Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Kali Ini, Semuanya Berbeda
Vivi terbangun dengan jemari masih mencengkeram kemeja Sebastian.
Cahaya pagi masuk melalui tirai tatami. Hujan telah berhenti. Di sampingnya, Sebastian duduk bersandar pada dinding dengan mata terpejam, satu tangan tetap berada di bawah kepala Vivi sebagai bantal.
Ia belum pergi.
Ingatan semalam kembali sekaligus.
Rasa sakit. Aroma cedar. Tubuhnya melompat ke pelukan pria itu. Permintaan cium. Bibir Sebastian yang mengambil seluruh pikirannya sampai ia hanya mampu memanggil satu nama.
Sebas.
Wajah Vivi memanas sampai ke telinga.
Ia mencoba melepaskan kemeja tanpa membangunkannya. Baru satu jari terbuka, tangan Sebastian menutup pergelangannya.
Mata gelap itu terbuka.
“Mau ke mana?”
“Tidak ke mana-mana.”
“Kenapa melepaskan?”
“Tanganku pegal.”
Sebastian mengubah posisi, lalu menaruh telapak Vivi di dadanya lagi. “Begini.”
“Aku sudah tidak sakit.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu membuat udara pagi kembali terlalu hangat.
Vivi menatap bibir Sebastian, kemudian cepat-cepat mengalihkan mata. Bibirnya sendiri terasa sedikit nyeri. Bukan terluka, hanya bukti bahwa dua ciuman semalam bukan mimpi.
Ketukan terdengar dari pintu.
“Vivi?” suara Jocelyn memanggil. “Aku masuk bersama perawat. Tolong pastikan kalian berpakaian.”
Vivi langsung menjauh. Sebastian membiarkannya, meski sorot matanya jelas tidak senang pada gangguan tersebut.
Jocelyn masuk diikuti perawat perempuan. Tatapannya menyapu kemeja Sebastian yang kusut dan wajah Vivi yang merah.
“Syukurlah. Masih memakai jubah.”
“Joce.”
“Aku cuma memeriksa keselamatan.”
Perawat mengukur tekanan darah, nadi, suhu, dan kadar oksigen Vivi. Semua kembali normal. Ia mencatat bahwa tidak ada ruam atau sesak, lalu menyarankan sarapan, cairan cukup, serta istirahat sebelum perjalanan pulang.
“Kalau nyeri kembali, hubungi klinik dan jangan bepergian sebelum stabil,” pesannya.
“Baik. Terima kasih.”
Setelah perawat pergi, Jocelyn duduk bersila di tatami.
“Jadi, pelukanku benar-benar tidak berfungsi.”
Vivi mengangguk. “Aku juga tidak mengerti.”
“Tapi sentuhan Sebastian langsung bekerja.”
“Ya.”
Jocelyn memandang mereka bergantian. “Tubuhmu punya selera yang sangat mahal.”
Vivi menutup wajah. Sebastian justru menjawab datar, “Setidaknya seleranya benar.”
Jocelyn terdiam dua detik, lalu menoleh kepada Vivi. “Gunung esmu mulai bisa membalas.”
“Aku akan menyiapkan mobil,” kata Sebastian. Telinganya sedikit merah saat ia berdiri.
***
Sarapan diantar ke ruang privat agar Vivi tidak perlu melewati area umum dengan tubuh masih lemah. Sebastian memeriksa bubur, telur, buah, dan obat sebelum membiarkannya makan. Ia bahkan membuka tutup botol air dan menaruh sedotan dalam jangkauan.
“Aku bukan pasien anak-anak,” protes Vivi.
“Kemarin kamu hampir jatuh dua kali.”
“Hari ini sudah sehat.”
“Habiskan buburnya.”
Vivi melirik Jocelyn untuk meminta bantuan. Sahabatnya mengangkat kedua tangan.
“Aku sudah gagal sebagai obat. Jangan minta aku melawan satu-satunya obat yang bekerja.”
Menjelang siang, dua mobil menunggu di depan vila. Vincent berdiri bersama manajer resort, memastikan semua rekaman koridor layanan disimpan hanya untuk kebutuhan keamanan dan tidak ada foto Vivi beredar.
“Aku pulang dengan Joce,” katanya. “Kalian pakai mobil Gunawan.”
Jocelyn merangkul bahu Vivi. “Vivi boleh ikut aku kalau mau.”
Sebastian menegang, tetapi tidak menyela.
Ia memandang Vivi. Menunggu keputusan.
Inilah salah satu batas yang diterimanya: Vivi memilih sendiri kapan dan dengan siapa pulang.
“Aku ikut Sebastian,” putus Vivi. “Tapi kirim pesan kalau sudah sampai.”
Jocelyn tersenyum kecil. “Siap.”
