Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGOYAK BENANG TAKDIR.
Kirana masih berdiri terpaku di ruang tengah, mendekap erat tas kertas di dadanya bahkan setelah deru mesin mobil Damar perlahan menjauh dan menghilang dari pekarangan rumah. Begitu kesadarannya kembali utuh, ia segera melangkah cepat menuju kamar tidur. Di depan lemari pakaian yang terbuka luas, Kirana meletakkan tas kertas berisi gamis pemberian Damar ke barisan paling dalam. Ia tidak akan menyentuhnya.
"Kalau aku mau mengubah takdir kematian Kak Damar, aku harus berani mengubah detail sekecil apa pun," bisik Kirana pada keheningan kamar.
Matanya bergerak meneliti deretan pakaian yang tergantung. Jemarinya berhenti pada sebuah gamis berwarna salem yang belum pernah ia pakai sama sekali semenjak dibeli. Kirana mengangguk mantap. Ia bertekad harus meruntuhkan alur waktu yang pernah ia jalani selama tiga minggu sebelum tragedi maut itu merenggut suaminya. Apa pun risikonya, garis takdir ini harus berbelok.
Tepat pukul empat sore, bunyi klakson mobil menggema dua kali dari arah depan rumah. Kirana menarik napas dalam-dalam, mematulkan dirinya sekali lagi di depan cermin sebelum melangkah keluar. Seperti dalam ingatannya, Damar tetap tidak turun dari mobil untuk menjemputnya. Kirana membuka pintu dan langsung mendudukkan diri di kursi samping kemudi.
Namun, ada hal berbeda yang langsung terjadi. Damar tidak langsung menginjak pedal gas seperti waktu itu. Pria itu justru memiringkan tubuhnya, menatap lekat-lekat pada gamis salem yang melekat di tubuh Kirana.
"Kenapa tidak memakai baju yang saya berikan?" tanya Damar, nada suaranya terdengar heran.
Mendengar pertanyaan itu, Kirana justru merasakan kelegaan yang luar biasa di dalam dadanya. Alur waktu sudah mulai berubah sedikit demi sedikit karena keputusannya.
Ia segera memasang senyum natural untuk menutupi kegugupannya. "Maaf, Kak. Pas dicoba tadi, bajunya agak sempit di bagian lengan. Makanya aku ganti pakai gamis ini. Tapi baju ini juga belum pernah aku pakai kok. Kenapa, Kak? Apakah baju ini terlalu jelek?"
Damar tertegun sejenak mendengar rentetan kalimat istrinya yang terdengar jauh lebih luwes dari biasanya. Ia berdeham kecil, lalu memalingkan wajahnya kembali menatap lurus ke depan. "Tidak kok. Kamu tetap terlihat cantik."
Mobil pun mulai melaju membelah jalanan kota. Di samping kemudi, jantung Kirana mendadak berdebar jauh lebih cepat dari biasanya hanya karena sebaris pujian datar itu. Kata-kata dari mantan ibu mertuanya di masa depan seketika terngiang-ngiang di kepalanya. "Damar sangat mencintaimu sejak SMA."
Untuk membuktikan kebenaran ucapan itu, Kirana harus melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ia harus memastikan keberadaan figura fotonya semasa SMA yang terpajang di dalam kamar Damar yang berada di rumah orang tuanya. Kirana mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Besok, setelah Damar berangkat kerja, ia harus memberanikan diri berkunjung ke rumah mertuanya. Jika ingin merubah takdir tragis suaminya, ia harus berani menghadapi misteri apa pun yang tersembunyi.
"Kiran, kita sudah sampai. Ayo turun," ucap Damar memecah lamunan istrinya.
Kirana tersentak dari pergulatan pikirannya. Begitu membuka pintu mobil, pemandangan di depannya sama persis. Gedung pesta yang sama, kemegahan yang sama, dan juga sambutan dari Om serta Tante Damar yang memandangnya dengan tatapan berbeda-beda. Mereka berdua kembali digiring menuju meja makan keluarga yang sangat panjang.
Saat melabuhkan duduknya, Kirana menyadari posisi kursi yang ia tempati masih sama persis seperti waktu itu. Ketegangannya memuncak saat Tante Rika mulai condong ke depan meja, siap melayangkan pertanyaan keramatnya.
"Kirana, Tante perhatikan kamu belum ada tanda-tanda juga. Sudah dua tahun, kok belum punya anak?" tanya Tante Rika dengan nada menyindir yang kentara.
