Tak ada orang baik
Yang tak punya masa lalu
Dan tiada orang jahat
Yang tak punya masa depan
Lihatlah yang kelam dari sudut pandang benderang
Niscaya pelita hatimu tak akan temaram..
Seperti itu lah aku memandang Ariana...
Tidak peduli ia seorang simpanan sekalipun
-Krisna-
****
Aku tidak berharap dia mencintaiku, aku hanyalah seorang wanita simpanan. aku tidak suci dan tidak pantas untuk aktivis sepertinya. Aku tidak ingin ia berada di dalam hidupku yang rumit, tapi sebaliknya pria itu semakin mendekatiku. Bahkan disaat dia tahu aku adalah seorang pelacur, dia tetap mendekatiku.
"Aku mencintaimu, tapi aku tidak pantas untukmu." Ariana Putri
Created: 2 October 2017
Finished: 7 Februari 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 Part 2
Cantik Itu Luka 2
Krisna memasang wajah lesu, di hadapan Rakan. Karena ia kembali tanpa hasil, ia gagal meyakinkan Rektor untuk berdiskusi transparansi pengelolaan UKT (Uang Kuliah Tunggal). Rakan Salman Al-Fatih merupakan Presiden BEM di kampus ini, dulu Krisna hanya mengenal Rakan sebagai seorang aktivis dakwah ia tidak terlalu aktif dalam lembaga ini. Tapi semenjak Rakan bergabung di BEM, ia berubah dan mendominasi di kampus ini. Kadang Krisna cemburu dengan Rakan, Rakan terlahir lebih tampan, dan berwibawa darinya.
"Bagaimana hasilnya?" Rakan mengangkat alisnya ketika ia melihat Krisna duduk di kursi kebesarannya.
"Nol besar," Ujar Krisna sambil menaikkan kakinya di atas meja. Ia tidak peduli dengan jabatan Rakan yang lebih tinggi darinya, karena seorang Krisna adalah orang yang ingin dihormati oleh siapapun. Ia tidak suka perbedaan tata krama hanya karena jabatan.
"Dia lebih susah ditaklukan dari rektor sebelumnya."
"Dan kamu menyerah?" tanya Rakan kembali.
"Seorang Krisna tidak akan pernah menyerah sebelum berhasil membuat orang itu takluk."
"Mungkin kita bisa mendiskusikan hal ini lain kali. Aku akan mencari cari cara yang mudah untuk bisa membuat Rektor kita memiliki pandangan yang sama dengan kita." Rakan tertawa mendengar perkataan itu sambil menepuk punggung Krisna.
"Kamu dari dulu sampai sekarang memang tidak pernah berubah yah, dibawa santai saja. Aku jadi penasaran bagaimana hubungan percintaanmu kelak."
"Apakah ada wanita yang bisa didoktrin oleh orang sepertimu?"
"Atau sebaliknya wanita itu malah pergi meninggalkanmu setelah berhasil kau doktrin untuk mencintaimu." Rakan berucap sambil menatap pemandangan kampus dari sudut jendela kantor BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) .
Krisna terpaku mendengar ucapan Rakan, ia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Tiba-tiba pikirannya dipenuhi sosok wajah gadis itu, gadis yang akhir-akhir ini mengalihkan dunianya. Gadis berwajah sendu itu, Krisna menarik napas frustasi ia tidak pernah seperti ini. gadis itu seperti mempunyai daya tarik yang begitu kuat di hidupnya. Krisna ingin mengetahui semua luka yang ada di hidup gadis itu, luka yang membuat gadis itu selalu menampilkan wajah sendu.
"Door-" Rakan mengagetkan Krisna yang sedari tadi diam melamun, ia sedikit curiga melihat raut wajah Krisna yang berbeda dari sebelumnya.
"Sialan" umpat Krisna
"Hayo ngelamunin apa?"
"Ngelamunin Cewek cantikan," Rakan menggoda Krisna.
Krisna diam tidak menghiraukan ucapan Rakan, ia membenarkan kembali posisi duduknya. Lalu tangannya mengambil sebuah pulpen dan buku catatan miliknya di dalam tas. Entahlah dia tidak ingin membicarakan permasalahan hatinya pada siapapun.
Rakan menatap Krisna sebal, kenapa hari ini jadi terbalik? Biasanya ia yang digoda Krisna, kenapa sekarang ia jadi menggoda Krisna? Melihat glagat Krisna yang berbeda dari biasanya membuat Rakan penasaran. Krisna terlihat seperti pria yang sedang jatuh cinta, tapi dengan siapa? Rakan mendekati Krisna, matanya menyipit melihat Krisna menulis sebuah kata.
"Cantik Itu Luka," dengan keras Rakan membacanya tepat di telinga Krisna. Lagi-lagi hal itu membuat Krisna kaget, Krisna melupakan satu hal seharusnya dia tidak mempikirkan gadis itu di dalam singgasana sang Raja.
"Bukankah itu novel?" tebak Rakan,
"Sejak kapan kamu suka baca novel,"
"Bukan,"
"Bukan, berbicara dengan jelas." Pinta Rakan.
Krisna menghembuskan napas bosan, ia menatap Rakan sebentar lalu ia menunduk membaca tulisannya. Bercerita sedikit kepada Rakan bukanlah hal yang merugikan, siapa tahu dengan begitu ia bisa memecahkan misteri gadis cantik itu?
"Menurut kamu, apakah ada wanita yang tidak ingin terlahir cantik?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu, aku ini laki-laki. Bodoh!!"
"Apakah kau sudah lupa?" jawab Rakan sambil terkekeh.
"emmr" Krisna mengeram, sialan berbicara dengan Rakan malah membuatnya ingin memakan Rakan saat ini juga.
"Sudahlah lebih baik aku pergi dari pada bicara dengan orang bodoh sepertimu."
"HAHAHAHAH, maaf kawan sebentar ayo kita bicarakan baik-baik masalah ini."
"Menurut pengalamanku, wanita-wanita yang disekelilingku mereka selalu ingin tampil cantik. Jadi kesimpulannya tidak ada wanita yang ingin dirinya terlahir jelek, ya kecuali jika dia mengira karena dia cantik hidupnya tersakiti."
Krisna berpikir sebentar, apa mungkin gadis sendu itu tidak ingin terlahir cantik. Karena dengan kecantikan gadis itu membuat gadis itu hidup dalam kesulitan, tapi dalam kesulitan seperti apa. Krisna memejamkan matanya, ia tidak mengerti arti dari kata yang ditulis gadis itu "Cantik Itu Luka,"
Apa maksud dari tulisan itu? apa ia harus turun langsung dan menemukannya. Tapi untuk apa gadis itu bukanlah siapa-siapa di hidupnya, lalu kenapa ia harus peduli. Tanpa Krisna sadari jika ia menyuarakan suara haitnya.
"Karena kamu mencintai gadis itu, makannya kamu peduli," bisik Rakan pelan, jantung Krisna berdegub begitu kencangnya saat itu juga mendengar ucapan Rakan.
"Aku jatuh cinta pada gadis itu, tidak mungkin." Tolak batin Krisna, tapi hatinya seakan tidak setuju hingga melukiskan senyum sendu gadis itu.
Krisna mendesah, ia rasa rakan benar, ia jatuh cinta. Ia telah jatuh cinta pada gadis itu. gadis yang tidak menginginkan terlahir cantik.
terbawa suasana.. memang benar, menikah karena surga Allah.. itu rasa nya beda, walau pahit di jlni, tp kita bisa pasrah..
terserah bagaimana Allah menjadikan kita seperti apa..
lanjut dong tor