NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Bab 15: Kejadian Tak Terduga di Pagi Hari

Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat celah jendela kamar,

menerangi ruangan dengan cahaya lembut.

Udara pagi yang sejuk berhembus perlahan,

membawa aroma tanah basah dan bunga dari halaman rumah.

Entah apa yang akan terjadi nanti,

saat Gilang mengetahui bahwa mantan kekasihnya, sekarang menjadi ibu tirinya !

Arga sudah terbangun lebih dulu,

Tetapi ia belum beranjak dari tempat tidur.

Ia hanya berbaring miring,

menatap wajah istrinya yang masih terlelap dengan damai.

Tidak akan ku biarkan siapapun merebutnya.

bibirnya tanpa sadar tersenyum begitu saja,

melihat betapa cantiknya Diana meski dalam keadaan tidur.

Dengan gerakan sangat pelan,

Arga mendekatkan wajahnya.

Gerakan nya begitu hati-hati, karena takut membangunkan istrinya.

Ia mencium dahi Diana, cukup lama.

lalu turun ke kedua kelopak matanya,

turun lagi ke hidung mungil,

dan akhirnya mendarat lembut di bibir gadis itu lalu sedikit melumatnya.

Bibir ini membuatku kecanduan. Kenapa rasanya begitu manis.

Arga kembali tersulut gair*h, tubuh bagian sensitif nya menegang.

Ihhhh.... Arga nakal yah...

Diana mengerjapkan matanya perlahan,

Ia tersadar dari tidurnya karena merasa ada yang menggerayangi nya.

Dan ternyata, pelakunya adalah suami matang nya yang tampan dan perkasa.

Begitu melihat wajah Arga yang sudah sangat dekat, wajahnya langsung memerah seketika.

Ahhh Diana malu mengingat kejadian semalam..

“Mas… udah pagi ya?” bisiknya dengan suara serak khas baru bangun tidur.

Tubuhnya terasa remuk, pinggang nya sakit.

Aku tidak menyangka suami Tua-ku sekuat itu.

Arga tersenyum menggoda,

lalu mencium bibirnya sekali lagi, lebih lama dari sebelumnya.

"Mass.. Aku belum gosok gigi" Ujar Diana malu

“Pagi, Sayang. rasanya manis, aku suka" Bisik Arga mesra

Tangannya mengusap lembut rambut dan pipi Diana.

“Kamu tahu? Pagi ini terasa lebih indah.

Bahkan sinar matahari pun kalah terang dari senyuman mu.

Jika cinta itu bisa diukur, mungkin aku sudah kehabisan angka untuk menghitung seberapa besar perasaanku padamu.”

Gombalan itu keluar begitu saja dari mulut Arga,

terdengar tulus dan memabukkan.

Wajah Diana makin memerah, ia menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.

“Mas ini… belajar dari mana ? Pagi-pagi udah gombal” gumamnya malu, tapi hatinya meluap-luap bahagia.

"Tapi kamu suka kan?" Goda Arga

Tangannya mencolek dagu istrinya, lalu mengedipkan mata.

"Apaan sih" Ujar Diana malu-malu kucing.

Arga terus menggoda istrinya, sampai membuat Diana kewalahan.

"Aku mau ke kamar mandi dulu!" Diana bangun.

Tapi tubuhnya kaku dan pegal-pegal.

Dan juga area bawahnya masih terasa sakit saat di gerakan.

Arga yang menyadari itu, langsung berinisiatif memijat pelan pinggang istrinya.

"Masih sakit? Maaf yah, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi" Ujar Arga dengan nada sedikit menyesal

Diana sangat menikmati pijatan suaminya, perlahan rasa sakit nya semakin berkurang.

"Gapapa, Mas. Tapi lain kali, apakah bisa di peringkat ?" Ujar Diana pelan, sedikit malu mengatakannya.

Tapi mau bagaimana lagi, mereka melakukannya hampir semalaman, membuat Diana hampir menyerah.

"Aku minta maaf yah ! Tapi aku tidak bisa janji untuk itu" Bisiknya

Diana menoleh, lalu menepuk pelan pundak suami nakalnya.

"Habisnya kamu bikin candu!" Bisik Arga lagi

Tetapi,

Beberapa saat kemudian, momen manis mereka harus terganggu,

tiba-tiba ponsel Arga berdering ,

Arga menghela napas panjang,

raut wajahnya berubah sedikit kesal.

"Siapa yang mengganggu se-pagi ini!" ujarnya

Ia meraih ponsel itu, dan begitu melihat nama yang tertera di layar,

kesalnya makin bertambah.

Itu Gilang.

"Gilang!" Gumamnya pelan.

Diana mendengar itu, sedikit menegang.

Tetapi Arga mengelus pundaknya,

"Tidak akan terjadi apa-apa, percaya sama aku!" Ujarnya

Diana mengangguk dan tersenyum.

"Kamu angkat aja, aku gapapa kok" Ujar Diana

Dia sadar, bahwa suatu hari nanti.

Pasti akan ada saat dimana mereka bertemu.

dan itu pasti terjadi.

Maka dari itu, mulai hari ini, Diana akan berdamai dengan keadaan.

Melupakan semua masa lalu nya dengan Gilang, dan memulai hidup baru dengan suaminya.

Dia bertekad dalam hati, bahwa apapun yang terjadi, dia sudah sangat siap.

