Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik Menuju Gelap
Waktu bergerak merayap seperti barisan semut di atas dinding marmer dingin kediaman Jalan Widya Mulia. Lima hari berlalu dalam keheningan yang menipu. Selama masa itu, Nathan tidak banyak bicara, namun setiap malam ketika seluruh isi rumah tertidur lelap, ia terus menyempurnakan perimeter pertahanannya.
Pagi hari di hari keberangkatan Elena dimulai dengan kabut tipis yang tidak biasa menyelimuti kawasan Sektor Singasana. Pukul 08.00 pagi, tiga mobil SUV hitam antipeluru sudah terparkir rapi di area lobi utama. Tim pengawal inti bentukan Bravo Satria yang ditugaskan mengawal Elena tampak memeriksa senjata dan alat komunikasi mereka di bawah pengawasan langsung Hendra yang meskipun telah dinonaktifkan sebagai Kepala Keamanan Kediaman, tetap dipercaya memimpin pengawalan Elena ke luar kota.
Elena berdiri di ruang tengah, mengenakan mantel wol abu-abu yang anggun. Di hadapannya, Clara berdiri dengan kedua tangan saling meremas, wajahnya diliputi kecemasan yang mendalam.
"Ibu benar-benar tidak bisa menundanya?" tanya Clara lirih, menatap mata ibunya dengan penuh harap. "Perasaanku sangat tidak enak pagi ini."
Elena tersenyum lembut, mengelus rambut panjang putrinya dengan kehangatan seorang ibu yang jarang diperlihatkannya di depan publik. "Clara, ini hanya perjalanan selama 48 jam. Ibu harus menyelesaikan beberapa dokumen transisi dan menandatangani kesepakatan dengan konsorsium di Bandar Samudra. Setelah semuanya selesai, Ibu berjanji akan mengambil cuti panjang untuk menemanimu melukis."
Elena kemudian mengalihkan pandangannya kepada Nathan yang berdiri kokoh seperti patung batu di dekat pilar pintu masuk.
"Nathan," panggil Elena, suaranya kembali membawa nada wibawa seorang CEO Megantara Group.
"Ya, Nyonya Elena," sahut Nathan, melangkah maju satu langkah dan membungkuk dengan sudut kemiringan 15 derajat yang presisi.
"Aku menyerahkan keselamatan Clara sepenuhnya ke dalam tanganmu," ucap Elena, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata gelap Nathan. "Hanya ada 4 penjaga perimeter biasa yang akan bersamamu di sini. Jaringan kamera keamanan telah diatur ulang ke ponsel taktis milikmu. Aku tidak ingin mendengar kabar buruk sekecil apa pun saat aku berada di Bandar Samudra."
"Saya jamin, Nona Clara akan tetap aman di bawah pengawasan saya, Nyonya," jawab Nathan tegas, suaranya begitu stabil tanpa ada keraguan sedikit pun. "Perjalanan Anda akan berjalan lancar."
Elena mengangguk puas. Ia memberikan pelukan hangat terakhir kepada Clara, lalu berbalik dan berjalan mantap menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggunya. Saat pintu mobil tertutup dengan bunyi debaman yang kokoh, rombongan pengawal tersebut perlahan bergerak meninggalkan halaman luas kediaman, melewati gerbang besi setinggi 3 meter yang menutup perlahan di belakang mereka.
Clara berdiri di teras, menatap kepergian ibunya hingga iring-iringan mobil itu sepenuhnya menghilang di balik tikungan Jalan Widya Mulia.
"Nona Clara," panggil Nathan lembut. "Udara pagi ini tidak terlalu baik untuk pernapasan Anda. Sebaiknya kita masuk ke dalam."
Clara menghela napas panjang, lalu mengangguk lemah. "Baiklah, Nathan."
Begitu gerbang tertutup rapat dan suasana rumah utama menjadi sepi, Nathan langsung mengaktifkan protokol taktisnya secara senyap.
Ia berjalan memutari rumah, memeriksa 4 penjaga perimeter yang tersisa di pos luar. Mereka adalah pengawal biasa yang tidak memiliki latar belakang militer tinggi, jenis pengawal yang memang sengaja disiapkan untuk menjadi umpan agar musuh merasa di atas angin. Sesuai dengan data penyadapan Rendra, tim Vera Sterling akan melumpuhkan mereka menggunakan gas pelumpuh saraf non-lethal, sehingga Nathan tidak perlu khawatir mereka akan terbunuh di awal pertempuran.