Sebastian mengambil koper Vivi dengan satu tangan dan boneka beruang dengan tangan lain. Ia tidak menyerahkan keduanya kepada pengawal.
Di dalam mobil, Vivi duduk di kursi belakang di sampingnya. Sopir profesional mengambil kemudi karena Sebastian tidak tidur semalaman. Mobil pengawal mengikuti dari jarak aman.
Sebastian menaruh surat pulang klinik, air minum, dan alat pengukur oksigen di kantong kursi depan. “Lokasimu masih dibagikan kepada Jocelyn?”
“Masih.”
Vivi menunggu keberatan yang tidak datang.
“Bagus,” katanya. “Kirim juga nomor mobil ini agar dia tahu kendaraan mana yang membawamu.”
Vivi melakukan itu. Beberapa detik kemudian Joce membalas dengan emoji jempol dan pesan agar Sebastian tidak membawa mobil lebih cepat dari batas aman.
Sebastian membaca layar sekilas. “Sopir yang mengemudi.”
“Aku akan bilang padanya.”
Saat kendaraan menuruni jalan Puncak, Vivi memandang kabut yang perlahan tertinggal.
Hampir satu bulan lalu, ia terbangun kembali di malam kematiannya sendiri. Saat itu, masa depan tampak seperti lorong sempit dengan satu pintu bertuliskan cerai dan sangkar di baliknya.
Sekarang Celine sudah pergi berbulan-bulan lebih awal.
Sebastian telah mengirim uang tanpa diminta, menyerahkan pulau beserta kuncinya, bercerita tentang ruang bawah tanah, dan datang ke Puncak hanya karena mendengar Vivi kesakitan.
Semalam, Vivi sendiri yang menariknya untuk mencium.
Tak satu pun terjadi dalam kehidupan pertama.
Ia bukan lagi hanya seseorang yang menghindari akhir buruk. Setiap pilihannya menciptakan jalan yang belum pernah ada.
Ponselnya berdering.
Miss Regina.
Vivi mengangkat. “Selamat siang, Miss.”
“Maaf menelepon di akhir pekan. Pengacara sudah merevisi perjanjian. Lisensi hanya berpindah jika hasil juri independen sah, tidak ada pelanggaran, dan kedua pihak lulus pemeriksaan doping serta audit rekaman.”
“Bagaimana dengan video tanpa izin?”
“Tetap ditangani terpisah. Nadya wajib menaruh pendapatan konten dalam rekening penampungan sampai sengketa selesai.”
Joce ternyata sudah mengirim bukti tepat waktu. Regina dan pengacara tidak membiarkan tantangan panggung menghapus pelanggaran yang sudah terjadi.
“Festivalnya kapan?” tanya Vivi.
“Enam minggu lagi. Kalau kamu bersedia, pemeriksaan medis dan penilaian kondisi dimulai lusa. Kamu boleh mundur kapan saja jika dokter tidak mengizinkan.”
Vivi memandang tangannya sendiri. Tangan yang semalam mencari Sebastian kini perlahan mengepal.
“Aku bersedia.”
Sebastian menoleh.
“Aku akan menari untuk Miss,” lanjut Vivi. “Kirim jadwalnya. Kali ini kita pertahankan Angsa di Bawah Cahaya Bulan di panggung yang benar.”
Setelah panggilan berakhir, Sebastian bertanya, “Menari?”
“Aku akan menjelaskan setelah sampai rumah.”
“Ada risiko untuk kesehatanmu?”
“Ada pemeriksaan medis dulu. Aku tidak akan memaksakan tubuh.”
Ia mengangguk, tetapi tatapannya masih penuh pertanyaan.
Vivi mengalihkan mata ke jendela. Garis langit Jakarta mulai muncul jauh di depan.
“Nadya,” bisiknya, hampir tak terdengar. “Kali ini aku yang bergerak lebih dulu.”
***
Sebastian membuka ponsel ketika Vivi tertidur beberapa menit kemudian.
Foto semalam sudah masuk ke folder terenkripsi: Vivi yang terlelap di tatami, satu tangan masih menggenggam kemejanya. Wajahnya tenang, bibirnya sedikit merah.
Ia menatap foto itu, lalu perempuan yang tidur di bahunya.
Vivi berubah terlalu cepat.
Ia mengetahui bahaya sebelum terjadi, menyebut nama Celine sebelum pertemuan, dan mengambil keputusan seolah pernah melihat akibatnya. Sekarang ia menantang seseorang bernama Nadya dengan keyakinan yang sama.
Sebastian belum punya jawaban.
Ia hanya tahu perubahan itu membuat Vivi bergerak mendekat, bukan menjauh.
Untuk sementara, itu cukup.
Ia mengunci layar dan merapatkan boneka beruang di pangkuan Vivi, sementara mobil membawa mereka kembali ke Jakarta dan masa depan yang tidak lagi dikenali siapa pun.