dihubungkan dengan simulasi psikologis berbasis neuro-respons. Sistem akan membaca ketakutan, trauma, dan batas stres terdalam kalian, lalu mengondisikannya menjadi tekanan visual. Tidak ada penilaian angka. Pilihannya hanya dua: bertahan hingga waktu habis, atau tekan tombol darurat di dalam pod untuk menyerah."

Mendengar penjelasan itu, beberapa peserta mulai saling berbisik gelisah. Dimas menelan ludah, menatap kapsul-kapsul itu dengan cemas, sementara Gavin dan Nareswara langsung melangkah menuju pod yang paling dekat tanpa ragu.

Keisya berjalan menuju pod nomor 102. Sebelum masuk, ia melirik Atharva yang berada di pod nomor 101, tepat di sebelahnya.

"Jangan sampai gila di dalam sana, Atharva. Aku masih butuh jawaban darimu setelah ini," kata Keisya dingin sebelum melangkah masuk ke dalam kapsulnya.

Atharva menoleh flat. "Urusi saja ketakutanmu sendiri, Keisya."

Pintu pod tertutup rapat secara serentak dengan bunyi desis hidrolik yang berat. Seketika, kegelapan mutlak melingkupi Atharva. Sebuah helm sensor otomatis turun dan terpasang di kepalanya, disertai beberapa kabel elektroda yang menempel di pelipis.

“Inisialisasi sistem pencanduan memori. Memulai pemindaian trauma bawah sadar dalam tiga... dua... satu...”

Suara robotik itu memudar, digantikan oleh dengung frekuensi tinggi yang membuat kesadaran Atharva perlahan meredup. Detik berikutnya, simulasi visual dimulai.

Di hadapan Atharva, kegelapan berganti menjadi koridor asrama lama Nexus Academy yang retak-retak dan berdebu. Di ujung koridor, sesosok remaja dengan jaket almamater biru tua sedang berjalan memunggunginya.

"Kak Alvaro?" Atharva melangkah maju.

Namun, begitu sosok itu berbalik, wajahnya tidak memiliki mata maupun mulut hanya permukaan kulit rata yang mengerikan. Di dada jaketnya, simbol segitiga terbalik yang terdistorsi memancarkan cahaya merah darah.

Di pod sebelah, Keisya juga langsung dihadapkan pada mimpi buruk terburuknya. Ruangan laboratorium yang gelap, bau zat kimia yang menyengat, dan sesosok pria paruh baya yang tergeletak di atas meja kerja dengan dokumen-dokumen yang berserakan.

"Papa..." Keisya mendekat dengan napas memburu. Namun saat ia menyentuh bahu ayahnya, monitor di laboratorium itu mendadak menampilkan teks besar yang berkedip cepat: Hapus Seluruh Data. Eliminasi Keisya.

Di ruang kontrol luar, layar monitor Profesor Adrian mulai menampilkan grafik gelombang otak para peserta. Grafik milik sebagian besar peserta langsung melonjak tajam ke zona merah menandakan kepanikan masal. Beberapa pod bahkan sudah berkedip merah karena pesertanya langsung menekan tombol darurat dalam lima menit pertama.

Namun, perhatian Profesor Adrian tertuju pada grafik pod 101 dan 102. Grafik milik Keisya berfluktuasi tajam namun perlahan mulai stabil karena gadis itu memaksa logikanya untuk menolak ilusi. Sementara grafik milik Atharva... hampir datar. Gelombang otaknya stabil di batas minimum, seolah-olah ia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan kegelapan dan trauma tersebut setiap hari.

"Kalian berdua memang bukan peserta biasa," gumam Profesor Adrian, jemarinya mengetuk meja kontrol dengan ritme konstan, menyaksikan dua subjek terbaiknya mulai bertarung melawan isi kepala mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!