SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 SEPASANG BANDO PUTIH MOTIF PINK
Mas Anto yang sudah mendengar sedikit cerita Salsa itu, kembali berusaha menenangkan dan memberikan nasihatnya.
"Dek Salsa..."
"Iya Om?"
"Sabar ya, dan kamu harus tetap jadi teman yang baik buat keponakan Om." ucap Mas Anto.
"Emm, iya Om..." jawab Salsa.
Sejenak, Salsa terlihat berpikir, kemudian ia bertanya pada Mas Anto...
"Om, boleh gak sih kalo aku bales teman-teman lain yang suka ledekin dan katain Gendis?"
"Emm... Lebih baik jangan ya Dek Salsa." jawab Mas Anto tenang.
"Kenapa Om? Kan mereka udah berbuat jahat sama Gendis."
"Iya... Tapi, kalo kamu mau bela Gendis, boleh. Asal kamu jangan bales dengan kelakuan yang sama ya." pinta Mas Anto.
"Tapi, kenapa emangnya Om?"
"Kalo kamu bales, terus apa bedanya kamu sama teman lain yang jahat itu?"
"Maksudnya gimana Om? Aku gak ngerti..."
"Maksudnya gini, kalo kamu berbuat jahat juga buat bela Gendis, berarti kan kamu sama jahatnya seperti teman kamu yang lain itu, iya kan?"
"Oooh... Gitu ya Om..."
"Hehehe... Iya... Kamu bisa ngerti kan sekarang?"
"He'em Om..." jawab Salsa sambil mengangguk cepat.
Dan Mas Anto pun tersenyum. Dalam hatinya, Salsa ini bukan seperti anak kelas 5 SD biasa, dia terlihat jauh lebih dewasa pola pikirnya di mata Mas Anto.
"Oh iya Om, aku kelupaan..." tambah Salsa.
"Emm? Apa tuh?"
"Ini Om, tadi aku bawain Gendis buah jeruk."
"Oooh... Iya. Terima kasih ya Dek Salsa. Kamu beli pake uang sendiri?"
"Hehe... Enggak sih Om. Aku cuma pake sedikit uangku buat beli jeruk ini, sisanya ditambahin sama Ayah aku."
"Waaah... Om titip pesan buat Ayahmu ya, bilang terima kasih dari Gendis."
"Hehe... Iya Om."
Saat mereka berdua masih mengobrol di sofa ruang tamu itu, tiba-tiba Gendis keluar kamar. Dan ia terlihat sedang berdiri di dekat tangga lantai 2.
"Eh, Gendis? Kamu udah bangun?" tanya Salsa saat melihat temannya itu.
"Salsa?" respon Gendis, sambil terlihat senyuman di bibirnya.
"Iya, aku kesini Gendis. Mau jengukin kamu." jawab Salsa.
"Gendis, kamu di kamar aja ya. Gak usah turun dulu, biar Om sama Dek Salsa yang ke kamarmu." ucap Mas Anto kemudian.
"Iya Pakde..."
.....
.....
Saat Mas Anto dan Salsa sudah berada di kamar Gendis, langsung terlihat kembali sebuah pemandangan yang amat menyentuh hati Mas Anto.
Salsa tampak sangat peduli dengan Gendis. Ia sampai mengelap keringat Gendis yang keluar di dahinya dengan menggunakan tisu.
Dan tak cukup sampai disitu, Salsa sampai membantu mengupas jeruk yang tadi dibawa oleh Mas Anto dan juga dirinya. Mereka berdua pun malah sempat saling bergantian menyuap jeruk.
Sangat terlihat bahagia wajah Gendis mendapat perlakuan yang begitu baik dari seorang teman seusianya itu.
Sampai akhirnya...
Ketika beberapa jeruk yang dibawa ke kamar Gendis sudah habis oleh mereka berdua...
Kembali terlihat pemandangan yang amat indah bagi Mas Anto...
.....
.....
"Eh iya, aku bawa sesuatu loh..." ucap Salsa yang kini masih duduk di atas kasur, tepat menghadap Gendis.
"Eh, bawa apa kamu Salsa?" tanya Gendis penasaran.
"Tutup dulu dooong matamuuu... Hihihi..." ucap Salsa, seolah-olah di mata Salsa, Gendis itu bisa melihat.
Dari sini, Mas Anto sudah mulai berkaca-kaca ke dua matanya...
"Eeeh... Aku kan gak liat loooh..." jawab Gendis.
"Iiihhh... Udaaah, tutup matamu duluuu... Hihihi..." Salsa sedikit memaksa sambil bercanda ringan.
"Iya deeeh... Aku tutup mata niiih..." jawab Gendis, seketika ia langsung menutup ke dua matanya.
Dan...
Ternyata...
Tanpa diketahui oleh Mas Anto sebelumnya...
Di baju Salsa yang lebih mirip dengan model gaun itu, ternyata ada sebuah kantong yang cukup besar...
Tapi bukan itu yang membuat Mas Anto semakin terharu...
Melainkan, Salsa mengeluarkan dua buah bando berwarna putih dengan sedikit bermotif warna pink...
"Salsaaa? Kok kamu diem ajaaa? Kamu bawa apa sih?" tanya Gendis semakin penasaran, sambil tetap menutup matanya.
Kemudian, Salsa memakai salah satu bando itu, dan...
Satu lagi...
Dipasangkan dengan lembut oleh Salsa ke rambut Gendis...
"Naaah... Sekarang kamu boleh buka mata." ucap Salsa.
Gendis pun membuka matanya, dan langsung meraba-raba bando baru yang sudah dipasangkan oleh Salsa barusan.
"Eh? Ini kan bando ya?" tanya Gendis.
"Hihihi... Iyaaa... Aku beli bando buat kamuuu..." jawab Salsa sambil tersenyum ceria.
"Waaah... Warnanya apa?" tanya Gendis.
"Warnanya putih campur pink loooh..."
"Waaah... Beneran Salsa?" tanya Gendis dengan tersenyum manis.
"Iyaaa... Aku juga pake bando yang sama kok kayak kamu." kata Salsa.
Seketika, Gendis terlihat terharu...
Dan ia mulai berkaca-kaca juga matanya...
Lalu, Gendis memeluk Salsa...
"Salsaaa... Makasih yaaa..."
😭😭😭
"Iyaaa... Sama-samaaa..."
☺️☺️☺️
.....
.....
Mas Anto tanpa sadar...
Sudah mengalir air matanya...
Dan ia memalingkan wajahnya ke arah jendela...
Terpapar sinar matahari sore wajah Mas Anto, sambil ia mengusap air matanya, yang keluar tanpa suara tangisan...
😆😆 lanjut kak👍👍👍