NovelToon NovelToon
Legenda Mutiara Yin-Yang Primordial

Legenda Mutiara Yin-Yang Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kedatangan Sekte Awan Putih

​Lin Tian segera melangkah masuk ke dalam kamar kecilnya setelah membersihkan sisa-sisa darah di halaman depan. Dia menyimpan kantong sutra berisi batu spiritual hasil rampasan dari Lin Biao di bawah papan tempat tidur kayu miliknya.

​Su-er berjalan di belakangnya sambil membawa nampan kayu berisi semangkuk sup herbal hangat yang aromanya cukup menyengat. Wajah gadis muda itu masih menyiratkan sisa-sisa rasa terkejut yang sangat mendalam atas kejadian beberapa saat lalu.

​“Tuan Muda, minumlah sup ini selagi masih hangat untuk membantu memulihkan energi dalam tubuh Anda,” ucap Su-er pelan sambil meletakkan mangkuk itu di atas meja kayu yang sudah retak.

​Lin Tian tersenyum kecil lalu mengambil mangkuk tersebut dan meminum seluruh isinya dalam beberapa tegukan besar tanpa memedulikan rasa pahitnya. Sifat pragmatisnya membuat dia tahu bahwa setiap nutrisi sekecil apa pun sangat berharga untuk memperkuat fondasi dagingnya saat ini.

​Kehangatan sup herbal itu langsung menyebar ke seluruh lambung dan diserap oleh jaringan pembuluh darah iblis yang baru terbentuk. Lin Tian merasa seolah-olah kekuatan fisiknya kembali bertambah satu tingkat setelah mengonsumsi ramuan murah tersebut.

​'Kombinasi Seni Iblis Penelan Surga dengan ramuan apa pun benar-benar menghasilkan efisiensi penyerapan yang sangat mengerikan,' batin Lin Tian sambil meletakkan kembali mangkuk kosong itu.

​Tiba-tiba, suara dentuman lonceng perunggu raksasa terdengar menggema sebanyak tiga kali dari arah pusat kediaman utama klan. Suara dengungan lonceng tersebut sangat berat dan bergetar panjang, memecah kesunyian wilayah pinggiran Kota Daun Merah.

​Mendengar suara lonceng tersebut, ekspresi wajah Su-er langsung berubah menjadi sangat terkejut dan dipenuhi rasa ingin tahu. “Suara lonceng tiga kali menandakan adanya kedatangan tamu agung yang memiliki status sangat tinggi di wilayah klan.”

​Lin Tian menyipitkan kedua matanya sambil mendengarkan gema lonceng yang perlahan-lahan mulai memudar di udara terbuka. Naluri tajam miliknya segera merasakan bahwa kedatangan tamu misterius ini pasti memiliki hubungan erat dengan nasib dirinya sendiri.

​'Apakah faksi Tetua Pertama langsung mengadu kepada pihak luar setelah anaknya kuhancurkan tadi pagi?' pikir Lin Tian sambil menimbang-nimbang kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

​Namun, dia segera menepis pemikiran tersebut karena jarak waktu antara pingsannya Lin Biao dan bunyi lonceng terlalu singkat untuk mengundang pihak luar. Lin Tian bangkit berdiri dari kursi kayunya lalu merapikan jubah kain kasar yang melekat di tubuh tegapnya.

​“Su-er, tetaplah berada di dalam halaman ini dan jangan keluar ke mana-mana sampai aku kembali dari aula utama klan,” perintah Lin Tian dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.

​Su-er menganggukkan kepalanya dengan patuh meskipun matanya masih memancarkan kilatan rasa cemas yang sangat mendalam bagi keselamatan tuan mudanya. Lin Tian melangkah keluar dari pintu kamar dan berjalan dengan ritme langkah kaki yang konstan menuju ke arah aula pusat.

​Sepanjang jalan setapak yang dipenuhi rumput liar, Lin Tian melihat banyak murid klan yang berlari-lari tergesa-gesa dengan wajah dipenuhi rasa kagum. Mereka semua berjalan menuju arah yang sama, membuat koridor-koridor batu menjadi sangat ramai dalam waktu singkat.