Nathan kembali ke ruang kontrol keamanan di lantai bawah tanah. Di hadapannya, belasan layar monitor menampilkan setiap sudut kediaman dengan detail yang tajam. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel taktis khusus, dan menyambungkannya ke sistem enkripsi satelit Rendra.
"Rendra, Elena baru saja berangkat," ucap Nathan begitu koneksi tersambung. "Bagaimana pergerakan target?"
"Analisis sinyal nirkabel menunjukkan aktivitas mencurigakan di area radius 500 meter dari kediaman, Bos," jawab Rendra di seberang frekuensi. "Van putih yang semalam kita sadap telah berpindah posisi ke area bukit pinus di belakang taman. Sementara itu, dua mobil minibus abu-abu terpantau memasuki Sektor Singasana secara terpisah semenjak 15 menit yang lalu. Tampaknya mereka sedang melakukan penyesuaian posisi akhir."
"Pukul berapa gardu listrik utama sektor ini akan dimatikan?" tanya Nathan dingin.
"Berdasarkan simulasi operasional mereka, pemadaman listrik total akan dimulai pukul 21.00 malam ini, bertepatan dengan pergantian giliran jaga malam penjaga luar," jelas Rendra. "Mereka akan memutus kabel serat optik utama di persimpangan jalan terlebih dahulu, mematikan seluruh sistem alarm cadangan sebelum mulai menyusup dari halaman belakang."
"Bagus," gumam Nathan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin. "Itu memberi kita cukup waktu."
"Bos, aku telah mengirimkan paket peralatan tambahan ke titik drop-box rahasia di dalam rumah anjing tua di dekat pagar belakang," tambah Rendra. "Isinya adalah beberapa peledak kejut mikro, kawat baja taktis karbon tinggi, dan kacamata sensor termal pasif yang tidak akan terdeteksi oleh pemindai frekuensi musuh."
"Aku akan mengambilnya segera. Tetap pantau jalur komunikasi Vera. Beri aku pembaruan setiap kali mereka melakukan transmisi radio," perintah Nathan sebelum mematikan komunikatornya.
Nathan berjalan ke halaman belakang dengan alasan melakukan patroli rutin. Saat melewati rumah anjing tua yang sudah tidak digunakan di sudut taman dekat pagar mahoni, dengan gerakan yang sangat cepat dan senyap, ia merunduk dan mengambil sebuah tas taktis hitam tahan air yang tersembunyi di bawah lantai kayu rumah anjing tersebut.
Ia membawa tas itu masuk ke dalam barak keamanan barat, membukanya di bawah keremangan cahaya lampu meja.
Di dalam tas tersebut, berkilau beberapa gulungan kawat baja tipis berkekuatan tinggi, 4 unit peledak kejut mikro, sepasang pisau lempar taktis dengan bilah karbon hitam antirefleksi, serta kacamata taktis termal hibrida. Nathan memeriksa setiap peralatan tersebut dengan kepuasan seorang profesional.
Ia mulai memasang kawat baja taktis di beberapa titik buta tangga pelayan di lantai satu, mengaturnya pada ketinggian 10 sentimeter di atas permukaan lantai, cukup tinggi untuk membuat siapa pun yang berjalan tergesa-gesa dalam kegelapan akan tersandung dan kehilangan keseimbangan seketika.
Ia juga melumuri gagang pintu belakang dengan cairan khusus yang sensitif terhadap suhu tubuh, memberikan tanda termal yang sangat jelas pada kacamata taktisnya nanti.
Semua persiapan ini dilakukan dengan kehalusan luar biasa. Bagi orang biasa, tidak ada satu pun detail di dalam rumah yang tampak berubah. "Labirin maut" itu telah siap secara sempurna.
Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh gumpalan awan kelabu tebal yang menggelayut rendah di atas langit Megapura. Angin malam mulai berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan gemuruh petir yang samar dari kejauhan, badai besar lainnya sedang menuju ke kota.
Pukul 19.30 malam, Clara duduk di ruang tengah lantai dua, dikelilingi oleh buku-buku sketsanya yang terbuka lebar. Ia tampak gelisah, sesekali menatap ke arah jendela besar yang menampilkan pepohonan halaman belakang yang meliuk-liuk ditiup angin kencang.
Nathan melangkah masuk ke dalam ruangan membawa nampan berisi secangkir teh kamomil hangat yang mengepulkan uap tipis.
"Teh hangat untuk Anda, Nona Clara," ucap Nathan dengan nada lembut yang sangat langka ia tunjukkan. "Ini akan membantu menenangkan pikiran Anda."
Clara menerima cangkir tersebut dengan kedua tangannya, menghirup aromanya yang menenangkan. "Terima kasih, Nathan. Kamu selalu tahu apa yang kubutuhkan."
