Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evolusi Kitab Maha Tahu
Pendaran energi Qi keemasan berangsur-angsur meredup, menyatu dengan aliran darah di sepanjang jalur meridiannya yang kini telah bertransformasi menjadi ranah Kondensasi Qi tahap 1. Di tepi kolam air jernih, Xiao Lin tampak sedang berlari kian kemari dengan gerakan lincah, mencoba menjangkau sesuatu di dalam air kolam menggunakan cakar depannya.
"Kau sedang berburu apa di dalam sana, Lin er?" Langkah kaki Chen er bergerak mendekat ke tepi kolam. "Tenangkan dirimu, air kolam ini tidak boleh dikotori."
"Guk! Guk!" Anak Kirin itu menyahut dengan gonggongan nyaring, menunjuk ke dalam kolam menggunakan moncong emasnya yang basah terkena cipratan air.
Tatapan mata Chen er langsung tertuju pada permukaan air yang jernih. Di dasar kolam, terdapat banyak sekali ikan berukuran kecil menyerupai naga mungil lengkap dengan sisik berkilau dan sepasang sungut tipis di kepalanya. Sekujur tubuh mereka memancarkan pendaran cahaya spiritual, menandakan bahwa tubuh mereka dipenuhi oleh energi Qi murni dalam kerapatan tinggi.
"Ikan dengan bentuk fisik seperti naga..." Chen er merunduk untuk mengamati pergerakan ikan-ikan tersebut. "Makhluk spiritual jenis apa ini sebenarnya?"
Getaran hangat mendadak bergejolak di dalam kepala saat kesadaran batinnya ditarik masuk secara otomatis. Di atas lembaran emas Kitab Maha Tahu sebaris proyeksi aksara kuno memancar terang. "Ikan Naga Emas. Sumber daya spiritual langka yang memiliki khasiat luar biasa melimpah untuk memulihkan energi fisik secara instan. Jika digunakan sebagai bahan tambahan dalam meracik pil alkimia, sarinya mampu meningkatkan kestabilan energi obat dan melipatgandakan peluang keberhasilan pemurnian pil tingkat tinggi."
"Kitab ini..." Kelopak matanya terbuka kembali dengan tubuh menegang akibat keterkejutan yang mendalam. "Kau... kau bisa memberikan informasi secara spontan di dalam pikiranku?"
Letupan rasa heran berkecamuk di dalam benaknya karena kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Selama ini, Kitab Maha Tahu hanyalah basis data pasif yang mengharuskan dirinya untuk masuk ke dalam lautan kesadaran untuk mencari informasi. Namun sekarang, kitab tersebut secara mandiri memproyeksikan barisan aksara emas, bertindak seolah-olah memiliki kesadaran untuk membimbingnya.
"Apakah peningkatan ranah kultivasiku memicu perubahan ini?" gumam Chen er pelan sambil memegangi kepalanya yang masih merasakan getaran sisa proyeksi spiritual.
Setelah beberapa saat, Fokus batinnya kembali terisap masuk ke dalam ruang kesadaran. "Kontrak jiwa terikat pada jiwa yang telah menembus ranah Kondensasi Qi. Kitab Maha Tahu telah menyelesaikan fase evolusi pertamanya. Akses informasi mandiri dan deteksi spiritual aktif kini telah terbuka di dalam lautan kesadaran."
"Luar biasa..." Hembusan napas panjang dikeluarkan Chen er saat kesadaran fisiknya kembali ke dunia nyata. "Kau benar-benar berevolusi."
Chen er berdiri tegak, membenarkan letak jubah biru tuanya sambil bersiap untuk meninggalkan ruangan pagoda kayu yang kini telah kehilangan seluruh energi spiritualnya setelah pohon emas di tengah kolam layu sepenuhnya.
"Ayo pergi dari tempat ini, Lin er." Tatapan mata Chen er beralih ke arah anak Kirin yang masih sibuk mengincar ikan naga di dalam air.
Xiao Lin menyahut dengan gonggongan ringan, langsung melompat dan menyelinap masuk kembali ke dalam kehangatan Kantong Semesta di pinggang rekannya. "Guk!"
Denyut energi halus kembali mengetuk kesadarannya tepat ketika ia bersiap untuk melangkah pergi. Di dalam lautan kesadaran, sebaris kalimat baru tercetak jelas di lembaran emas. "Mendeteksi adanya fluktuasi energi warisan di dasar kolam. Terdapat sisa warisan kuno tersembunyi di bawah titik terdalam air kolam jernih. Disarankan melakukan penyelaman."
