Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Rumah yang Tak Lagi Sama
"Sudah, jangan terus-terusan membahas Arini." Suara Bu Sumarni terdengar tegas, menghentikan keluhan yang sedari tadi memenuhi ruang makan. Tatapannya menyapu satu per satu wajah anak-anaknya, lalu berhenti pada Galang.
"Serahkan semuanya pada Ibu," lanjutnya dengan nada penuh keyakinan. "Ibu yang akan membuat Arini kembali ke rumah ini."
Ia menghela napas sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang tak memberi ruang untuk dibantah, "Dia tetap istri Galang. Cepat atau lambat, dia harus pulang dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri."
Kalimat itu meluncur begitu mantap, seolah keputusan sudah dibuat tanpa perlu meminta persetujuan siapa pun. Bagi Bu Sumarni, keinginan Arini untuk pergi hanyalah emosi sesaat yang bisa dipatahkan. Ia yakin, dengan caranya sendiri, menantunya itu pada akhirnya akan kembali menginjakkan kaki di rumah tersebut.
Tentu. Berikut versi yang lebih hidup, emosional, dan mengalir untuk adegan tersebut.
"Iya, pokoknya Ibu harus bikin Kak Arin balik lagi. Aku capek hidup kayak gini. Apa-apa jadi ribet," gerutu Vera sambil memonyongkan bibir. Wajahnya jelas menunjukkan ketidakpuasan sejak Arini pergi dari rumah.
"Iya, tenang saja." Bu Sumarni tersenyum tipis penuh keyakinan. "Arini itu harus melakukan apa yang kita mau. Dia nggak akan bisa melawan Ibu."
Pak Hardi yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya angkat bicara. "Kalau dia tetap nggak mau gimana?"
Bu Sumarni mendengus pelan, seolah pertanyaan itu terlalu sepele untuk dipikirkan.
"Tinggal dipaksa. Apa susahnya?"
Galang yang sedari tadi diam ikut menimpali dengan nada penuh percaya diri. "Gampang, kok. Arin itu bucin banget sama aku. Tinggal aku merendahkan diri sedikit, minta maaf, paling juga dia langsung luluh lagi."
"Bagus kalau begitu." Bu Sumarni mengangguk puas. "Cepat selesaikan semuanya. Ibu pengin rumah ini kembali seperti dulu. Ada yang masak, nyuci, beberes, dan ngurus semua kebutuhan kita."
"Siap, Bu."
"Kalau begitu, sana berangkat kerja!"
Galang baru saja hendak melangkah ketika Vera menyenggol lengannya.
"Eh, mana uang sakuku?"
Galang mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Uangku ada di Mayang. Minta saja sama dia."
Mayang yang sedang berdiri di dekat meja makan langsung menoleh dengan wajah kurang senang.
"Hah? Aku yang harus ngasih uang saku?" tanyanya sambil mengernyit. "Uang yang Mas kasih ke aku juga nggak seberapa. Masa masih harus dibagi buat uang saku adik Mas?"
"Ya gimana lagi?" Galang mengangkat kedua bahunya. "Vera memang tanggung jawabku, May."
Mayang mengembuskan napas panjang. Dengan enggan, ia membuka dompetnya, lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan menyodorkannya kepada Vera.
"Nih."
Vera menatap lembaran uang itu dengan mata membelalak. "Hah? Cuma lima puluh ribu? Mbak serius?"
Mayang mengangguk tanpa merasa bersalah.
"Memangnya kenapa? Itu cukup buat bensin seminggu."
"Lah, terus uang jajanku?"
"Itu urusanmu."
Vera mendecak kesal. "Mbak tahu nggak? Dulu Mbak Arin selalu ngasih uang saku lebih. Nggak pernah pelit kayak gini."
Ucapan itu membuat wajah Mayang langsung berubah masam. "Bandingin saja terus aku sama Arini!"
"Ya gimana nggak dibandingin?" sahut Vera tanpa rasa takut. "Aku nyesel dulu dukung Mas Galang nikah sama Mbak. Kirain hidup bakal lebih enak. Ternyata Mbak pelit, lagi pula kere. Jauh banget sama Mbak Arin."
Tanpa menunggu balasan, Vera merebut uang lima puluh ribu itu dari tangan Mayang. Meski mulutnya masih mengomel pelan, ia tetap memasukkan uang tersebut ke saku, lalu melangkah keluar rumah.
Suasana mendadak hening.
Galang hanya bisa menghela napas panjang. Ia menatap Mayang sekilas, lalu menundukkan kepala. Di tengah pertengkaran itu, ia merasa serba salah. Membela istrinya akan membuat keluarganya marah, tetapi membiarkan Mayang disudutkan juga membuatnya tidak nyaman.
"Sudah ya, aku berangkat kerja dulu," katanya akhirnya sambil meraih tas kerjanya. "Ini benar-benar telat."
Belum sempat membuka pintu, suara Bu Sumarni kembali menghentikannya.
"Galang, mana uang belanjanya?"
Galang menoleh. "Sekarang semua pengeluaran rumah dipegang Mayang, Bu. Jadi kalau butuh uang belanja, minta saja sama Mayang."
