NovelToon NovelToon
Penyesalan Sang CEO

Penyesalan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yuni Denara

Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Terbentang

Tiga hari pasca-kejadian di Pelabuhan Barat, kondisi fisik Keyra berangsur pulih. Warna pucat di wajahnya perlahan digantikan oleh rona alaminya yang semula, meski binar matanya masih menyimpan kabut kesedihan yang mendalam. Selama tiga hari itu pula, Devan Alister tidak pernah sekalipun meninggalkan sisi ranjangnya. Pria itu mengurus segala kebutuhan Keyra dengan tangannya sendiri—mulai dari menyuapi makanan, memastikan obat diminum tepat waktu, hingga menjaga Keyra saat tertidur di malam hari.

Namun, kehangatan yang coba Devan berikan justru berbenturan dengan dinding tak kasat mata yang kini dibangun oleh Keyra. Setiap kali Devan mencoba menggenggam tangannya atau menatap matanya, Keyra akan selalu membuang muka atau menarik diri secara halus. Keheningan di antara mereka berdua terasa jauh lebih menyiksa daripada rentetan tembakan di gudang tua malam itu.

Pagi itu, cuaca di luar jendela rumah sakit tampak sangat cerah. Keyra duduk di tepi ranjang, sudah mengenakan pakaian kasual rajut berwarna krem—bukan lagi gaun pengantin yang telah robek dan penuh darah. Di hadapannya, sebuah koper kecil berisi barang-barangnya sudah tertata rapi.

Devan yang baru saja kembali dari ruang administrasi melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya seketika terhenti saat melihat koper di atas lantai dan sosok Keyra yang tampak sudah bersiap untuk pergi. Jantung sang penguasa kota mendadak berdegup tak beraturan karena rasa cemas yang teramat sangat.

"Keyra... dokter bilang kamu memang sudah boleh keluar hari ini," ucap Devan, mencoba mengatur nada suaranya agar tetap terdengar tenang meski batinnya bergemuruh. "Mobil limosin sudah siap di lobi bawah. Kita akan pulang ke mansion utama. Aku sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sup hangat kesukaanmu."

Keyra perlahan berdiri, menatap koper di hadapannya sebelum akhirnya memberanikan diri memutar tubuh dan menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Devan. Tatapan mata Keyra kini tidak lagi dipenuhi amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah ketenangan yang dingin dan sarat akan jarak.

"Aku tidak akan pulang ke mansion utamamu, Devan," ucap Keyra, suaranya terdengar begitu jernih namun sangat menusuk hati Devan. "Aku akan kembali ke rumah susun lamaku. Tempat di mana aku memulainya sebelum bertemu denganmu."

"Kenapa, Keyra?!" Devan melangkah lebar, memperkecil jarak di antara mereka dan refleks mencengkeram kedua lengan Keyra dengan lembut namun penuh penekanan. "Kenneth sudah mendekam di sel isolasi tingkat tinggi. Semua orang yang terlibat dalam masa lalu ibumu sudah menerima ganjarannya. Mengapa kamu masih harus menghukumku dengan cara pergi dari sisiku? Pernikahan kita hanya tertunda, kamu masih istriku!"

Keyra tidak memberontak. Ia membiarkan tangan kekar Devan mencengkeram lengannya, namun ia menatap Devan dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. "Secara hukum dan di mata Tuhan, kita belum mengucapkan janji suci itu, Devan. Pernikahan itu gagal karena sebuah kebohongan besar."

Keyra menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang hendak luruh. "Aku tahu bukan kamu yang membunuh ibuku. Aku juga tahu kamu mempertaruhkan nyawamu di pelabuhan malam itu demi menyelamatkanku. Aku sangat menghargai dan berterima kasih untuk itu, Devan. Tapi... setiap kali aku melihat wajahmu, aku tidak bisa melupakan fakta bahwa kemegahan Alister Group yang kamu pimpin saat ini—harta yang awalnya ingin kamu bagikan bersamaku—sebagian di antaranya dibangun di atas pemerasan dan penguburan keadilan untuk ibu kandungku oleh ayahmu."

Kata-kata Keyra bagai hantaman gada berat yang menghancurkan seluruh keangkuhan Devan Alister. Cengkeraman tangan pria itu di lengan Keyra perlahan melemas dan terlepas. Devan berdiri mematung, menyadari bahwa dosa masa lalu ayahnya kini benar-benar menjadi penghalang terbesar di antara mereka.

"Aku butuh waktu, Devan," lanjut Keyra, suaranya melembut namun tetap tegas. "Aku butuh waktu untuk berdamai dengan kenyataan ini. Aku tidak bisa berpura-pura tersenyum dan hidup mewah di mansionmu sementara bayang-bayang ketidakadilan ibuku terus menghantuiku setiap kali aku melihat lambang keluarga Alister. Tolong... biarkan aku pergi untuk sementara waktu. Jika kamu memang mencintaiku seperti yang kamu katakan, jangan ikuti aku, dan jangan kerahkan pengawalmu untuk mengawasiku."

Devan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Rahangnya mengeras menahan gejolak emosi, antara ingin egois mengurung wanita itu di dalam mansinya agar tidak pergi, atau menuruti permintaannya demi menghormati luka di hatinya. Setelah keheningan yang panjang dan menyakitkan, Devan akhirnya memejamkan mata elangnya perlahan, lalu mengangguk lemah.

"Baik... jika itu yang bisa membuat hatimu jauh lebih tenang, aku akan membiarkanmu pergi ke rumah susun itu, Keyra," ucap Devan dengan nada suara yang teramat berat, seolah setiap kata yang keluar mengiris tenggorokannya sendiri. Pria itu kembali membuka matanya, menatap Keyra dengan binar pemujaan yang tidak akan pernah pudar. "Tapi ingat satu hal... aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku memberikanmu waktu dan jarak untuk menyembuhkan lukamu, bukan untuk melupakanku. Kursi di samping takhtaku akan selalu kosong sampai kamu sendiri yang datang untuk kembali mendudukinya."

Keyra tidak menjawab kalimat tersebut. Ia hanya mengangguk kecil, meraih pegangan kopernya, lalu melangkah perlahan melewati tubuh tegap Devan yang berdiri kaku. Saat pintu kamar perawatan VVIP itu tertutup rapat di belakang punggungnya, pertahanan Keyra runtuh; air matanya mengalir deras membasahi pipinya sepanjang jalan menuju lobi. Jarak kini telah resmi terbentang di antara sang penguasa kota dan ratunya, memulai sebuah babak baru tentang penyesalan, kerinduan, dan ujian cinta yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!