NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka di Surabaya

POV Kinasih

Langkah demi langkah aku melangkah keluar dari apartemen ini, tempat yang selama enam bulan terakhir menjadi surga dan sekaligus neraka bagiku. Setiap jengkal tanah yang aku pijak terasa berat, seolah kakiku ingin menancap di tempat dan tidak mau beranjak pergi. Tapi hatiku berkata, aku harus pergi, karena di sini tak ada lagi tempat untukku.

Semalam, saat kata-kata itu terucap dari bibirnya—“Kinasih… mulai hari ini aku ceraikan kamu dengan talak satu…”—rasanya seluruh duniaku hancur seketika. Seperti ada ribuan belati tajam yang menusuk tepat di jantungku, membuat napasku terasa tercekat dan nyawaku serasa melayang. Aku tahu ini akan tiba, aku sudah mempersiapkan hatiku berbulan-bulan lamanya, tapi kenyataannya tetap terasa jauh lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah aku bayangkan.

Aku berlari masuk ke kamar ini, menjatuhkan diri di atas ranjang tempat kami berbagi kehangatan, cinta, dan tawa. Aku menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala rasa sakit yang terpendam, sampai rasanya tak ada lagi air mata yang tersisa di mataku. Namun di tengah kesedihan yang meluap itu, ada satu hal yang membuatku harus bangkit dan menahan diri—ada nyawa kecil yang kini tumbuh di dalam rahimku, darah daging dari laki-laki yang baru saja menceraikanku.

Aku mengelus perutku yang masih rata, air mataku kembali mengalir deras. Tadi pagi, bahkan semalam, aku sudah bersiap dengan segala harapan. Aku mengenakan gaun merah maroon kesukaannya, berdandan secantik mungkin, berniat menjadikan kabar kehamilan ini sebagai hadiah terindah untuknya, sebagai tanda bahwa cinta kami tidak berakhir begitu saja. Aku ingin melihat matanya bersinar gembira, ingin mendengar suaranya memanggilku dengan penuh bangga… tapi semua itu hancur sebelum sempat terucap.

Apa gunanya aku memberitahunya sekarang? Ketika kata cerai sudah terucap, ketika ikatan kami sudah putus, ketika dia sudah memiliki jalan hidup lain dan wanita lain yang menunggunya? Aku tak mau dia merasa tertekan, tak mau anak ini nantinya hanya dianggap beban atau alasan untuk dia kembali padaku hanya karena rasa kewajiban semata. Aku ingin anakku lahir dengan harga diri yang tinggi, bukan sebagai buah dari perpisahan.

Dengan tangan gemetar, aku melipat satu per satu pakaianku, memasukkannya ke dalam tas sambil terbayang setiap momen kami di sini, tawa, canda, pelukan, dan ciuman yang terasa begitu nyata kemarin malam. Aku meletakkan surat dari dokter kandungan itu di atas meja rias, bukan untuk memaksanya kembali, tapi hanya sebagai tanda bahwa dia berhak tahu kenyataan ini suatu hari nanti, jika takdir mengizinkan.

Saat aku melangkah keluar dan menutup pintu apartemen ini rapat-rapat, rasanya aku sedang menutup satu babak terindah sekaligus terpedih dalam hidupku. Aku berjalan menyusuri malam dengan membawa dua beban sekaligus: luka di hatiku yang mungkin takkan pernah sembuh, dan harapan baru yang mulai berdenyut lembut di dalam rahimku.

“Maafkan aku, Mas… Kinasih tak memberitahu karena tak mau menambah beban di hatimu. Kini, Kinasih akan membesarkan anak kita sendirian. Kinasih janji, akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga. Terima kasih untuk satu tahun cinta yang tak akan pernah Kinasih lupakan selamanya…”

Dengan langkah yang goyah tapi hati yang mulai mencoba menguat, aku melangkah pergi menjauh, meninggalkan segalanya, termasuk cinta terbesarku, demi menjaga kehormatan diriku dan masa depan anakku yang akan lahir ke dunia ini.

Setelah meninggalkan apartemen itu, Kinasih menyelesaikan semua urusan dan dokumen kelulusannya di Jakarta dengan kecepatan yang tak biasa. Ia ingin segera menjauh dari tempat yang penuh dengan kenangan menyakitkan itu, ingin menghapus setiap jejak yang mengingatkannya pada Kenan, meskipun ia sadar, hatinya takkan pernah benar-benar bisa melupakan.

