NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Sisi Mata Uang (2)

Suara dengung pendingin ruangan tua di sudut sekretariat mengisi keheningan yang tiba-tiba membentang di antara mereka. Lyana masih berdiri di tempatnya, namun kekakuan di bahunya perlahan meluruh. Rasa marah yang tadi sempat mendidih hingga ke ubun-ubun kini menguap, berganti dengan empati yang menyusup diam-diam.

Ia memandangi laki-laki di depannya. Tidak ada Rumi yang keras kepala, tidak ada Rumi sang orator yang tak kenal takut. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip pelan, Rumi hanyalah seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang kelelahan karena mencoba memikul ekspektasi dari dua dunia yang berbeda.

"Aku cuma takut," Rumi menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang kapalan karena terlalu sering memetik gitar dan mengangkat gulungan banner. "Takut kalau aku bawa komunitas mereka masuk ke ranah BEM, birokrasi kampus yang kaku malah bakal matiin kebebasan mereka. Proposal ditolak, dana dipangkas dekanat, disuruh bikin acara formal yang nggak ada jiwanya. Mereka cuma butuh ruang buat berekspresi, Lyan, bukan tumpukan kertas LPJ."

Lyana melepaskan cengkeramannya dari pinggiran meja. Ia berjalan pelan mendekati Rumi, lalu menarik kursi plastik di sebelahnya dan duduk. Jarak di antara mereka kini terasa lebih jujur daripada sebelumnya.

"Itu namanya lari dari masalah, Mas," suara Lyana mengalun lembut, jauh dari nada ketus yang biasanya ia gunakan saat menagih nota. Ia tidak menatap Rumi, melainkan memandang tumpukan dokumen di atas meja. "Kalau sistemnya kaku, tugas kita di BEM buat melenturkannya. Bukan malah bikin ruang rahasia di luar sana dan biarin BEM tetap jadi organisasi yang kaku."

Rumi menoleh. Ia menatap profil samping wajah Lyana, mencari jejak penghakiman, tapi tidak menemukannya.

"BEM itu tanggung jawab kita bareng-bareng," Lyana akhirnya menoleh, mempertemukan pandangannya dengan manik gelap laki-laki itu. "Kalau kamu punya niat baik buat komunitas jalanan, bawa ke rapat. Kita bahas. Kita cari sponsorship eksternal yang sah. Aku yang bakal hitung rinciannya sampai titik terakhir, dan aku yang bakal maju ngawal anggarannya di meja dekanat kalau mereka berani motong."

Rumi terdiam. Matanya mengerjap lambat. Untuk pertama kalinya sejak ia menjabat, ia merasa tidak harus menjadi tameng untuk segalanya. Ada orang lain yang bersedia berdiri di garis depan bersamanya, dan orang itu adalah perempuan keras kepala yang selama ini paling sering ia buat repot.

Sebuah senyum kecil, namun sangat tulus, akhirnya terbit di bibir Rumi. "Kamu yakin mau berurusan sama anak-anak urakan itu? Mereka kalau rapat nggak pakai sepatu pantofel kayak kamu, lho."

"Selama nota mereka jelas dan angkanya balance, aku nggak peduli mereka mau rapat sambil kayang," balas Lyana santai, meski sudut bibirnya tak bisa menahan senyum balasan.

Suasana berat di ruangan itu menguar. Ada kelegaan yang menyesap masuk ke pori-pori. Rumi mengangguk pelan. "Oke. Besok kita kumpulin anak-anak inti. Aku bakal buka semuanya. Kita ajuin ini jadi program kerja resmi bulan depan."

Lyana mengangguk lega. Namun, kelegaan di dunia kampus tidak pernah bertahan lama.

Ting.

Sebuah notifikasi memecah ketenangan. Layar ponsel Lyana yang tergeletak di atas meja menyala. Ia meraihnya, melihat pesan masuk dari Dito di grup WhatsApp pengurus inti BEM.

Dito: Mbak Lyan, Mas Rumi, kalian berdua masih di kampus nggak? Cek mading utama depan fakultas sekarang! Sumpah, ini gawat banget!

Kening Lyana berkerut. Ia menatap Rumi sambil menyodorkan layar ponselnya. Raut wajah Rumi seketika berubah serius. Ia berdiri, menyambar jaketnya yang tersampir di kursi.

"Ayo," ucap Rumi singkat.

Hujan di luar sudah berubah menjadi gerimis lebat. Lyana dan Rumi setengah berlari menyusuri koridor kampus yang sepi dan remang. Bunyi sepatu mereka menggema di dinding-dinding lorong. Saat mereka tiba di pelataran fakultas, mading utama yang biasanya hanya berisi poster seminar kini tampak berbeda.