Clara menyesap tehnya sedikit, lalu menatap Nathan yang berdiri tegak di dekat pintu kaca balkon. "Nathan... apakah kamu merasa malam ini terasa sangat berbeda? Sunyi sekali. Bahkan suara air mancur di depan pun tidak terdengar dari sini."
"Itu karena tekanan udara rendah sebelum badai datang, Nona," jawab Nathan tenang, matanya melihat ke arah luar jendela, mengamati kegelapan taman belakang yang mulai pekat. "Alam selalu menjadi sangat sunyi sesaat sebelum badai besar pecah."
"Aku tidak menyukai kesunyian ini," bisik Clara, meletakkan cangkirnya kembali di atas meja dengan tangan yang sedikit bergetar. "Rasanya seperti ada sesuatu yang sedang mengintai kita dari kegelapan."
Nathan berjalan mendekati meja Clara, menghentikan langkahnya tepat 2 meter di hadapan gadis itu. Untuk pertama kalinya, Nathan menatap Clara dengan kelembutan yang tulus, sebuah tatapan yang tidak lagi membawa kepalsuan atau topeng peran. Ia melihat ketakutan yang murni di mata gadis itu, ketakutan yang mengingatkannya pada adik perempuannya 15 tahun lalu sebelum maut menjemputnya.
"Nona Clara," ucap Nathan dengan suara berat yang sangat menenangkan. "Selama saya berdiri di sini, tidak akan ada satu pun hal buruk dari kegelapan itu yang bisa menyentuh Anda. Saya telah berjanji kepada Anda semalam, dan janji seorang prajurit adalah sesuatu yang dibayar dengan nyawa."
Clara menatap mata gelap Nathan, merasakan gelombang kehangatan dan rasa aman yang luar biasa merayapi hatinya. Rasa cemas yang sempat mencengkeram dadanya perlahan memudar, digantikan oleh kepercayaan mutlak pada pria di hadapannya.
"Aku percaya padamu, Nathan," jawab Clara dengan senyuman tipis yang manis.
"Sekarang, saya ingin Anda masuk ke dalam kamar tidur utama, mengunci pintu dari dalam, dan tidak membukanya kepada siapa pun kecuali Anda mendengar ketukan pola khusus dari saya," instruksi Nathan dengan nada taktis yang tegas namun tenang. "Badai di luar akan segera dimulai, dan petir mungkin akan memutus aliran listrik beberapa saat lagi. Tetaplah berada di dalam kamar dan jangan keluar apa pun yang Anda dengar."
Clara sedikit tersentak, namun kepatuhannya pada Nathan membuatnya mengangguk tanpa banyak bertanya. Ia berdiri, membawa buku sketsanya, dan berjalan masuk ke dalam kamar tidur utama yang dilapisi pintu kayu ek tebal antipeluru.
KLIK.
Suara kunci pintu yang memutar terdengar dari dalam kamar, menandakan Clara telah mengamankan dirinya sendiri.
Nathan berdiri diam di koridor lantai dua yang remang-remang. Ia perlahan merogoh saku jasnya, mengeluarkan kacamata taktis termal pasifnya dan memasangnya di kepala. Dunia di sekitarnya seketika berubah menjadi gradasi warna hijau dan biru yang dingin.
Ia melirik jam digital di pergelangan tangannya.
20.57.
Tiga menit menuju kegelapan total.
Nathan menarik pistol taktis kaliber 9 mm dari sarung tersembunyinya, memasang peredam suara karbon hitam ke ujung laras dengan gerakan yang sangat presisi hingga terdengar bunyi klik yang mantap. Ia menarik kokang senjata, memasukkan satu peluru ke dalam kamar laras, dan mengaktifkan pengaman taktisnya.
Bzzzt.
Ponsel taktis di saku dadanya bergetar sekali. Sebuah pesan teks dari Rendra muncul di layar kaca yang redup.
Gardu listrik utama Sektor Singasana dinonaktifkan dalam sepuluh detik. Sistem cadangan Megantara diblokir oleh virus enkripsi eksternal milik Vera. Mereka mulai masuk.
Satu detik kemudian, seluruh lampu kristal mewah yang menerangi ruang tengah, koridor, dan lobi kediaman Jalan Widya Mulia padam seketika. Rumah megah itu langsung tenggelam dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh kilatan petir dari badai luar yang sesekali memantul di dinding marmer putih.
Sunyi yang mencekam kembali menguasai istana marmer tersebut.
Namun di dalam kegelapan itu, sang Raja Perang telah siap menyambut mangsanya dengan badai maut yang jauh lebih mengerikan.