Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Sidang Dewan
Ruang Dewan Akademi Langit Biru adalah aula megah dengan langit-langit tinggi yang dilukiskan dengan peta bintang-bintang kuno. Di ujung ruangan, terdapat deretan kursi berlapis emas tempat para tetua duduk. Suasana di sana dingin dan mencekam, jauh berbeda dari keramaian Plaza Bintang kemarin.
Lin Fan berdiri di tengah ruangan, sendirian. Di hadapannya, Tetua Wang—seorang pria gemuk dengan jubah sutra merah dan cincin giok di setiap jari—sedang berbicara dengan nada tinggi yang penuh kemunafikan.
"Direktur dan para tetua," kata Tetua Wang, suaranya bergema.
"Siswa baru Lin Fan telah melanggar aturan dasar Akademi: Integritas Pertarungan. Laporan dari Han Xiao, seorang ahli pedang terhormat, menyatakan bahwa Lin Fan menggunakan 'Artefak Jiwa Terlarang' untuk memanipulasi pikiran lawan dan menyebabkan cedera parah. Ini bukan bakat. Ini kecurangan! Jika kita membiarkannya tetap di akademi, reputasi kita akan hancur!"
Di sisi lain ruangan, Elder Mo berdiri dengan wajah tegang. Ia ingin membela Lin Fan, tapi posisinya sebagai penguji lapangan membuatnya sulit melawan Tetua Wang yang memiliki koneksi kuat di Dewan Kerajaan.
"Tetua Wang," suara berat terdengar dari kursi tertinggi.
Semua orang mendongak. Direktur Akademi, Master Feng, seorang pria tua dengan rambut putih perak dan mata yang tajam seperti elang, akhirnya berbicara. Ia tidak terlihat marah, tapi auranya yang tenang membuat seluruh ruangan hening seketika.
"Apa bukti konkret yang kau miliki selain kesaksian seorang pembunuh bayaran yang gagal?" tanya Master Feng datar.
Tetua Wang tertawa sinis.
"Bukti apa yng di perlukan?"
"Ia hanya Bocah kecil dengan kultivasi tingkat pembukaan Qi tahap 2, tapi bisa melukai ahli Fondasi Qi. Secara logika kultivasi, itu mustahil tanpa bantuan eksternal!. Saya ingin dia di usir dari akademi"
Beberapa tetua lain mengangguk setuju. Politik klan memang keras. Mereka tidak suka anomali yang mengganggu tatanan kekuasaan yang sudah mapan.
Lin Fan tetap diam. Ia tahu berdebat dengan orang yang sudah memutuskan bersalah adalah sia-sia. Ia menunggu. Ia tahu ada satu orang di ruangan ini yang tidak bisa dibohongi oleh uang atau status.
Master Feng turun dari kursinya. Langkahnya ringan, tapi setiap langkahnya terasa seperti menekan dada setiap orang di ruangan itu. Ia berjalan mendekati Lin Fan, menatapnya dari atas ke bawah.
"Lin Fan," kata Master Feng.
"Apakah kau menggunakan artefak terlarang saat melawan Han Xiao di gerbang kota?"
"Tidak pernah, Direktur," jawab Lin Fan tegas, menatap mata tua itu tanpa gentar.
"Saya hanya menggunakan teknik tubuh, manipulasi lingkungan, dan pemahaman tentang anatomi manusia."
"Teknik tubuh omong kosong" Tetua Wang mencemooh.
"JELAS PBOHONG! Teknik tubuh apa yang bisa menahan serangan petir Li Tianhao kemarin? Atau menjepit pedang ahli bayaran?"
Master Feng mengangkat tangan, menghentikan ocehan Tetua Wang. Ia menoleh pada Lin Fan.
"Tunjukkan padaku. Tunjukkan teknik tubuh yang kau maksud. Serang aku sekarang."
Ruangan menjadi hening total. Para tetua terkejut. Menyerang Direktur Akademi? Itu gila!
"Tapi, Direktur" Lin Fan, alisnya sedikit terangkat.
"Serang aku," ulangi Master Feng, kali ini dengan nada perintah.
"Jika kau benar-benar mengandalkan bakat sendiri, buktikan. Jika kau gagal, aku akan mengusirmu sendiri."
Lin Fan menghela napas. Ia tahu ini adalah ujian. Bukan ujian kekuatan, tapi ujian kepercayaan diri dan kejujuran.
Ia mengambil sikap kuda-kuda. Matanya menyipit, memasuki keadaan Persepsi Hampa. Ia mengamati Master Feng. Pria tua itu berdiri santai, tangan di belakang punggung, tapi setiap inci tubuhnya adalah pertahanan sempurna. Tidak ada celah.
Bagaimana cara menyerang seseorang yang tidak memiliki celah? pikir Lin Fan. Jawabannya: Buat celah itu.
Lin Fan melesat. Cepat. Sangat cepat. Ia menggunakan Langkah Awan Hening, tubuhnya menjadi kabut yang sulit difokuskan. Ia mengarahkan Jari Naga Sunyi ke titik akupunktur di bahu kiri Master Feng.
Master Feng tidak bergerak. Ia hanya menggeser bahunya beberapa milimeter. Jari Lin Fan meleset.
Lin Fan tidak berhenti. Ia mengubah arah, menendang ke arah lutut kanan. Master Feng mengangkat kakinya sedikit. Tendangan itu mengenai udara kosong.