Arga mencium pipi Diana lalu beralih kembali pada ponselnya.

Arga mengangkat panggilan itu dengan nada dingin.

“Ada apa pagi-pagi sudah menelpon ayah?”

“Kenapa nada bicara Ayah begitu?

Aku mau tanya soal rencana pernikahanku dengan Clara.

Sudah sampai mana? Aku ingin segera menetapkan tanggalnya,” suara Gilang terdengar tidak sabar dan mendesak dari seberang sana.

"Ayah sudah katakan -

Belum sempat Arga menjawab panjang lebar.

Diana yang melihat suaminya mulai terlihat kesal,

tiba-tiba terlintas di kepalanya untuk berbuat iseng.

Ia mendekatkan wajahnya ke leher Arga,

lalu mencium lembut bagian tengkuk yang menjadi bagian sensitif itu.

Arga langsung meremang sekuat tenaga,

napasnya terasa tercekat.

Pandangannya beralih ke Diana yang sedang menatapnya dengan mata nakal.

"Kamu nakal sayang" Bisik Arga menggelitik pinggang ramping istrinya.

Diana tertawa pelan, dan suaranya terdengar oleh Gilang di sebrang telepon.

"Ayah, suara siapa itu?" Tanya Gilang dengan suara nge-gas.

Diana terdiam, tetapi Arga tidak peduli.

Tanpa pikir panjang, Arga langsung menekan tombol untuk mematikan panggilan itu secara sepihak,

lalu membuang ponselnya sembarangan ke sisi tempat tidur.

"Ayah, Siapa itu ?" Tanya Gilang lagi, tapi panggilan sudah terputus.

Di seberang sana, Gilang meradang.

“Hah?! sejak kapan ayah dekat dengan wanita?!” geramnya kesal, lalu melempar ponselnya ke meja.

Sementara itu,

di dalam kamar, Arga langsung membalikkan posisi tubuh Diana,

menindihnya dengan lembut namun tetap menahan berat badannya,

Matanya memandang tajam namun penuh godaan.

“Wah, berani sekali istriku ini, mengganggu suaminya saat sedang bicara di telepon,” bisiknya dengan suara rendah dan berat.

Diana tertawa kecil, lalu memeluk leher Arga. “Siapa suruh Mas bicaranya dingin begitu terus mukanya terlihat kesal. Aku hanya ingin menghibur suamiku saja.”

Diana tersenyum menggoda.

“Kalau begitu, hukuman apa yang pantas untukmu?” goda Arga,

lalu mulai mencium seluruh wajah dan leher Diana berulang kali,

membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak sambil berusaha menghindar.

"Mass... Geli"

Suara tawa mereka terdengar cukup keras,

sampai menembus dinding kamar dan terdengar jelas sampai ke dapur,

Pak Joko dan Bu Lestari yang sedang duduk santai di meja makan, sambil minum teh.

Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum lebar.

“Alhamdulillah… ya pak, Diana sekarang terlihat sangat bahagia.

sangat jarang kita mendengar dia tertawa sebahagia ini,” ujar Bu Lestari dengan mata berkaca-kaca karena haru.

“Benar, Bu. Kita tidak salah merestui mereka.

Nak Arga terlihat sangat menyayangi putri kita.

Semoga kebahagiaan ini terus mereka rasakan selamanya,” jawab Pak Joko sambil mengangguk puas.

Namun kebahagiaan itu seketika terhenti ketika terdengar suara

“BRUKK!!!”

suara itu terdengar sangat keras dan menggema dari dalam kamar.

Seolah ada benda besar yang jatuh dengan keras.

Wajah kedua orang tua itu seketika berubah pucat panik.

“Astaga! Suara apa itu?!” seru Bu Lestari.

Mereka berdua segera berdiri dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu kamar.

Tetapi...

Sebelum sempat mereka mengetuk, pintu itu sudah terbuka dari dalam.

"Eh ... Ibu"

Diana berdiri di depan pintu dengan wajah yang memerah padam,

menyembunyikan senyum malu yang tak bisa ditahan.

Di belakangnya, muncul Arga yang berdiri sedikit miring,

menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan senyum yang terlihat sangat konyol dan sedikit malu.

“Kalian… tidak apa-apa kan? Suara apa tadi itu?” tanya Pak Joko dengan nada cemas.

Arga tertawa canggung, lalu tangannya menunjuk ke belakang.

“Itu… eh… sebenarnya… ranjangnya… ambruk.”

Mata kedua orang tua itu melongo,

lalu melihat ke dalam kamar.

Benar saja,

tempat tidur kayu yang sudah tua itu kini miring ke satu sisi,

kakinya patah karena tidak kuat menahan beban dan gerakan mereka tadi.

Seperti nya begitu.

Seketika itu juga, Pak Joko dan Bu Lestari tertawa terbahak-bahak mendengar kejadian lucu itu.

“Wah, ternyata ranjangnya sudah tua dan lemah.

Maafkan Bapak, Nak Arga, Bapak tidak menyangka ia akan roboh secepat ini,” ujar Pak Joko sambil masih tertawa.

“Tidak apa-apa, Pak. Justru saya yang harusnya meminta maaf, karena sudah merusak ranjangnya,” jawab Arga sambil tersenyum lebar,

lalu melirik Diana yang sudah menunduk malu sampai ke ujung kaki.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!