NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cincin yang melingkar

Setelah doa selesai dilantunkan, sang penghulu mempersilakan aku untuk bergeser duduk tepat di sebelah Mas Arkan. Dengan langkah yang sangat lambat karena jarik batik yang kupakai membatasi ruang gerakku, aku berpindah tempat duduk.

Kini, aku berada tepat di sisi kanannya. Aroma wangi melati yang menghiasi pecinya tercium sangat dekat, membuat dadaku berdegup kencang tak karuan.

"Silakan kedua mempelai saling bertukar cincin pernikahan," ujar penghulu dengan senyum ramah.

Tante Amara melangkah mendekat sambil membawa sebuah kotak beludru merah kecil yang terbuka, menampilkan sepasang cincin emas putih polos yang berkilau di bawah sorot lampu masjid.

Mas Arkan meraih cincin yang berukuran lebih kecil. Ia kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arahku, lalu mengulurkan tangan kanannya yang kokoh.

"Karin, tangan kamu," bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain.

Aku mengulurkan tangan kananku dengan ragu. Saat jemari kami bersentuhan, aku bisa merasakan telapak tangan Mas Arkan yang hangat namun sedikit basah—tanda bahwa pria yang terkenal sangat tenang dan dingin ini ternyata juga menyimpan rasa gugup yang sama besarnya denganku.

Dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, Mas Arkan menyematkan cincin emas putih itu ke jari manisku. Pas sekali. Tidak kelonggaran maupun kesempitan.

Sekarang giliranku. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku mengambil cincin yang berukuran lebih besar, lalu memasukkannya ke jari manis kanan Mas Arkan.

"Sekarang, silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya sebagai tanda bakti," pandu sang penghulu lagi.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Mencium tangan Pak Arkan? Dosen killer-ku?

Meskipun otakku sempat berteriak histeris karena merasa situasi ini sangat tidak nyata, tubuhku bergerak secara refleks. Aku meraih tangan kanan Mas Arkan yang kini sudah melingkar cincin pernikahan di jarinya, lalu membungkuk sedikit untuk menempelkan dahi dan hidungku pada punggung tangannya yang hangat.

Cup.

Hanya satu detik. Tapi rasanya seperti ada sengatan listrik kecil yang menjalar dari punggung tangannya langsung menuju ke jantungku.

Saat aku mendongak kembali, aku mendapati Mas Arkan sedang menatapku dengan jarak yang sangat dekat. Matanya yang tajam tampak bergetar halus, dan untuk pertama kalinya, aku melihat rona merah tipis yang sangat samar menghiasi kedua tulang pipinya yang tegas sebelum ia buru-buru membuang muka ke arah lain dan berdeham pendek.

Acara sakral pagi itu diakhiri dengan sesi foto bersama keluarga kecil kami yang sangat singkat dan tertutup. Tidak ada pesta resepsi yang mewah, tidak ada dekorasi panggung yang megah. Hanya ada kehangatan sederhana dari Pak Danu, Tante Amara, dan beberapa saksi yang dengan tulus mendoakan kelangsungan hubungan kami.

Siang harinya, kami sudah kembali berada di dalam mobil sedan hitam Mas Arkan. Bedanya, kali ini kami tidak sedang menuju ke bandara untuk pulang ke tempat kuliah, melainkan menuju ke sebuah kompleks apartemen mewah yang terletak di pusat kota Jakarta.

"Mas... kita beneran langsung tinggal di apartemen hari ini?" tanyaku memecah keheningan setelah mobil berjalan beberapa kilometer meninggalkan area masjid. Aku kini sudah berganti pakaian mengenakan gamis kasual berwarna cokelat muda, sementara Mas Arkan juga sudah melepas beskap akademisnya dan hanya mengenakan kemeja putih polos dengan lengan yang digulung seadanya.

"Iya. Kakek ingin kita segera mandiri dan belajar membiasakan diri tinggal satu atap mulai hari ini," jawab Mas Arkan tenang, matanya fokus menatap jalanan yang mulai padat di siang hari. "Apartemen itu milik saya pribadi. Kamu tidak perlu khawatir, ukurannya cukup luas dan kamarnya ada dua."

Aku mengangguk-angguk paham, meraba cincin emas putih yang kini melingkar manis di jari manisku. "Lalu... masalah skripsi saya gimana, Mas? Kita kan cuma punya waktu seminggu di sini sebelum jadwal kuliah dimulai lagi?"

"Hari Senin nanti saya ada jadwal rapat koordinasi di kampus pusat Jakarta, jadi kamu bisa ikut saya ke sana untuk numpang mengerjakan revisi di perpustakaan mereka. Setelah urusan di Jakarta selesai hari Kamis depan, kita baru akan kembali ke kota tempat kamu kuliah," jelasnya panjang lebar dengan nada yang sangat teratur.

Mendengar penjelasannya yang sangat rapi dan terjadwal, aku hanya bisa menghela napas lega. Setidaknya Mas Arkan tidak melupakan kewajibanku sebagai mahasiswi tingkat akhir yang sedang dikejar-kejar oleh tenggat waktu kelulusan.

Mobil akhirnya memasuki area parkir bawah tanah sebuah gedung apartemen pencakar langit yang sangat mewah. Kami naik ke lantai dua puluh delapan menggunakan lift khusus yang sangat cepat hingga membuat telingaku kembali sedikit mendengung.

Mas Arkan berjalan mendahuluiku menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal berwarna abu-abu gelap, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berwarna cokelat tua dengan nomor unit 28-B.

Ia menekan beberapa digit angka pada panel kunci digital di gagang pintu sebelum akhirnya terdengar suara klik pelan yang menandakan pintu sudah tidak terkunci.

"Masuk," ujarnya sambil membukakan pintu lebar-lebar untukku.

Aku melangkah masuk dengan ragu. Bagian dalam apartemen Mas Arkan benar-benar sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya sangat rapi, minimalis, didominasi oleh warna-warna monokrom seperti abu-abu, hitam, dan putih, serta hampir tidak ada barang-barang dekoratif yang tidak fungsional di sana.

"Kamar kamu yang di sebelah kiri itu," Mas Arkan menunjuk sebuah pintu kayu berwarna putih yang letaknya tepat bersebelahan dengan pintu kamar utamanya yang berada di sebelah kanan. "Kamar mandi tamu ada di sebelah dapur. Kamu bisa taruh barang-barang kamu di sana sekarang."

"Baik, Mas. Terima kasih banyak," sahutku pelan.

Aku segera menyeret koper biru pudarku masuk ke dalam kamar yang ditunjuknya. Begitu pintu kamar tertutup rapat, aku langsung menyandarkan punggungku pada daun pintu kayu tersebut sambil memegangi dadaku yang sejak tadi berdegup kencang tak karuan.

Kamar ini cukup luas, memiliki jendela besar yang menyajikan pemandangan deretan gedung bertingkat di luar sana, lengkap dengan kasur berukuran sedang yang tampak sangat nyaman.

Aku berjalan menuju cermin rias kecil di sudut kamar, menatap pantulan wajahku sendiri yang masih terlihat sedikit lelah. Perlahan, aku mengangkat tangan kananku ke depan mata, memperhatikan cincin emas putih polos yang melingkar erat di jari manisku.

"Mulai hari ini, aku resmi jadi istri kontrak dari dosen killer-ku sendiri. Dan kamar kami... beneran cuma dibatasi oleh satu sekat tembok tipis ini" batinku dengan helaan napas panjang yang terasa sangat berat namun juga dipenuhi oleh rasa penasaran yang aneh tentang bagaimana kehidupanku setelah ini.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!