Satu menit berlalu. Lin Fan telah meluncurkan puluhan serangan, semuanya diblokir atau dihindari dengan gerakan minimal oleh Master Feng. Keringat mulai membasahi dahi Lin Fan. Energinya terkuras.
Tetua Wang tertawa puas. "Lihat sendiri! Dia bahkan tidak bisa menyentuh baju Direktur! Dia lemah! Pengusiran adalah keputusan yang tepat!"
Tiba-tiba, Lin Fan berhenti. Napasnya teratur kembali. Ia tersenyum tipis.
"Sudah selesai?" tanya Master Feng.
"Belum," kata Lin Fan. "Saya baru saja menemukan ritme napas Anda, Direktur."
Sebelum siapa pun bisa bereaksi, Lin Fan tidak menyerang tubuh Master Feng. Ia menyerang udara di depan dada Master Feng dengan telapak tangan terbuka, melepaskan gelombang Qi pendek yang resonansinya sama persis dengan frekuensi detak jantung Master Feng.
BOOOM!!!!
Suara tumpul terdengar di dada Master Feng. Pria tua itu terkejut. Untuk pertama kalinya, ekspresi tenangnya retak. Ia mundur selangkah. Hanya satu langkah kecil, tapi itu cukup bagi seluruh ruangan untuk melihatnya.
Dia tersentuh.
Master Feng menatap dadanya, lalu menatap Lin Fan dengan mata yang berbinar-binar. Senyuman lebar muncul di wajahnya.
"Resonansi Jiwa..." gumam Master Feng.
"Kau tidak menyerang tubuhku. Kau menyerang aliran Qi internalku dengan frekuensi yang sama. Itu... itu adalah tingkat pemahaman yang biasanya hanya dicapai oleh Master Tahap Penyatuan Jiwa."
Ia berbalik menghadap dewan, wajahnya kini serius dan berwibawa.
"Tetua Wang," kata Master Feng, suaranya dingin seperti es.
"Kau bilang dia curang? Tapi Aku bilang dia adalah jenius sejati yang langka. Teknik yang ia gunakan tidak memerlukan artefak. Itu memerlukan otak yang brilian dan jiwa yang stabil. Dan itu adalah persis apa yang dicari Akademi Langit Biru: Pemikir, bukan sekadar petarung."
Tetua Wang pucat pasi. "Tapi... Direktur, aturan nya..."
"Aturan dibuat untuk melindungi integritas, bukan untuk membunuh inovasi!" bentak Master Feng.
"Keputusan saya final: Lin Fan dinyatakan tidak bersalah. Di tambah, karena keberhasilannya menunjukkan pemahaman mendalam tentang hukum alam, ia diberi status Siswa Istimewa. Ia berhak mengakses Perpustakaan Tingkat Tiga dan ruang latihan pribadi."
Sorakan tertahan dari Elder Mo. Zhang Wei dan Bao Da, yang menunggu di luar, pasti akan senang mendengar ini.
Tetua Wang menggigit bibirnya, matanya penuh dendam. Ia kalah. Tapi ia tidak akan lupa penghinaan ini.
"Dan Tetua Wang, kau dilarang mendekati Lin Fan selama masa satu tahun. Jika ada gangguan lagi, kau akan diadili karena penyalahgunaan wewenang." Jelas Direktur
Tetua Wang berdiri dengan gemetar, lalu keluar dari ruangan dengan jubahnya yang berkibar marah.
Master Feng menoleh pada Lin Fan. "Kau beruntung, anak muda. Tapi ingat, status istimewa ini juga membuatmu target. Banyak orang akan iri. Banyak orang akan ingin membuktikan bahwa kau tidak seistimewa itu. Apakah kau siap?"
Lin Fan membungkuk hormat dalam. "Saya lahir untuk tantangan, Direktur."
Master Feng mengangguk. "Bagus. Sekarang pergi. Kelas pertama mu dimulai besok pagi. Jangan terlambat."
Lin Fan keluar dari Ruang Dewan. Udara segar di luar terasa manis setelah ketegangan di dalam. Elder Mo menepuk bahunya.
"Hebat, Nak," kata Elder Mo bangga.
"Kau baru saja membuat musuh seumur hidup dengan Tetua Wang, tapi kau mendapatkan perlindungan langsung dari Direktur. Itu trade-off yang adil."
Lin Fan tersenyum. Ia tahu perjalanannya baru saja menjadi lebih rumit. Tapi ia juga tahu, dengan akses ke Perpustakaan Tingkat Tiga, ia bisa menemukan rahasia-rahasia dunia ini yang mungkin membawanya lebih dekat pada tujuan utamanya: kembali ke puncak.
Di kejauhan, ia melihat Gu Yichen berdiri di bawah pohon sakura, topengnya menghadap ke arah Lin Fan. Gu Yichen mengangkat tangan, memberikan isyarat salam kecil.
Rival baru. Aliansi baru. Dan politik yang semakin dalam.
* Hook: Status Siswa Istimewa membuat Lin Fan semakin menonjol dan rentan terhadap kecemburuan. Apa yang akan ia temukan di Perpustakaan Tingkat Tiga? Dan bagaimana reaksi Li Tianhao serta Su Qingxue terhadap kenaikan status ini?
Cari tau di Bab Berikut nya.