Kirana sempat terpaku. Pertanyaan itu tidak bergeser satu kata pun. Dari sudut matanya, ia melihat rahang Damar mengetat, bersiap memberikan balasan menohok untuk membela istrinya seperti yang terjadi di lini masa sebelumnya. Namun kali ini, Kirana tidak akan membiarkan Damar berdebat dan menciptakan ketegangan. Di bawah meja makan, tangan Kirana bergerak cepat menggenggam jemari tegap Damar, memberikan remasan pelan agar suaminya menahan diri.
Kirana menegakkan punggungnya, lalu menatap Tante Rika dengan senyuman ramah tanpa beban. "Mohon bersabar ya, Tante. Karena saat ini saya masih fokus kuliah, jadi kami berdua memutuskan untuk menyelesaikannya dulu. Setelah lulus, baru kami bisa memikirkan tentang anak dengan tenang."
Damar sontak menoleh, menatap wajah istrinya dengan tatapan tercengang. Biasanya, Kirana hanya akan tertunduk diam menahan malu, dan selalu Damar yang mengambil alih untuk membalas pertanyaan tajam sang Tante.
Tante Rika mencibir, tidak mau kalah begitu saja. "Alah, itu cuma alasan saja. Padahal bisa saja hal itu sekalian jalan. Jadi saat kamu lulus nanti, kamu sudah menggendong anak."
Kirana mempertahankan ketenangannya, ia tidak boleh terpancing emosi. "Tante, saya tidak mau fokus belajar saya terhambat karena rasa mual atau masalah ngidam yang parah. Jadi, tolong hargai keputusan yang sudah kami sepakati bersama ini ya, Tante."
Mendengar ketegasan di suara istrinya, Damar menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat. Pria itu cukup kagum melihat istrinya yang ternyata sudah berani menyuarakan pendapat di depan keluarganya.
Di tengah suasana meja makan yang mendadak hening, Kirana mendadak teringat pada kucing kecil yang terluka di taman belakang. Alur ini tidak boleh meleset dari tujuannya.
"Maaf, Tante, Om, saya izin ke toilet sebentar," pamit Kirana dengan sopan.
Ia secepatnya melangkah lebar menuju taman belakang gedung. Begitu sampai di dekat semak-semak, jantungnya berdesir lagi. Kucing kecil itu memang benar-benar ada di sana, merintih kesakitan dengan luka di kakinya. Kirana segera memanggil pelayan yang melintas dengan membawa kotak pertolongan pertama yang sama.
Setelah menerima obat dan perban, Kirana langsung berjongkok. Namun kali ini, ia melapiskan saputangan besar di atas pangkuannya untuk menutupi gamis salemnya agar tidak terkena bercak darah sedikit pun. Ia tidak mau dipaksa pulang lebih dulu seperti waktu itu.
Tepat saat ikatan perbannya selesai, suara bariton yang sangat ia kenali kembali terdengar dari arah belakang.
"Sedang apa kamu di situ?"
Kirana membalikkan badannya perlahan. Kali ini, suaranya tidak lagi bergetar ketakutan seperti dulu. Ia menatap wajah suaminya dengan berani. "Saya sedang mengobati kucing kecil ini, Kak."
Damar menurunkan pandangannya ke arah pakaian Kirana. Ia tampak sedikit heran karena tidak menemukan noda darah sedikit pun di gamis salem istrinya. Respons Damar kali ini pun terdengar sedikit berbeda dari ingatan Kirana.
"Sudah selesaikan mengobati kucingnya? Kalau sudah, sekarang ayo kita masuk ke dalam. Para Tante menyuruh kita ikut bergabung untuk berdansa," ucap Damar datar, sebelum menjeda kalimatnya sejenak. Pria itu melangkah selangkah lebih dekat. "Kamu tahu kan harus melakukan apa di depan mereka?"
Awalnya Kirana merasa sangat senang karena berhasil mendapatkan jawaban yang berbeda dari suaminya. Namun, begitu mendengar ujung kalimat itu, ia tahu sisi sandiwara pria itu belum sepenuhnya hilang.
"Saya tahu kok, Kak," jawab Kirana tenang.
Kirana bangkit berdiri dan berjalan beriringan di samping Damar menuju aula utama. Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu kristal dan tatapan seluruh keluarga besar, Damar melingkarkan tangannya di pinggang Kirana, membawa istrinya bergerak mengikuti alunan musik lambat.
Mereka berdansa dengan sangat anggun di tengah ruangan. Hanya itu adegan yang berbeda dari hari yang lalu, karena di masa lalu, Kirana sudah lebih dulu pulang sendirian bersama Ricko. Di dalam dekapan hangat Damar yang terasa begitu hidup, Kirana membisikkan janji dalam hatinya bahwa ia akan melakukan segala cara agar detak jantung di dada suaminya ini tidak akan pernah berhenti.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