Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKTOR DAN SUTRADARA
Astaga..." ucap Bripka Eman kemudian duduk tegak di mejanya.
Briptu Coki mengepalkan tangan. "Jadi skemanya begini. Perusahaan mengeluarkan uang ke yayasan atas nama 'CSR'. Di hari yang sama, pejabat-pejabat itu transfer balik ke rekening pribadi Sutinah dengan jumlah yang sama persis."
AKBP Raharja lebih mendekat ke layar dengan mata menyipit. "Itu jelas bukan sumbangan, tapi suap yang dicuci."
Bripda Tiara mengangguk cepat. "Benar, Pak. Dan ini bukan sekali. Saya sudah mencocokkan 12 transaksi dari tahun 2009 sampai 2012. Polanya sama semua. Keluar dari perusahaan ke yayasan, lalu masuk kembali ke rekening Sutinah dari pejabat. Tanggal dan nominal sama persis sampai rupiah terakhir."
Briptu Adi membuka file lain. "Ini 3 nama pejabat yang paling sering muncul. Dan anehnya, 2 diantaranya proyek perusahaan dimenangkan PT Maju Mundur tahun berikutnya."
Briptu Eman menghela napas seolah menemukan korelasi di kepalanya. "Pantes Bu Sutinah tadi begitu percaya diri. Dia pegang semua benang. Dia yang nyuci uang, dia yang bagi-bagi."
AKBP Raharja menatap data itu lama, lalu ia tersenyum tipis dan dingin. "Bagus, Tiara. Ini yang kita cari. Bukti langsung yang bisa kita cocokkan dengan kesaksian Pak Kardi."
Bripka Eman mengangguk puas. "Setidaknya untuk sekarang, kita bisa jerat dia TPPU dan suap."
"Tidak hanya itu. Panggil 3 pejabat ini juga. Besok pagi, kita geledah kantor mereka!" timpal AKBP Raharja lalu menepuk meja. "17 tahun dia pikir jejaknya aman karena pakai yayasan. Ternyata almarhum Pak Budi sudah mencatat semuanya dan menyimpannya."
Briptu Coki menatap teduh pada kertas usang di meja. "Ini warisan terakhir Pak Budi untuk anaknya, dan untuk kita."
"Dan untuk keadilan," imbuh kompak Bripda Tiara dan Briptu Adi.
AKBP Raharja berdiri meraih jaket yang sejak siang hanya tergeletak sembarangan di mejanya. "Tiara, cetak semuanya. Besok kita ke Kejaksaan. Kita sikat semuanya sekaligus!" perintahnya tegas. "Sisa malam ini, kita istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga."
.
.
.
Pagi harinya, diruang interogasi 1, Briptu Adi dan Bripka Eman kembali memanggil Darman.
"Darman. Kamu sudah divonis seumur hidup karena membunuh 3 orang. Rekaman CCTV membuatmu tak punya alasan untuk mengelak." tekan Bripka Eman.
Darman menyenderkan badan dengan ekspresi acuh. "Iya. Saya yang lakukan. Terus?"
"Siapa yang sebenarnya menyuruhmu?" tanya tegas Briptu Adi.
Darman tertawa pendek. "Kenapa baru menanyakannya sekarang? Lagian semua bukti CCTV sudah jelas, aku melakukannya sendirian."
Bripka Eman membanting map ke meja. "Bohong!" potongnya penuh tekanan. "Baca disana! Kamu terima transfer Rp 500 juta dari Yayasan Cahaya Hati seminggu setelah pembunuhan terakhir!"
Darman terdiam dengan rahang mengeras, seolah sengaja mengunci rapat-rapat bibirnya yang menghitam.
Briptu Adi tak bisa menahan kesal. Ia berdiri dan mendorong bahu Darman. "Jawab! Seberapa jauh kamu mengenal Sutinah?!" bentaknya.
Tapi Darman tetap bungkam, bahkan tatapan matanya kini tampak kosong.
Plak!
