Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Deru mesin pabrik terdengar bising memekakkan telinga dari balik tembok beton tinggi yang mengelilingi kawasan industri itu.
Asap abu-abu mengepul dari cerobong asap raksasa milik Pabrik Pengolahan Makanan Kusuma yang merupakan pabrik terbesar di kota ini.
Tepat di seberang gerbang utama pabrik yang suram itu, sebuah pemandangan yang sangat kontras sedang dibangun dengan kecepatan kilat.
Puluhan pekerja konstruksi kiriman Nona Clara sedang sibuk mendirikan sebuah tenda putih berukuran raksasa di atas lahan kosong.
Tenda itu bukan sekadar tenda biasa, melainkan sebuah dapur umum semi permanen yang dilengkapi dengan puluhan kipas angin dan deretan meja panjang.
Arka berdiri di tengah lahan itu dengan celemek hitam kebanggaannya sambil mengawasi pemasangan lima buah kuali baja raksasa berdiameter satu meter.
"Mas Bos, semua sayuran, tahu, tempe, dan beras sudah diturunkan dari truk pemasok." Lapor Nisa yang ikut datang membantu sambil membawa papan catatan.
"Bagus sekali Nisa, hari ini kita akan memberi makan ribuan buruh pabrik yang kelaparan itu dengan harga yang tidak masuk akal." Arka menyeringai menatap gerbang pabrik musuhnya.
Arka memang sengaja menutup Dapur Arka Absolute untuk sesi makan siang hari ini dan memindahkan operasinya ke medan perang yang baru.
Ia tahu betul bahwa pabrik keluarga Kusuma memiliki ribuan buruh yang digaji rendah dan dipaksa memakan katering pabrik yang rasanya seperti kardus basah.
"Mas Arka yakin mau menjual nasi rames bumbu serbaguna ini seharga lima ribu rupiah saja? Kita bisa rugi besar." Nisa bertanya dengan nada khawatir.
"Kita tidak akan rugi Nisa, bahan baku sayur dan tempe sangat murah, apalagi tujuanku di sini bukan mencari untung." Arka menjelaskan dengan suara tenang.
"Tujuanku adalah menciptakan pemberontakan lidah dari dalam pabrik itu sendiri." Tambah Arka dengan tatapan mata yang sangat tajam dan penuh perhitungan.
Teng teng teng!
Suara bel pabrik berbunyi sangat nyaring menandakan waktu istirahat makan siang selama satu jam telah tiba.
Pintu gerbang besi yang berat itu bergeser terbuka perlahan.
Ribuan buruh pabrik berseragam biru kusam mulai berhamburan keluar dengan wajah yang sangat lelah, lesu, dan berminyak.
Mereka berjalan gontai menuju area kantin luar pabrik dengan langkah yang sangat berat seolah kehilangan semangat hidup.
"Aduh, menu katering pabrik hari ini pasti sayur sop hambar dan tempe keras lagi." Keluh seorang buruh pria paruh baya sambil memegangi perutnya yang keroncongan.
"Mau bagaimana lagi Pak, gaji kita kecil, kalau makan di luar pabrik uangnya tidak akan cukup untuk dikirim ke kampung." Sahut buruh muda di sebelahnya dengan nada pasrah.
Tepat saat para buruh itu meratapi nasib makan siang mereka, sebuah hembusan angin kencang bertiup dari arah seberang jalan raya.
Wushhh!
Angin itu membawa serta sebuah aroma magis yang sangat luar biasa harum dan langsung menyergap hidung ribuan buruh tersebut.
Aroma gurih dari bumbu rempah yang ditumis berpadu dengan wangi bawang putih dan ketumbar sangrai seketika meledak di udara.
Langkah ribuan buruh itu terhenti secara serentak layaknya pasukan yang dikomando oleh sihir tak kasat mata.
Hidung mereka mengendus udara dengan rakus, mencari sumber dari keharuman surgawi yang belum pernah mereka cium seumur hidup.
"Wangi apa ini? Rasanya air liurku mau menetes keluar saking gurihnya bau ini." Buruh paruh baya tadi bergumam dengan mata terbelalak lebar.
