Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lin Liu menggeledah sekelilingnya dengan panik, matanya menyapu lantai mal yang ramai, mencoba mengingat kapan terakhir kali dia memegang paket itu. Ingatannya kembali ke momen dia menoleh menyenggol tas belanjaan Huang Ruoxi—mungkin saat itulah paket itu terjatuh tanpa dia sadari.
"Gawat, gawat," gumamnya panik, berlari kecil menyusuri rute yang baru saja dia lewati, matanya menyapu setiap sudut lantai dasar mal itu.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, dia akhirnya menemukan paket itu tergeletak di bawah bangku dekat air mancur mal, sedikit tersembunyi namun untungnya masih utuh. Dia mengambilnya dengan tangan gemetar, menghela napas lega yang begitu dalam hingga membuat dadanya terasa longgar.
"Untung masih ada," gumamnya, memeriksa isi paket itu sekilas untuk memastikan tidak ada yang rusak, sebelum bergegas menuju lantai tiga sesuai tujuan awalnya.
Namun begitu tiba di toko nomor dua puluh tujuh, dia disambut oleh pemilik toko yang tampak kesal, jam tangan mahal di pergelangan tangannya berkilau saat dia melipat tangan dengan tidak sabar.
"Kau ini kurir macam apa? Sudah terlambat dua puluh menit dari waktu yang dijanjikan," omel pemilik toko itu, suaranya tajam menusuk telinga.
"Maaf, Pak, tadi ada sedikit kejadian di lantai dasar—" Lin Liu berusaha menjelaskan, namun pemilik toko itu memotong dengan tidak sabar.
"Aku tidak peduli alasan apa pun. Karena keterlambatan mu, aku terpaksa memotong bayaranmu setengahnya," katanya ketus, mengambil paket itu dari tangan Lin Liu dengan kasar. "Untung saja barangnya masih utuh."
Lin Liu ingin protes, namun menyadari posisinya yang lemah, dia hanya bisa mengangguk pasrah, menerima bayaran yang jauh lebih kecil dari yang dijanjikan sebelumnya. Dia berjalan keluar dari toko itu dengan perasaan campur aduk, kesal pada dirinya sendiri karena keteledorannya, namun juga lega karena setidaknya paket itu berhasil ditemukan.
Dengan langkah lesu, dia berjalan menuju food court di lantai yang sama, berniat sekadar duduk sejenak sebelum kembali ke rutinitasnya. Namun begitu dia memasuki area food court yang ramai itu, matanya tidak sengaja menangkap sosok yang familiar duduk sendirian di salah satu meja pojok, menatap kosong ke arah gelas minumannya yang belum disentuh.
Huang Ruoxi.
Gadis itu tidak lagi terlihat angkuh seperti tadi, wajahnya justru menunjukkan raut lelah dan kesal yang tidak berusaha dia sembunyikan, seolah baru saja menghadapi sesuatu yang berat.
Lin Liu ragu sejenak, namun dorongan penasaran yang aneh membuatnya melangkah mendekat, duduk di kursi seberang meja itu tanpa diundang.
"Kenapa duduk sendirian? Urusanmu sudah selesai?" tanya Lin Liu, mencoba bersikap santai meskipun sebenarnya dia sendiri tidak yakin kenapa dia melakukan ini.
Huang Ruoxi mendongak kaget, matanya melebar melihat Lin Liu duduk begitu saja di hadapannya tanpa izin. "Siapa yang mengizinkanmu duduk di sini?"
"Anggap saja aku sedang beristirahat, kebetulan saja kursinya di sini," jawab Lin Liu santai, meskipun dalam hati dia menahan senyum melihat reaksi galak gadis itu yang entah kenapa terasa menghibur.
Huang Ruoxi mendengus, namun tidak juga mengusirnya pergi seperti yang biasa dia lakukan pada orang asing. "Ayahku baru saja memutuskan tanggal pertunanganku," katanya tiba-tiba, suaranya datar meskipun ada nada pahit yang tersembunyi di baliknya. "Bulan depan. Dengan seseorang yang bahkan umurnya dua kali lipat umurku."
Lin Liu terdiam, tidak menyangka gadis yang tadi terlihat begitu angkuh dan percaya diri itu ternyata menyimpan beban seberat itu. "Kenapa kau cerita ini padaku? Kita baru kenal satu jam yang lalu."
Huang Ruoxi menatap Lin Liu lama, seperti dirinya sendiri juga bingung dengan jawabannya. "Entahlah. Mungkin karena kau orang asing yang tidak akan peduli, jadi lebih mudah cerita," jawabnya ketus, meskipun raut wajahnya menunjukkan hal yang sebaliknya.
Sebelum Lin Liu sempat menjawab, suara berat dan familiar tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk food court, membuat Huang Ruoxi membeku seketika, wajahnya berubah pucat pasi.
"Ruoxi, di situ kau rupanya. Kenalkan, ini calon suamimu."