Briptu Adi melayangkan satu tamparan keras ke wajah Darman, membuat tahanan itu terjatuh ke lantai.
Detik selanjutnya, pintu ruangan itu terbuka cepat, AKBP Raharja masuk dengan langkah lebar dan tegas. "Cukup," ucapnya datar. "Dudukkan dia lagi."
Briptu Adi yang sudah meraih kerah baju Darman, hanya menariknya dan membantu tahanan itu kembali ke kursinya lalu langsung mundur.
AKBP Raharja menatap Briptu Adi, lalu beralih menatap Darman. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Darman.
"Darman. kau yakin hanya bekerja sendirian?" tanya AKBP Raharja datar tanpa ekspresi yang berarti.
Darman hanya mengangguk kecil, tapi menghindari tatapan langsung dengan AKBP Raharja, gestur yang menunjukkan bahwa ia harus menyembunyikan sesuatu, dan itu terbaca oleh pemimpin tim senior itu.
"Baiklah," pupus AKBP Raharja kemudian. "Sipir, tolong antar kembali tahanan ini ke selnya. Kalian berdua kembali ke ruang utama sekarang!" perintahnya.
"Baik, pak!" jawab kompak ketiga petugas.
Di ruang tim, Briptu Tiara sudah berkutat dengan monitor sejak pagi, Briptu Coki pun membantu.
AKBP Raharja berdiri ditengah ruangan, menepuk tangan dua kali sekedar untuk mengambil perhatian. "Tolong perhatikan sebentar, rekan-rekan!" serunya yang tentu membuat semua anggota menatap ke arahnya.
Suasana tenang sejenak tapi ada sesuatu yang terasa menusuk. AKBP Raharja menghela napas dalam, kemudian mulai bicara.
"Kita ini penyidik, yang bertugas menangkap pelaku kejatahan. Kita memiliki wewenang menginterogasi siapapun yang kita duga terlibat, entah hanya sebagai saksi, atau justru pelaku."
AKBP Raharja menatap satu persatu ke dalam wajah-wajahnya lelah anggotanya. " Tapi tolong diingat, jangan sampai kita mendapatkan nama pelaku dan bukti hanya karena mereka merasa tertekan lalu terpaksa mengaku," lanjutnya. "Jika hal itu yang terjadi, artinya kita sudah merampas hak demokrasinya. Kita jadi tidak ada bedanya dengan para koruptor atau pun penjahat lainnya. Kita ini penegak hukum, bukan penjahat berkedok hukum."
Bripka Adi tertunduk, merasa keliru, begitu juga dengan Bripka Eman.
"Maafkan saya, Pak. Sebagai senior di tim ini, seharusnya saya mengingatkan rekan saya, tapi saya malah...." sesal Bripka Eman.
"Bagus, kalian sudah menyadari kesalahan," sahut AKBP Raharja. "Kita hidup di negara hukum. Kita junjung hukum seadil-adilnya. Ada banyak cara untuk mengungkap kejahatan, tanpa harus menggunakan kekerasan."
Briptu Adi mengangguk sebagai ucapan terimaksih atas pengertian atasannya, "Lalu bagaimana caranya, Pak, dia sangat keras kepala dan bungkam," tanyanya lirih, tapi tegas.
"Kita manfaatkan sisi psikologisnya. Kita tarik ulur interogasi, suatu saat tersangka atau saksi akan merasa lelah dengan pertanyaan yang sama yang terus menerus kita ulik, hingga akhirnya mereka akan mengaku dengan sadar."
AKBP Raharja duduk di tepi meja Briptu Coki, dengan kedua tangan bersedekap. "Kita juga harus mencari dengan lebih teliti pada semua bukti dan petunjuk, jangan terburu-buru. Menangkap penjahat bukanlah prestasi gemilang yang kita kejar sebagai tujuan akhir, melainkan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan masyarakat kepada kita. Gunakan akal sehat dan rasa tanggung jawab yang murni!" tegasnya tajam.
