Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 21
TERSANGKA??
Seiring berjalannya waktu. Langit menjadi semakin gelap. Dengan gerakan pelan Myra menutup pintu kamar Elina sesuai gadis itu bisa terlelap setelah menangis cukup lama.
“Bagaimana keadaan nona Elina?” tanya Hana yang baru tiba di lorong kamar tersebut.
Myra menatap wanita itu, lalu menoleh ke belakang. “Dia sudah terlelap, tapi aku tidak bisa menjamin besok Elina akan sedih lagi. Pemandangan itu...” Myra mencoba menarik nafas. “Cukup mengerikan.”
Hana tak bisa bicara karena semua itu benar. Namun Myra menatap tajam seolah-olah dia tak setuju dengan para orang dewasa yang harus melibatkan anak-anak.
“Tidak seharusnya Elion menjadi korbannya.”
Kedua mata Myra berkaca-kaca penuh emosi. Sementara Hana sendiri tak menginginkan semua itu terjadi. “Seharusnya aku datang lebih cepat. Setidaknya aku bisa mengambil peledak itu dari Elion.”
Tak ada perkataan lagi. Arah pandang Myra tertuju ke dua pria yang berjalan menuju ke arah pintu keluar. Terlihat jelas Silas dan Pikkey berbincang begitu serius penuh amarah diwajah Silas.
“Ke mana Silas akan pergi?” tanya wanita itu menatap sekilas ke Hana yang ikut menengok ke belakang.
“Menemui seseorang yang diduga sebagai tersangka atas kematian tuan Elion.”
Myra berkerut alis dan segera menghampiri suaminya, namun tak sempat melangkah jauh, Hana menahan lengan kanan Myra.
“Sebaiknya jangan sekarang. Tuan Silas terlihat lebih marah. Berikan dia waktu.”
Tak ada pemberontakan. Myra hanya menatap diam kepergian pria itu yang nampak tergesa-gesa. Sementara Hana mulai melepaskan tangannya dari lengan Myra.
Tak lama usai kepergian mobil Silas dan beberapa anak buahnya termasuk Pikkey. Mobil lain datang, dan suara amarah dari seorang wanita mengejutkan Myra dan Hana, begitu juga para pelayan dan penjaga yang hendak menghentikannya.
Darr!
Satu tembakan dilepas ke arah penjaga mansion Silas.
“Cepat ke kamar Elina, pastikan dia masih tidur.” pinta Myra ke Penelope yang segera mengangguk.
“Shit. Siapa lagi sekarang.” Hana melangkah keluar. Tepat di depan pintu sebuah pistol tertodong ke dahinya dan ia melangkah mundur saat Markie melangkah maju dengan wajah marah.
Melihat itu tentu saja Myra mengingatnya. Wanita yang sama, wanita yang merupakan ibu dari Elion dan Elina. Dan sekarang wanita itu datang usai mendengar kabar ledakan yang menghabisi putranya.
“Di mana Silas? Dia harus bertanggung jawab, seharusnya dia menjaga dengan benar.”
Ia melirik ke Myra yang melangkah maju lalu menembak ke arah Myra hingga peluru meleset, menggores lengan kiri wanita itu hingga berdarah. Dan saat itulah, Hana bergerak cepat merebut pistol itu dalam satu gerakan saja.
Cklek! peluru terbuka dan jatuh berserakan di lantai marmer.
“Kita bisa bicarakan baik-baik. Dan kau tidak bisa menyalahkan tuan Silas sepenuhnya.” ujar Hana membuang santai pistol itu ke lantai.
Sementara Markie menatap pasrah meski ia masih terlihat marah namun dia tetap tenang dan menoleh ke Myra yang meringis sakit sembari memegangi luka gores yang begitu terasa panas.
“Sorry.” ucap Markie singkat.
Tak lama di ruang tengah. Hana menyiram luka itu dengan alkohol hingga Myra menggelinjang seperti cacing kesakitan dan luka itu dibalut dengan baik.
“Sudah.” kata Hana.
Nafas Myra ngos-ngosan dan bersandar.
“Aku ingin menghabisi kalian.” kesal Markie yang masih sinis.
“Sebelum kau menghabisi kami, pikirkan tentang dirimu sendiri. Apa kau tidak terlibat dalam permainan kotor selama ini?” sindir Myra yang dengan berani mengatakan itu.
Markie menatapnya tajam, sedangkan Hana mencoba tenang.
“Apa yang kau tahu huh?”
