"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Dua Jari
Gao Tie dari Sekte Besi Berat melompat ke tengah arena Barat dengan dentuman keras yang menggetarkan lantai marmer. Pria bertubuh gempal setinggi dua meter itu memikul sebuah golok raksasa seberat delapan puluh kilogram. Tenaga dalamnya berada di Pendekar Menengah Tahap 5, memancarkan hawa penindasan yang luar biasa.
Di depannya, Chen Wu berdiri dengan pedang putih bergaris biru dengan posisi terhunus.
"Mulai!" seru wasit di arena.
"Hiaaah! Hancur kau!" raung Gao Tie. Ia mengayunkan golok raksasanya secara mendatar dengan tenaga penuh. Angin berkumpul hebat, menciptakan suara siulan mengerikan yang mengancam akan membelah tubuh Chen Wu menjadi dua bagian.
Di tribun penonton, murid-murid sekte lain mencemooh. "Habislah murid Lembah Bambu Biru itu! Kalau dia menangkis, tulang lengannya pasti remuk!"
Namun Chen Wu tidak menangkis.
Di dalam kepalanya, terngiang jelas suara tenang Wei Changqing saat di perkemahan malam: ‘Jangan lawan tenaga kasar mereka dengan benturan pedang. Hemat tenagamu di tiga jurus pertama...’
Chen Wu menarik kakinya mundur satu langkah tepat sekejap sebelum mata golok raksasa itu lewat di depan hidungnya.
Wesh!
Serangan pertama lolos. Gao Tie yang penasaran kembali mengarahkan tebasan vertikal kedua dan ayunan berputar ketiga. Namun Chen Wu terus bergerak meluncur seperti daun bambu tertiup angin, menggunakan gerakan kaki yang hemat energi untuk menghindari benturan langsung.
Tiga jurus berlalu dalam hitungan detik. Napas Gao Tie mulai terdengar berat—tenaga dalamnya bocor terlalu banyak karena memukul udara kosong.
‘Sekarang!’ mata Chen Wu berbinar tajam.
Tepat saat Gao Tie mengangkat goloknya untuk jurus keempat, bagian bawah rusuk kirinya terbuka lebar tanpa pertahanan. Chen Wu melesat maju seperti anak panah terlepas dari busurnya. Ujung pedang putihnya menyusup cepat dari sudut bawah, menebas ringan ke arah titik pernapasan di rusuk kiri Gao Tie!
Buk!
Pukulan gagang pedang yang presisi itu membuat aliran energi Gao Tie tersumbat mendadak di tengah jalan. Pria raksasa itu memuntahkan air liur, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh berlutut di lantai marmer dengan napas sesak tak berdaya.
"Pemenang Partai Pertama: Chen Wu dari Sekte Lembah Bambu Biru!" seru wasit mengangkat bendera biru.
Sorak-sorai langsung meledak dari barisan penonton yang terkejut. Zhou Hao meloncat girang sambil mengibarkan bendera sekte mereka, sementara Paman Guru Lin mengelus jenggotnya dengan rasa bangga yang luar biasa.
Chen Wu menyarungkan pedangnya, menatap kedua tangannya sendiri yang tidak gemetar sedikit pun, lalu menoleh ke arah barisan tunggu dan menatap Changqing dengan anggukan rasa terima kasih yang sangat dalam. Tanpa petunjuk Changqing, ia pasti sudah kalah.
"Pertarungan Ketujuh arena Barat!" wasit kembali berseru lima belas menit kemudian. "Wei Changqing dari Sekte Lembah Bambu Biru melawan Ma Jun dari Sekte Pedang Badai!"
Mendengar panggilan namanya, Changqing melangkah santai menaiki tangga marmer arena.
Di seberang lapangan batas zona tunggu, Shen Yue yang sedang berdiri bersama rekan-rekan Sekte Teratai Salju menatap ke arah arena. Sejak insiden tatapan berkaca-kaca tadi pagi, mata Shen Yue diam-diam terus mengikuti sosok pemuda berjubah abu-abu itu.
"Adik Shen Yue, kenapa kau menatap pemuda sekte kecil itu terus?" tanya Kakak Senior Liu Fang heran. "Lawan bertandingnya adalah Ma Jun dari Sekte Pedang Badai yang berada di Pendekar Menengah Tahap 5. Pemuda dari Lembah Bambu Biru itu pasti kalah cepat."
"Entahlah, Kakak Senior," bisik Shen Yue dengan kening sedikit berkerut. "Meskipun dia terlihat seperti pemuda biasa... cara berjalannya naik ke atas arena begitu tenang. Tidak ada ketegangan sedikit pun di pundaknya."
Di atas arena, Ma Jun dari Sekte Pedang Badai memutar pedang peraknya dengan gaya angkuh. Jubah kuning bergaris emasnya berkibar.