​Dari kasak-kusuk para murid yang berjalan di dekatnya, Lin Tian akhirnya mendapatkan informasi penting mengenai identitas dari tamu agung tersebut. Tamu yang datang ternyata adalah rombongan elit dari Sekte Awan Putih, salah satu sekte kultivasi terbesar di wilayah kekaisaran barat.

​Sekte Awan Putih memiliki pengaruh yang sangat luas, bahkan mampu menjatuhkan sebuah klan keluarga kecil hanya dengan mengerahkan satu orang penegak hukum mereka. Yang membuat suasana menjadi semakin menarik adalah keberadaan Liu Meng-er di dalam rombongan kereta kuda mewah tersebut.

​Liu Meng-er merupakan anak perempuan dari salah satu tetua kota, yang sejak kecil telah terikat kontrak pertunangan resmi dengan Lin Tian. Di masa jayanya tiga tahun lalu, pernikahan mereka dianggap sebagai penyatuan dua talenta paling bersinar di Kota Daun Merah.

​Namun, segalanya berubah total setelah meridian Lin Tian hancur dan statusnya turun drastis menjadi sampah yang tidak berguna. Liu Meng-er yang memiliki bakat luar biasa justru berhasil menembus ranah baru dan diterima sebagai murid inti langsung oleh tetua agung sekte.

​'Datang ke sini bersama tetua sekte di saat aku sedang berada di titik terendah, tujuan wanita itu sudah sangat jelas sekali,' Lin Tian tersenyum dingin di dalam hatinya.

​Lin Tian terus melangkah dengan santai tanpa ada rasa minder sedikit pun di antara pandangan-pandangan mengejek dari murid klan lain yang berpapasan dengannya. Sifatnya yang bermuka tebal membuat dia sama sekali tidak memedulikan penilaian dangkal dari orang-orang yang menganggapnya sebagai lelucon.

​Setelah beberapa menit berjalan, Lin Tian akhirnya tiba di depan gerbang aula utama klan yang dijaga oleh delapan orang pengawal berbaju zirah perak. Suasana di dalam ruangan luas itu terasa sangat menekan karena adanya benturan aura spiritual yang cukup pekat di udara.

​Lin Tian menyelinap masuk melalui pintu samping aula dan berdiri di sudut ruangan yang agak gelap agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang. Matanya yang tajam segera memindai tata letak kursi dan orang-orang yang duduk di barisan depan ruangan agung tersebut.

​Di kursi utama klan, duduk Kakek Lin Tian yang merupakan Patriark Klan Lin, dengan wajah yang tampak sangat berwibawa namun menyiratkan rasa lelah yang mendalam. Di sebelah kanannya, Tetua Pertama klan duduk dengan wajah yang sangat masam dan sesekali melirik ke arah luar dengan kilatan amarah.

​'Melihat wajah kotor Tetua Pertama, tampaknya dia baru saja selesai mengobati pergelangan tangan anaknya yang kuhancurkan,' Lin Tian mencibir di dalam hati melihat pemandangan itu.

​Namun, perhatian Lin Tian segera beralih kepada dua orang tamu misterius yang duduk di kursi kehormatan di seberang kakeknya. Orang pertama adalah seorang pria paruh baya mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman awan perak di sepanjang lengan bajunya yang longgar.

​Pria paruh baya itu duduk dengan punggung tegak dan memancarkan tekanan spiritual yang sangat kuat, menandakan kultivasinya telah mencapai ranah Core Formation awal. Di samping pria tersebut, duduk seorang gadis muda dengan kecantikan yang sangat menonjol menyerupai bunga teratai salju yang mekar.

​Gadis itu tidak lain adalah Liu Meng-er, mantan tunangan Lin Tian yang kini mengenakan pakaian sutra khas murid inti Sekte Awan Putih. Wajahnya yang putih mulus tampak sangat dingin dan dipenuhi oleh keangkuhan yang sangat tinggi, seolah-olah tidak ada satu pun makhluk di kota ini yang layak berada di matanya.

