Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 06 - Darah yang Sama
Arkan Wiratama membenci rumah sakit.
Terlalu banyak bau obat, terlalu banyak suara sepatu tergesa, terlalu banyak orang menunggu kabar buruk dengan wajah pura-pura kuat.
Namun malam itu ia berdiri di depan ruang IGD anak dengan kemeja kusut dan mata merah, menatap dokter seperti ingin merobek jawaban dari mulutnya.
"Kenapa demamnya tidak turun?"
Dokter anak itu menahan gugup. "Pak Arkan, kami masih mencari penyebabnya. Rayyan mengalami reaksi hemolitik ringan dan kadar darahnya turun. Kami butuh donor dengan golongan yang cocok."
"Cari."
"Sudah, Pak. Tapi golongan darah Rayyan langka. Stok di PMI belum ada yang langsung cocok."
Arkan menatap dokter itu. "Berapa lama?"
"Kami sedang hubungi beberapa donor tetap, tapi..."
"Berapa lama?"
Dokter terdiam.
Di kursi ruang tunggu, Rania menangis dengan tisu menutupi mulut. Ia datang begitu menerima kabar Rayyan dilarikan ke rumah sakit. Ia memanggil dirinya ibu, tetapi sejak tadi tidak sekali pun anak itu mencarinya.
Nenek Ratih duduk di sebelahnya, wajah tua itu keras seperti batu.
"Menangis tidak membuat darah muncul," kata Nenek Ratih dingin.
Rania menunduk. "Nek, aku cuma takut. Rayyan anakku."
Nenek Ratih meliriknya.
"Kalau dia anakmu, kenapa kamu tidak tahu alergi obatnya minggu lalu? Kenapa kamu tidak tahu dia tidak suka bubur labu? Kenapa dia demam tinggi tapi memanggil pengasuhnya, bukan kamu?"
Wajah Rania pucat.
Arkan mendengar, tetapi tidak menoleh. Saat ini ia tidak punya ruang untuk menghakimi Rania. Semua tenaganya dipakai menahan ketakutan.
Rayyan baru empat tahun.
Anak itu terlalu cerewet, terlalu pintar, terlalu sering membuatnya marah dengan pertanyaan yang tidak masuk akal. Tadi pagi ia masih berkata ingin menjadi bos lebih kaya dari Papanya karena "Papa terlalu galak, nanti semua karyawan kabur".
Sekarang tubuh kecil itu terbaring di balik pintu.
"Pak Arkan."
Salah satu pengawalnya datang tergesa.
"Ada perempuan di administrasi. Katanya dia punya golongan darah langka. Dia pernah mendonor sebelumnya. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Dia perempuan dari lounge semalam."
Arkan mengerutkan kening.
Waitress itu.
Yang memungut uang dari lantai tanpa menangis.
"Bawa dia."
Beberapa menit kemudian Naya muncul di koridor rumah sakit.
Riasannya sudah luntur. Gaun hitamnya ditutup jaket lusuh. Di tangannya ada kantong obat dan kuitansi pembayaran. Ia berhenti begitu melihat Arkan.
Untuk sesaat, tubuhnya kaku.
Arkan menangkap perubahan itu.
Ia kira perempuan itu takut karena malu bertemu dengannya lagi. Ia tidak tahu ketakutan Naya berasal dari malam yang jauh lebih gelap.
"Kamu donor?" tanyanya tanpa basa-basi.
Naya melirik pintu IGD anak. "Anak siapa?"
"Anak saya."
Rania berdiri cepat. "Anakku."
Naya menoleh.
Ia melihat Rania.
Empat tahun tidak membuat wajah itu berubah banyak. Lebih mahal, lebih halus, lebih percaya diri. Di jarinya ada cincin perak yang Naya kenali bahkan dari jarak jauh.
Cincin dari kebun.
Naya merasa dunia menyempit.
Rania juga mengenalinya. Warna wajahnya hilang seketika, tetapi ia cepat menutupinya dengan tangis.
"Kak Naya?"
Koridor seperti berhenti.
Arkan menoleh pada Rania. "Kamu kenal dia?"
Rania membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tahu terlalu berbahaya jika mengaku terlalu banyak.
"Dia... anak angkat keluarga kami dulu. Sudah lama pergi."
Anak angkat.
Naya hampir tersenyum.
Mereka bahkan tidak mau mengakui ia darah Pradipta di depan Arkan.
Nenek Ratih menatap Naya dengan mata tajam. "Kamu bisa donor?"
Naya mengalihkan pandangan dari Rania.
"Kalau cocok, bisa."
Rania langsung berkata, "Tidak perlu. Kita cari donor lain saja. Dia baru keluar dari..."
"Dari apa?" Arkan memotong.
Rania menggigit bibir.
Naya menjawab sendiri, suaranya datar. "Lapas."
Nenek Ratih mengangkat alis.
Rania pura-pura sedih. "Kak, aku bukan mau membuka aibmu. Tapi Rayyan anak keluarga Wiratama. Kita harus hati-hati. Bagaimana kalau..."
"Kalau darah mantan napi bisa menyelamatkan anakmu, kamu masih mau menolaknya?" tanya Naya.
Rania terdiam.
Arkan menatap Naya. Untuk pertama kalinya sejak bertemu, ia tidak melihat perempuan itu sebagai waitress yang memungut uang. Ia melihat seseorang yang berdiri tegak saat orang lain mencoba menghancurkannya dengan satu kata.
Mantan napi.