"Hei, bocah Lembah Bambu!" seru Ma Jun meremehkan. "Kemenangan senior-mu tadi cuma kebetulan karena lawannya lambat! Di depanku yang menguasai Jurus Pedang Seribu Badai, cabut pedang berkaratmu dan bersiaplah turun dari arena dengan luka parah!"
Changqing berdiri empat belas langkah dari Ma Jun. Tangan kirinya memegang sarung pedang besi hitam kusam di pinggangnya, namun tangan kanannya tetap santai tergantung di sisi tubuh.
"Silakan mulai duluan, Saudara Ma," kata Changqing tenang.
"Sombong!" Ma Jun murka. Ia melompat maju, meledakkan seluruh tenaga dalam tingkat Pendekar Menengah Tahap 5-nya. Pedang peraknya menusuk lurus dengan kecepatan tinggi, menciptakan ilusi tiga bayangan, bayangan bayangan pedang yang mengincar dada, leher, dan bahu Changqing serentak.
Bagi penonton awam di tribun, tusukan cepat Ma Jun terlihat sangat indah dan mematikan.
Namun di zona tunggu Sekte Teratai Salju, mata jernih Shen Yue mendadak membelalak.
Di dalam persepsi dan intuisi pedang Shen Yue yang tajam, ia melihat apa yang terjadi di detik berikutnya.
Changqing tidak mencabut pedangnya. Ia juga tidak mundur. Saat tiga bayangan pedang perak Ma Jun berdesing tinggal satu jengkal dari dadanya, Changqing hanya memiringkan tubuhnya ke kanan sejauh satu inci dengan kelembutan yang sangat sempurna—persis seperti air mengalir menghindari batu.
Tusukan pedang perak Ma Jun meleset memotong angin di samping dada Changqing!
Dan tepat pada saat tubuh Ma Jun condong ke depan karena kehilangan target tusukannya, tangan kanan Changqing yang sejak tadi santai terangkat naik. Ia tidak mengepal tinju atau menghunus senjata. Ia hanya mengulurkan dua jari tangannya yaitu telunjuk dan jari tengahnya, lalu mengetuk ringan punggung bilah pedang perak Ma Jun dari samping.
Ting!
Suara ketukan dua jari yang begitu sempurna bergema di atas arena marmer.
Namun di balik kelembutan ketukan dua jari itu, tersimpan penyaluran inti pedang Nirwana yang dikendalikan dengan keakuratan tingkat dewa! Getaran halus dari dua jari Changqing merambat seketika melalui bilah pedang Ma Jun langsung menuju pergelangan tangan dan jaringan meridian lengan kanannya..
Krak!
"Aaaargh!" Ma Jun menjerit saat seluruh otot pergelangan tangannya mendadak kram dan mati rasa secara total. Pedang peraknya terlepas jatuh ke lantai marmer.
Sebelum Ma Jun sempat menarik napas untuk mundur, jubah abu-abu Changqing berputar halus. Kakinya bergeser menyapu ringan di belakang tumit kanan Ma Jun.
Bruk!
Ma Jun terpelanting jatuh duduk di atas lantai marmer putih, tertegun menatap pedang peraknya yang tergeletak jauh dari tangannya, sementara dua jari tangan Changqing kini berhenti tenang tepat satu sentimeter di depan tenggorokannya.
Satu penghindaran satu inci. Satu ketukan dua jari.
Arena Barat yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Wasit arena sampai terdiam dua detik sebelum buru-buru mengangkat bendera biru.
"P-Pemenang Partai Ketujuh: Wei Changqing dari Sekte Lembah Bambu Biru!"
Sorak gemuruh yang sepuluh kali lipat lebih heboh meledak dari seluruh stadion! Penonton terperangah melihat bagaimana seorang pemuda 19 tahun mengalahkan jagoan Sekte Pedang Badai tanpa membuang satu tetes pun keringat dan tanpa mencabut pedangnya!
Changqing menarik dua jarinya, membungkuk sopan pada Ma Jun yang masih duduk pucat pasi, lalu berjalan turun dari arena dengan langkah santai.
Saat Changqing menuruni tangga marmer menuju zona tunggu sektenya, matanya secara tidak sengaja menatap kembali ke arah barisan Sekte Teratai Salju.
Kali ini, Shen Yue tidak lagi menatapnya dengan rasa risih atau heran. Gadis cantik itu menatap Changqing dengan mata terbelalak kagum, dadanya berdegup kencang. Ia yang memahami seni pedang tahu betul, ketepatan ketukan dua jari yang membelokkan pedang lawan tadi bukanlah keberuntungan, melainkan tingkatan Kesadaran Pedang yang melampaui seluruh pendekar muda di arena turnamen ini!
lanjutkan Thor.....👍👍🙏