NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amara, ke ruangan saya sekarang

Rian biasanya adalah orang yang selalu serius, tetapi akhir-akhir ini dia sering mengatakan hal-hal seperti itu kepadaku. Hal itu membuatku merasa merinding, seolah-olah aku tanpa sadar telah melangkah masuk ke dalam sebuah perangkap yang sudah dipersiapkan oleh seseorang sejak lama.

Aku memaksakan sebuah senyuman tipis dan menjawab, "Aku tidak menyangka kalau Pak Bastian ternyata bisa bersikap se-perhatian ini."

Mendengar tanggapanku, Rian langsung terdiam, tampak kehilangan kata-kata untuk membalas.

Menurut penjelasan Rian tadi, aku akhirnya tahu kalau divisiku bisa mendapatkan fasilitas liburan ke luar negeri ini murni karena keberadaanku. Bastian sengaja merancang program ini untuk memberiku hadiah bulan madu yang tertunda tanpa memancing kecurigaan orang kantor.

Sebagai seorang wanita, meskipun pernikahan kami berawal dari situasi yang pelik, jauh di lubuk hatiku aku tetap tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa aku menyukai bentuk perhatian yang manis dan romantis seperti ini.

Setelah selesai membahas rekap data perjalanan, Rian bersiap untuk pamit. Namun tepat sebelum melangkah keluar dari ruanganku, dia mendadak berbalik dan berkata dengan suara setengah berbisik, "Amara, demi hubungan pertemanan kita selama ini, aku ingin memberi satu nasihat: jika saat ini kamu belum jatuh cinta pada Pak Bastian, mulailah belajar untuk menyukainya secara perlahan. Jika tidak, pada akhirnya kamulah yang akan paling menderita."

Tanpa menunggu respons atau jawabanku, Rian langsung berbalik dan melangkah pergi begitu saja.

Semua orang di kantor ini termasuk Bastian sendiri tahu kalau aku sangat menyukainya. Mereka semua mengira aku sudah terobsesi pada pria itu hingga tidak bisa berpaling lagi. Hanya Rian satu-satunya orang yang selalu memiliki pemikiran jernih mengenai situasiku.

Aku ingat betul saat hubunganku dan Bastian baru berjalan beberapa bulan, Rian pernah bertanya kepadaku secara blak-blakan setelah kami tidak sengaja minum bersama di sebuah acara.

Saat itu, setelah efek alkoholnya sedikit mereda, Rian menatapku lekat-lekat dan berkata, "Amara, apa kamu bertahan di samping Pak Bastian karena kamu benar-benar menyukainya? Tidak, kamu tidak menyukai Pak Bastian."

Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Lalu, apa kamu mengincar harta dan uangnya? Tidak, kamu sebenarnya juga tidak peduli dengan kekayaan yang dia miliki."

Menjadi orang yang terlalu pintar memang belum tentu menyenangkan. Contohnya seperti Rian. Meskipun hubungan profesional kami berjalan dengan baik, secara naluriah aku selalu berusaha menjaga jarak dan menghindar setiap kali harus berurusan dengannya, karena dia bisa membaca isi kepalaku dengan terlalu jelas.

Akibat kabar gembira mengenai undian liburan ke luar negeri tersebut, suasana kerja di divisi tempat ku bekerja terasa sangat santai dan penuh tawa sepanjang hari.

Aku memutar kursi kerjaku perlahan sambil menimang ponsel di tangan. Aku membuka aplikasi pesan instan, menatap foto profil Bastian yang berada di daftar obrolan teratas selama beberapa saat, lalu mengetik dua kata singkat: "Terima kasih."

Setelah menekan tombol kirim, pesan itu terkirim begitu saja. Aku sempat menunggu cukup lama di depan layar, namun tidak ada balasan apa pun dari Bastian.

Aku sudah mendampingi Bastian selama tiga tahun, atau tepatnya 1.095 hari. Selama kurun waktu tersebut, aku merasa diriku telah banyak berubah; dari yang tadinya hanya seorang gadis lulusan baru yang naif, kini menjadi lebih matang dan berpengalaman. Sikapku yang dulu selalu canggung dan pendiam di hadapannya pun kini berubah menjadi sedikit berani dan penuh tuntutan. Jika mau jujur, Bastian sebenarnya sudah memperlakukanku dengan sangat baik selama ini.

Namun seperti yang pernah dikatakan oleh Rian, aku bertahan di samping Bastian bukan karena landasan cinta, bukan juga karena tergiur oleh tumpukan hartanya.

Satu-satunya hal yang kuinginkan darinya adalah wajahnya; aku hanya mencari ketenangan dan pelarian bagi jiwaku sendiri.

Selama tiga tahun terakhir, aku menyimpan rahasia ini rapat-rapat di dalam hati dan tidak pernah berniat untuk mengungkitnya kepada siapa pun. Aku bahkan sudah mencoba sekuat tenaga untuk mengubur ingatan tentang hal itu, namun entah mengapa, akhir-akhir ini bayangan ingatan itu justru semakin sering muncul di kepalaku.

Selama empat tahun masa kuliah dulu, aku memiliki pacar bernama Rendy, dia pria yang sangat kucintai. Dia adalah kakak tingkatku di kampus dengan selisih usia beberapa tahun di atas-ku.

Rendy dan Bastian memiliki struktur wajah yang sangat mirip, hampir seperti buah pinang yang dibelah dua. Namun, kepribadian mereka berdua bagaikan bumi dan langit. Rendy adalah sosok pria yang lemah lembut, hangat, dan sangat gentle, sedangkan Bastian adalah pria yang dingin, kaku, dan selalu menjaga jarak dengan keangkuhannya.

Dua orang dengan karakter yang bertolak belakang, namun memiliki visual wajah yang nyaris identik.

Terkadang aku merasa takdir sedang mempermainkanku, sekaligus merasa bersyukur karena dipertemukan dengan Bastian di fase tergelap dalam hidupku. Jika waktu itu aku tidak bertemu dengannya, mungkin aku tidak akan punya kekuatan untuk bertahan hidup dan sudah mengakhiri hidupku sendiri tiga tahun lalu.

Lamunanku mendadak buyar saat sebuah notifikasi pesan singkat dari Bastian masuk ke ponselku: "Amara, ke ruangan saya sekarang."

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!