Ada sebuah kertas HVS putih tertempel di tengah-tengah papan, ditusuk dengan push pin merah. Di atasnya, tertera kop surat resmi Senat Mahasiswa dengan stempel basah.

Lyana mendekat, menyipitkan mata untuk membaca tulisan yang diketik rapi tersebut. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Surat Panggilan Sidang Darurat

Perihal: Dugaan Penyelewengan Dana Organisasi dan Penyalahgunaan Wewenang Presiden BEM.

Di bawah tulisan itu, tidak ada rincian panjang lebar. Hanya ada satu lembar lampiran berupa foto berwarna. Foto itu diambil secara diam-diam dari jarak jauh, agak buram, namun objeknya sangat jelas.

Itu adalah foto Rumi sore tadi, di kedai kopi pinggiran pasar. Rumi sedang menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada salah satu pemuda jalanan berambut gimbal.

Masalahnya bukan pada uang itu. Masalahnya ada pada amplopnya.

Di sudut kiri atas amplop cokelat tersebut, tercetak jelas logo garuda Universitas Pembangunan dan tulisan 'Badan Eksekutif Mahasiswa'.

"Mas..." Lyana menoleh perlahan ke arah Rumi. Suaranya bergetar. "Kenapa... kenapa kamu pakai amplop BEM?"

Rajah wajah Rumi memucat pasi. Matanya terpaku pada foto tersebut. "Aku... siang tadi aku narik uang tunai dari ATM buat beli cat mural mereka. Aku nggak punya amplop kosong, Lyan. Di tasku cuma ada sisa amplop surat-menyurat BEM bekas acara minggu lalu. Jadi aku pakai itu buat bungkus uangnya."

Sebuah kesalahan sepele. Sebuah kecerobohan kecil yang sangat manusiawi, namun berakibat mematikan di mata hukum administrasi kampus.

Prok. Prok. Prok.

Suara tepuk tangan pelan dan berirama terdengar dari arah tangga koridor yang gelap. Lyana dan Rumi serempak menoleh.

Satria melangkah keluar dari balik bayangan tiang beton. Ia memakai kemeja rapi yang dimasukkan, tangannya masuk ke dalam saku celana. Senyum di bibirnya terlihat sangat puas, murni seperti predator yang baru saja berhasil menggiring mangsanya masuk ke dalam perangkap.

"Malam yang lumayan dingin buat ngurusin organisasi, ya?" sapa Satria santai. Ia melirik kertas di mading, lalu beralih menatap Rumi dengan raut prihatin yang dibuat-buat. "Gue nggak nyangka, Rumi. Gue kira lo cuma arogan, ternyata lo juga berani pakai uang kas mahasiswa buat nongkrong dan biayain preman jalanan."

"Jaga mulut lo, Satria," rahang Rumi mengeras. Ia mengambil satu langkah maju, urat di lehernya menegang. "Itu uang pribadi gue. Nggak ada satu sen pun uang BEM yang keluar buat proyek itu!"

"Oh, ya?" Satria mengangkat sebelah alisnya. "Uang pribadi yang dibungkus pakai amplop resmi BEM? Lo pikir siapa yang bakal percaya cerita itu di sidang Senat besok pagi? Dekan? Mahasiswa yang udah bayar SPP mahal?"

Satria lalu mengalihkan pandangannya pada Lyana. Tatapannya menelusuri wajah Lyana yang tegang, mencari celah ketakutan di sana.

"Dan elo, Bendahara Umum," Satria mendecak pelan. "Tugas lo itu jaga uang, bukan nutup-nutupi kelakuan busuk Presiden lo. Besok jam delapan pagi, sidang pleno darurat. Gue tunggu lo berdua bawa buku besar BEM, rekening koran, dan semua bukti transaksi bulan ini. Kalau sampai ada selisih satu rupiah aja, gue pastiin surat rekomendasi pemecatan kalian dari kampus langsung meluncur ke meja Rektorat."

Satria tersenyum sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan pergi menembus gerimis, meninggalkan gema langkah kakinya yang mengiris keheningan malam.

Udara dingin tiba-tiba terasa menusuk langsung ke tulang. Lyana menatap mading itu, lalu menatap Rumi yang masih berdiri kaku dengan napas memburu. Kecerobohan Rumi baru saja memberikan senjata paling mematikan ke tangan Satria. Sebuah foto manipulatif yang tidak membutuhkan konspirasi besar untuk menghancurkan mereka—hanya butuh kebodohan, waktu yang tepat, dan kelicikan politik kampus.

Sidang besok pagi tidak akan membahas idealisme. Sidang besok pagi adalah ajang pembantaian karakter. Dan Lyana tahu, malam ini ia tidak akan tidur sama sekali.

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!