Tak lama kemudian, ia pun berangkat pulang ke Bandung bersama Ibu dan Kakak kandungnya. Di rumah yang tenang dan penuh kasih sayang itu, Kinasih berusaha sekuat tenaga berperan sebagai putri dan adik yang ceria. Selama satu minggu penuh, ia mencoba menyibukkan dirinya dengan berbagai hal, berharap waktu bisa menghapus rasa sakit yang menggerogoti hatinya.

Namun ia tak pernah sekalipun membuka mulut untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tentang pernikahannya, perceraiannya, apalagi rahasia kehamilan yang ia bawa. Ia tak sanggup melihat air mata ibunya, tak ingin menambah beban pikiran keluarga, dan tak ingin dicemooh atau dikasihani. Semua luka, semua kesedihan, semua ketakutan, ia kubur rapat-rapat di dalam hatinya, memikulnya sendirian dengan tabah.

Ia sadar, ia harus melangkah maju untuk dirinya sendiri dan untuk nyawa kecil yang kini bergantung padanya. Maka, tanpa memberitahu rencananya lebih dulu, Kinasih mengirimkan lamaran pekerjaan ke berbagai rumah sakit di luar kota, berniat memulai hidup baru yang jauh dari segalanya.

Tak lama kemudian, kabar baik datang, ia diterima bekerja sebagai dokter jaga di bagian UGD Rumah Sakit Sentral Medika Surabaya.

Mendengar kabar itu, Kinasih merasa sedikit lega sekaligus sedih. Lega karena akhirnya ia memiliki alasan yang kuat untuk pergi, memulai lembaran baru di tempat yang jauh, tempat di mana tak ada seorang pun yang mengenalnya. Sedih karena ia harus meninggalkan keluarga tercinta, tapi itu adalah harga yang harus ia bayar untuk menjaga rahasianya dan melindungi masa depan anaknya.

Dengan keputusan yang bulat, Kinasih mulai bersiap berangkat ke kota baru itu, membawa tas pakaian, surat-surat penting, luka di hatinya, dan harapan baru yang kini tumbuh semakin kuat di dalam rahimnya.

Sementara Kinasih mulai membangun hidup barunya jauh di kota lain, di Jakarta segala persiapan akhirnya selesai juga. Kenan pun melaksanakan pernikahannya dengan Kamila Miler, digelar secara sangat megah dan mewah, dihadiri oleh para pejabat penting, pengusaha, dan kerabat terhormat dari dua keluarga besar.

Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua orang, melainkan menjadi ikatan yang memperkuat kerja sama dan menggabungkan dua perusahaan raksasa yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masing-masing pihak. Dari luar, semua orang memuji pernikahan yang dianggap paling sempurna dan menguntungkan itu. Namun tak ada satu pun yang tahu, di balik kemegahan itu tersembunyi hati yang hancur dan jiwa yang sudah mati rasa.

Malam pertama pun tiba. Di kamar pengantin yang dihias sangat indah dan mewah, hanya ada keheningan yang dingin. Kenan duduk diam di ujung ranjang, wajahnya datar tanpa ekspresi, pikirannya melayang jauh hanya pada satu nama, Kinasih.

Sementara itu, Kamila yang sudah mengenakan gaun tidur yang sangat seksi dan menggoda, mendekati suaminya dengan senyum manja. Ia berusaha mendekap leher Kenan, mencium pipi dan lehernya, berusaha membangkitkan gairah suaminya seperti yang ia bayangkan.

Namun setiap sentuhan dan godaan yang dilakukan Kamila justru membuat Kenan merasa semakin muak dan jijik. Ia seolah tersengat setiap kali kulitnya bersentuhan dengan wanita lain selain Kinasih. Tanpa ragu sedikit pun, Kenan menepis tangan Kamila dengan kasar dan menjauhkan tubuhnya, berdiri menjauh sambil menatap wanita itu dengan pandangan yang sangat dingin dan tajam.

“Jangan pernah menyentuhku lagi,” ucap Kenan dengan suara datar namun menusuk.

Kamila terkejut dan merasa sakit hati. “Kenapa, Mas? Kita sudah menjadi suami istri, wajar saja kalau aku mendekati suamiku sendiri. Apa salahku?” tanyanya dengan suara manja yang mulai bergetar.

Kenan menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke mata Kamila, mengucapkan semuanya dengan jujur dan tegas tanpa menyisakan ruang bagi harapan sedikit pun.

“Dengarkan baik-baik, Kamila. Aku menikah denganmu bukan karena cinta, bukan karena keinginanku, melainkan semata-mata hanya untuk kepentingan bisnis dan kesepakatan antar keluarga. Di dalam pernikahan ini, tidak akan pernah ada kasih sayang, tidak akan pernah ada keintiman, dan yang paling penting, tidak akan pernah ada hubungan fisik apa pun di antara kita. Jangan pernah berharap lebih dari itu, karena hatiku sudah mati dan sudah dimiliki oleh wanita lain selamanya.”

