Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka Dibalik Kebenaran
Di ruang tengah Rumah Gadang yang luas dan sejuk, suasana berjalan hangat dan akrab. Di tengah ruangan yang dihiasi ukiran khas Minangkabau itu, Roy Arka Denta duduk bersila di antara tiga tetua utama marga Sikumbang: Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang, Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar, dan Datuk Rajo Alam Nan Gampo Chaniago. Sekeliling mereka duduk berderet para laki-laki dari keluarga besar marga Sikumbang, mulai dari yang tua hingga yang masih muda, semuanya berkumpul menyambut kedatangan Roy yang datang dari perantauan. Percakapan berjalan lancar, bercampur tawa dan cerita lama, seolah mengikat kembali tali persaudaraan yang sempat terpisah jarak dan waktu. Teh manis hangat dan kue-kue tradisional terhidang di atas tikar anyaman, menjadi saksi keakraban yang terjalin kembali di antara sesama keturunan leluhur yang sama.
Namun, di tengah suasana yang penuh kehangatan itu, ada kesedihan yang terpendam di hati setiap orang. Akhirnya, Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar— yang memegang amanah sebagai Penghulu Syarak dan dikenal sebagai sosok yang tenang serta bijaksana — membuka percakapan dengan nada yang berat dan bergetar. Tatapannya tertuju lurus kepada Roy, seolah ingin memastikan kebenaran yang selama ini hanya terdengar sebagai kabar samar.
“Nak Roy,” ucapnya perlahan, suaranya terdengar berat menahan gejolak batin.
“Kami mendengar kabar yang sangat menyedihkan dari kota tempat adikmu tinggal. Kabar itu menyebutkan bahwa rumah mereka terbakar habis, dan tak ada seorang pun yang selamat. Namun, banyak hal yang terasa janggal dan tidak masuk akal. Sebagai orang tua, dan sebagai kepala keluarga yang harus mengetahui kebenaran, kami memohon agar engkau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kebakaran itu benar-benar terjadi begitu saja, atau ada hal lain yang tersembunyi di baliknya? Kami ingin tahu sebab musabab yang menewaskan putra bungsuku, istri tercintanya, dan cucu kami yang masih berusia balita.”
Suasana yang tadinya riuh dan akrab perlahan berubah menjadi hening. Semua mata tertuju kepada Roy Arka Denta. Napas orang-orang di ruangan itu terasa tertahan, seolah takut mendengar jawaban yang akan disampaikan. Roy menunduk sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara yang pelan namun jelas, memaparkan hasil penyelidikan dan laporan forensik yang telah ia terima secara resmi.
“Saya mengerti keraguan Bapak dan seluruh keluarga,” mulai Roy, suaranya berat sarat kesedihan.
“Saya pun tidak percaya begitu saja saat pertama kali mendengar kabar itu. Oleh karena itu, saya meminta agar dilakukan pemeriksaan yang mendalam oleh tim ahli forensik untuk mengetahui penyebab pasti kematian mereka, bukan hanya berasumsi karena terbakar. Hasil pemeriksaan itu saya bawa ke sini untuk disampaikan secara jujur, meskipun kenyataannya sangat pahit untuk diterima.
Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan.
“Untuk korban pertama yang berhasil diidentifikasi berdasarkan sisa-sisa ciri-ciri fisik dan dokumen yang tersisa, adalah Arya Arsyad Sikumbang, putra bungsu Bapak. Dari hasil pemeriksaan mendalam pada bagian tengkoraknya, ditemukan tiga serpihan kecil proyektil peluru yang tertanam di bagian belakang kepala. Artinya, sebelum api berkobar, beliau telah mengalami luka tembak yang kemungkinan besar menyebabkan kematian seketika. Demikian pula dengan Nadya, cucu balita sekaligus keponakan kita. Meskipun tubuhnya telah rusak parah oleh panasnya api, ditemukan juga tanda-tanda benturan keras dan serpihan yang sama, menunjukkan bahwa nyawanya diambil sebelum kebakaran terjadi.”
Hening menyelimuti ruangan itu, namun kesedihan yang terpendam mulai terasa menekan. Roy melanjutkan penjelasannya dengan suara yang semakin parau:
“Sedangkan untuk korban kedua, yang tidak lain adalah adik kandung saya sendiri, istri Arya Arsyad. Pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya ditemukan tergeletak di atas meja makan. Meskipun kondisi ketiga korban sudah sangat sulit dikenali karena luka bakar yang parah, tim forensik menemukan bukti lain yang sangat memilukan. Terdapat indikasi kuat bahwa ia telah mengalami kekerasan seksual atau pemerkosaan sebelum tewas, karena ditemukan sisa cairan yang diduga sebagai air mani yang masih tersisa di dalam rahimnya, meskipun telah terpapar panas dan asap.”