​Liu Meng-er bahkan tidak sudi melirik ke arah para murid Klan Lin yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan penuh rasa kagum dan air liur yang hampir menetes. Dia hanya memegang cangkir teh gioknya dengan gerakan lambat yang penuh dengan kepura-puraan status sosial yang tinggi.

​“Patriark Lin, kedatangan saya hari ini bersama Murid Liu adalah untuk membicarakan sebuah urusan yang sangat krusial bagi masa depan kedua belah pihak,” pria paruh baya berbaju putih itu akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat datar namun berwibawa.

​Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Tetua Ge, salah satu penanggung jawab urusan luar dari Sekte Awan Putih yang memiliki otoritas cukup besar. Kakek Lin Tian, Patriark Lin, meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan sambil mempertahankan ekspresi wajahnya yang tenang sebagai pemimpin klan.

​“Tetua Ge telah menempuh perjalanan jauh dari pegunungan sekte, klan kami tentu saja merasa sangat terhormat bisa menyambut kedatangan Anda yang agung,” jawab Patriark Lin dengan nada suara yang sangat terukur.

​Patriark Lin kemudian melirik ke arah Liu Meng-er sesaat sebelum kembali menatap Tetua Ge dengan sepasang mata tuanya yang penuh pengalaman. “Jika boleh tahu, urusan krusial apa yang membuat Tetua Ge dan Nona Muda Liu datang secara mendadak ke kediaman kecil kami ini?”

​Tetua Ge tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip dengan seringai meremehkan terhadap status klan keluarga kecil yang berada di bawah kekuasaan mereka. “Mari kita tidak membuang-buang waktu dengan basa-basi yang tidak perlu, karena waktu seorang kultivator sekte sangatlah berharga.”

​Tetua Ge mengetukkan jari telunjuknya di atas meja kayu giok, menciptakan suara ketukan yang sangat selaras dengan intonasi bicaranya yang menekan. “Tujuan utama kami datang ke sini adalah untuk membatalkan secara resmi kontrak pertunangan antara Murid Liu Meng-er dan cucu Anda, Lin Tian.”

​Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Tetua Ge, seluruh aula utama klan langsung menjadi sangat sunyi senyap untuk beberapa saat. Detik berikutnya, suara bisik-bisik dari ratusan murid klan yang berdiri di bagian belakang aula langsung pecah laksana air bah yang jebol.

​“Sudah kuduga! Bagaimana mungkin seorang jenius sekte seperti Nona Liu mau menikah dengan sampah lumpur yang meridiannya sudah hancur total!” salah satu murid klan berbisik dengan nada yang penuh dengan kepuasan atas penderitaan Lin Tian.

​Tetua Pertama klan yang sejak tadi menahan amarahnya tiba-tiba menunjukkan senyuman tipis yang sangat licik di sudut bibirnya yang keriput. 'Bagus sekali! Sampah kecil itu hari ini tidak hanya akan dipermalukan, tetapi kakeknya juga akan kehilangan muka di hadapan seluruh klan,' batin Tetua Pertama dengan sangat gembira.

​Wajah Patriark Lin langsung berubah menjadi sangat kaku, dan aura spiritual di sekitarnya sempat bergejolak hebat akibat rasa tersinggung yang mendalam. Pernikahan yang dibatalkan secara sepihak oleh pihak wanita merupakan sebuah tamparan keras bagi kehormatan sebuah klan keluarga di dunia kultivasi ini.

​“Tetua Ge, kontrak pertunangan ini dibuat secara resmi oleh kedua orang tua mereka dengan disaksikan oleh leluhur klan kita masing-masing,” ucap Patriark Lin dengan suara yang perlahan-lahan mulai memberat karena menahan amarah.

​“Membatalkannya begitu saja tanpa alasan yang sah sama saja dengan menginjak-injak harga diri Klan Lin kami yang telah berdiri selama ratusan tahun di kota ini,” lanjut Patriark Lin sambil mengepalkan tangan tuanya di atas sandaran kursi.