Naya tidak menunduk ketika mengakuinya.
Dokter datang tergesa. "Pak, waktunya sangat sempit."
Arkan mengambil keputusan.
"Tes cocok sekarang."
Rania mencengkeram tasnya. "Arkan..."
"Diam."
Satu kata itu membuat Rania mundur.
Naya dibawa ke ruang pemeriksaan. Darahnya diambil. Ia duduk diam, menatap jarum masuk ke kulitnya. Tubuhnya masih lemah karena kurang makan, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Seorang perawat membaca hasil awal dan terkejut.
"Cocok."
Dokter menghela napas lega. "Kita bisa mulai transfusi."
Arkan berdiri di ambang pintu ruang donor. Matanya menatap Naya.
"Berapa yang aman diambil?"
Dokter menjawab, "Kami akan awasi ketat. Tapi karena kebutuhan mendesak..."
"Jangan ambil lebih dari batas."
Naya menoleh padanya.
Arkan tidak sedang menatapnya dengan belas kasihan. Ia menatap dokter, memastikan uang dan kuasanya tidak membuat mereka menguras darahnya sembarangan.
Aneh.
Sangat aneh.
Pria yang semalam melempar uang ke lantai sekarang memastikan ia tidak pingsan.
Naya berbaring. Kantong darah perlahan terisi. Ia memejamkan mata, berusaha tidak memikirkan anak di balik pintu IGD. Anak Rania, katanya. Anak yang seharusnya tidak ia pedulikan.
Tapi saat tadi ia melihat wajah kecil di ranjang, ada sesuatu yang menusuk dadanya.
Rayyan.
Anak itu pucat, tetapi bentuk bibirnya...
Naya membuka mata cepat.
Jangan.
Jangan pikirkan itu.
Anak-anaknya sudah mati.
Keduanya.
Begitu kata dokter. Begitu surat resmi. Begitu kebohongan yang harus ia telan selama empat tahun.
"Bu, pusing?" tanya perawat.
"Tidak."
"Kalau mual, bilang."
Naya mengangguk.
Di luar, Rania berjalan mondar-mandir. Ia menelepon Bu Mira dengan suara tertahan.
"Mama, dia muncul. Naya muncul di rumah sakit. Dia donor darah untuk Rayyan."
Bu Mira di ujung telepon langsung panik. "Apa Arkan tahu?"
"Belum. Aku bilang dia anak angkat."
"Jauhkan dia dari Rayyan."
"Bagaimana? Rayyan butuh darahnya!"
"Setelah selesai, suruh dia pergi. Jangan biarkan dia bekerja dekat keluarga Wiratama. Jangan biarkan dia bicara dengan siapa pun."
Rania menutup telepon dengan tangan gemetar.
Namun saat ia berbalik, Nenek Ratih sudah berdiri tidak jauh darinya.
Wanita tua itu mungkin tidak mendengar semuanya, tetapi matanya cukup dingin untuk membuat Rania sulit bernapas.
"Apa yang kamu takutkan, Rania?"
"Nek, aku cuma..."
"Aku tanya apa yang kamu takutkan."
Rania memaksa tersenyum. "Aku takut Rayyan kenapa-kenapa."
Nenek Ratih tidak menjawab. Ia berjalan melewati Rania menuju ruang donor.
Di dalam, Naya sudah pucat. Kantong darah kedua hampir selesai. Dokter akhirnya menghentikan proses.
"Cukup. Bawa ke lab, cepat."
Naya mencoba bangun, tetapi pandangannya berputar.
Arkan menangkap lengannya sebelum ia jatuh.
Sentuhan itu membuat Naya tersentak keras. Ia menarik tangannya seolah terbakar.
"Jangan sentuh saya."
Ruangan hening.
Arkan membeku.
Nada itu bukan malu-malu. Bukan pura-pura menjaga jarak. Itu ketakutan asli, tajam dan dalam.
Naya sadar semua orang menatapnya. Ia memaksa berdiri sendiri.
"Maaf. Saya hanya pusing."
Arkan menatap tangannya yang kosong.
Untuk sesaat, ada kilatan ingatan samar: seorang perempuan di tanah, suaranya bergetar, "Lepas."
Kepalanya nyeri.
"Nama kamu?" tanyanya.
Naya mengambil jaketnya.
"Nana."
Rania cepat menyahut dari pintu, "Namanya Naya."
Naya menatap Rania.
Rania tampak menyesal sudah bicara, tetapi terlambat.
Arkan mengulang pelan, "Naya."
Nama itu terasa asing sekaligus tidak asing.
Sebelum ia bertanya lebih jauh, dokter keluar dari IGD.
"Pak Arkan, transfusi mulai masuk. Kondisi Rayyan membaik."
Arkan menutup mata sejenak.
Nenek Ratih mengucap hamdalah pelan.
Naya mengambil kantong obatnya dan berjalan pergi. Ia tidak meminta uang. Tidak menunggu terima kasih. Tidak menoleh pada Rania.
Namun baru beberapa langkah, suara kecil terdengar dari ruang IGD yang pintunya terbuka.
"Pa..."
Arkan langsung masuk.
Naya tidak bermaksud melihat.
Tapi ia melihat.
Anak laki-laki di ranjang itu membuka mata setengah, lalu menatap ke arah pintu. Bukan ke Rania. Bukan ke Arkan.
Ke Naya.
Bibir kecilnya bergerak.
"Mama..."
Kantong obat di tangan Naya jatuh ke lantai.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