"Baunya berasal dari tenda putih raksasa di seberang jalan itu Pak!" Tunjuk sang buruh muda dengan penuh semangat.
Arka berdiri di balik kuali raksasanya yang sedang mengepulkan asap putih tebal membumbung ke udara.
Srenggg!
Ia mengaduk ribuan potong tempe dan tahu yang sedang digoreng menggunakan sutil baja berukuran panjang layaknya sebuah dayung perahu.
Berkat Keterampilan Pengendalian Api tingkat menengah, Arka bisa memastikan suhu minyak di kuali raksasa itu merata dengan sempurna.
Ia kemudian menaburkan beratus-ratus gram Resep Rahasia Bumbu Serbaguna ke dalam tumisan sayur lodeh dan oseng tempe tersebut.
"Ayo Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, mampir ke Dapur Umum Arka!" Teriak Arka menggunakan pelantang suara yang sudah disiapkan Nisa.
"Nasi rames prasmanan, ambil nasi dan lauk sepuasnya sampai kenyang, harganya cuma lima ribu rupiah saja!" Pengumuman Arka itu bergema sangat keras membelah jalanan.
Mendengar kata lima ribu rupiah dan makan sepuasnya, mata ribuan buruh itu langsung berbinar terang layaknya melihat oase di tengah gurun pasir.
"Lima ribu? Makan sepuasnya dengan wangi seenak ini? Ayo kita serbu sebelum kehabisan!" Teriak buruh muda itu memprovokasi teman-temannya.
Hanya dalam hitungan detik, ribuan buruh berseragam biru itu berlari menyeberangi jalan raya seperti gelombang ombak yang mengamuk.
Mereka menyerbu masuk ke dalam tenda putih Arka dan langsung mengambil piring plastik yang sudah ditumpuk rapi oleh Nisa dan beberapa staf bantuan.
"Tolong antre yang rapi Bapak Ibu, lauknya sangat banyak dan tidak akan habis!" Nisa berteriak mengatur barisan dengan sigap.
Para buruh itu mulai menyendok nasi putih hangat, oseng tempe bumbu magis, dan sayur lodeh gurih ke atas piring mereka masing-masing.
Begitu mereka duduk di kursi plastik dan menyuapkan makanan itu ke dalam mulut, keajaiban sistem kembali bekerja dengan sangat beringas.
Nyam nyam.
Mata ribuan buruh itu melotot sempurna secara bersamaan seolah baru saja tersambar petir di siang bolong.
Rasa gurih yang sangat mendalam dari bumbu serbaguna itu mengubah tempe dan tahu murahan menjadi hidangan sekelas daging premium.
Tekstur sayurnya sangat renyah dan bumbunya meresap sempurna hingga ke setiap tetes kuah lodeh yang mereka seruput.
"Ya Tuhan, ini tempe paling enak yang pernah masuk ke mulutku sepanjang aku hidup." Tangis seorang buruh wanita tua sambil terus mengunyah dengan lahap.
"Bumbunya sangat gila, rasanya seperti memeluk kehangatan rumah di kampung halaman." Sahut buruh lainnya dengan mulut penuh nasi.
Suara dentingan sendok dan piring beradu dengan sangat brutal di dalam tenda raksasa itu.
Trak trak trak.
Tidak ada satu pun buruh yang saling mengobrol, mereka semua terlalu sibuk menikmati makanan termurah namun terenak yang pernah mereka beli.
Rentetan suara mekanis dari sistem berbunyi bagaikan senapan mesin di dalam pikiran Arka tanpa henti.
[Ding! Pelanggan merasa Sangat Puas dengan level tertinggi!]
[Ding! Pelanggan merasa Sangat Puas dengan level tertinggi!]
[Host mendapatkan 1 Poin Kepuasan.]
Arka hanya tersenyum puas melihat kuali-kuali raksasanya mulai kosong dalam waktu kurang dari setengah jam.
Ia kembali memasukkan bahan-bahan baru dan menumisnya dengan kecepatan yang sangat luar biasa agar antrean buruh di belakang tidak kelaparan.