​Tetua Ge tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun terhadap kemarahan Patriark Lin, melainkan hanya mendengus dingin dengan sangat meremehkan. “Alasan? Alasan terbesarnya adalah status dan perbedaan kekuatan yang sekarang sudah terbentang laksana langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa menyatu.”

​Tetua Ge berdiri dari kursinya, melepaskan sebagian aura ranah Core Formation miliknya yang sangat pekat hingga membuat seluruh ruangan aula terasa menjadi sangat sesak. “Murid Liu Meng-er sekarang telah mencapai ranah pengumpulan Qi tingkat kesembilan di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun.”

​“Dia memiliki masa depan yang sangat cerah untuk menembus ranah Foundation Establishment dalam waktu dua tahun ke depan dan menjadi tetua sekte di masa depan,” lanjut Tetua Ge dengan nada suara yang penuh dengan kesombongan yang meluap-luap.

​Tetua Ge kemudian mengarahkan pandangan matanya ke sudut aula, seolah-olah dia sudah mengetahui keberadaan Lin Tian sejak awal pemuda itu masuk. “Sedangkan cucumu, Lin Tian, hanyalah seorang sampah cacat yang meridiannya telah hancur dan tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi seumur hidupnya.”

​“Apakah kamu ingin membiarkan seekor burung feniks sembilan langit terikat dengan seekor cacing tanah yang merangkak di atas kotoran beracun?” tanya Tetua Ge dengan kata-kata yang sangat menusuk dan menghina tanpa menyisakan sedikit pun muka bagi keluarga Lin.

​Liu Meng-er yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan cangkir tehnya dan ikut berdiri di samping tetua sektenya dengan ekspresi wajah yang sangat dingin. Dia menatap ke arah tempat persembunyian Lin Tian di sudut aula dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa jijik yang sangat mendalam.

​“Patriark Lin, saya harap Anda bisa bersikap realistis dalam melihat situasi dunia kultivasi yang sangat kejam saat ini,” ucap Liu Meng-er dengan suara yang merdu namun sedingin es kutub.

​“Saya dan Lin Tian sudah berada di dua dunia yang berbeda, dan membiarkan pernikahan ini tetap berjalan hanya akan menjadi beban dan noda hitam bagi perjalanan kultivasi saya menuju puncak tertinggi,” lanjut Liu Meng-er dengan keangkuhan yang sangat mutlak tanpa memedulikan perasaan pihak lelaki.

​Mendengar kata-kata dari mantan tunangannya sendiri, Lin Tian yang berada di sudut kegelapan sama sekali tidak merasa sedih atau ingin menangis laksana tokoh protagonis yang lemah. Sifatnya yang sangat pragmatis justru menganggap wanita di depannya ini hanyalah sekadar pajangan dinding yang memiliki otak yang sangat dangkal.

​'Wanita sombong ini benar-benar berpikir bahwa dia sudah berada di atas awan hanya karena mencapai tingkat kesembilan pengumpulan Qi,' Lin Tian mencibir di dalam pikirannya dengan sangat geli.

​Namun, Lin Tian juga sangat menyadari perbedaan kekuatan yang ada di dalam aula saat ini antara dirinya dan Tetua Ge yang berada di ranah Core Formation. Jika dia memaksakan diri untuk maju bertarung secara fisik sekarang, itu sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri untuk dihancurkan menjadi abu.

​Sebagai seorang yang sangat mementingkan keselamatan nyawanya, Lin Tian mulai menyusun rencana verbal untuk membalikkan situasi tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik yang merugikannya. Dia menarik napas panjang lalu melangkah keluar dari sudut gelap aula dengan gaya berjalan yang sangat santai dan penuh percaya diri.

​Seluruh pandangan mata di dalam aula utama langsung tertuju ke arah Lin Tian saat pemuda itu berjalan ke tengah ruangan dengan pakaian kain kasarnya yang sederhana. Suasana bisik-bisik kembali terdengar dari barisan penonton yang tidak sabar untuk melihat bagaimana sampah klan ini akan menangis memohon ampun.