Mendengar kata-kata yang begitu kejam dan tegas itu, hati Kamila hancur seketika. Air matanya langsung tumpah membasahi pipinya, rasa malu dan sakit hati meluap bersamaan. Ia mengangkat wajahnya dengan amarah yang meledak.

“Kau jahat sekali, Kenan! Bagaimana bisa kau memperlakukanku seperti ini? Kalau begitu aku akan mengadukan semua ini ke Papaku dan ke ayahmu! Biar mereka tahu betapa kejamnya kau padaku!” teriak Kamila sambil menangis tersedu-sedu.

Namun Kenan hanya tersenyum sinis, tanpa rasa takut sedikit pun. Ia justru melangkah mendekat lagi, suaranya semakin dingin dan menantang.

“Silakan saja. Pergilah, adukan semuanya kepada Papa dan ayahmu. Beritahu mereka apa pun yang kau mau. Tapi ingat satu hal, kalau kau benar-benar melakukannya, itu artinya kau sudah membuka jalan untukku mengucapkan satu kata saja. Kata itu adalah talak. Aku akan menceraikanmu seketika, tanpa ragu dan tanpa penyesalan. Jadi putuskanlah, kau ingin tetap menjadi istriku yang takkan pernah mendapatkan apa-apa, atau ingin segera berpisah dan bebas dariku?”

Kalimat itu membuat Kamila terdiam mematung. Air matanya masih mengalir, tapi ia sadar, Kenan benar-benar berani melakukannya. Ia terjebak dalam situasi yang menyakitkan, tetap tinggal dalam pernikahan hampa ini, atau pergi dan mengakui kekalahannya sepenuhnya. Malam itu pun berakhir dalam keheningan yang sangat dingin, di mana Kenan tidur terpisah di sofa, memikirkan istrinya yang sebenarnya dan anaknya yang belum ia temui.

Di tengah kesibukannya menjalani pernikahan yang hampa dan tetap memegang jabatan sebagai CEO utama di perusahaan milik Papanya, Kenan diam-diam menyusun rencana besar yang hanya diketahui dirinya seorang. Ia tak ingin selamanya terikat dan dikendalikan oleh kekuasaan serta ancaman Papanya, terlebih kini ia sudah mengetahui bahwa ia memiliki anak yang harus dijaga dan diberi kehidupan yang layak.

Dengan hati yang bulat, Kenan mulai mendirikan perusahaan miliknya sendiri secara rahasia. Ia menjalin kerja sama dengan sahabat karibnya sejak masa kuliah di Australia dulu, seorang pengusaha muda yang cakap dan dapat dipercaya sepenuhnya, bernama Yudha Pratama.

Yudha yang sudah mengetahui seluruh kisah hidup, penderitaan, dan kesetiaan Kenan pada cinta sejatinya pun tanpa ragu menyetujui kerja sama itu. Ia sepakat untuk menjadi orang yang menjalankan dan mengawasi seluruh operasional perusahaan tersebut dari depan, sedangkan nama Kenan sengaja disembunyikan agar tak ada yang mencurigai, apalagi keluarga Hartmann.

Kenan tetap menjalankan tugasnya di perusahaan milik Papanya seperti biasa, hadir setiap hari, mengambil keputusan strategis, dan bertindak seolah tak ada yang berubah. Namun di balik layar, ia terus memantau perkembangan perusahaannya sendiri, menyuntikkan modal dan ide-ide cerdas agar usahanya itu tumbuh pesat dan kuat.

“Terima kasih, Yudha. Hanya kaulah satu-satunya orang yang bisa kupercaya saat ini,” ucap Kenan suatu hari saat bertemu secara rahasia dengan sahabatnya itu.

Yudha menepuk bahu Kenan dengan senyum penuh pengertian. “Tenang saja, Nan. Anggap ini juga milikku. Selama aku memegang kendali, perusahaan ini akan aman dan terus berkembang. Suatu saat nanti, saat kau sudah bebas dari semua ikatan ini, kau bisa mengambil alih sepenuhnya dan kembali pada wanita serta anakmu. Aku hanya menahannya sementara untukmu.”

Kenan mengangguk dalam, rasa terima kasihnya tak terhingga. Ia tahu, ini adalah langkah pertamanya untuk membebaskan dirinya, membuktikan kemampuannya sendiri, dan suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, ia akan memiliki kekuatan untuk datang kembali, meminta maaf, dan mempersatukan kembali keluarga kecilnya yang sempat terpisah itu.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!