Sesaat, Bu Sumarni dan Mayang saling berpandangan. Raut wajah Mayang langsung menegang, sementara Bu Sumarni tampak kurang senang mendengar jawaban putranya. Sejak kapan urusan keuangan rumah harus bergantung pada menantu barunya? Situasi itu jelas tidak sesuai dengan kebiasaannya selama ini. Padahal pada Arini, dia lah yang berkata bahwa urusan keuangan dipegang oleh Mayang.
Galang melangkah keluar rumah sambil menenteng tas kerjanya. Langkahnya terhenti tepat di teras ketika pandangannya menyapu halaman yang tampak kosong.
Keningnya langsung berkerut. "Lho... mana mobilku?"
Ia menoleh ke arah rumah dengan wajah panik.
Bu Sumarni yang ikut keluar hanya menghela napas pendek. "Mobilmu kan dibawa Arini."
Ucapan itu seketika membuat Galang mematung. Baru saat itulah ia benar-benar sadar. Mobil yang selama ini selalu dipakainya berangkat dan pulang kerja adalah mobil milik Arini. Karena terbiasa memakainya setiap hari, ia sampai lupa bahwa kendaraan itu bukan miliknya.
"Oh, astaga..." Galang mengusap wajahnya frustrasi. "Terus aku berangkat ke kantor pakai apa?"
Mayang yang berdiri di belakangnya menjawab dengan nada datar. "Pakai ojek online saja, Mas. Tinggal pesan lewat aplikasi."
Galang langsung menggeleng. "Tapi nanti teman-teman kantor bilang apa? Pasti aku diledekin."
"Sudahlah," sela Bu Sumarni enteng. "Bilang saja mobilnya lagi diservis."
Galang mendesah pelan. "Ya mana ada yang percaya, Bu? Mobilnya masih baru dan kinclong gitu, nggak pernah bermasalah. Tiba-tiba diservis? Orang pasti curiga."
"Ya sudah, terserah kamu mau cari alasan apa?" sahut Bu Sumarni mulai kesal. "Yang penting berangkat kerja."
Wajah Galang semakin kusut. Ia mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa kesal yang sejak tadi terus menumpuk.
"Kurang ajar... ini semua gara-gara Arini." Rahangnya mengeras. "Awas saja kalau nanti ketemu. Akan kubikin dia babak belur."
Pak Hardi yang mendengar ancaman itu langsung menoleh tajam. "Jangan asal ngomong!" hardiknya. "Kalau sampai kamu menyentuh Arini, urusannya bisa panjang. Dia sekarang sudah berani melawan. Sedikit saja kamu salah langkah, bisa-bisa kamu yang kena masalah."
Galang mendengus kesal. Meski emosinya masih membuncah, ia memilih memalingkan wajah. Dengan langkah berat, ia akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memesan ojek online. Kini, ia harus berangkat kerja tanpa mobil yang selama ini selalu tersedia untuknya.
Pagi itu lalu lintas jauh lebih padat dari biasanya. Hari Senin memang selalu menjadi hari yang paling menyebalkan bagi para pekerja. Jalanan dipenuhi kendaraan yang berebut ruang, membuat banyak pengemudi ojek online memilih menyelesaikan pesanan yang sudah mereka terima daripada mengambil order baru.
Galang berkali-kali melirik layar ponselnya. Aplikasi itu terus menampilkan tulisan *"Mencari pengemudi..."* tanpa kepastian kapan akan mendapatkannya.
"Ya ampun... lama banget," gumamnya gelisah.
Ia mondar-mandir di depan pagar rumah. Sesekali menatap ke arah jalan, berharap ada pengemudi yang segera menerima pesanannya. Namun, menit demi menit berlalu begitu saja.
Jam di pergelangan tangannya terus bergerak. Waktu masuk kantor semakin dekat, sedangkan ia masih berdiri di depan rumah.
"Kenapa sih susah banget dapat ojek?" gerutunya sambil mengusap tengkuk.
Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan.
"Kruuuk..."
Galang memejamkan mata sejenak. Sejak bangun tidur tadi, ia belum sempat mengisi perut. Di rumah tidak ada sarapan yang siap disantap seperti biasanya. Tak ada aroma masakan hangat yang menyambut pagi, tak ada secangkir kopi yang sudah tersedia di meja makan.
Semuanya berubah sejak Arini pergi.
Baru sekarang Galang benar-benar merasakan betapa banyak hal kecil yang dulu ia anggap biasa ternyata dilakukan Arini setiap hari tanpa pernah mengeluh. Kini, ketika semua itu menghilang, pagi yang seharusnya sederhana berubah menjadi kekacauan yang melelahkan.
Ia mengembuskan napas panjang sambil menatap layar ponselnya lagi.
"Ya Allah... cepatlah ada yang ambil orderanku," keluhnya lirih.
Beberapa detik kemudian, ponselnya akhirnya bergetar. Seorang pengemudi menerima pesanannya.
Galang menghela napas lega, tetapi rasa laparnya tetap mengganjal. Ia sadar, pagi itu ia harus berangkat kerja dengan perut kosong, sesuatu yang hampir tidak pernah ia alami selama Arini masih tinggal di rumah itu.
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
di perintah sarapan lngsung sendiko dawuh.
untung Ada Hani.
lain kali jng di bantuin biar arini sendiri. ngadepi mertua zalim saja gk berani.
pantes di selingkuh I Dan di injak injak krn selalu sendiko dawuh. 😄.
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.