NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Mobil SUV hitam mewah milik Darmawan berhenti mulus di depan lobi utama gedung PT Medika Raya.

Rizky turun dari mobil dengan langkah tenang dan langsung berjalan memasuki lobi yang terlihat sangat sepi.

Para resepsionis dan satpam gedung tampak kebingungan karena atasan mereka sedang sibuk mengurus krisis perusahaan akibat berita pagi tadi.

Rizky berjalan lurus tanpa rintangan menuju lift VIP yang biasa digunakan khusus untuk jajaran direksi.

Ia menekan tombol lantai paling atas yang memiliki akses tangga langsung menuju atap helipad gedung tersebut.

TING.

Pintu lift tertutup dan membawa sang pemuda jenius itu naik menuju medan pertempuran terakhirnya hari ini.

Di atas atap gedung, angin bertiup sangat kencang bercampur dengan suara bising baling-baling helikopter yang sedang memanaskan mesin.

WUSH WUSH WUSH.

Helikopter pribadi berwarna perak itu sudah menyalakan rotor utamanya dan bersiap untuk lepas landas kapan saja.

Hendra Kusuma berdiri di dekat pintu helikopter sambil memeluk erat sebuah koper besi berisi dokumen aset dan uang tunai luar negerinya.

Wajah gemuk direktur itu terlihat sangat panik dan dipenuhi keringat dingin meski udara di atas atap sangat kencang.

"Cepat naikkan helikopternya sekarang juga dasar pilot bodoh, kita harus segera pergi dari negara ini," teriak Hendra histeris menembus suara bising mesin.

"Mesinnya masih butuh pemanasan dua menit lagi Pak Direktur, kalau dipaksa terbang sekarang kita bisa jatuh," balas sang pilot dari ruang kemudi melalui penyuara.

"Aku tidak peduli, terbang sekarang atau aku akan menembak kepalamu dari belakang," ancam Hendra sambil mengeluarkan sebuah pistol revolver dari balik jas mahalnya.

Dua orang pengawal pribadi berbadan kekar yang setia menemani Hendra hanya bisa diam berjaga di dekat landasan beton.

Mereka berdua juga memegang senjata api jenis pistol otomatis dan terus mengawasi pintu akses tangga darurat dari dalam gedung.

KLEK.

Suara pintu besi akses atap gedung yang terbuka tiba-tiba mengalihkan perhatian kedua pengawal bersenjata tersebut.

Rizky melangkah keluar dari pintu besi itu dengan kedua tangan yang dimasukkan santai ke dalam saku jaketnya.

"Selamat pagi Direktur Hendra, sepertinya Anda sedang terburu-buru mau pergi liburan ke luar negeri ya," sapa Rizky dengan suara lantang yang sukses mengalahkan bisingnya helikopter.

Hendra menoleh dengan cepat dan matanya seketika membelalak lebar melihat sosok pemuda yang menjadi sumber mimpi buruknya semalam.

"Kau, bagaimana kau bisa melewati sistem keamanan di lobi bawah tanpa memicu alarm sama sekali?" teriak Hendra dengan suara bergetar ketakutan.

"Sistem keamanan gedung Anda ternyata sama rapuhnya dengan resep palsu yang Anda produksi besar-besaran kemarin Pak Direktur," sindir Rizky tersenyum mengejek.

Hendra mundur selangkah hingga punggung lebarnya menabrak badan helikopter yang sedang bergetar keras.

"Tembak dia sekarang juga, bunuh pemuda gila itu dan aku akan bayar kalian sepuluh kali lipat hari ini juga," perintah Hendra pada dua pengawalnya dengan kalap.

Kedua pengawal bayaran itu langsung mengangkat pistol otomatis mereka dan membidik lurus ke arah dada Rizky.

Namun Rizky sama sekali tidak berniat menghindar ke samping apalagi berlari mencari tempat bersembunyi dari tembakan tersebut.

Ia justru mengeluarkan tangan kanannya dari saku jaket dan melemparkan dua buah bola rapuh seukuran kelereng berwarna hijau pekat ke arah lantai.

PRANG PRANG.

Bola yang terbuat dari getah herbal kering itu pecah berantakan saat membentur lantai beton atap gedung.

Ledakan kecil seketika terjadi dan mengeluarkan asap pekat berwarna kuning kehijauan yang langsung tersapu angin kencang ke arah dua pengawal tersebut.

PSSST.

Asap berbau sangat manis itu masuk ke dalam rongga hidung kedua pengawal bersenjata api tersebut hanya dalam sekejap mata.

"Asap apa ini? Mataku tiba-tiba terasa sangat berat," keluh pengawal pertama sambil menurunkan moncong senjata apinya tanpa sadar.

Pengawal kedua bahkan tidak sempat berbicara sepatah kata pun dan langsung menjatuhkan pistolnya ke lantai dengan mata mendelik ke atas.

BRUK BRUK.

Hanya butuh waktu tiga detik, kedua pengawal berbadan kekar itu jatuh pingsan dan mendengkur keras di atas lantai beton.

Rizky berjalan santai mendekati tubuh mereka sambil mengibaskan sisa asap kuning di udara menggunakan sebelah tangannya.

"Itu adalah debu ekstrak murni dari bunga kecubung gunung yang kucampur dengan getah jarak pagar rahasia," jelas Rizky seolah sedang mengajar di kelas botani kampus.

"Racikan itu bisa langsung melumpuhkan sistem saraf pusat manusia tanpa perlu repot-repot menggunakan peluru timah panas."

Hendra kini benar-benar kehilangan akal sehatnya melihat kedua pengawal terbaiknya tumbang menjadi patung tidur hanya dengan debu daun.

Pria tambun itu mengangkat pistol revolvernya dengan kedua tangan yang bergetar hebat dan menodongkannya tepat ke arah wajah Rizky.

"Jangan berani mendekat satu langkah lagi iblis, atau aku akan melubangi kepalamu sekarang juga," ancam Hendra dengan suara parau yang putus asa.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!