"Warisan di dasar kolam?" Chen er menghentikan ayunan kakinya, lalu menolehkan kepala kembali ke arah kolam jernih. "Kau yakin ada sesuatu di bawah sana?"
Chen er kembali bergerak ke tepi kolam jernih tersebut tanpa ragu sedikit pun. Ia melepas jubah luar biru tuanya untuk memudahkan pergerakan, lalu menyimpannya di dalam cincin ruang sebelum bersiap melakukan penyelaman.
"Jaga napasmu di dalam sana, Lin er." Tepukan ringan diberikan pada Kantong Semesta di pinggangnya untuk memastikan posisi rekannya tetap aman. "Aku akan turun sekarang."
Sebelum tubuhnya melompat masuk ke dalam air kolam jernih tersebut. Dentuman air terdengar halus saat tubuh fisik tegapnya membelah permukaan air, langsung berenang turun menuju kedalaman dasar kolam yang tampak tidak berujung.
"Meridian Qi, aktifkan pelindung napas." Fokus batinnya tetap terjaga penuh saat ia mulai mengalirkan energi sejati untuk membentuk pelindung napas.
Ikan-ikan naga kecil yang berenang di sekitarnya tampak berpendar di kegelapan air, namun fokus matanya tetap lurus menatap ke arah dasar kolam yang mulai menyempit menjadi celah batu vertikal. Ia menyelam semakin dalam menembus tekanan air yang berangsur-angsur meningkat hingga tiba di satu titik koordinat tertentu yang dipenuhi formasi batuan kuno bermotif rumit.
"Apakah ini titik yang dimaksud oleh kitab?" Matanya mengamati sebuah lingkaran batu di dasar celah yang memancarkan pendaran cahaya biru redup.
Kejadian aneh mendadak terjadi saat ia menyentuh permukaan lingkaran batu tersebut. Tiba-tiba, sebuah pusaran energi tak kasat mata meledak dari dasar celah, Tubuh Chen er tidak lagi terdorong ke atas oleh tekanan air, melainkan ditarik secara paksa ke arah bawah dengan daya sedot yang berkali-kali lipat lebih kuat dibanding pusaran air biasa.
"Ugh! Daya tarik ini..." Kedua tangannya mencoba mencengkeram celah batu untuk menstabilkan posisinya, namun tarikan gravitasi itu terlalu kuat.
Hantaman gravitasi yang memusingkan membuat pandangan matanya menggelap selama beberapa detik saat tubuhnya terseret masuk ke dalam pusaran energi tanpa air tersebut. Anehnya, ia tidak merasakan sensasi basah atau dinginnya air kolam di sekujur tubuhnya, Tubuhnya melayang jatuh bebas di udara sebelum akhirnya mendarat dengan gulingan di atas permukaan tanah berbatu yang lembap.
Gonggongan Xiao Lin memecah kesunyian setelah melompat keluar dari Kantong Semesta untuk membantunya menyadari situasi pasca perpindahan spasial tersebut. "Guk! Guk!"
"Lin er, kau tidak apa-apa?" Tepukan ringan mendarat di kepala anak Kirin yang berdiri di dekat kakinya. Chen er bertanya sambil membersihkan sisa air yang menempel di celananya dengan gerakan sigap.
"Gggrrr!" Bulu emasnya langsung dikibaskan dengan cepat untuk membuang sisa-sisa ketegangan fisik.
Pandangan mata Chen er mendapati bahwa mereka kini berada di dalam sebuah goa batu kecil yang dikelilingi oleh dinding tebing batu terjal, membentuk sebuah lembah. Tidak ada jalan masuk atau keluar yang terlihat di dinding goa tersebut, hanya ada sebuah kolam air kecil berukuran dua meter di dekat tempatnya mendarat.
Di atas langit-langit goa, celah bebatuan sempit memperlihatkan sedikit cahaya luar yang redup, menandakan bahwa tempat ini terisolasi. Dari permukaan tanah atau berada di dalam perut bumi dimensi kuno. "Sebuah Lembah yang terisolasi." Derap kaki Chen er bergerak mendekat untuk memeriksa area disekitar. "Kitab Maha Tahu, tunjukkan di mana letak warisan yang kau maksud."