​“Lin Tian, beraninya kamu menonjolkan wajah sampahmu itu di aula utama setelah membuat kekacauan tadi pagi!” Tetua Pertama langsung membentak dengan keras untuk memanfaatkan situasi mempermalukan pemuda tersebut.

​Lin Tian mengabaikan gonggongan Tetua Pertama seolah-olah pria tua itu hanyalah angin lalu yang tidak memiliki makna apa pun bagi hidupnya. Dia berjalan hingga berdiri tepat lima langkah di depan tempat duduk Liu Meng-er dan Tetua Ge yang sedang menatapnya dengan pandangan meremehkan.

​Lin Tian menatap wajah cantik Liu Meng-er dengan sepasang mata hitamnya yang dalam, memancarkan kilatan ketenangan yang membuat gadis sombong itu merasa sedikit tidak nyaman di dalam hatinya. “Nona Liu, Anda datang dari jauh hanya untuk mengatakan bahwa saya adalah beban bagi masa depan kultivasi Anda yang agung itu?”

​Liu Meng-er mengangkat dagunya yang indah dengan ekspresi yang semakin dingin menghadapi pertanyaan dari mantan tunangannya tersebut. “Benar, dan aku harap kamu memiliki sedikit kesadaran diri sebagai seorang pria untuk menyerahkan kembali surat pernikahan kita tanpa membuat klanmu semakin dipermalukan.”

​Lin Tian tidak marah, melainkan justru mengeluarkan sebuah suara tawa kecil yang terdengar sangat renyah dan dipenuhi dengan nada ejekan yang sangat jelas di udara aula. “Kesadaran diri? Tampaknya orang yang tidak memiliki kesadaran diri di ruangan ini bukanlah saya, melainkan Anda sendiri, Nona Liu.”

​Mendengar ucapan Lin Tian, wajah cantik Liu Meng-er langsung berubah menjadi sangat merah karena amarah yang mulai membakar harga dirinya yang tinggi. Tetua Ge juga langsung menyipitkan matanya dengan pekat, dan aura spiritual di sekitarnya mulai bergejolak siap untuk menekan tubuh pemuda yang dianggapnya tidak tahu sopan santun ini.

​Patriark Lin yang melihat situasi menjadi semakin berbahaya segera bersiap untuk maju melindungi cucunya dari potensi serangan mematikan dari tetua sekte tersebut. Namun, Lin Tian memberikan sebuah isyarat tangan kecil ke arah kakeknya, menandakan bahwa dia masih memiliki kendali penuh atas situasi yang sedang berlangsung saat ini.

​Lin Tian memutari tempat berdirinya dengan langkah lambat sambil mempertahankan senyuman bermuka tebal miliknya yang sangat memprovokasi emosi lawan. 'Nikmati saja kesombonganmu hari ini, wanita bodoh, karena sebentar lagi aku akan membuat nama besarmu menjadi bahan tertawaan di seluruh penjuru kota ini,' pikir Lin Tian dengan sangat licik di dalam hatinya yang paling dalam.

1
septian arista
bersikap dingin dan acuh tak acuh boleh saja
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
septian arista
terlalu dingin
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
septian arista
bagus
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
MC nya kebanyakan makan, di ulang2 mulu membahas makan buah doang
Sutono jijien 1976 Sugeng
jurus petarung jalanan
Arinto Ario Triharyanto
harusnya kultivasi ganda dulu bentar biar tambah joss 🤭
Blue Manusia Biasa
terlalu sombong kau Lin Tian
Arinto Ario Triharyanto
demen dah kalo kultivasi ganda 😎
septian arista
trik yang sangat licik namun memberikan hasil yang sangat apik👍👍👍🤣🤣🤣
septian arista
habis sih sampai ke akarnya jangan Sisakan satupun👍👍👍
yos helmi
tiba2 kakek sakit ??? cerita mulai ngawur.. thor jgn terlalu tolol
Bahari: Iya, saya tolol. maapin ya🙏
total 1 replies
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!