"Baik, terimakasih Pak. Sekali lagi kami minta maaf, dan akan lebih berhati-hati!" ujar Briptu Adi.
"Baiklah, cukup. Mari kembali fokus untuk agenda hari ini," AKBP Raharja menutup sesi pengingat pengendalian diri. Sebagai kepala tim, ia bertanggung jawab menjaga kestabilan emosi anggotanya.
Briptu Adi menyerahkan map yang tadi ia pakai sebagai acuan untuk memanggil Darman. "Bukti baru yang semalam juga kami temukan, Pak!" lapornya.
AKBP Raharja membuka lembar mutasi rekening pribadi Darman. Matanya berhenti di satu baris.
28/01/2012 - KR - YAYASAN CAHAYA HATI - Rp 500.000.000, dengan keterangan, bantuan operasional keamanan pabrik.
Tanggal itu, 3 hari setelah eksekusi terakhir di Gudang C. Eksekusi terhadap Jono Subroto.
AKBP Raharja mengetuk pelan pulpen ke meja. "Tiga hari setelahnya..." gumamnya.
Briptu Adi menghela napas. "Anda juga berpikir hal yang sama, kan?"
AKBP Raharja mengangguk pelan, kemudian membuka Lembar kedua, rekening koran Yayasan Cahaya Hati.
28/01/2012 - DB - TRANSFER MASUK, 3 nama pejabat yang sama seperti nota sebelumnya, tapi kali ini dengan jumlah uang yang sama dengan uang yang masuk ke rekening Darman. Total: Rp 500.000.000
Bripka Eman pun menimpali dengan tak sabar. "Lihatlah lembar terakhir, Pak."
AKBP Raharja membalik lembar berikutnya. Dan itu adalah print out log parkir hotel Sekar Tunggul, tertanggal 28/01/2012, Jam 20.00 - 23.30, atas nama Sutinah. Ia menyandarkan badan lalu menghela napas lebih dalam dari sebelumnya.
Bripda Tiara angkat bicara. "Semua di tanggal yang sama. Pagi hari, 3 pejabat transfer ke Yayasan Cahaya Hati, total Rp 500 juta. Lalu malam harinya, Sutinah bertemu mereka di hotel Sekar Tunggul yang kebetulan salah satu pejabat memiliki saham disana. Dan kemudian yayasan mentransfer Rp 500 juta ke rekening Darman, tiga hari setelahnya."
AKBP Raharja mengangguk setuju. " Benar. Ini uang muter, dicuci lewat yayasan biar bersih. Lalu dipecah lagi sebagai uang tutup mulut." Ia menutup map itu dengan sorot mata yang dingin. "Tapi darimana kalian...."
"Dari laptop yang kita sita dari rumah Sutinah, Briptu Coki menemukan video pertemuan mereka di hotel, ada tanggal dan waktu di sana, lalu saya segera menghubungi teman saya yang kebetulan bekerja di hotel Sekar Tunggul." Bripda Tiara menjelaskan detail kerja cepat yang ia lakukan di pagi setiba di kantor tadi.
Briptu Coki tersenyum puas. "Iya. mungkin memang kita sedang beruntung. Dan menurutku yang terjadi antara PT Maju Mundur dan beberapa nama itu bukan hanya sebagai kebetulan, itu transaksi. Dan ini cukup untuk menjerat dia TPPU, suap, dan turut serta dalam pembunuhan berencana."
AKBP Raharja berdiri tegas. "Baiklah, mari kita jemput dia. Dengan bukti ini, senyum anggunnya tidak akan bisa menolongnya lagi!" ujarnya. "Tiara dan Coki, bawa tim ke kantor bupati. Adi bawa tim ke PU Pemprov, dan pak Eman, bertanggung jawab ke kantor DPRD."
"Siap, Pak!" jawab kompak anggota tim jatanras itu.
"Kalian menjemput para aktor, sedangkan aku bertanggung jawab menjemput sutradaranya."
...****************...
Bersambung