Roy menatap sekelilingnya, menatap satu per satu wajah anggota keluarga yang terlihat terpukul, sebelum ia melanjutkan dengan nada yang penuh kekecewaan dan keprihatinan.
“Dan yang paling menyakitkan dari semuanya, sampai hari ini, pelaku pembunuhan dan kejahatan biadab itu masih berkeliaran dengan bebas di luar sana. Pihak berwajib belum mampu menemukan jejak yang jelas, seolah ada kekuatan yang menutupi segala kebenaran. Mereka berjalan bebas tanpa rasa takut, sementara nyawa keluarga kita telah hilang secara sia-sia.”
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, suasana di dalam Rumah Gadang seolah berubah seketika. Keheningan yang semula terasa berat kini dipecahkan oleh isak tangis yang mulai terdengar, satu per satu membesar menjadi ratapan kesedihan yang mendalam. Para wanita dari keluarga besar marga Sikumbang yang duduk di bagian belakang ruangan tidak mampu lagi menahan perasaan mereka. Air mata mengalir deras di pipi mereka, disertai suara tangis yang menyayat hati.
Di antara mereka, Nenek Siti Aminah Sikumbang, istri dari Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar dan nenek dari korban, terlihat terdiam mematung. Matanya terbelalak lebar, seolah tidak percaya mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan. Tubuhnya yang sudah tua dan ringkih bergetar hebat, napasnya terengah-engah seolah tercekik oleh rasa sakit yang luar biasa. Beberapa saat kemudian, matanya perlahan terpejam, kakinya lemas tak bertulang, dan seketika ia terjatuh pingsan ke lantai.
“AMAK-AMAK(Ibu)!” teriak Arlan Rasyad Sikumbang yang berada tidak jauh dari tempat duduk ibunya.
Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari mendekat, berjongkok, dan dengan hati-hati menggendong tubuh ibunya yang lemah itu. Wajahnya tampak cemas bercampur sedih. Ia segera berjalan cepat menuju kamar di bagian dalam rumah, membaringkan tubuh ibunya yang tak sadarkan diri di atas tempat tidur, sambil berusaha menenangkan diri agar dapat merawatnya.
Sementara itu, di tempat duduk para tetua, Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar masih terdiam mematung. Tangannya yang tua dan keriput erat menggenggam seutas tasbih dari kayu cendana yang selalu ia bawa ke mana-mana. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya yang keriput, jatuh membasahi jubah adat yang ia kenakan. Ia tampak seolah tidak mampu mempercayai kenyataan pahit yang baru saja didengarnya — bahwa putra bungsu yang sangat ia sayangi, cucu yang masih kecil, dan menantu yang ia anggap seperti anak sendiri, telah meninggal dunia bukan karena musibah biasa, melainkan karena kejahatan yang kejam dan biadab, sementara pelakunya masih bebas berkeliaran. Bibirnya terus bergerak perlahan, mengucapkan lafaz dzikir dan doa dengan suara yang lirih, memohon ketabahan dan perlindungan bagi arwah keluarga yang telah tiada.
Di sekelilingnya, ratapan semakin menjadi-jadi. Beberapa wanita menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang histeris memukul-mukul dada sendiri karena rasa sedih dan marah yang bercampur aduk. Suasana yang tadinya penuh keakraban kini berubah menjadi lautan kesedihan yang mendalam.
Melihat kondisi saudaranya yang terlarut dalam duka, Datuk Rajo Alam Nan Gampo Chaniago dan Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang — dua tetua lainnya — segera bergerak mendekat. Mereka menepuk pelan bahu Datuk Rajo Alam Nan Sati, mencoba menenangkan hati saudaranya itu.
“Bersabarlah, saudaraku,” ujar Datuk Nan Gampo dengan suara lembut namun tegas.
“Ini memang cobaan yang sangat berat, namun kita harus tetap teguh. Kebenaran telah terungkap, dan sebagai keluarga yang memegang teguh adat dan syariat, kita harus mencari keadilan bagi mereka yang telah menjadi korban kejahatan yang kejam ini.”
Datuk Nan Cadiak pun mengangguk setuju, menambahkan.
“Air mata boleh mengalir sebagai tanda kasih sayang, namun akal dan hati harus tetap terjaga. Kita harus tahu siapa pelakunya, dan memastikan bahwa kejahatan ini tidak dibiarkan begitu saja. Tetaplah bersabar, karena hanya dengan kesabaran kita dapat berpikir jernih untuk menentukan langkah selanjutnya.”
Di tengah ratapan dan tangis yang masih terdengar di segenap penjuru Rumah Gadang, ketiga tetua itu duduk berdampingan. Di hati mereka, kesedihan mendalam bercampur dengan tekad yang mulai tumbuh: untuk mengungkap kebenaran sepenuhnya, dan memastikan bahwa nyawa keluarga mereka tidak gugur dengan sia-sia.