Wanita itu duduk tegap menatap Markie. “Tidak banyak. Tapi karena semua itu, seorang anak menjadi korbannya.”
“Suruh jalang itu tutup mulut, atau aku tidak akan melesat lagi.” ancam Markie ke Myra namun ia mengatakannya ke Hana.
Mendengar itu Myra menyeringai kecil. “Aku akan tutup mulut ketika aku sudah mati. Jangan hancurkan Elina, jadilah ibu yang benar.”
Ia menahan amarahnya hingga menyeringai kecil dan berpaling malas menatap Myra.
Wanita mata silver itu menatap tajam ke lantai dengan kedua tangannya terlipat ke depan perutnya. Sementara Myra duduk diam mencoba untuk tetap terkendali.
“Silas sudah menemukan pelakunya?” tanah Markie ke Hana.
“Ya. Tapi masih belum pasti.”
Hana menoleh ke Myra yang masih diam. Namun di pikiran Hana kali ini, dia benar-benar akan kebingungan bila harus menutupinya lagi, karena Myra sudah melihat sendiri kedatangan Markie ke mansion yang artinya, ada permainan yang tidak dia ketahui. Dan akan dia pertanyakan.
...***...
Di sebuah gudang tua dekat pelabuhan. Silas melangkah masuk bersama anak buahnya termasuk Pikkey yang menemaninya disaat Kael sibuk dengan urusan lainnya.
Melihat kedatangan Silas membuang Valen yang sejak tadi duduk bersandar dengan kedua kaki di atas meja, seketika terkekeh kecil. “Akhirnya kita bertemu juga, Silas Al Wolfe. Tapi...”
“... dengan pasukan?”
Silas menatap lekat ke senyuman remeh Valen.
“Keluar semuanya.” pinta Silas ke Pikkey.
Meski Pikkey sedikit ragu, ia mengangguk tak bisa menolaknya sehingga mereka semua keluar meninggalkan Silas sendirian bersama Valen dan dua anak buah Valen di belakang pria itu duduk.
Valen masih tersenyum kecil mengunyah camilan. “Kemarilah... Kau cukup pemberani, sangat sulit menemui mu hangat untuk bernegosiasi soal bisnis.”
“Karena aku tidak menyukai negosiasi mu.” balas Silas dengan tenang dia berjalan maju lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Valen duduk.
Mata Silas melirik sejenak ke kedua kaki Valen yang masih di atas meja, tepat di depannya dia duduk.
Sadar akan hal itu. Valen menyeringai kecil menurunkan kedua kakinya. “Aku turut berdukacita atas kepergian putramu.”
“Dan kau pasti tahu kenapa aku menemuimu.”
Pria berjas putih itu masih menyeringai kecil. “Sungguh?”
Keduanya saling beradu pandang. Sampai akhirnya Silas bergerak cepat, dia berdiri mengarahkan pistolnya ke arah kepala Valen hingga kedua anak buah Valen bergerak membela, namun Silas langsung menembak kepala salah satunya lalu menyerang dengan gerakan tangan hingga berhasil menjatuhkan pisau dari tangan anak buah itu.
Bruakk! Daarr!!
Ia menarik kepala pria itu dan membenturkannya ke meja dan menebak kepala itu tepat di depan Valen.
Pistol itu kembali mengarahkan ke wajah Valen lagi.
Bukannya takut, pria itu terkekeh kecil tak percaya. “Bisnisku lebih terhormat. Membunuh seorang anak bukanlah keahlian Valen Moreau.”
“Tapi kau menjual mereka.”
Valen terdiam. Sementara Silas masih menatap penuh ancaman.
“Katakan kata-kata terkahir mu.”
Mata Valen menatap tajam dan pasrah. “Aku yang menculiknya, tapi seseorang dari pihak lain menghalangi ku.”
Kedua alis Silas berkerut mendengar pengakuan itu.
Memang benar, Valen yang menculik Elion, tapi di tengah perjalanan... Anak buahnya dihadang oleh pihak lain yang entah siapa mereka.
“Jika anak itu ada padaku, mungkin aku akan menjualnya untuk keuntungan.”
Ucapan Valen benar-benar masuk akal sesuai dengan karakter pria itu sejak dulu. Dan kini Silas yang nampak marah, rahangnya mengeras tangannya mencengkram kuat pistol itu namun wajahnya masih terlihat tenang, menatap tajam.
“Siapa mereka?” tanya Silas.
Valen menggeleng kecil. “I don't know.”